PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
SEBUAH PERASAAN


__ADS_3

Meski saat ini dia melihat Rayan begitu mencintai dan menghargainya, tapi sejak ucapan gurauan Rayan pada malam itu membuatnya selalu teringat akan kisahnya yang di duakan oleh Arman. Terlebih saat ini, hadir gadis remaja di rumhnya yang sempat membuatnya geram.


Tidak lama kemudian, deru mobil terdengar memasuki halaman rumah. Ayana yang sedang duduk di tepi ranjang, mengerutkan keningnya menatap ke arah balkon yang jendela tengah terbuka.


Merasa penasaran dengan suara mobil yang di rasa bukan suara mobil milik sang suami, Ayana mencoba keluar kamar menuju balkon untuk memastikannya sendiri.



Dari atas balkon, Ayana melihat sang suami turun dari mobil yang di kendarainya. Namun Ayana tetap saja bingung karena mobil tersebut memang bukanlah mobil milik suaminya.


Melihat sang suami memasuki rumah, Ayanapun masuk kembali ke dalam kamar menyambut sang suami.


"Assalamualaikum sayang.." Terdengar suara pintu kamar dan ucapan salam dari Rayan di sambut senyum oleh Ayana sambil menjawab salam dari sang suami.


"Mas, itu mobil siapa..? Mobil mas Rayan kemana..?" Merasa ada yang janggal, Ayana langsung bertanya tanpa basa basi.


"Mobil kekasihku.. Mobilku masih di parkiran rumah sakit.." Jawab Rayan tersenyum sambil melepas jam tangannya tanpa menatap Ayana.


Ayana terdiam. Hatinya mendadak tak nyaman. Baru saja ingatannya atas perlakuan Arman datang, kini mendapati ucapan sang suami yang membuatnya sakit.


Rayan tahu apa yang tengah di pikirkan Ayana tentangnya setelah mengucapkan itu. Dia sengaja mengerjai sang istri sedikit untuk sebuah surprise hadiah ulang tahunnya.


Jelas Ayana tidak ingat hari ulang tahunnya. Sebab dia sendiri hampir tidak pernah merayakan ulang tahun seperti kebanyakan orang.


Setelah berganti pakaian, Rayan menghampiri Ayana yang duduk diam di tepi ranjang. Dengan penuh kelembutan, Rayan memeluk Ayana dari samping dan mengecup pipinya berulang ulang kali. Ayana tak bereaksi apapun. Pikirannya entah kemana.


"Sayang, kekasihku, Selamat ulang tahun sayang.. Semoga kamu selalu menjadi istri kebanggaan aku, kesayangan aku, dan terus menjadi ibu yang baik juga untuk anak kita.." Ayana mengerutkan keningnya menatap wajah Rayan dengan keterkejutannya.


Rayan tersenyum melihat ekspresi Ayana.

__ADS_1


"Aku suka kamu cemburu.. Karna aku ingat dulu, begitu sulit bagiku untuk menaklukan hati kamu menerima cintaku.. Aku bahagia sayang, ternyata kamu bisa cemburu juga sama aku.." Tutur Rayan memandang wajah Ayana lekat.


"Aku hanya manusia biasa mas.. Sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu suamiku, maka kamu adalah milikku.. Aku gak suka milikku menjadi milik orang lain tanpa seizinku.." Ucap Ayana datar


Rayan terkejut mendengar ucapan Ayana.


"Maafkan aku jika tanpa sengaja maupun sengaja, sikap dan ucapanku melukai perasaanmu.." Ujar Rayan mengecup kening Ayana lembut.


"Sayang, kita lihat mobilnya yuk..? Kalau nanti kurang nyaman, kita bisa ganti sesuai yang kamu mau.." Ucap Rayan tersenyum


Ayana menatap diam sang suami yang tengah tersenyum menatapnya. Hatinya tersentuh oleh ketulusan Rayan.


Teringat olehnya, dulu sewaktu masih berstatus istri dari Arman, Ayana sempat menginginkan sebuah mobil untuknya bekerja, namun hanya sebuah janji janji manis oleh mantan suaminya itu.


Tapi kini, Rayan memberikannya sebuah mobil tanpa dia minta dan tanpa sepengetahuannya. Bahkan berharappun tidak sama sekali. Yang Ayana inginkan dalam hidupnya kali ini hanyalah keutuhan rumah tangganya dan di jauhkan dari orang ketiga.


"Selamat ulang tahun sekali lagi untukmu istriku.. Bahagia selalu dalam hidupmu.. Teruslah bersamaku, di sampingku suka maupun duka.." Ucap Rayan lembut.


"Iya sayang.. Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kurangnya aku.. Maaf jika aku belum sepenuhnya menjadi istri yang kamu harapkan.. Tapi aku akan terus berusaha menjadi istri yang baik untukmu.." Tutur Ayana terisak


***


Di tempat lain, Susi yang masih bingung harus dengan apa menjelaskan kepada Tristan atas kesalah pahaman saat di kontrakannya, hampir membuatnya terlindas kendaraan karena tidak fokus saat mengendarai motor maticnya.


Susi yang terkejut, menepikan motornya di sisi bahu jalan dan terus merutuki dirinya akibat hampir saja dirinya mengalami kecelakaan.


Dari jauh, ternyata Tristan yang sejak tadi tengah membututinya juga tak kalah terkejut melihat Susi yang hampir saja mengalami kecelakaan.


Merasa tak tahan, Tristan menghampiri Susi dengan menepikan mobilnya tepat di depan motor milik Susi. Susi yang duduk di trotoar tidak menyadari kehadiran Tristan. Dirinya terus saja memijat keningnya dengan posisi menunduk dan siku tangan bertumpuh di lutut.

__ADS_1


Hati Tristan belum bisa berdamai dengan kondisi yang terjadi di antara mereka. Namun sisi hatinya yang lain, tidak bisa jauh dari Susi apalagi melihat Susi yang seperti kacau.


"Lain kali kalau banyak pikiran, jangan berkendara sendirian.. Bisakan naik ojek atau angkot..?" Ucap Tristan menasehati Susi namun dengan nada marah


Mendengar suara Tristan, sontak membuat Susi mengangkat kepalanya menatap ke arah suara. Dia terkejut ternyata Tristan benar berada di depannya saat ini.


Dengan tefleks Susi berdiri dan menyandarkan wajahnya di dada Tristan.


"Aku minta maaf.. Kamu hanya salah paham.. Aku gak seburuk yang ada di pikiranmu.." Ucap Susi menahan tangisnya



Ingin rasanya Susi memeluk Tristan, namun dia malu.


"Kenapa harus menjelaskan..? Kita gak ada hubungan apa apakan..?" Jawab Tristan datar


Sontak saja Susi mengangkat wajahnya menatap Tristan dengan lekat. Hatinya mendadak malu mendengar ucapan yang keluar dari mulut lelaki di hadapannya itu.


Bayangan Tristan yang menciumnya mesra, memeluknya dengan lembut, perhatain demi perhatian yang dia terima selama ini, ternyata bukan menandakan sebuah hubungan lebih di antara keduanya. Batin Susi


Dengan cepat Susi menarik tangannya yang masih melekat di lengan Tristan, dan memundurkan kakinya selangkah kebelakang untuk menjaga jarak. Dengan perasaan malu, Susi bergegas menghampiri motornya dan pergi berlalu dari sana tanpa sepatah kata lagi.


Tristan menunduk kesal setelah motor Susi mulai menjauh. Tristan seakan frustasi menyesali ucapannya. Rasa cemburu dan kecewa, membuat otaknya tak bisa berpikir jerni.


Sementara Susi sendiri, terus memacu kendaraannya dengan perasaan yang pilu. Tangisnya pecah tak tertahankan. Bukan hanya sakit yang dia rasakan, tapi juga rasa malu yang membuatnya menangis terisak hingga sepanjang jalan.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA UNTUK TEMAN TEMAN SEMUA.. 🙏🙏💞💞💞**

__ADS_1


__ADS_2