PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KISAH YANG TELAH USAI


__ADS_3

Susi bukanlah janda yang haus akan belaian. Bukan pula menginginkan hubungan seperti yang Tristan berikan. Hanya saja Tristan yang awalnya tidak bermaksud apa apa, kini semakin tak bisa menahan dirinya ketika berdekatan dengan Susi.


Bagi Tristan, Susi adalah wanita yang tahu akan apa yang harus dia jaga sebagai perempuan. Hanya saja dirinya yang seolah penuh dengan pemaksaan sehingga hal yang tidak harus terjadi akhirnya terjadi juga.


Bersyukur Susi masih bisa tetap dalam kondisi sadar saat dirinya terlampau jauh.


Sebagai lelaki normal, Tristan selalu menginginkan lebih setiap kali mereka berciuman. Hingga saat dalam perjalanan membeli makan siang untuk Susi, dirinya merenung.


Apakah sebaiknya mereka menikah siri saja pikirnya. Karena bagaimanapun dia menahannya, tidak menutup kemungkinan hal itu tidak akan terjadi. Karena syetan pasti tidak akan berhenti menghasut setiap tindakan anak manusia.


Tristan belum ingin Ibunya tahu. Sebab status Susi tentu akan membuat sang Ibu menentang keras hubungan mereka. Dan Tristan tidak menginginkan mereka putus. Karena berada di samping Susi, hatinya terasa begitu nyaman.


***

__ADS_1


Rayan terkejut saat keluar dari ruangannya ternyata Emil masih berada di depan ruangan pribadinya. Entah sengaja menunggunya atau ada maksud lain, Rayan tidak tahu.


Dengan cuek Rayan berjalan melewati Emil dengan santai. Emil yang merasa di acuhkan mencoba mengejar Rayan dengan kesal.


"Apalagi sih Mil..? Kalau kamu mau kerja disana, ikuti prosesnya. Seleksi. Kalau kamu merasa memiliki kemampuan di banding yang lain, yasudah ngapain resah..?" Ujar Rayan dengan nada tegas saat Emil mencoba menahannya.


"Apa Ayana yang meminta kamu sama papa kamu untuk menolakku secara tidak langsung seperti ini..? Ini penolakkan Yan, tapi secara halus.. Dan kamu menghindariku pun hari ini karena itu.. Syukurnya aku balik lagi ngambil handphone yang tertinggal di ruanganmu, kalau tidak mana aku tahu kamu menghindariku sampai gak masuk masuk kesana sepanjang hari.." Ujar Emil meluapkan Emosinya.


"Maaf Mil, Ayana tidak tau menau soal ini.. Dan kalau mau jujur, aku juga gak bisa bantu kamu soal ini.. Karna itu urusan kamu sama papa, bukan sama aku.. Maaf, aku harus pulang.. Istriku sudah nunggu di rumah.." Tutur Rayan langsung meninggalkan Emil yang terdiam dengan kata katanya.


***


"Maaf pak, apa hari ini bapak akan lembur..?" Arman terkejut saat tiba tiba sang asistennya menghampirinya di ruangannya.

__ADS_1


"Ehk.. Sejak kapan kamu disini..?" Tanya Arman mengerutkan keningnya terkejut menatap asistennya itu.



"Maaf pak.. Tadi saya sudah mengentuk pintu berulang kali tapi bapak tidak mendengar.. Jadi saya masuk saja, takut ada apa apa.." Jawab sang asisten sopan.


Arman tidak menjawab. Dia hanya bergegas membereskan meja kerjanya dan meraih tas kerjanya kemudian keluar melewati sang asisten tanpa suara.


Sang asisten pribadinya itu hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal melihat sikap sang boss kemudian diapun ikut keluar menyusul Arman.


Sepanjang perjalanan pulang, Arman terus melamun. Dia membandingkan kehidupannya yang dulu dan sekarang yang memiliki perubahan yang begitu jauh. Hingga Arman tidak sadar bahwa dirinya kini berada di simpang jalan dimana ada lampu merah sedang menyalah.


Dengan keras mobil dari arah berlawanan menghantam tepat di samping kiri mobilnya membuat mobil yang di kendarainya terjungkal hingga beberapa meter.

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH TEMAN TEMAN SEMUA YANG SUDAH MENGUNJUNGI NOVEL SAYA INI.. 🙏🙏💞💞💞💞**


__ADS_2