
Di rumah sakit, Tristan merasa kesal dengan sikap keras kepala Susi yang memilih pulang meski kondisi kesehatannya belum pulih itu dari keterangan dokter Retno setelah ia temui. Tristan akhirnya bergegas menuju mobilnya dan meninggalkan rumah sakit menuju kontrakan Susi.
Sementara itu, di kontrakan, Susi baru saja tertidur setelah ia lelah menangisi nasibnya yang tak seindah yang dia harapkan. Selama ini ia menutup nutupi kisah hidupnya dari siapapun selain kedua orang tua dan keluarganya di kampung.
Bahkan Ayana pun tidak mengetahui bahwa Susi sudah pernah menikah dan dia merupakan korban dari kekerasan dalam rumah tangga yang di lakukan oleh suaminya sendiri.
Sebelumnya, Susi yang sebelumnya pulang kekampung halamanya ketika libur kuliah tiba,
tiba tiba dia di kagetkan dengan lamaran pak Suryo untuk anak lelakinya. Orang tuanya sampai memohon kesediaannya agar mau menikah dengan Rahmat anak dari pak Suryo sang juragan empang, sebab mereka memiliki hutang budi yang amat besar kepada pak Suryo.
Usaha gabah yang di jalani orang tuanya, kini menjadi sukses besar dan dapat menyekolahkan dia dan adiknya semua tidak lepas dari bantuan materi dari pak Suryo. Hingga akhirnya, Susi pun terpaksa mau menerima lamaran itu sebagai wujud baktinya kepada kedua orang tuanya.
Setelah pernikahan usai dilaksanakan, setelah berjalannya hari demi hari, Susi mulai merasakan dampak dari pernikahan dadakan yang tanpa kenal watak satu sama lain terlebih dahulu. Suaminya ternyata memiliki kebiasaan buruk yang sulit untuk berubah.
Karena Susi sudah tidak tahan dengan perlakuan suaminya yang temprament, ia terpaksa memutuskan untuk berpisah dengan suaminya dan memilih pergi dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya mencoba menasehatinya untuk mau bertahan demi menjaga marwah keluarga terutama kedua orang tuanya. Begitupun dengan mertuanya. Bahkan Rahmatpun memintanya untuk tidak menggugat cerai denga janji untuk berubah. Namun Susi tidak peduli dan tetap dengan keputusannya untuk bercerai dan pergi dari kampung halamannya itu.
Singkat cerita, Susi akhirnya bisa melanjutkan pendidikannya lagi setelah dia tanpa sengaja bertemu dengan Raka, mantan kekasihnya yang bekerja sebagai manejer di sebuah restoran. Dari dialah Susi mendapatkan tempat tinggal baru dan pekerjaan. Namun belum lama setelah dia mulai bekerja, Susi mengeluhkan sakit di perut bagian bawahnya yang begitu hebat.
Karena tidak dapat lagi menahan rasa sakit yang amat sangat menusuk, Susi terpaksa di larikan ke rumah sakit oleh tetangga kontrakannya.
Tangisnya pecah ketika dokter mengatakan bahwa janinnya tidak dapat lagi di selamatkan. Yang semakin membuat Susi terpukul ialah dia yang tidak menyadari akan kehamilannya. Sandainya dia tahu sejak awal, dia pasti tidak akan bekerja begitu kerasnya hanya demi menyambung hidup dan biaya kuliah sampai membuat tenaganya terkuras hingga keguguran.
Itulah satu penyesalan Susi dalam hidupnya. Karena meski Susi membenci mantan suaminya, namun dia mencintai anak yang di kandungnya. Sayangnya takdir berkehendak lain sehingga mereka tidak dapat di pertemukan di dunia.
***
Saat adzan dzuhur berkumandang, Ayana yang sedang bersantai di saung di kebun buah belakang rumahnya sambil makan rujak buatan sang ibu, tidak tahu bahwa suaminya sejak tadi sibuk mondar mandir sana sini mencari keberadaannya. Sementara kebun bekalang rumahnya cukup luas, sehingga wajar jika Ayana tidak mendengar suara suaminya memanggil manggil namanya. Suaminya pun tidak tahu bahwa Ayana sedang bersantai di saung kebun belakang rumahnya.
Karena kondisi Rayan yang belum begitu fit, Rayan akhirnya kembali ke kamar dan menjalankan sholat dzuhur seorang diri tanpa makmum. Seusai sholat, Rayan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang masih lengkap dengan sarung dan baju kokonya.
Di saung, Ayana yang baru menyadari dirinya sudah terlalu asik bersantai disana sehingga tanpa sadar waktu sudah mulai menjelang sore. Bahkan dia sudah hampir melewatkan satu waktu.
"Non Ayana.. Bibi pikir non kemana.. Ini sudah sore, sejak tadi di cariin den dokter sama ibu juga.. " Ucap bi Ina mengelus dadanya lega.
__ADS_1
Ayana tersentak kaget saat berpapasan dengan bi Ina saat dirinya berjalan pulang menuju rumah.
"Kenapa bi..? Ada apa..?" Tanya Ayana heran.
"Bukan apa apa non.. Non kan lagi hamil, kondisi non juga baru pulih, belum lagi orang rumah gak tau non kemana.. Ibu sama den dokter sangat khawatir non.." Ucap bi Ina menjelaskan.
"Oh gitu.. Iyasudah bi ayo pulang.." Ucap Ayana santai, membuat bi Ina geleng geleng kepala.
***
Tristan yang sejak tadi sudah sampai di kontrakan tempat Susi tinggal, belum juga bisa bertemu dengan Susi. Tetangga kontrakan Susi mencegah Tristan mengetuk pintu dengan alasan Susi baru saja istrahat karena kondisinya yang kurang fit. Tristan yang paham, akhirnya memilih menunggu di kursi depan kontrakan dengan sambil mengecek email yang masuk di ponselnya.
"Assalamualaikum mas.." Sapa seorang seorang lelaki yang tidak di kenal sama sekali oleh Tristan.
"Waalaikumsalam.." Jawab Tristan menatap heran sambil berdiri.
"Maaf, ini benar kontrakannya Susikan..?" Tanyannya memastikan. Takut kalau kalau Susi sudah tidak berada di kontrakan tersebut dan sudah ada penghuni baru.
"Saya Raka, teman dekatnya Susi.." Jawab Raka dengan sopan.
Mendengar pertanyaan Tristan yang terdengar seperti tidak menyukainya, Raka curiga Tristan pasti punya hubungan khusus dengan Susi. Terlebih saat ini Tristan berada di kontrakannya Susi.
"Teman dekat..? Maaf, teman dekat yang gimana ya..?" Tristan mulai memasang raut wajah marah mendengar Raka menyebut hubungannya dengan Susi sebagai teman dekat.
Tristan menaru curiga bahwa apa yang terjadi pada Susi adalah perbuatan dari laki laki yang kini berdiri di depannya.
Di dalam, Susi mendengar seperti ada keributan kecil di teras depan kontrakannya. Saat dia mendekat, terlihat dari pintu kaca jendela ada dua orang lelaki yang sedang berdebat.
"Kenapa dua orang itu datang kesini saat bersamaan seperti ini..? Hmm yang satu mantan tapi perhatian, yang satunya lagi teman tapi musuh.." Gumam Susi
Susi akhirnya memilih menyueki keduanya dengan memilih tetap berada di dalam kontrakannya tanpa membukakan pintu untuk keduanya.
__ADS_1
Di luar dugaan Susi, Saat hari mulai menjelang magrib, saat Susi keluar kamar menuju dapur, tanpa sengaja Susi melihat Tristan masih setia berada di depan kontrakannya. Susi menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan menatap punggung Tristan yang duduk membelakangi jendela depan kontrakannya itu.
Cekklekk..
Tristan terkejut saat mendengar pintu di buka dari dalam. Susi menatap wajah Tristan dengan sendu. Susi tidak menyangka Tristan banyak melakukan hal hal tak terduga yang mengejutkannya. Antara sedih dan kagum. Kagum karena Tristan terlihat tulus selama bersamanya dan sedih karena tidak dapat memilikinya karena keadaan yang ada.
Susi sadar diri siapa dirinya. Dan Tristan yang begitu mencintai sahabatnya. Dua hal yang menghalangi perasaan Susi untuk mencintai Tristan sampai saat ini.
"Susi.. Kamu kenapa pulang dari rumah sakit..? Bukankah kamu masih harus bed rest dulu selama dua hari..?" Tanya Tristan saat melihat Susi di ambang pintu.
"Bukannya ucap salam dulu ke dan tanya kabar gitu.. Ini malah langsung marah aja.." Tutur Susi cemberut.
"Ya ampun.. Kamu gak tau aja gimana paniknya saya pas tau kamu minta pulang dengan kondisi yang masih lemas.." Jawab Tristan kesal.
Susi tersentuh mendengar kekhawatiran Tristan akan dirinya.
"Saya cuma gak mau terlalu banyak merepotkan orang lain.. Lagian saya bisa rawat jalan seperti dulu.." Ucap Susi pelan.
Tristan melihat ada kesedihan di mata Susi. Tristan tahu batinya pasti lebih sakit dari operasi kecil yang telah Susi jalani.
"Iyasudah.. Kamu sudah makan belum..?" Tanya Tristan mengalihkan obrolan.
Susi hanya diam tak bergeming.
"Masuklah dan tunggu di dalam.. Biar saya beli makanan dulu buat kita malam malam.." Ucap Tristan lembut.
Susi mengerutkan keningnya menatap Tristan. Ada kata kita makan malam, artinya Tristan akan lebih lama lagi di kontrakannya.
"Kenapa kamu selalu bersikap peduli seperti ini sih.. Kamu tahu, akan sulit buatku menjauh darimu.. Akan lebih sulit untukku mengubur perasaan ini untukmu.." Batin Susi menatap wajah Tristan.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MAMPIR KESINI DAN JUGA BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA UNTUK AUTHOR.. 🙏🙏💞💞💞
MUDAH MUDAHAN BERMANFAAT DAN AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI UP EPISODE SELANJUTNYA.. 🙏😇😇**
__ADS_1