PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
RAHASIA SUSI


__ADS_3

"Sus, sus, suster tunggu sebentar.." Tristan mencoba menahan salah satu perawat yang bertugas di ruang UGD.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu..?" Ucap suster tersebut dengan sopan.


"Oh iya.. Saya mau tanya.. Saya kerabat dari Susi, pasien tadi.. " Ucap Tristan yang masih bingung harus di mulai ada mana pertanyaannya.


Sedangkan suster jaga tersebut dengan setianya menunggu Tristan melanjutnya ucapanya.


"Eh begini sus.. Tadi saya gak sengaja dengar, katanya dulu kerabat saya ini pernah di rawat disini sama dokter kandungan.. Apa benar..?" Tanya Tristan dengan penuh penasaran menatap wajah suster tersebut.


"Oh itu.. Iya benar, dan kebetulan waktu itu saya juga sedang bertugas pas mbaknya tadi di rawat.." Jawab sang suster.


"Sebenarnya dia kenapa sampe bisa di rawat waktu itu..?" Tristan yang belum puas dengan jawaban sang perawat itu terus mencercanya dengan pertanyaan.


Tristan tahu bahwa pertanyaannya itu sudah mengarah ke privasi Susi. Namun karena tingkat penasarannya yang tinggi, apa yang sebenarnya yang terjadi pada Susi, orang yang baru dia kenal tapi sudah menjadi kawannya itu , membuatnya terus ingin tahu.


"Maaf, saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak.. Kalau masnya ingin tau, mas ini bisa tanya langsung ke dokter Retno saja.. Permisi.." Jawab suster itu dan bergegas meninggalkan Tristan dengan rasa penasarannya.


Karena dokter Retno masih berada di ruang bedah, maka pemeriksaan Susi pun terpaksa belum di lakukan.


Susi baru bisa mendapatkan pertolongan pertama dari dokter umum yang bertugas di ruang UGD. Sedangkan Tristan, masih setia menemani Susi sambil memainkan ponselnya di samping Susi yang terbaring lemah.


***


Rayan yang tidur begitu lelapnya, tiba tiba mengigau dengan tubuh yang mulai di penuhi keringat dimana mana.


Ayana yang dengan kebetulan baru saja masuk niat mengecek kondisi suaminya karena haripun sudah mulai sore, kaget sekaligus panik menghampiri suaminya.


Ayana berusaha membangunkan suaminya dengan mengguncang pelan bahu suaminya.


Rayan yang terbangun dari mimpi buruknya, terus beristighfar tanpa henti dengan nafas ngos ngosan.


Ayana mentapa sayang wajah sang suami dengan tangan yang terus mengusap keringat di seluruh wajah sang suami.


Sesekali Ayana mengelus dada aang suami mencoba menenangkannya penuh perhatian.


"Ini sayang minum dulu.." Ayana memberikan segelas air putih yang tadinya dia siapkan di meja kamar tatkalah suaminya butuh saat bangun nanti.


Rayan pun menerima gelas di tangan Ayana dan langsung meneguknya tanpa sisa. Perlahahan nafasnya pun mulai teratur.


Ayana terus mengelus lengan sang suami dengan sabar.


Saat Rayan menatap wajah Ayana, sang istri tersenyum manis menatapnya. Membuat Rayan merasa tenang.


"Mas, kita ke rumah sakit ya..? demam kamu tinggi sayang.. Mau ya..?" Ucap Ayana lembut seperti sedang membujuk anak kecil dikarenakan Rayan sejak pagi menolak untuk berobat dengan alasan hanya efek kecapean.

__ADS_1


Namun kali ini Rayan mengangguk mengiyakan ajakan sang istri untuk berobat ke rumah sakit.


Dengan senyum termanisnya, Ayana spontan mengecup bibir sang suami dan bergegas menuju wardrobe.


Tidak butuh waktu lama, Ayana muncul dengan tampilan cantik serta membawa pakaian ganti untuk suaminya.


"Mas ganti bajunya dulu ya..? Sini sayang aku bantu.." Dengan telaten Ayana membantu Rayan mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat beserta celana seperti anak kecilnya saja.


Rayan tersenyum akan perlakuan Ayana kepadanya itu.


"Begini rasanya punya istri.. Kenapa Allah meminjamkan kamu dulu pada orang lain sayang..? sampai sampai aku baru bisa ngerasain perhatian kamu seperti ini.. Harusnya sejak dari dulu gitu sayang.." Ujar dengan tatapan yang tak lepas di wajah sang istri.


Ayana tergelak tawa mendengar curahan hati suaminya itu.


"Suamiku sayang.. Namanya jodoh, maut dan rezeki itukan gak ada yang tau.. Dan kalau seandainya aku tau dari awal rumah tanggaku bakalan hancur, aku pasti gak akan nikah pada waktu itu.. Di syukuri aja sayang dengan apa yang terjadi sekarang.." Tutur Ayana mengelus lengan sang suami.


Rayan tersenyum tipis menanggapi sang istri.


"Mas.. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku saat ini.. Terima kasih sudah mau menerima kehadiran anakku dalam hidupmu.. Terima kasih sudah mau menerima kekuranganku dan mencintaiku sejauh ini.."


"Aku sampai gak tau harus memberimu apa karena gak ada apapun yang ku punya dan gak ada yang di banggakan dalam hidupku untukku persembahkan padamu.." Tutur Ayana tersenyum kecil menatap wajah sang suami.


Rayan tidak menjawab sepatah kata apapun selain pelukan dan ciuman hangat di puncak kepala Ayana berkali kali.


"Mas.. Kapan berangkatnya kalau kamu ngajak ngobrol terus gini..? ' Ayana melerai pelukan sang suami.


"Jangan bilang kamu gak jadi berobat ya..?" Ancam Ayana dengan mata melotot yang justru terlihat imut di mata Rayan.


Rayan mengecup bibir Ayana sekilas lalu beranjak turun dari ranjang menuju pintu keluar tanpa kata.


Ayana yang melihat sang suami keluar, bergegas mengambil tasnya dan dompet sang suami yang biasa di simpan di laci nakas samping ranjangnya dan menyusul sang suami yang sudah berjalan menuju garasi mobil.


***


"Gimana dok kondisi adik saya..?" Tristan terpaksa mengaku sebagai kakak dari Susi agar bisa mendapatkan informasi lengkap tentang kondisi Susi dengan mudah.


Susi menatap Tristan dan dokter secara bergantian.


"Tan, kamu pulang aja dulu ya..? Terima kasih sebelumnya sudah memgantarkan saya kesini.." Susi yang tidak ingin privasinya di ketahui orang lain, terlebih Tristan, terpaksa mengusir Tristan secara halus.


"Dok..? Tristan tak menghiraukan ucapan Susi.


"Saya sudah berpesan sebelumnya untuk bedrest tanpa melakukan aktivitas dulu. Terlebih di masa pemulihan.." Ucap dokter sembari sibuk membaca rekam medis Susi.


Susi hanya diam. Hatinya mendadak kacau karena kehadiran Tristan disana.

__ADS_1


"Apa anda melakukan pekerjaan berat..? mengangkat barang barang berat juga sebelum sebulan masa pemulihan..?" Ucap dokter Retno sambil mencopot stetoskop di telinganya sesaat setelah memeriksa kondisi Susi.


Susi gugup dan bingung harus menanggapi atau tidak ucapan dan pertanyaan dokter Retno dengan mata sesekali melirik ke arah Tristan.


Sementara Tristan menatap bingung dokter Retno sekaligus penasaran yang semakin melangit.


"Tolong urus administrasinya dulu ya..? Malam ini adik anda harus di opname karena ada sedikit pembengkakkan pada kandungannya.." Ucap dokter Retno pada Tristan.


"Pembengkakan dok..? Kandungan..?" Tristan semakin di buat bingung.


Susi memejamkan matanya pasrah. Dia gak tahu lagi harus bersikap apa karena perlahan Tristan mulai tahu apa yang telah terjadi padanya.


"Iya seperti itu. Beraktivitas berat pasca keguguran dengan kondisi kandungan yang baru keguguran itu sangat beresiko. Cuma ini sudah dua bulan berlalu." Jelas dokter Retno


"Bisa jadi ini di sebabkan sisah darah yang belum bersih. Saya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk mengetahui lebih jelas penyebab sakit perut yang di alami adik anda." Jelas dokter Retno menambahi.


"Baik dok terima kasih.. " Jawab Tristan sopan.


"Baiklah saya permisi dulu.." Ucap dokter Retno ramah.


Setelah kepergian dokter Retno, Tristan menatap wajah Susi dengan datar.


Susi diam tak bergeming. Kali ini dengan terpaksa dia harus mengubur jauh jauh harapannya pada Tristan.


Bukannya dia tidak ingin jujur apa yang sebetulnya yang terjadi pada dirinya. Hanya saja hati Tristan saja tidak mengarah kepadanya.


Membuat Susi berada pada posisi bimbang, bak layangan yang di tarik ulur benangnya.


"Saya harap setelah saya kembali dari mengurus administrasi perawatan kamu, kamu sudah menyiapkan penjelasan untuk saya.." Ucap Tristan dengan penuh penekanan.


"Memangnya siapa dia sampai harus meminta penjelasan..? Dasar gak jelas.." Batin Susi


Susi menatap punggung Tristan yang mulai berlalu meninggalkan ruangan itu dengan kesal.


.


.


.


.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN DAN DUKUNGANNYA.. 🙏🙏💞💞**

__ADS_1


__ADS_2