PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
UNTUK YANG KESEKIAN KALI


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Kini Arman sudah semakin memantapkan diri dalam beribadah. Saat ini dia berniat untuk mencari keberadaan anak istrinya.


Dengan nasehat dari pak ustdaz, untuk membangun hubungan yang baik dengan masa lalu serta memberikan hak hak anak tanpa harus perhituhgan, kini benar benar ingin dia wujudkan. Tak lupa pula dia selalu berdoa dengan khusu di setiap sholatnya. Bahkan Arman pun kini rajin mengikuti kajian subuh di mushola tersebut.


***


Di rumah pak Sultan, Rayan dan kedua orang tuanya sedang menunggu kedatangan Rayan dan Ayana. Pak Sultan sengaja mengundang Rayan dan Ayana untuk makan malam bersama. Selain dari pada itu, ada urusan pekerjaan yang harus mereka bahas. Sebab bagaiman pun, Rayan adalah pewaris tunggal semua usaha pak Sultan.


"Assalamualaikum.."


Pak Sultan dan dokter Retno menjawab salam dari anak dan menantu kesayangan mereka itu secara bersamaan.


"Pangersn mana..?" Tanya dokter Retno mencari keberadaan Panageran dengan melirik ke arah luar.


"Pangeran udah tidur ma.. Kasihan juga kalau di bangunin.." Jawab Rayan mengelus lengan sang ibu.


Terlihat raut wajah lesu bu Retno tapi beliau berusaha tersenyum. Kedibukannya beberapa hari belakangan membuatnya belum berjumpa lagi dengan cucu kesayangannya. Dan hari ini pun bu Retno belum bisa terobati rasa rindunya.


Berbeda dengan pak Sultan, beliau selalu menyempatkan waktu untuk sekedar berkunjung di sela sela kesibukkannya. Sehingga beliau tidak terlalu mempermasalahkan.


Di meja makan, setelah makan malam usai, mereka belum langsung beranjak dari sana. Pak Sultan dan dokter Retno saling lirik sebelum memulai inti topik pembahasan yang ingin mereka sampaikan kepada putra dan menantunya itu.


"Yan, sebenarnya ada yang mau papa sama mama sampaikan sama kamu juga sama istrimu.." Tutur pak Sultan sambil mentap keduanya.

__ADS_1


Rayan yang sedang menyantap buah apel yang baru saja di kupas oleh Ayana langsung menatap sang Ayah dengan serius.


"Pak Surya sedang sakit dan harus menjalani pengobatan yang cukup lama.. Sementara di hotel, papa belum bisa menemukan pengganti pak Surya di personnel manager human resource.. Terlebih sebentar lagi keryawan gajian dan dua orang pensiun.." Lanjut pak Sultan.


"Pak Roy gak bisa handle untuk sementara ini sebelum papa dapat pengganti pak Surya..?" Tanya Rayan enteng.


Pak Sultan dan bu Retno saling lirik satu sama lain.


"Sebenarnya ada satu orang yang menawarkan diri.. Dan saat papa liat, dia juga cukup kompeten.. Tapi ya itu, papa harus minta pendapat kalian dulu.." Ucap pak Sultan menatap ketiganya satu persatu.


Rayan dan Ayana saling melirik bingung.


"Siapa..? Dan kenapa harus minta pendapat kami kalau memang papa bisa melihat kemampuannya dan setuju..?" Tanya Rayan mengerutkan keningnya bingung.


***



"Masa nyambut tamunya gitu amat..? Persilakan masuk ke gitu, tanyain mau minum apa.." Ujar Tristan tersenyum jail.


Susi mencebik.


"Udah makan..? Ni aku bawain kamu makanan.." Tristan mengangkat kantong kresek yang berada di tangannya di hadapan Susi.


"Saya udah kenyang.. Kamu bawa pulang aja.." Ucap Susi mengusir Tristan dengan halus sambil berbalik ke arah pintu dan bergegas menutup pintu.

__ADS_1


Dengan cepat Tristan menahan pintu dan mendorongnya pelan. Tristan sengaja tidak gegaba mengingat Susi yang akan ketakutan seperti sebelumnya.


"Tristan.. Ih.." Susi memekik kesal dengan menghentkan kedua kakinya.


Tristan bukannya mundur dan minta maaf, malah tergelak namun coba di tahannya agar tawanya tidak terdengar keluar. Di mata Tristan, Susi terlihat cute dengan ekspresi seperti itu.


"Imut sekali sih kamu.." Tristan tidak tahan tidak mencubit gemas pipi tembem janda muda itu.



"Tristan ih.." Susi mengelus pipinya yang terasa sakit oleh ulah Tristan.


Dengan cepat Tristan memeluk tubuh Susi dan tertawa sambil terus mencium pucuk kepalanya. Karena terkejut, Susi sampai diam terpaku.


Mendapati diamnya Susi, Tristan mengurai pelukannya dan mencoba menatap wajah Susi mencari tahu apa yang terjadi. Melihat ekspresi Susi yang terlihat biasa saja, Tristan justru salah fokus pada bibir merah Susi. Dengan perlahan penuh kehati hatian, Tristan menundukkan kepalanya semakin mendekat ke wajah Susi.


Dengan lembut, Tristan menyatukan bibirnya dengan bibir indahnya Susi. Satu kecupan, dua kecupan, Susi diam tak bergeming. Hingga Tristan memberanikan diri menahan tengkuk Susi dan memperdalam ciumannya.


Tristan tersenyum mendapati Susi yang tidak menolak perlakuannya meski tidak juga membalas ciumannya. Tristan semakin memperdalamnya hingga Susi mendorong pelan dada Tristan untuk menyudahi.


Tristan menatap lekat wajah Susi. Sejenak dia menunggu reaksi apa yang akan Susi berikan. Namun kemudian dia melihat Susi menutup kedua matanya dengan terus menundukan kepalanya. Dengan lembut Tristan menarik Susi masuk ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


"Gak apa apa.. Jangan takut lagi.. Aku gak akan melukaimu.. Tenang ya..?" Tristan mencoba menenangkan Susi yang memang bisa Tristan rasakan tubuhnya bergetar.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH YA BUAT KALIAN YANG MASIH TERUS MENYIMAK KELANJUTAN CERITA DALAM NOVEL INI.. 🙏🙏💞💞


TERIMA KASIH JUGA DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2