
Tristan hanya diam menatap wajah Susi yang masih menunggu jawabannya. Tristan bergeming.
"Gak usah.. Ini hanya luka kecil.." Ucap Tristan sambil beranjak dari sofa.
Susi menatapnya diam. Dia bingung mau mengikuti langkah Tristan keluar dari rumah itu atau tetap diam disana. Tristan yang tersadar Susi masih duduk dengan terus menatapnya, akhirnya kembali menghampiri Susi.
"Istrahatlah di kamar.. Kalau laper, di kulkas banyak bahan. Kamu bisa masak selerah kamu. Aku ke kantor dulu, kalau ada apa apa hubungi aku." Ucap Tristan menatap Susi yang mendongak menatapnya dengan bingung
"Aku mau pulang.." Ucap Susi menghentikan langkah kaki Tristan
"Tinggal lah disini.. Aku hanya sesekali mampir, itupun jika aku sempat.." Ucap Tristan tanpa menoleh ke arah Susi
"Aku gak mau tinggal disini.. Ini bukan rumahku.." Tolak Susi sembari beranjak dari tempat duduknya
Tristan dengan cepat berbalik dan menghampiri Susi.
"Kamu gak mau kan aku berbuat sesuatu yang gak kamu sukai..? Atau perlu aku memaksamu..?" Ucap Tristan dengan tatapan tajam
"Aku bukan budak kamu Tristan.. Aku juga bukan siapa siapa kamu.. Aku mau pulang, mama ku sudah menungguku di rumah.. Aku ke kontrakan lama ku karena ada barang yang harus ku ambil disana.." Ujar Susi tak sepenugnya jujur
Tristan tersentak mendengar ucapan Susi. Dia lupa kalau Susi memiliki keluarga. Terlebih saat Susi menyebut ibunya yang sedang menunggunya saat ini.
"Baiklah. Biar aku antar.." Ucap Tristan sendu
"Gak usah. Aku naik ojek aja.. Aku gak mau mama ku curiga kenapa aku lama nyampe rumah.." Ujar Susi mendahului Tristan keluar
Tristan menatap punggung Susi yang perlahan mulai menjauh. Dia mengalah. Tak ingin berdebat lagi. Setidaknya dia sudah bertemu dengan Susi.
***
Karena masih ada urusan di rumah sakit sebelumnya, Rayan terpaksa melewati makan siangnya dengan buru buru ke rumah sakit untuk menyelesaikan sisah urusannya disana.
Dengan sangat kebetulan, Rayan dan Emil berbarengan turun dari mobil di area parkiran. Disana, di saat Rayan melangkah menuju pintu masuk rumah sakit, Emil diam terpaku menatap punggung Rayan dari jauh.
Emil semakin terpesona dengan pesona Rayan yang semakin kesini semakin berkarisma. Emil sudah berusaha untuk ikhlas dan membunuh benih benih cinta yang tumbuh begitu saja di hatinya, namun dia gagal.
__ADS_1
Emil menghembuskan napas kasarnya sebelum akhirnya dia melangkah perlahan menuju pintu masuk. Kali ini Emil bertekad untuk sembuh dulu dari penyakitnya.
Meski dari medis penyakit yang menimpahnya sulit di sembuhkan, tapi Emil percaya bahwa Allah lah yang menentukan takdirnya.
Sejenak dia ingin melupakan dulu soal urusan hatinya. Meski dirinya tidak yakin karena sulit untuk mengubur perasaannya pada Rayan yang dulu sempat mati karena kesalahanya sendiri.
"Baiklah, terima kasih buat kalian semua.. Semangat bekerja, dan terus memberikan yang terbaik.. Saya pasti akan merindukan kalian semua.."
Emil menghentikan langkahnya lalu menguping dari balik tembok yang tidak jauh dari tempat Rayan dan beberapa tim medis yng sedang bersamanya. Emil mengerutkan keningnya bingung.
Baru ketika Rayan dan tim medis itu bubar, Emil mencoba menahan salah satu petugas medis yang lewat di depannya.
"Maaf dok, saya mau nanya sebentar.. Itu dokter Rayan kenapa ya..? Apa dia tugas luar..?" Tanya Emil ragu
Dokter jaga di ruang UGD itu tersenyum menatap Emil.
"Beliau resmi pindah ke rumah sakit pelita indah mulai hari ini.. Jadi tugasnya disini berakhir hari ini.. Mari nona, permisi.." Ucap dokter itu berlalu
Emil terpaku karena terkejut mendengar ucapan dokter itu. Entah kenapa hatinya begitu sedih. Apa karena dia tidak dapat melihat Rayan lagi di rumah sakit itu atau karena hal lain, entahlah.
***
Tristan sengaja membututi Susi dari belakang hanya untuk ingin mengetahui dimana dia tinggal. Dan hal itu berhasil. Tristan kini tahu dimana dia akan menemukan Susi jika Susi menghindarinya lagi.
Di rumah. Susi yang baru saja sampai, membuat Tio terkejut saat dirinya bersamaan membuka pintu hendak keluar rumah. Tio yang melupakan berkas kerjanya karena pagi tadi dirinya terburu buru, terpaksa harus pulang untuk mengambilnya kembali.
"Susi..? Kok pulang gak ngabarin..?" Ujar Tio salah tingkah
"Gak apa apa.." Jawab Susi asal lalu masuk melewati Tio yang masih berdiri di ambang pintu masuk.
"Yasudah aku harus ke kantor lagi sekarang.. Nanti aku mampir ke toko mama ngasih tau kamu sudah pulang.." Ucap Tio beranjak menuju mobilnya yang terpakir di bahu jalan.
Susi hanya diam tanpa menghiraukan Tio. Pikirannya terasa begitu lelah. Di hempaskannya tubuhnya di sofa dan duduk dengan memijit keningnya yang terasa pusing.
Sementara di luar rumah, Tristan yang hendak memutar kemudinya berniat pergi dari sana, sontak melebarkan matanya saat tak sengaja matanya menangkap bayangan Tio yang keluar dari rumah dimana Susi baru saja masuk disana.
__ADS_1
Dadanya kembali merasa seperti terbakar. Sama seperti waktu dia melihat Susi sedang berduaan dengan Rizki yang di sangkahnya adalah lelaki simpanan Susi.
Hingga saat ini Tristan belum mengetahui siapa Rizki, dan kini dirinya kembali di kejutkan dengan lelaki yang berbeda.
Tristan memukul setir mobil dengan begitu keras hingga tangannya membengkak.
"Sial.. Susi.. Siapa kamu sebenarnya.." Gumamnya dengan amarah yang begitu tak terkendali.
Matanya memerah akibat menahan amatah dan kecewa secara bersamaan. Ingin rasanya dia menangis, tapi malu sebagai lelaki.
Setelah mobil Tio tak telihat lagi dari ujung jalan, Tristan turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju rumah dimana Susi berada.
Susi yang sedang dusuk bersandar di sandaran sofa, terkejut saat ketukan pintu terdengar begitu keras. Dengan bingung Susi membukakan pintu.
Susi tersentak kaget saat Tristan muncul di depannya dengan raut wajah yang menyeramkan.
"Tristan..? Ngapain kamu disini..?" Tanya Susi masih dengan kagetnya
Tristan lantas masuk dan mengunci pintu lalu menarik tubuh Susi hingga tubuh mereka salung menempel.
"Kenapa kamu masih mengulangi kejadian di kontrakan, hah..? Siapa lagi laki laki yang baru saja keluar dari sini..? Aku yakin dia bukan laki laki yang sama di kontrakan.." Tanya Tristan dengan penuh amarah.
"Tan.. Kamu kenapa sih..? Kamu tenang dulu, biar aku jelaskan.." Ucap Susi mencoba memahami amarah Tristan.
"Jawab Susi.. Siapa kamu sebenarnya.." Desak Tristan penuh penekanan.
Melihat amarah Tristan yang tak mungkin akan surut, Susi terpaksa melingkarkan tangannya memeluk tubuh Tristan.
"Kamu tenang dulu, aku bisa jelaskan.." Ucap Susi lembut, berharap amarah Tristan bisa meredah.
"Lelaki yang waktu itu kamu lihat di kontrakan, dia adalah adik kandungku.. Namanya Rizki.. Dan yang tadi kamu lihat, dia kakak sepupuku.. Anak dari kakaknya mama.. Ini rumah mereka, aku tinggal bersama mereka disini.." Jelas Susi masih dengan memeluk Tristan
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏💞💞💞**
__ADS_1