PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
BATIN AYANA


__ADS_3

"Mas..? Emil..?" Ayana yang lupa membawa handuk mandinya, keluar kamar mandi untuk mengambil handuknya tersebut. Tanpa sengaja dia melihat Rayan dan Emil yang berada di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka, sedang mengobrol berdua.


Emil yang duduk di kursi roda, mendongak menatap Ayana dengan senyum manisnya. Sedangkan Rayan, hanya diam terpaku. Rayan khawatir Ayana akan salah paham lagi kepadanya.


"Mas, Emil kok gak di ajak masuk..? Mil, ayo masuk dulu.." Ayana menatap Arif dengan tatapan datar setelah Emil masuk melewati Aima yang berdiri di ambang pintu


"Aku kesini cuma mau silaturahmi aja.. Aku dengar anak kalian kemarin masuk ruang PICU.. Aku turut prihatin.. "


Emil menatap Ayana yang duduk berdampingan dengan Rayan, mantan kekasihnya tiga tahun silam dengan tatapan sendu


Aima sampai sekarang belum bisa percaya sepenuhnya pada Emil. Bukan karena Emil tidak tulus, tapi karena Emil dan Rayan selalu bertemu di saat Ayana tidak ada.


Di saat Ayana hendak memberi komentar dari ucapan Emil, mereka di kagetkan dengan suara pintu yang di ketuk dari luar.


"Assalamualaikum.." Ucap seseorang di balik pintu yang ternyata adalah dokter Mika, sepupu dari Rayan.


"Waalaikumsalam.." Jawab mereka bersamaan


Mika masuk dengan sebuah paper bag di tangannya. Senyum mengembang terbit di bibir Rayan saat sepupunya itu masuk dan duduk tepat di sampingnya dengan sedikit menyenggol lengannya.


Rayan yang sudah tahu kenapa Mika tidak terlihat akhir akhir ini setelah selesai jam pratek, di karenakan sedang sibuk dengan rencana pertunangannya yang sebentar lagi akan di gelar.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kalian semua ada disini.. Jadi aku tidak perlu menemui kalian satu persatu.." Mika tersenyum menatap ketiganya satu persatu


"Aku minggu depan mau tunangan.. Aku mau ngundang kalian semua buat hadir di hari pertuangan aku.. Jangan lupa, dandanannya biasa biasa aja ya..? Takutnya para undangan salfok sama kalian dari pada aku.."


Tutur Mika dengan wajah cemberut membuat Rayan tergelak tawa hingga memegangi perutnya karena sakit



Fokus Emil teralihkan pada Rayan yang tertawa lepas. Emil sempat tersenyum kecil melihat mantan kekasihnya itu. Ada rasa rindu di sudut hati Emil untuk Rayan.


Dimana dulu mereka selalu tertawa lepas saat sedang becanda.


Tidak dapat di pungkiri oleh Emil, dimana dia juga sempat terpikat dengan ketampanan calonnya waktu itu, juga kelembutan yang di berikan oleh calonnya untuknya.


Namun setelah berjalannya waktu, dimana mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri dan memilih tinggal di belanda, sering ada aja masalah yang timbul di antara mereka


Semua perubahan yang terjadi pada raut wajah dan cara Emil menatap Rayan, tidak luput dari pandangan Ayana.


Ayana tahu dari cara Emil menatap Rayan, masih ada cinta untuk suaminya.


"Aku tidak menyalahkan mu atas rasa yang masih ada untuk suamiku.. Entah kamu sadar atau tidak, tapi aku justru kasihan padamu Emil.. Kali ini aku percaya pada suamiku, tapi aku tidak percaya lagi padamu.." Batin Aima menatap Emil

__ADS_1



Sementara itu, Rayan dan Mika masih terus saling becanda tanpa menghiraukan Ayana dan Emil yang sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


.


.


.


.


.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH BUAT YANG MASIH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN KISAH AYANA DALAM NOVEL INI.. 😇🙏🙏


BESOK LEBARAN YA..?


MOHON MAAF LAHIR BATIN YA.. 😇🙏🙏💞💞💞**

__ADS_1


__ADS_2