
Seminggu berlalu.
Kini Susi sudah mulai di sibukkan dengan tugas akhir untuk syarat kelulusan untuk gelar sarjananya. Di kampung Susi, lulusan sarjana masih sangat kurang.
Rata rata di antara mereka, hanya dari kalangan keluarga terpandang dan yang ekonomi di atas rata rata yang menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi.
Oleh sebab itulah, Tio dan Susi selalu menjadi buah bibir warga di kampungnya karena mampu hidup di kota dengan gelar pendidikan yang sama dengan anak anak juragan di kampung mereka.
Hal itu tak terkecuali oleh keluarga mantan suami Susi. Terlebih mantan suaminya, sungguh sangat tidak senang dengan pencapaian Susi di saat dia sudah menjadi mantan suami.
Hari ini, Tio sengaja tidak masuk kerja. Dia sengaja mengajukan cuti demi untuk mengantar Susi pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk sang ibu yang sedang sakit.
Meski Susi sudah menolak dengan alasan dia ingin menginap disana, tapi Tio tetap menyanggupi untuk ikut menginap. Bu Mina juga menyetujui. Sebab tak dapat di pungkiri, bu Mina pun khawatir jika Susi pulang dengan mengendarai motornya sendirian dalam perjalanan jauh.
"Sudah semua barang bawaannya..? Coba cek lagi ke dalam, barangkali ada yang ketinggalan.." Tanya Tio yang baru saja selesai memasukan tas pakaian Susi dan juga ole ole dari sang ibu untuk keluarga Susi di rumah ke dalam mobil.
"Sudah kok.." Jawab Susi tanpa melihat ke arah Tio
Sesunggunya Susi masih belum nyaman berhadapan dengan sepupunya itu. Meski sudah seminggu berlalu, namun Susi masih belum bisa menerima kenyataan yang dia dengar dari mulut sepupunya di malam itu.
Bahkan Susi selalu berusaha menghindar ketika Tio berada di rumah. Dia bahkan sempat takut bahwa sepupunya itu memiliki kelainan yang menyukai saudaranya sendiri. Namun dia berusaha menyembunyikan itu semua karena takut melukai perasaan sang tante yang begitu menyayanginya.
"Ma, kami berangkat dulu ya..? Mama baik baik di rumah.. Kami cuma sebentar disana, besok kami pulang.. " Pamit Susi mencium punggung tangan sang tante.
"Iya kalian hati hati di jalan.. Tio jangan ngebut.." Jawab bu Mina yang juga menasehati sang anak.
"Iya ma.. Kami berangkat ya ma.. Assalamualaikum.." Jawab Tio tersenyum
"Waalaikumsalam.. Hati hati.." Jawab bu Mina melambaikan tangan
Bu Mina sebenarnya ingin ikut, tapi karena ibunya Susi yang merupakan kakaknya bu Mina mencegahnya karena dia tahu akan kesibukan sang adik yang memiliki toko kue yang sangat maju. Sementara dirinya hanya sakit demam biasa.
***
Tangis bu Mida dan pak Rizal tak dapat di bendung ketika para dokter dan tim medis lainnya terlihat sibuk di ruangan ICU dimana Arman sedang berada disana.
"Maaf pak, bu.. Silakan keluar dulu, biar kami bisa menangani pasien dengan baik.." Ucap salah satu perawat saat keduanya berusaha tetap berada di dalam ruangan.
Dengan terpaksa, kedua orang tua Armanpun menuruti. Merek berharap anak mereka satu satunya itu dalam keadaan baik baik saja.
Sudah seminggu Arman dinyatakan koma oleh dokter. Kondisinya semakin hari semakin menurun. Seperti saat ini, kondisi Arman tiba tiba mengejang seketika. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bu Mida dan pak Rizal.
__ADS_1
Ketakutan akan kehilangan sang anak membuat mereka saling memeluk dan menangis sesegukan.
"Ma, apa kita gak sebaiknya mengalah dulu..?" Ucap pak Rizal tiba tiba.
"Maksud papa..?" Tanya bu Mida tak mengerti
"Kita hubungi Ayana ma.. Kita minta dia kesini, nemui Arman.. Tapi mama gak perlu marah marah sama dia.. Jangan minta apa apa sama dia, yang penting dia mau menemui Arman saja itu yang terpenting.. Siapa tau, Arman benar benar sedang butuh dia di alam sadarnya ma.." Jelas pak Rizal menatap wajah bu Mida dengan lekat.
Bu Mida menepis tangan pak Rizal yang berada di lengannya dengan kasar.
"Mama gak mau.. Mama gak sudih melihat wajahnya lagi.." Ujar bu Mida menatap mata pak Rizal menahan amrahnya.
"Ma.. Demi Arman ma.. Apa mama gak lihat anak kita di dalam seperti apa..?" Tutur pak Rizal kesal
Bu Mida menatap pak Rizal dengan sorot mata tajam.
"Terserah apa kata papa.. Mama tetap tak sudih.." Ucap bu Mida meninggalkan pak Rizal menuju pintu ICU.
Pak Rizal terlihat frustasi menghadapi istrinya. Betapa susah baginya untuk membuat sang istri mengerti akan keadaan yang tengah mereka hadapi saat ini.
***
Sejak pagi Ayana terus merasa gelisah. Sesekali Ayana menekan dadanya dan menerka apa yang membuat perasaannya bisa merasakan demikian.
"Non..?" Sapa bi Ina menyentuh lengan Ayana
"Ahk.. Astaghfirullah.. Bi..?" Ayana terlonjak kaget.
"Maaf non.. Habisnya dari tadi saya ngomong tapi non Ayana gak dengar.." Ucap bi Ina takut.
"Mmm.. Iya, ada apa bi..? Tanya Ayana mentapa bi Ina.
"Makan siangnya sudah siap.." Jawab bi Ina mengulangi laporannya.
"Oh iya bi.. Makasih bi.." Tutur Ayana tersenyum
"Iya non sama sama.. Saya ke belakang dulu.." Ucap bi Ina pamit.
***
Hari mulai malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.20. Mobil yang di kendarai Tio sudah mulai memasuki kampung tempat tinggal Susi dan keluarganya.
__ADS_1
Dari beberapa pasang mata, tengah menyoroti mobil yang di kendarai Susi dan Tio yang sedang melintasi rumah rumah warga.
"Masih saja seperti dulu.. Tak ada yang berubah.." Gumam Tio menyadari sikap beberapa warga dari balik kemudinya.
Susi hanya diam tak bergeming. Susi tahu Tio memang sejak dulu jarang ikut jika orang tuanya pulang kampung karena merasa tidak nyaman dengan sikap warga yang selalu membeda bedakan status sosial dan sikap beberapa warga lainnya yang juga suka bergosip.
"Kapan warga disini bisa maju pola pikirnya.." Lanjutnya lagi
"Biarkan saja.. Buat apa peduli dengan urusan mereka.." Ucap Susi dengan datar
Tio melirik ke arah Susi. Dia melihat Susi kurang nyaman dengan ucapannya. Diapun akhirnya memilih diam.
Tak berselang lama, mobil merekapun akhirnya sampai di halaman rumah Susi. Terlihat Ayah dan Ibu Susi sedang duduk berbincang di teras depan rumahnya.
"Pak, itu mobil siapa ya..?" Tanya bu Mila, ibu dari Susi saat melihat mobil Tio memasuki halaman rumahnya
"Gak tau bu.. Sepertinya mereka dari kota.." Jawab pak Rudin, Ayah dari Susi.
Saat melihat yang turun dari mobik adalah sang anak dan ponakan, kedua orang tua Susi bergegas menghampiri dengan bahagia.
"Ya ampun.. Rupanya kalian yang datang.." Ucap pak Rudin memeluk Tio sang ponakan.
"Apa kabar pak..? Sapa Tio dalam pelukan pak Rudin
Tio memang sejak kecil dekat dengan Ayahnya Susi. Saking dekatnya, diapun memanggil orang tua Susi sama seperti Susi memanggil orang tuanya dengan panggilan bapak dan Ibu.
"Baik nak baik.. Gimana kabar mamamu..?" Tanya pak Rudin melerai pelukannya
"Mama Alhamdulillah sehat.." Jawab Tio tersenyum.
"Saking senangnya sampe kita gak di anggap berdiri dari tadi disini.." Ujar bu Mila bercanda yang di sambut gelak tawa oleh kedua lelaki itu
"Wahh ada tamu dari kota rupanya.." Serentak Tio, Susi dan kedua orang tuanya menoleh ke sumber suara yang berasal dari jalan depan rumah
"Eh iya bu Andri, bu Rajat bu Soleh.." Jawab bu Mila santun kepada tetangganya yang memang suka bergosip itu
"Wahh sudah sukses ya di kota..? Kerja apa..? Bukannya disana masih kuliah..? Pekerjaannya halal kan..?" Celetuk ketiganya saling sahut sahutan.
Tio terlihat geram. Sedangkan Susi terlihat menahan emosi. Sementara pak Rudin dan bu Mila saling menatap sedih. Mereka memang sudah terbiasa dengan kelakuan tetangga dan warga disana. Tapi pertanyaan ibu ibu itu sungguh di luar dugaan mereka.
"Apa urusannya dengan kalian..? Apa kalian tersakiti jika kami menjawab..? Atau kalian akan bahagia jika pertanyaan kalian yang tak pantas itu kami jawab..?" Ujar Tio menatap tak suka pada ketiga wanita itu
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH YA BUAT KALIAN SEMUA YANG MASIH TERUS MENYIMAK CERITA DALAM NOVEL INI.. 🙏💞💞😘😘😘**