
Susi tersenyum simpul menanggapi ucapan Ayana itu. Di hatinya bersorak ria mendapat saran dari sahabatnya itu.
Hingga mereka di kejutkan dengan kedatangan mertua Ayana yang ingin menjenguk cucunya Yuki
"Assalamulikum.." Pak Sultan dan dokter Retno mengucap salam bersamaan
"Waalaikumsalam.. Mama, papa.." Ayana menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangan keduanya takzim.
"Apa kabar sayang..?" Tanya dokter Retno tersenyum mengelus lengan Ayana.
"Baik ma.. Mama sama papa apa kabar..?" Tanya balik Ayana sopan.
"Kami baik sayang.. Yuki gimana..? Apa udah ada perkembangan hari ini..? Tanya dokter Retno menghampiri Yuki di ranjang pasiennya.
"Belum ma.." Jawab Ayana sedih
"Oma.." Sapa Yuki terjaga dari tidurnya karena keberisikan bu Retno sang oma
"Haii cucu oma yang cantik.. Coba liat Ini, oma bawa boneka buat Yuki.." dokter Retno mencium punggung tangan Yuki membuat Ayana terharu. Susi pun demikian
"Ternyata orang yang tulus itu benar benar ada.. Betapa beruntungnya Ayana dan Yuki.." Batin Susi menatap haru.
"Opa mau ajak Yuki jalan jalan ke singapur minggu depan mau..? Disana banyak mainan dam boneka juga.." Ucap pak Sultan tersenyum mengelus punggung tangan Yuki.
Ayana mengerutkan keningnya menatap kedua mertuanya saat mendengar ucapan pak Sultan.
Pak Sultan, Ayahnya Rayan, mertua Ayana memang sudah sepakat dengan Rayan dan dokter Retno untuk membawa Yuki ke singapure untuk menjalani perawatan disana.
Itulah sebabnya hari ini pak Sultan dan sang istri berkunjung ke rumah sakit menemui Ayana untuk membahas hal tersebut
"Assalamualaikum.. Ma, pa.. Eh Susi..?" Sapa Rayan saat masuk ke ruangan rawat Yuki
"Yan, kamu belum ngasih tau istrimu soal rencana mama sama papa membawa Yuki ke singapure..?" Tanya pak Sultan pada Rayan
"Belum sempat pah.." Jawab Rayan melirik ke arah Ayana
Ayana yang sejak tadi hanya menyimak, tetap memilih diam acu tak acu
"Ayana.. Aku keluar sebentar ya..? Gak enak sama mertua dan dokter gantengmu itu.." Bisik Susi, membuat Ayana tergelak
Di ruangan lain, Emil sedang kesakitan saat terjatuh di lantai kamar mandi.
Dengan susah payah dia merangkak keluar menuju nakas untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Rayan.
Rayan yang saat itu sedang membahas soal keberangkatan Yuki ke singapura, mendapat telephone dari Emil langsung begegas keluar kamar Yuki menuju kamar rawat Emil tanpa pamit karena panik.
Pak Sultan dan sang istri kaget melihat reaksi Rayan.
Mereka tahu itu bukan panggilan soal pasiennya, karena terdengar Rayan sempat menyebut nama Emil, mantan kekasih anaknya yang dulu hampir menjadi menantu mereka.
Bu Retno sempat menoleh ke arah Ayana. Khawatir sang menantu mendengar sang anak menyebut nama wanita lain dan pergi tanpa pamit.
Ayana memang mendengar dengan jelas, namun dia memilih diam depan mertuanya. Biarlah nanti dia selesaikan berdua dengan suami tanpa perlu mertuanya tahu.
Di kamar Emil, Rayan sempat panik melihat Emil yang terkulai lemas di lantai samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih gak minta bantuan kalau ke kamar mandi..?" Ujar Rayan setelah dia menggendong Emil ke tempat tidurnya
"Ternyata kamu masih peduli seperti dulu.. " Emil menatap wajah Rayan dengan sendu
Tangannya terangkat meraih wajah Rayan tanpa sadar. Rayan memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tangan Emil.
"Kamu istrahat dulu.. Biar aku panggilkan dokter dan perawat sebentar.." Ucap Rayan beranjak pergi.
"Rayan.." Ayana mencegah langkah Rayan.
Rayan menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh.
"Terima kasih.." Ucap Emil tulus.
Tanpa menjawab, Rayan melanjutkan langkahnya keluar ruangan Emil dan menuju ruangan perawat.
Membuat hati Emil sedikit kecewa.
***
Sehari sudah berlalu. Kini Ayana sedang berada di rumahnya untuk mengambil beberapa helai pakaian untuknya dan Rayan selama di rumah sakit.
Ayana merasa bersalah pada sang suami karena belum bisa melayani keperluan sang suami dengan baik karena mereka masih terus menginap di rumah sakit menjaga Yuki.
Untuk itulah hari ini Ayana pulang ke rumah untuk mengambil apa yang menjadi keperluan dan kebutuhan untuk sang suami. Terlebih pakaian kerjanya.
"Sayang, kenapa pakaian kerja ku banyak sekali..? "
"Biar kamunya gak bolak balik lagi sayang.. Kan capek setiap subuh pulang ke rumah cuma untuk ganti pakaian kerja.." Jawab Ayana yang masih sibuk menyusun pakaian ke dalam koper.
Rayan menaikan alisnya mendengar kata sayang yang di sematkan Ayana untuknya.
Ayana yang menyadari suaminya tak bergeming, sontak menatapnya dengan senyum manisnya.
Ayana mengelus pipi sang suami dan mengecupnya dengan lembut.
"Apa boleh aku minta hak ku sebagai suami disini..?" Tanya Rayan dengan tatapan serius.
Ayana mendadak gugup dan wajahnya memerah menahan perasaan malu.
Ingin rasanya dia memberikan hak suaminya, namun dia malu karena saat ini waktu menunjukkan pukul satu siang.
Artinya Rayan meminta haknya di saat siang bolong.
"Mas.. Masa siang gini..?" Ujar Ayana menunduk malu.
Sesaat kemudian Ayana di landa ragu.
Rayan tergelak mengelus pipi Ayana penuh sayang.
"Kenapa sayang..? Apa gak boleh..?" Tanya Rayan menatap wajah Ayana yang meneduhkan hatinya itu.
__ADS_1
"Bukan gak boleh mas.. Tapi aku malu.." Jawab Ayana jujur.
Ayana memang masih merasa sedikit malu melakukan hubungan suami istri dengan Rayan yang terbilang baru pertama kali. Sementara dirinya sudah bukan gadis lagi.
Mungkin Ayana bisa leluasa melayani suaminya dengan baik jika posisinya mereka melakukannya di malam hari.
"Gak apa apa sayang.. Kitakan suami istri yang sah.. Apa salahnya melakukan di siang hari juga.. Pintu jendela kita tutup rapat biar cahaya gak bisa masuk.. Anggap aja malam.." Ujar Rayan tersenyum menahan tawanya, membuat Ayana menepuk pelan lengannya karena tersipu malu.
Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Rayan menunduk mencium kening Ayana dengan lembut.
Di angkatnya dagu Ayana menatapnya. Dengan pelan Rayan mendaratkan ciumannya tepat di bibir sang istri.
Ayana pun perlahan menyambutnya. Hingga hubungan malam pertama sebagai suami istri yang seharusnya terjadi di malam pengantin mereka, baru terlaksana saat ini.
Rayan yang baru pertama kalinya untuknya melakukan hubungan suami istri, begitu menikmati meski cukup kewalahan.
Ayana tidak ingin mengecewakan Rayan suaminya. Dia cukup bisa mengimbanginya dan melayaninya dengan baik.
Hingga permainan mereka selesai dan mencapai kenikmatan yang memuaskan hasrat mereka masing masing.
"Sayang.. Terima kasih.." Ucap Rayan mengecup kening istrinya setelah pertempuran mereka selesai.
Ayana mengangguk tersenyum. Ayana merasa kelelahan karena ulah sang suami.
Rayan menatap lembut wajah Ayana yang terpejam akibat kelelahan.
Rayan tersenyum mengingat yang awalnya hanya berniat mengambil keperluan selama di rumah sakit, malah berakhir berjelajah di atas ranjang bersama istri tercintanya.
"Aku mandi duluan ya..? Kamu istrahat dulu.. Sejam lagi kita balik ke rumah sakit.." Ucap Rayan mengecup kening istrinya sekali lagi.
"Iya mas.. Aku cuma butuh istrahat sebentar kok.. Kamu mandi saja dulu.." Ujar Ayana dengan matanya yang masih terpejam.
Rayan gemas sendiri melihat sang istri yang bergelayut di balik selimut.
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
HAII TEMAN TEMAN.. 🙏
TERIMA KASIH MASIH SETIA MENUNGGU SETIAP EPISODE NOVEL SAYA INI.. 😇🙏💞💞
TERIMA KASIH JUGA SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA UNTUK SAYA TERUS SEMANGAT LAGI DALAM BERKARYA.. TERIMA KASIH YA TEMAN TEMAN.. 🙏🙏🙏💞💞💞**
AYO MAMPIR JUGA KE NOVEL SAYA YANG DIBAWAH INI.. SEMOGA SUKA DENGAN ISI CERITANYA..😇🙏🙏💞
__ADS_1