
"Mama tau sayang.. Mama juga tau perasaan kamu seperti apa.." Dokter Retno meraih Ayana dalam pelukannyan.
Betapa dokter Retno menyayangi menantunya itu dengan segala apa yang ada padanya.
Dokter Retno menyadari, betapa berat ujian menantunya itu yang jika di posisi dirinya, belum tentu dia akan sekuat Ayana.
***
Dua hari sudah Ayana di rawat di rumah sakit. Dan hari ini Ayana sudah di ijinkan pulang oleh dokter Retno, mertuanya sendiri.
Sejam sudah Ayana menunggu Rayan suaminya di lobi rumah sakit, namun Rayan belum juga nampak di depan mata.
Ayana yang memang sifatnya yang sabar, masih setia duduk di kursinya menunggu jemputan sang suami.
Dokter Retno sebelumnya sudah meminta Ayana menunggu Rayan di kamarnya.
Namun karena Ayana sudah bosan berada di ruangan, dan ingin cepat cepat berkunjung ke makam Yuki, hingga dia memutuskan menunggu Rayan di lobi rumah sakit setelah dokter Retno keluar dari kamarnya karena harus menangani pasien di ruang beda.
Sementara di tempat lain, Rayan sedang lebih dulu ziarah ke makam Yuki.
Rayan menatap sendu batu nisan yang bertuliskan Yuki Raisha.
Sekelebat wajah Yuki yang tertawa lepas, tersenyum bahkan merajuk terlintas di ingatan Rayan.
Betapa hatinya rindu akan kehadiran Yuki. Seorang anak kecil yang belum mengerti apa apa.
Dia hanya butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, butuh perlindungan, butuh kehidupan yang layak serta butuh dorongan semangat untuknya berjuang melawan sakit, kini telah kalah.
"*Yuki sayang.. Anak papa.. Semoga kamu bahagia disana nak.. Papa kesini membawa kabar bahagia, Yuki sekarang telah menjadi seorang kakak.."'
__ADS_1
"Di perut mama, ada dede bayi, adiknya Yuki.. Meski kalian tinggal di tempat yang berbeda, tapi kasih sayang papa pada kalian gak akan berbeda*.."
"Yuki, doakan mama disana ya nak..? Semoga mama disini akan selalu bahagia.. Bisa melanjutkan hidupnya dengan penuh kebahagiaan bersama papa dan adiknya Yuki.."
"**P**apa rindu kamu nak.. Papa sayang sama kamu.. Andai papa bisa memelukmu saat ini, papa gak akan melepasmu.."
Tanpa terasa, air mata Rayan jatuh perlahan membasahi pipinya.
Rayan benar benar begitu merindukan Yuki, anak sambungnya yang kini telah tiada untuk selama lamanya.
Di rumah sakit, Ayana yang mulai merasa pegal pada pinggangnya, meraih ponsel yang berada di dalam tas miliknya dan mulai mencari nomor Rayan yang tersimpan di kontak ponsel miliknya itu.
Berulang kali Ayana mencoba menghubungi Rayan, namun tetap tidak mendapat respon.
Ayana akhirnya menunduk lesu kemudian meraih tas pakaian yang berada di sampingnya dan beranjak dari sana.
Ayana memilih pulang menggunakan jasa taksi.
Ayana turun dari taksi dan berjalan lesu menuju letak makam Yuki Raisha. Terlihat dari jauh, ada sosok laki laki sedang bersimpu di depan makam Yuki yang masih basah, yang belum di tanami rumput hijau khusus untuk makam di tempat itu.
Ayana melambatkan langkah kakinya ketika tahu siapa yang berada disana. Ayana berdiri mematung di samping tenda yang masih terpasang disana tanpa berniat menyapa.
"Ayana..?" Arman terkejut melihat Ayana tepat berada tidak jauh di depannya saat dia berbalik niat pulang setelah selesai memanjatkan doa untuk Yuki.
Ayana menatap wajah mantan suaminya itu dengan diam. Dalam benak Ayana bertanya tanya, dari mana Arman tahu makam Yuki berada.
Tidak mungkin keluarganya atau bahkan suaminya yang menghubungi mantan suaminya itu.
"Ayana.. Kenapa kamu tega tidak memberi tahu aku soal Yuki.. Apa kamu lupa kalau Yuki itu anakku, darah dagingku..? Kenapa Ayana..? Kamu sudah memisahkan aku dan Yuki.. Yuki pasti kecewa sama kamu.." Arman meluapkan emosinya pada Ayana.
__ADS_1
Arman bahkan tidak peduli Ayana adalah wanita lemah lembut. Arman membentak seolah Ayana adalah wanita yang kejam.
Ayana melangkah menuju kursi yang berada di dalam tenda tepat di makam Yuki.
Tenda yang masih terpasang rapi bersama tirai jingga seperti langit jingga yang selalu di rindukan Yuki.
"Apa anda lupa seperti apa perlakuan anda pada saya dan Yuki..? apa anda lupa seperti apa saya memohon kesadaran anda untuk mendampinginya, selalu ada untuknya pada saat dia sakit..? Apa perlu saya ingatkan lagi..?" Ucap Ayana tanpa gentar sedikitpun
Sementara di rumah sakit, Rayan kebingungan mencari keberadaan Ayana. Dokter Retno yang sudah mewanti wanti Ayana di kamar rawatnya, ternyata juga di buat sibuk oleh Rayan.
Rayan turun dari lantai empat kembali menuju ke mobil mencari ponselnya yang sengaja dia biarkan disana sejak di pemakaman Yuki.
Rayan mengusap kasar wajahnya saat melihat layar ponselnya ada lima panggilan tak terjawab disana dari sang istri sejam yang lalu.
"Waalaikumsalam.. Bi, Ayana sudah di rumah belum..?" Rayan semakin khawatir mendengar jawaban asisten rumah tangganya bahwa Ayana belum berada di rumah.
Sementara itu, ponsel Ayana pun tidak dapat di hubungi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG SUDAH BERKUNJUNG DISINI.. 🙏💞💞**