
Ayana tak lantas langsung menjawab. Ayana mencoba mencari kalimat yang bisa menjabarkan kondisi dimana kala itu Ayana memutuskan untuk berpisah dari mantan suaminya itu.
Namun bagaimanapun, Ayana harus menyelesaikan persoalan antara dirinya dan Arman. Agar hidup keduanya bisa berjalan tanpa saling menyakiti lagi.
"Mas. Kita berpisah karena sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kita. Dan kita berpisah sudah cukup lama mas, sudah tiga tahun lamanya "
"Mas Arman sudah punya kehidupan baru dan begitupun dengan aku. Aku bahkan sudah memiliki putra dari pernikahanku yang sekarang mas. Aku mohon mas Arman tidak mengusikku lagi " Ucap Ayana panjang lebar dengan wajah yang setengah memohon pengertian dari mantan suaminya itu.
Arman terlihat menarik nafas sangat dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Meski semua penjelasan yang datang kepadanya hapir sama, namun entah mengapa hatinya begitu sulit untuk percaya apalagi menerima.
Semua mungkin di karenakan perasaannya kepada Ayana tidak pernah berubah, bahkan dirinya begitu mempertahankan Ayana untuk tetap berada di sisinya yang membuatnya begitu sulit menerima pernyataan Ayana.
"Tapi kenapa hatiku berkata lain Ayana? Kenapa kita berpisah tapi hatiku tidak bisa menerima? Kenapa? " Ucap Arman penuh selidik.
Ayana sadar, Arman bisa saja kehilangan memorinya tapi tidak dengan hati dan perasaannya.
" Itu karena mas Arman hanya mengingat masa lalu mas. Bukan keseluruhan perjalanan hidup mas Arman. Tapi aku berkata jujur, aku tidak pernah menghianati pernikahan kita karena pernikahanku dengan mas Rayan terjadi di saat kita sudah lama bercerai." Tegas Ayana.
Arman menatap kedua manik mata Ayana mencoba mendalaminya. Akankah ada kebohongan disana.
" Surat keputusan dari pengdilan bisa mas baca, disana tercantum dengan begitu jelas. Lantas apa lagi bukti yang mas Arman minta? " Ayana gemas dengan tatapan menyelidik Arman.
Arman bergeming lalu kemudian netra matanya tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang membuat ingatannya samar samar muncul ketika berada di suatu tempat yang dirinya sendiri tidak tahu dimana dan dengan siapa.
Arman menunduk sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Namun kemudian pandangannya kembali mencoba mencari sosok yang dia lihat sepintas itu dengan wajah yang sulit di tebak.
Ayana menatap bingung. Kemudian mengikuti arah pandangan Arman. Sedangkan Arman berdiri dan mencoba berlari kecil mencari sosok yang entah siapa.
***
"Biarkan waktu yang akan menyembuhkan ingatan Arman ma. Kita sudah berusaha, tapi Allah belum mengembalikan ingatannya" Ucap pak Rizal di sela sela tangis bu Mida
Pak Rizal meringis memegangi kepalanya yang luka memar akibat benturan.
"Ma, bisa pnggilkan dokter? Papa mau pulang saja" Ucap pak Rizal mengelus lengan sang istri yang masih menangis
"Tapi papa baru saja sadar pa. Kepala papa juga masih sakit. Besok saja ya? " Pinta bu Mida khawatir
"Papa sudah gak apa apa ma." Pak Rizal masih berkila dengan sakit di kepalanya
"Gak pa, besok. Mama gak mau ambil resiko." Tegas bu Mida
__ADS_1
Belum juga pak Rizal menyahuti ucapan sang istri, kedua pasangan suami istri itu serentak menoleh ke arah suara pintu yang di buka dari luar.
"Arman, dari mana saja kamu?" Tanya bu Mida emosional
Arman tak lantas menjawab. Dia justru melewati sang ibu dan memilih duduk di sofa yang berada di ujung ruangan dengan wajah yang kusut.
Melihat sang istri hendak menghampiri dengan emosinya yang tak terima di acuhkan oleh sang anak, pak Rizal menarik kuat tangan bu Mida dan menggelengkan kepala pertanda meminta untuk tak memperpanjang masalah.
Bu Mida menurut. Dengan kesalnya dia kembali duduk di kursi depan brankar sang suami.
"Ma, apa aku pernah menikah dengan wanita lain selain Ayana?" Pertanyaan Arman mengejutkan kedua orang tuanya
Pak Rizal dan bu Mida saling tatap dalam diam. Namun kemudian
"Iya. Kamu yang menikah terlebih dahulu dari pada Ayana." Jawab bu Mida tanpa menatap sang anak.
Arman mengusap wajahnya dengan kasar. Di sandarkannya punggungnya di sandatan sofa dengan mata terpejam. Sungguh hatinya sakit bagai teriris sembilu tatkala mengingat wajah Ayana.
Hatinya tak rela jika kenyataannya nanti harus benar benar jauh dari Ayana dan tidak mendapatkan kesempatan kembali bersama dengan cintanya. Meski sebelum ingatanya hilang, semua itu memang sudah terjadi adanya.
***
Tak seperti biasanya, Susi terbangun di sepertiga malam. Merasa haus, Susi akhirnya beranjak turun dari ranjangnya dengan mata yang masih sangat mengantuk.
Dengan ragu Susi menghampiri. Di tatapnya wajah Tio yang rupawan. Ada rasa sayang dan tak tega timbul di hati Susi untuk sepupunya itu.
Dengan pelan Susi menepuk lengan Tio, mencoba membangunkannya agar pindah tidur ke dalam kamar, namun Susi memekik kaget dengan ulah Tio.
Tanpa bisa menjaga keseimbangan, Susi terjatuh ke dalam pelukan Tio. Tio memang sengaja melalukannya. Dirinya yang tak bisa menerima kenyataan dimana Susi ternyata memiliki kekasih idaman di luar sana, kini terus menahan pergerakan Susi dari dekapannya itu.
"Tio lepas. Jangan aneh aneh Tio. Lepas." Sentak Susi dengan terus memberontak agar terlepas dari dekapan Tio.
Posisi yang sungguh tak menguntungkan bagi Susi dikala Tio membawa Susi berbalik dari posisi semula.
"Tio, apa yang kamu lakukan Tio. Lepas aku bilang." Pekik Susi dengan emosi
Karena tak ini suara Susi terdengar oleh sang ibu dan membuat kekacauan, Tio menutup bibir Susi dengan telapan tangannya.
"Katakan, apa dia yang berhak memilikimu? Apa dia lelaki yang membuatmu menjaga jarak denganku? Tatap mataku dan katakan" Ucap Tio pelan
Susi menatap mata Tio dengan diam. Bukan karena bibirnya yang terkunci oleh tangan Tio, tapi karena hatinya sendiri pun belum meyakini bahwa Tristan adalah lelaki pilihan hatinya, mengingat Tristan selama ini sering menarik ulur perasaannya.
__ADS_1
Perlahan Tio melepaskan tangannya dari bibir Susi. Sisi kelelakiannya tiba tiba muncul sebab posisi mereka yang saat ini begitu intim.
Dengan keberanian yang entah muncul dari mana, Tio perlahan menunduk semakin dekat dengan wajah Susi.
Susi tersentak ketika Tio menempelkan bibir mereka dan perlahan menciumnya dengan lembut. Tersadar, Susi memalingkan wajahnya berniat menghindari ciuman mesra Tio. Namun sialnya, bibir basah Tio justru menempel di leher akibat ulahnya sendiri.
Akibat sentuhan itu, sekujur tubuhnya ikut merinding. Menyadari itu, Tio justru memanfaatkan kesempatan itu. Di kecupnya dengan lembut leher Susi, tak lupa dia memperhatikan perubahan wajah Susi.
"Tio, aku mohon hentikan. Jangan seperti ini" Mohon Susi namun matanya terpejam dengan apa yang di lakukan Tio kepadanya.
Kesempatan itupun di manfaatkan Tio kembali dengan mencium bibir Susi yang terbuka. Susi diam tak merespon. Susi tak bisa apa dengan pergerkannya yang telah di kunci oleh Tio.
"Aku tahu ini tidak salah karena kamu bukan sedarah denganku, aku juga nyaman denganmu, tapi hatiku tak bisa begini Tio. Aku mencintai Tristan." Batin Susi
Awlnya Tio hanya berniat menguji perasaan Susi, namun dirinya justru terjebak ke dalam birahinya sendiri.
Merasa tidak ada balasan dari ciumannya, kini Tio beralih turun kembali ke leher mulus Susi. Satu ******* akhirnya keluar begitu saja dari mulut Susi akibat ulah Tio.
Merasa menang, Tio meneruskan aksinya. Akibat rasa cemburunya pada Tristan, Tio memberikan tanda merah tepat di sisi kiri leher Susi. Susi meringis.
Puas melihat tanda hasil ciptaannya, Tio beralih ke bibir Susi. Namun tanpa di duga, Susi justru merespon ciumannya kali ini. Hati Tio menghangat. Dengan semangat dirinya memperdalam lagi ciuman mereka hingga akhiarnya mereka hampir kehabisan nafas.
Susi malu membuka matanya. Dalam hati Susi merutuki dirinya yang bisa bisanya terpancing nafsu. Karena gemas, Tio mengecup pipi Susi berulang kali hingga mata Susi akhirnya terbuka juga.
Nampak senyum manis terlukis indah dari wajah Tio. Susi memalingkan wajahnya karena malu.
"Kenap? Malu? " Tanya Tio kembali mengecup pipi Susi
Dengan getakan cepat, Tio bangkit dari posisinya dan menarik tubuh Susi ke dalam pelukannya.
"Terima Kasih sayang. Maaf sudah keterlaluan. Kalau tidak begitu, aku mana tau perasaanmu." Ucap Tio mengelus punggung Susi dalam pelukannya
"Aku hanya terbawa suasana. Kamu jangan menganggap itu balasan atas perasaanmu." Jawab Susi dengan datar.
Tio mengurai pelukannya. Dengan cepat Tio menahan tengkuk Susi dan kembali mencium bibir Susi hingga leher mulusnya. Susi mendesah.
"Apa ini bukan dirimu?" Tanya Tio emosi
Susi menunduk malu. Sungguh tubuhnya tak bisa menolak. Padahal perasaannya ingin menghindar.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR KESINI. 💞💞MAAF UP NYA LAMA. 🙏🙏**