PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
KELEMBUTAN


__ADS_3

Kejadian di masa lalu sungguh membuatnya sangat tidak nyaman. Entah kenapa, kejadian kekerasan yang dia alami dari mantan suaminya terlintas begitu saja saat Tristan mendorong paksa pintu dan mengukungnya serta menciumnya dengan paksa.


Selama ini Susi tidak pernah merasa terganggu dengan apapun setelah terbebas dari mantannya setelah perceraian. Sebab itulah yang kini membuatnya frustasi.


Dengan perlahan Susi turun dari tempat tidurnya menuju dapur untuk mengambil air minum untuknya. Saat melewati ruang tengah, dimana terletak sofa dan meja disana, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah benda yang tergeletak begitu saja di sudut ruangan berdekatan dengan sofa.


Keningnya berkerut saat mendapati benda tersebut ternyata adalah sebuah handphone. Saat tahu itu bukan miliknya, dan karena ingin tahu ponsel tersebut milik siapa, Susi terpaksa membuka layar ponsel tersebut yang ternyata tidak di terkunci.


***


Setelah dua hari berlalu, Tristan belum juga datang menemui Susi. Begitupun dengan Susi, dia bingung harus mengembalikan ponsel milik Tristan dimana sebab dia tidak tahu alamat rumahnya.


"Susi, hari ini ada pemotretan gaun rancangan baru saya, kamu bantu Lika siapin segala sesuatunya ya.." Susi terkejut Ratu sang bos tiba tiba muncul di hadapannya yang sedang melamun.


"Eh iya bu siap.." Jawab Susi bergegas membereskan pekerjaannya yang sedang merapikan pajangan karena harus melaksanakan tugas baru lagi.


Saat Susi berbalik mau menuju ruang pemotretan, tanpa sengaja matanya berpapasan dengan Tristan yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Jantung Susi tiba tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Namun kali ini bukan karena takut, tapi karena malu ketika ingat Tristan mencium bibirnya di malam itu.


Susi membuang mukanya saat Tristan maju mendekat ke arahnya. Jantungnya semakin berpacu. Bahkan wajahnya kini sudah mulai merona.


"Apa kabar..? Apa kamu udah baik baik aja..?" Pertanyaan Tristan semakin membuat Susi malu.


Dengan buru buru Susi pergi dari sana mencoba menghindari Tristan namun dengan cepat Tristan mencekal lengan Susi sehingga membuatnya sedikit memekik. Hal itu tidak luput dari pandangan kedua karyawan yang sejak tadi sedang bersama Susi membereskan gaun yang di pajang di patung.


"Lepas Tan.. Saya ada kerjaan.. Nanti saya di omelin.." Ucap Susi setengah berbisik menatap mata Tristan sambil sesekali melirik ke arah temannya.


Tristan seolah tuli. Tangannya justru semakin erat mencengkram lengan Susi. Tatapannya membuat Susi salah tingkah.

__ADS_1


"Tan, saya selesain dulu kerjaan saya.." Mohon Susi.


Tristan tersenyum menatap Susi dan melepaskan cengkramannya.


"Aku tunggu disana.." Ucap Tristan menunjuk sofa yang di sediakan butik untuk pengunjung di ruang tunggu.


***


Hari ini Rayan di sibukkan dengan kedatangan pasien rujukan yang dua sekaligus dalam waktu bersamaan. Padahal waktu sudah menunjukan pukul empat sore yang artinya sudah waktunya untuknya bersiap siap pulang. Sementara dokter yang akan bergantian shift baru dalam perjalanan ke rumah sakit dan kini sedang terjebak macet.


Di rumah. Ayana sudah resah menunggu sang suami pulang kerja. Sudah hampir dua jam Ayana menunggu, namun Rayan belum juga pulang bahkan telephone darinya pun tidak di angkat oleh Rayan.


Hingga tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Rayan baru sampai di gerbang rumahnya. Sementara Ayana yang sedang bersama dengan Pangeran sang buah hati mereka, ketiduran di sofa ruang tamu.


"Assalamualaikum.." Ucap Rayan membuka pintu rumah yang ternyata tidak di kunci.


Rayan terkejut melihat sang istri yang sedang ketiduran di ruang tamu. Tidak biasanya Ayana seperti itu. Mungkin karena hari ini Rayan pulang larut yang biasanya pulang tepat di waktu sore.



"Astaga Pangeran.." Rayan menatap Pangeran dan sang istri secara bergantian.


"Sayang.. Sayang bangun sayang.." Rayan membangunkan Ayana dengan lembut.


"Mas.. Mas udah pulang..?" Matanya terasa begitu berat untuk terjaga.


"Maaf sayang aku pulang telat.. Tadi ada pasien darurat.." Ucap Rayan mengelus lengan sang istri.

__ADS_1


"Iya mas gak apa apa.. Aku cuma khawatir karna mas juga gak ngabarin.." Jawab Ayana lembut.


"Besok kita cari pengasuh baru ya buat Pangeran..? Mbaknya kan udah mau nikah, gak mungkin dia balik kerja lagi.." Ucap Rayan melirik ke arah Pangeran.


"Iya mas terserah mas aja.. " Jawab Ayana tersenyum.


"Capek gak..?" Rayan tersenyum mendengar pertanyaan Ayana.


"Kenapa..? Boleh..?" Rayan mencoba menjahili sang istri.


Rayan terkejut. Niat tak sungguhan, malah di angguki oleh Ayana. Membuatnya langsung bersemangat.


"Mas mandi dulu.. Aku biar tidurin Pangeran dulu ya mas.." Ayana bergegas bangun dari tidurnya dan membawa Pangeran menuju kamarnya untuk istrahat.


Sementara Rayan, tersenyum menatap punggung sang istri yang tahu saja kebutuhan biologisnya di saat seperti ini.


***


"Aku pulang ya..? Terima kasih karna sudah mau ngembaliin handphone aku.." Ucap Tristan tersenyum menunjukan ponselnya.


Susi mengangguk tersenyum.


"Istrahatlah.. Malam sudah larut.. Sekali lagi maaf sudah membuat kekacauan malam itu.." Ujar Tristan mengelus lengan Susi


Susi menunduk malu. Terlintas di ingatannya saat Tristan mencium bibirnya. Bahkan masih sangat terasa olehnya.


"Jangan takut lagi.. Aku gak akan melukaimu.. Aku melakukannya bukan karena nafsu, tapi aku gak suka kamu cuekin seperti itu.." Ujar Tristan lembut

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG MASIH MENUNGGU LANJUTAN CERITA DARI NOVEL INI.. TERIMA KASIH JUGA SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA SEJAUH INI.. 🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2