PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
TEMPAT TINGGAL BARU


__ADS_3

Sementara Susi sendiri, terus memacu kendaraannya dengan perasaan yang pilu. Tangisnya pecah tak tertahankan. Bukan hanya sakit yang dia rasakan, tapi juga rasa malu yang membuatnya menangis terisak hingga sepanjang jalan.


Kurang dari dua puluh menit kemudian, Susi telah sampai di kontrakannya. Tanpa pikir panjang, dia bergegas membenahi semua pakaian dan barang barang miliknya yang lain ke dalam kopernya.


Setelah semuanya selesai di kemas dengan rapih, Susi merai ponsel miliknya yang tersimpan di dalam tas yang dia bawa tadi dan menghubungi seseorang.


Tak lama kemudian, diapun menemui pemilik kontrakan yang rumahnya tidak jauh dari kontrakan untuk menyerahkan kunci kontrakna sekaligus berpamitan.


Semuanya selesai. Hingga akhirnya diapun membawa satu koper dan satu tas besar untuk di naikan ke jok belakang motornya dan mengikatnya dengan sebuah tali.


Kemudian satu tas berukuran sedang, dia naikan ke bagian depan beserta tas ransel. Dengan perlahan Susipun mulai menjalankan motor maticnya.


Setelah satu jam lamanya, Susi tiba di sebuah rumah sederhana di sebuah perkampungan yang rupanya milik tantenya. Sejak dulu tantenya ingin dia tinggal disana menemaninya sejak meninggalnya suaminya. Namun karena jarak rumah sang tante dan tempatnya bekerja cukup jauh, membuatnya memutuskan untuk mengontrak saja.


"Loh lohh kok gak ngomong ngomong mau kesini..? Kan nanti bisa di jemput sama Tio.." Sang tante yang sedang menyapu halaman terkejut melihat sang ponakan kesayangannya datang dengan barang barang sebanyak itu sendirian.


"Tio.. Tio.. Bantu mbakmu dulus sini.." Teriak sang tante memanggil sang anak yang berada di dalam rumah.


Dengan segera Tio anak dari sang tante datang membantu membawa barang barang miliknya masuk ke dalam rumah. Susi tersenyum melihat sepupunya itu masih seperti dulu yang begitu patuh dan terlihat semakin cakep dengan peci di kepalanya.


"Makin ganteng aja kamu Yo.. Makin cinta aku.." Ujar Susi menggoda.


"Mau aku lamar..?" Jawab Tio tak kalah menggoda.


Tawa Susi pecah saat bersamaan dengan godaan Tio, tangan sang tante menipuk keras lengan sang sepupu hingga Tio meringis kesakitan.


"Sudah sudah becandanya.. Bawa masuk barang batangnya.." Perintah sang tante pada Tio

__ADS_1


"Kamu istrahat dulu di dalam.. Nanti tante bersihkan dulu kamarnya.." Susi terharu melihat sang tante yang biasa dia panggil dengan panggilan mama dua yang artinya ibu keduanua setelah ibu kandungnya itu menyambutnya dengan wajah berseri seri.


"Biar aku saja ma.. Itu kamar tempat aku tinggal, jadi biar aku yang membersihkannya.." Jawab Susi mengelus lengan sang tante


"Gak apa apa, biar mama bantu kalau begitu.." Jawab sang tante tersenyum


Namun rupanya, Tio telah lebih dulu berada di kamar yang akan di tempati Susi dengan sebuah sapu dan sarung serta sepre baru untuk Susi. Susi tersenyum melihat antusias sang sepupu.


"Gak usah senyum senyum gitu.. Biasa aja kalau liat orang ganteng lagi beres beres kamar.." Ucap Tio dengan tanpa menoleh ke arah keduany yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Ge er aja.. Aku cuma heran, kenapa seantusias ini kamu menyambutku.." Sarkas Susi mencoba mengimbangi


"Jangan ge er.. Aku cuma kasihan liat kamu yang masih capek, dengan hati galau, tapi masih di ribetkan dengan beres beres seperti ini.." Jawab Tio tak mau kalah


Susi terkejut.


"Galau..?" Tanya Susi mengerutkan keningnya


"Matamu sembab.. Tandanya baru saja selesai menangis.." Bisik Tio setelah keluar melewatinya di ambang pintu


Susi terkejut. Dia baru sadar telah melupakan itu. Betapa malunya dia telah ketahuan baru saja selesai menangis.


Sang tante memperhatikan raut wajah sang ponakan kesayangannya itu. Rupanya bukan hanya Tio, sang tantepun tahu Susi tidak dalam keadaan baik baik saja secara batin.


Keduanyapun akhirnya masuk ke dalam kamar dan berbincang disana sambil membenahi pakaian Susi ke dalam lemari serta barang barang yang lainnya.


Tio yang berdiri di depan pintu, menatap pintu kamar yang akan di tempati Susi itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1



***


Rupanya hari ini adalah hari keberuntungan Emil. Dengan segala kemampuannya, diapun lolos seleksi dari dua karyawan yang memang sudah lebih dulu bekerja disana.


Jabatan yang di perebutkan adalah jabatan yang cukup berpengaruh di perusahaan, sehingga membuat Emil berusaha mendapatkannya.


Hal itu sudah sampai juga di telinga Rayan dan Ayana. Namun keduanya tak bisa berbuat apa. Sebab mereka tahu pada sebenarnya akan kemampaun Emil. Mereka hanya berharap, semoga Emil tidak mengaitkan pekerjaan dengan urusan pribadi mereka.


"Sayang.. Besokkan hari minggu ni.. Kita liburan yuk..?" Rayan mencoba mengalihkan suasana dengan mengajak Ayana liburan di akhir pekan.


"Kemana mas..?" Tanya Ayana males.


Rayan melirik sang istri yang sedang tidur memunggunginya.


"Ke puncak kayaknya seru deh sayang.." Tawar Rayan


Ayana membalikan tubuhnya menghadap sang suami.


"Aku pengen di rumah aja mas. Aku benar benar gak pengen kemana mana dulu.." Ucap Ayana memejamkan matanya ingin tidur


Melihat sang istri yang responnya seperti itu, Rayanpun mengalah dan membenarkan posisi tidurnya. Ayana membuka matanya menatap sang suami. Ayana menjadi kasihan melihat suaminya yang memilih menglah.


Ayana tahu Rayan ingin berlibur untuk menghilangkan penat selama bekerja, sekaligus untuk menghilangkan ketegangan akan kabar Emil yang akan menduduki jabatan penting di hotel milik sang Ayah mertua.


Ayana bergerak mendekati sang suami dan memeluknya erat. Rayan yang terkejut, mendadak gugup saat tangan Ayana mengusap lembut dadanya.

__ADS_1


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH TEMAN TEMAN SEMUA YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞💞😘😘**


__ADS_2