
"Ma.. Tadi setelah aku pulang kerja, Susi ngajak aku ngobrol di depan.. Katanya besok dia mau pergi aja dari sini.. Alasaanya karna aku yang cuek, yang jarang di rumah, dan apa lagi tadi lupa.." Susi menunduk malu
"Apa sebenarnya Susi tau aku menyukainya..? Sehingga dia mau pergi dari rumah ini.." Batin Tio
Melihat tatapan tajam sang ibu, Tio masuk dan duduk di samping sang ibu dengan cepat sebelum sang ibu salah paham.
"Mama tau kan aku sayang sama Susi..? Jadi mana mungkin aku bersikap seperti itu.. Susi sudah salah paham.." Jelas Tio pada sang ibu
Susi maupun bu Mina tidak kaget mendengar penuturan Tio tentang perasaannya pada Susi. Sebab selama ini keduanya memang sangat dekat. Namun berbeda dengan Tio. Dia menyayangi Susi bukan lagi sebagai saudaranya. Tapi sebagai perasaan seorang lelaki dewasa pada wanita pujaannya.
Tio sendiri bingung kenapa dia bisa cemburu pada Susi ketika adik sepupunya yaitu Rezki, adik kedua dari Susi menceritakan kejadian dimana saat dia sedang berkunjung ke kontrakan sang kakak. Waktu itu Rezki sedang menahan emosi saat dia di cemburui oleh lelaki yang mengaku bernama Tristan.
Dan ketika saat Susi datang, betapa legahnya hati Tio sebab dia bisa pastikan lelaki yang di ceritakan oleh Rezki otomatis tidak akan bisa menemuinya lagi. Oleh sebab itulah, Tio bertekad membiayai kuliah Susi yang tinggal selangkah lagi agar Susi tidak kembali ke tempat kerjanya yang otomatis tidak akan terjangkau oleh pengawasannya.
"Tapi Yo, ma, aku harus kembali bekerja.. Gak mungkin aku disini terus.. Aku juga harus kuliah.. Mama kan tau, bapak sama ibu di kampung keadaan mereka seperti apa sekarang.." Ujar Susi memberi alasan agar di izinkan oleh sang tante untuknya pergi.
"Aku siap membiayai kuliahmu.. Kamu gak perlu capek capek kerja.." Ucap Tio cepat
Bu Mina spontan menatap ke arah Tio dengan heran. Ini yang bu Mina khawatirkan sejak lama. Tio bisa jatuh cinta pada ponakannya itu.
"Untuk kuliah Susi, mama gimana kamunya aja Tio.. Tapi untuk memilih tinggal terpisah dari kita dan memilih tinggal di kost, mama gak bisa larang Susi.." Ucap bu Mina dengan terpaksa.
Bu Mina dengan berat hati harus menyetujui Susi keluar dari rumahnya. Dia khawatir perasaan Tio terhadap ponakannya itu lebih dari perasaan sebagai seorang saudara.
Sudah cukup lama bu Mina dan sang kakak yaitu ibu dari Susi curiga akan sikap peduli dan perhatian Tio terhadap Susi. Namun mereka selalu mencoba menepis semuanya.
__ADS_1
Namun kali ini, bu Mina sudah sangat yakin akan kecurigaannya terhadap perasaan sang anak.
"Tapi ma.. Susi ini perempuan.. Dan kita ada disini.. Kenapa dia gak tinggal aja disini..? Kenapa harus tinggal sendiri..? Apa mama gak khawatir membiarkan Susi tinggal sendirian di kota besar ini..?" Tio terlihat sangat keberatan
***
"Mungkin hanya kamu yang bisa membangunkan Arman Ayana.. Tolong kami, temui Arman.. Ajaklah dia ngobrol tantang kenangan kalian dulu.. Kami yakin Arman pasti akan mendengarkan di alam sadarnya.." Ayana menarik napas sembari menatap wajah sang suami saat bu Mida mantan mertuanya memohon kepadanya.
Rayan hanya diam tak bergeming.
"Maaf, tapi itu tidak bisa ma.. Aku gak bisa mengobrol dengan Arman tentang masa lalu kami.. Aku sekarang sudah punya suami, biar bagaimanapun aku harus menghargai suami aku.." Jawab Ayana jujur.
Jawaban Ayana membuat bu Mida hilang kontrol.
"Gak punya hati kamu Ayana.. Anakku di dalam lagi kritis, dan kamu tidak peduli seperti ini meski aku sudah merendahkan diriku di depanmu.. Sombong kamu sekarang ya..?" Ucap bu Mida meluapkan emosinya.
"Sudah ma sudah.." Pak Rizal berusaha menarik sang istri untuk menghentikan amarahnya.
"Ayana.. Asal kamu tau, anakku kecelakaan gara gara perasaannya yang kacau saat kamu tinggalkan dan di tambah lagi dengan kehilangan anaknya tanpa dia tau karna kamu tidak menghubunginya sama sekali.. Dimana hati kamu.. Dasar perempuan tak tau di untung.." Bu Mida terus menyerang Ayana dengan kata katanya.
Melihat Ayana meneteskan air mata dalam diam, membuat hati Rayan teriris. Merasa tidak tahan lagi, Rayan pun menarik Ayana ke belakangnya.
"Hentikan omong kosongnya bu Mida yang terhormat.. Istri saya tidak mungkin meninggalkan anak anda jika perangai anak anda itu baik.. Bukankah dia punya istri lain..? Kenapa harus meratapi wanita yang sudah dia sakiti hatinya..?" Ujar Rayan menatap bu Mida dengan tatapan datar
"Jangan kurang ajar kamu.." Ucap bu Mida menekan ucapannya
__ADS_1
"Kenyataan bahwa anak anda seperti ini itu karna ulahnya sendiri.. Istri saya tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan anak anda, jadi untuk apa dia bertanggung jawab..?" Ucap Rayan menahan emosinya
Sementara itu, Ayana yang berada di punggung Rayan, hanya bisa menangis mendengar perdebatan mantan mertua dan suaminya.
"Saya tidak akan pernah tinggal diam.. Dan saya tidak akan pernah bisa terima. Ingat Ayana, kamu sudah menyembunyikan tentang meninggalnya Yuki cucu saya dari Ayah kandungnya dan juga kami.. Saya tidak akan tinggal diam Ayana.. Ingat itu.." Ancam bu Mida dengan emosi.
"Kami tidak pernah menyembunyikan perihal meninggalnya Yuki pada kalian.. Arman sendiri yang dulu menolak merawat Yuki saat istri saya datang memberi tahukan kepadanya bahwa Yuki sedang sakit dan sangat membutuhkan dia.. Bahkan saat terakhir Yuki di rawatpun, dia hanya datang jika Yuki menghubunginya lewat telephone.. Lantas dimana letak salah istri saya..? Apa bukan anak anda yang sudah sangat keterlaluan..?" Ucap Rayan tak bisa lagi menahan emosinya
Terlihat pak Rizal menunduk diam. Rayan dapat melihat raut wajah pak Rizal begitu pilu. Sedangkan bu Mida sendiri terlihat emosinya meluap luap.
"Sayang.. Ayo kita pulang.. Kita sudah berniat baik untuk datang kesini.. Biarlah niat baik kamu khususnya, di balas oleh Allah swt.." Arman sengaja menyindir bu Mida
Ayana tak bisa berbuat apa apa. Dia hanya diam dan menuruti apa kata suaminya. Seperti anak kecil yang menuruti perintah orang tuanya.
***
Bu Mina terdiam dengan apa yang di ucapkan oleh sang anak. Dalam hati dia membenarkan apa yang di ucapkan sang anak. Sekilas bu Mina menoleh menatap wajah Susi, kemudian menatap wajah sang anak.
"Tio, mama mau bicara sama kamu, berdua.." Ucap bu Mina
Bu Mina ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
"Iya ma.." Tio menyetujui dan beranjak dari duduknya keluar menuju teras depan rumahnya.
"Susi, kamu tunggu disini sebentar ya.. Mama mau bicara dulu sebentar sama Tio.." Ucap bu Mina mengelus lengan sang ponakan kesayangannya itu sembari beranjak dari duduknya
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG SUDAH MAMPIR KESINI DAN MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞😘**