
"Ah non.. Kaget bibi non.." Bi Ina terlonjak kaget dengan tangan menekan dadanya melihat Ayana berdiri persis di hadapannya menatapnya dengan diam saat berbalik setelah menutup pintu depan.
Ayana bersedekap dada masih dengan menatap bi Ina. Sesekali matanya melirik ke arah luar dimana remaja yang bernama Lusi itu baru saja keluar dari rumahnya.
Bi Ina yang melihat sikap dan tatapan majikannya itu yang tak seperti biasanya, mendadak menciut. Bi Ina khawatir majikannya yang biasa dia panggil dengan panggilan non itu marah dan memecatnya dari pekerjaannya.
"Syukurlah bibi menyuruhnya pergi sebelum suami saya pulang.. Saya tidak suka jika ada tamu di rumah saya tapi tidak bisa menjaga etika.." Ucap Ayana menatap bi Ina.
Ayana takut emosinya meluap. Biar bagaimanapun, dia menghormati bi Ina sebagai orang yang lebih tua darinya.
"Iya non bibi minta maaf atas kelakuan dan sikap ponakan bibi.. Benar benar minta maaf.." Jawab bi Ina menyesal.
Ayana mengangguk pelan menatap wajah bi Ina. Ayana tidak tega melihat raut wajah wanita yang kini seusia ibunya itu. Tapi biar bagaimanapun, Ayana harus bisa tegas agar kejadian itu tidak terulang lagi.
***
Ibu Mida menangis tampak frustasi dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh dokter kepadanya dan sang suami. Kenyataan bahwa Arman anak mereka satu satunya kini telah berbaring tak berdaya di ruang ICU dengan kondisi yang belum sadarkan diri. Sehingga dokter terpaksa harus melakukan tindakan lanjutan lagi.
__ADS_1
Sedangkan pak Rizal sendiri hanya bisa berusaha menenangkan sang istri. Meski hatinya tak kalah hancur, tapi melihat istrinya seperti itu, pak Rizal berusaha tetap kuat.
"Baiklah dok.. Lakukan yang terbaik untuk anak kami.. Sembuhkan dia, dia anak kami satu satunya.. Penerusnya juga sudah tiada.. Hanya dialah harapan kami.." Pinta bu Mida dengan frustasi.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien, selebihnya bapka dan ibu berdoa.. Berserah diri pada sang maha kuasa.. Semoga anak ibu dan bapak bisa kembali pulih.." Jawab sang dokter ahli beda dan saraf itu tersenyum berusaha menguatkan.
"Baik dok.. Terima kasih sebelumnya.. Kalau begitu kami permisi dulu.." Ujar pak Rizal ramah.
"Iya pak sama sama.. Silakan.." Jawab sang dokter dengan tak kalah ramah.
***
"Maaf mas, tadi handphone aku tinggalkan di kamar.. Aku gak tau ada panggilan dari kamu.." Jawab Ayana dari ujung telephone
"Handhphone di kamar, kamu dimana..?" Tanya Rayan sedikit protek
"Aku di kamar Pangeran akulah mas.. Dimana lagi.. Mas jam berapa pulang.." Terdengar suara Ayana dari seberang sana begitu menggoda.
__ADS_1
Sesuatu yang menjadi tujuannya menghubungi sang istri akhirnya tertahan saat mendengar suara sang istri yang ceria. Hingga dia berpikir, sebaiknya dia sampaikan saja saat dirinya sudah berada di rumah.
"Satu jam lagi aku pulang.. Yasudah aku tutup telephonenya dulu ya sayang.. Assalamualaikum.." Terdengar suara Ayana menjawab salamnya dengan akhiran kecupan.
Rayan mengerutkan keningnya menatap ponselnya. Dia merasa kecupan Ayana yang tak pernah dia lakukan saat mereka mengobrol lewat telephone, ada kaitannya dengan panggilannya beberapa waktu sebelumnya.
"Iya.. Ini pasti ada yang gak beres.." Gumamnya
Sementara di rumahnya, Ayana menutup wajahnya dengan kedua telapan tanganya setelah panggilan telephone dari Rayan berakhir. Kejadian di masa lalunya entah kenapa muncul begitu saja di benaknya.
Meski saat ini dia melihat Rayan begitu mencintai dan menghargainya, tapi sejak ucapan gurauan Rayan pada malam itu membuatnya selalu teringat akan kisahnya yang di duakan oleh Arman. Terlebih saat ini, hadir gadis remaja di rumhnya yang sempat membuatnya geram.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN SEMUA YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞💞
MAAF UP NYA SEDIKIT LAMA KARENA ADA SEAUATU YANG HARUS DI URUS DULU.. 🙏🙏💞💞**
__ADS_1