PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
SENSITIF


__ADS_3

"Tristan nyetir mobil..? Mobil siapa itu..? Sedang apa sebenarnya dia di rumah sakit ini..? Siapa yang dia kinjungi..?" Monolog Ayana menatap mobil Tristan yang sudah tidak terlihat lagi


"Sayang..? Ko bengong..? Emangnya siapa di mobil itu..?" Tanya Rayan protek melihat Ayana yang sejak tadi terus menatap ke arah mobil Tristan yang keluar area parkiran hingga hilang dari pandangan mereka.


"Nggak mas.. Tadi aku pikir teman tapi ternyata bukan.. Ayo mas kita pulang.." Ucap Ayana terpaksa berbohong.


Rayan tahu istrinya berbohong. Belum lagi menerima kejujuran akan pertemuan sang istri dengan mantan suaminya, kini sudah bertambah dengan kehadiran seseorang yang entah siapa karena Rayan tidak sempat melihat dengan jelas wajah Tristan.


Rayan penasaran sebenarnya ada berapa lelaki yang pernah dekat dengan istrinya sebelum dia. Meski Rayan tidak dapat memungkiri bahwa istri pantas di sukai oleh banyak lelaki karena selain cantik, sikap dan pembawaannya sangat sopan dan berkarisma.


Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Ayana terpusatkan pada Tristan. Hati dan pikirannya di penuhi oleh berbagai pertanyaan tentang apa yang dia lihat di lobi rumah sakit.


"Sayang.. Mau makan dimana..?" Ayana tersentak kaget mendengar pertanyaan Rayan yang memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Kenapa sayang..? Kok kaget gitu..?" Tanya Rayan mengerutkan keningnya melihat istrinya yang terkejut.


"Mmm nggak mas.. Gak apa apa.." Jawab Ayana gugup membuat Rayan semakin yakin istrinya menyembunyikan sesuatu darinya lagi.


"Mas.. Apa gak sebaiknya kita langsung pulang aja..? Kitakan juga gak ngomong tadi ke bibi mau makan di luar.. Bibi pasti udah masak buat makan malam kan..?" Ujar Ayana penuh harap suaminya menyetujui inginnya.


Rayan diam merenungkan ucapan Ayana sebelum memutuskan setuju atau tetap makan di luar.


"Mas..?" Panggil Ayana melihat suaminya yang hanya diam tanpa menanggapi.


Rayan mengangguk pelan tanpa suara. Ayana tahu suaminya terpaksa harus menuruti inginnya karena kehamilannya. Sehingga Ayana terbawa perasaan yang seandainya dia tidak dalam kondisi hamil, suaminya pasti tidak akan menuruti keinginannya itu. Sepeleh memang, namun entah kenapa Ayana terlanjur terbawa perasaannya sendiri.


Tanpa terasa, merekapun akhirnya sampai di depan rumah mereka.

__ADS_1



Dengan perasaan malas Rayan turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya ke satpam untuk memarkirkan kendaraannya ke garasi mobil samping rumah. Ayana yang Melihat perubahan sikap Rayan yang seolah acu tak acu mulai terbawa perasaan sedih lagi.


Mata indah Ayana mulai berembun. Terlebih saat Rayan berjalan di depannya bukan beriringan dengannya. Entah karena hormon ibu hamil yang membuatnya gampang sedih atau karena memang sikap Rayan yang berubah.


***


Fajar mulai menyingsing. Kicauan burung burung mulai bersahutan di atas pepohonan di taman rumah sakit. Susi yang baru saja terbangun dari tidurnya, kini merasa mulai sedikit membaik dari kondisinya yang kemarin. Sehingga membuatnya memutuskan untuk pulang siang ini juga.


Sementara di tempat lain, Tristan yang semalaman suntuk terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Susi, baru mulai terlelap di pagi hari.


Entah apa yang Tristan rasakan hingga pada saat mengetahui soal Susi yang pernah hamil hingga keguguran, sungguh membuatnya sangat kecewa dan marah. Namun meski demikian, Tristan tidak bisa mengabaikan Susi begitu saja dengan kesakitannya. Terlebih Susi hanya seorang diri. Orang tua dan keluarganya telah berada di kampungnya.


Pukul 07.45 Susi sudah selesai membersihkan tubuhnya. Kini saatnya dia menunggu dokter Retno untuk memeriksa kondisinya hari ini dan berencana meminta untuknya rawat jalan.


***


Dari sudut ruangan, Rayan terkesima melihat wajah cantik Ayana yang terlihat ceria. Rayan tersenyum kecil menyaksikan pemandangan manis itu. Tidak lupa dia mengabadikan moment itu di ponsel milik pribadinya.



"Jadi benarkan non..? Ibunya non Ayana pasti cantiknya kayak non Ayana sewaktu muda.." Celetuk bibi Ina menyela ucapan bu Lela


"Ibu memang cantik bi.. Saking cantiknya, mantannya gak ada sama sekali karena hanya bapak yang mau sama Ibu.." Ucap Ayana mengundang gelak tawa bagi yang mendengarnya.


"Kalian ini dari tadi gosip aja kerjaannya.. Ibu sampe di jadiin bahan candaan gini lagi.." Ucap bu Lela yang juga tak kalah mengundang gelak tawa.

__ADS_1


"Pagi sayang.." Ayana tersentak kaget ketika Rayan muncul tiba tiba di sampingnya dengan mencium pipi kirinya.


"Eh.. Iya.. Pagi juga sayang.. Maaf, tadi gak nunggu mas dulu.. Aku niatnya mau bikin sarapan buat mas, tapi Ibu sama bibi ngelarang.." Ucap Ayana merasa tidak enak hati pada suaminya itu.


"Gak apa apa sayang.. Maaf juga, semalam aku tidur duluan karena kepalaku pusing.." Ucap Rayan tersenyum.


Ayana hanya diam menatap wajah suaminya. Terbayang kembali perasaannya semalam yang tidur tanpa pelukan sang suami seperti biasanya. Membuat raut wajahnya berubah menjadi sendu.


Bu Lela yang melihat itu, menaru curiga pada keduanya. Ibu Lela merasa mereka pasti telah berselisih paham dari sebelum mereka pulang dari rumah sakit. Namun Ayana yang menyadari tatapan Ibunya, langsung mencium pipi sang suami untuk menghindari kekhawatiran sang ibu.


***


"Iya boleh boleh saja jika memang nona Susi meminta untuk rawat jalan.. Hanya saja nona Susi harus melewati satu malam lagi dan selama di rumah harus benar benar bed rest.." Tawar dokter Retno yang sebetulnya belum bisa mengizinkan Susi untuk pulang di karenakan kemarin Susi baru saja di operasi kecil untuk membersihkan kotoran darah sisa dari keguguran pada 2 bulan lalu.


Susi yang selama ini sering mengeluhkan sakit pada bagian perutnya, tidak menyadari akan kemungkinan ada sisa darah yang belum benar benar bersih dari kandungannya.


"Gak dok.. Saya mohon.. Saya akan benar benar nurut untuk istrahat total dari semua aktivitas jika saya bisa pulang hari ini.. Boleh ya dok..?" Susi terus merengek meminta izin untuk pulang.


Dokter Retno menarik nafas kasar menanggapi sikap keras kepala pasiennya itu. Tatapannya datar. Namun tetap tidak menyurutkan niat Susi untuk terus memohon. Hingga dokter Retno terpaksa memberinya izin dengan berbagai ketentuan syarat dan berakhir dengan kesepakatan.


Sesampainya di tempat kontrakan, Susi yang masih merasa lemas, naik ke tempat tidurnya dengan sebuah kotak di tangannya. Lama ia pandangi kotak kubus yang menyimpan barang yang seharusnya menjadi sebuah sejarah indah dalam hidupnya. Namun takdir yang telah ia jalani, tidaklah seindah harapannya saat ini.



Di rumah sakit, Tristan merasa kesal dengan sikap keras kepala Susi yang memilih pulang meski kondisi kesehatannya belum pulih itu dari keterangan dokter Retno setelah ia temui. Tristan akhirnya bergegas menuju mobilnya dan meninggalkan rumah sakit menuju kontrakan Susi.


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


HAI TEMAN TEMAN, TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR KESINI DAN MEMBERI DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞**


__ADS_2