
"Kemana saja kamu..? Rupanya kamu sengaja menghindariku.." Tristan terlihat menahan emosinya agar tidak meluap
Susi masih berdiri terpaku di tempatnya semula tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Tristan.
Saat dia tersadar, Susi langsung bergegas berbalik pergi dari hadapan Tristan bermaksud untuk menghindar. Namun usahanya sia sia saat Tristan dengan sigap menahan lengannya dengan keras.
Susi tersentak hingga hampir saja tubuhnya terjatuh jika Tristan tidak menahannya.
"Apaan sih.." Sentak Susi dengan kesal sembari membenarkan posisi berdirinya.
Bukannya mundur, Tristan justru memeluk tubuh Susi dengan erat. Sikap Tristan tersebut membuat Susi terkejut. Dengan cepat Susi mendorong tubuh Tristan agar lepas dan menjauh darinya. Namun Tristan justru kembali mendekapnya dengan sangat erat.
"Tristan lepas.. Jangan gila kamu.. Kita bisa di keroyok warga di kira kita mesum di tempat umum.." Bentak Susi karena kesal dengan ulah Tristan
Dengan cepat Tristan melepas dekapannya dan menarik paksa tangan Susi menuju mobilnya dan menguncinya disana lalu dengan cepat pula dia berlari memutar menuju balik kemudi.
Belum sempat Susi keluar, tangan Tristan dengan cepat menarik kembali lengannya dari samping agar tetap berada di dalam mobil. Begitu sigap gerakannya hingga bisa mengunci pintu tanpa bisa di buka lagi oleh Susi.
"Tristan.." Pekik Susi dengan emosi
Tristan tak peduli meski suara Susi menggema di dalam mobilnya. Dia terus melajukan kendaraannya. Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Tristan akhirnya sampai di sebuah rumah yang tidak di kenali oleh Susi.
Rumah yang cukup cantik. Bentuknya yang minimalis modern, dengan cat tembok berwana putih di padu dengan coksu, membuat tampilan rumah itu cukup unik.
Melihat Susi yang duduk diam dengan lelehan air mata di pipinya, tak lantas membuat Tristan mengurungkan niatnya untuk membawa Susi masuk ke dalam rumah itu.
Tristan turun dari balik kemudinya lalu membuka pintu mobilnya untuk Susi.
"Turun.." Desak Tristan dengan datar
Susi tak bergeming
"Turun.. Atau tidak, aku gendong.." Desak Tristan dengan ancaman, membuat Susi spontan mendongak menatap wajahnya penuh amarah.
"Turun.." Ulangnya
Mau tidak mau Susi menuruti keinginan Tristan. Belum lagi benar posisi berdirinya, Tristan sudah menarik tangannya masuk ke dalam rumah tersebut.
"Duduk.." Perintahnya ketika berada di ruang tamu.
"Mau apa kamu..? Kenapa kamu membawa ku kesini..?" Susi terlihat takut, namun dia berusaha bertahan agar tak nampak di mata Tristan
__ADS_1
"Jawab aku.. Kemana aja kamu selama ini..? Kenapa kamu menghindariku..?" Tanya Tristan tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Susi
"Itu bukan urusanmu.. Kita gak ada hubungan apa apa, buat apa aku harus menjawabnya.." Susi bertahan
"Oh gitu..?" Ucap Tristan mendekatkan wajahnya
Susi memundurkan kakinya. Rasa takutnya semakin muncul.
***
Emil memijit keningnya yang terasa pusing. Kehadiran mertuanya sungguh sangat mengganggu pikirannya.
Dulu ketika dirinya di landa masalah dan butuh tempat untuk berbagi kisah, Rayan lah yang selalu ada hingga membuatnya lupa akan masalah yang menimpahnya.
Hal kejadian barusan membuat Emil teringat kembali akan perhatian Rayan. Ingin rasanya dia menghubungi Rayan, meski hanya mendengar suaranya tanpa berbagi kisah seperti itu, sudah cukup baginya.
Namun dia tak cukup punya nyali akibat penolakan Rayan waktu dia berkunjung waktu itu di ruangannya.
"Maaf bu, tehnya silakan di minum.." Kehadiran OB membuat Emil terkejut
"Bisa gak mbak ketuk pintu dulu gitu..?" Ucap Emil pelan namun penuh tekanan
"Maaf bu Emil.. Saya sudah mengetuk berulang kali tapi ibu diam aja jadi saya masuk aja karena pintunya juga terbuka tadi.." Jelas OB
"Yasudah silakan kembali bekerja.." Ucap Emil meraih teh yang di letakkan di meja kerjanya oleh OB.
"Baik bu.. Saya permisi.." Jawab OB itu dengan sopan
"Apa aku majuin jadwal cek up aku aja ya hari ini biar bisa ketemu Rayan di jam prateknya selesai.." Monolog Emil sambil menyeruput teh di cangkirnya
***
"Tristan please.. Mau apa kamu.." Susi mulai gemetaran karena takut dengan ulah Tristan
Sialnya Susi tak dapat lagi bisa bergerak setelah dia terduduk di nakas samping sofa. Menyadari itu, senyum kecil Tristan terbit di sudut bibirnya.
Dengan pelan Triatan menunduk mendekatkan wajahnya di wajah Susi. Air mata Susi jatuh tiba tiba di sudut matanya.
"Apa kamu takut sama aku..?" Tanya Tristan tiba tiba, membuat Susi yang terus menunduk mendongak menatapnya
"Aku bahkan gak bisa mengenalimu lagi.." Ucap Susi dengan ekspresi menahan kecewanya
__ADS_1
Tristan mengecup bibir Susi dengan cepat. Membuat Susi reflek mendorong dada Tristan.
"Jangan menolakku.. Kamu tau perasaanku.. Kamu tau aku cemburu melihatmu dengan laki laki lain.. Kamu tau itu tapi kamu justru pergi tanpa kabar hingga membuatku seperti ini.." Ucap Tristan dengan tatapan intens
"Aku bahkan hampir tiap hari ke kontrakan kamu, ke tempat kerja kamu, tapi aku tetap saja gak bisa menemukan kamu disana.. Apa salah aku..?" Lanjutnya lagi
Susi diam. Di akuinya bahwa Tristan memang menaruh hati padanya. Begitupun dengannya. Susi tak dapat melupakan Tristan hingga sebesar apapun perasaan Tio kepadanya, dia tidak dapat melihatnya.
Semua karena tertutup oleh perasaannya pada Tristan. Tapi rasa sakit hatinya pada waktu itu, membuatnya pergi dari Tristan.
Melihat Susi yang tak bereaksi apapun dengan pernyataannya, membuat Tristan gemas.
Tak ingin kehilangan moment, Tristan kembali mengecup bibir Susi dengan lembut. Namun sekali lagi Susi menolaknya dengan mendorong dadanya menjauh.
Tak ambil pusing, Tristan menahan tengkuk Susi dan terus melakukan aksinya hingga Susi sulit bernafas. Hanya dengan gigitan, Tristan melepas ciumannya.
Namun ketika melihat darah yang mengalir cukup banyak, Susi sontak berdiri dan menghampiri Tristan yang perlahan memundurkan kakinya dengan tangan membekap bibirnya yang berdarah.
"Maaf.. Maaf.." Ucap Susi mencoba menurunkan tangan Tristan dari bibirnya yang berdarah.
"Sini duduk biar aku bersihkan dulu.. Dimana kotak obatnya..?" Tanya Susi menarik tangan Tristan duduk di sofa.
Wajahnya memucat karena khawatir.
Bukannya menjawab, Tristan justru tersenyum menatap wajah Susi yang terlihat begitu ketakutan dan khawatir akan luka di bibirnya.
"Kenapa tersenyum..? Aku seriusm dimana kotak obatnya.." Ujar Susi dengan tangannya yang mencoba menghapus darah yang menetes di sudut bibir Tristan yang terluka.
Tristan meraih tangan Susi dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu begitu khawatir dengan luka yang kamu ciptakan sendiri..?" Tanya Tristan tersenyum
"Maaf.. Aku gak sengaja.." Jawab Susi pelan
"Kamu khawatir dengan luka kecil ini.. Tapi kamu gak pernah khawatir dengan luka di hati ini.. Bukankah keduanya di ciptakan oleh orang yang sama..?" Ujar Tristan menatap kedua mata Susi
Susi diam tak bergeming. Dia bingung harus menjawab apa. Bahkan bersikap seperti apa juga dirinya bingung.
Kemudian matanya kembali melihat darah yang masih setia mengalir di bibir Tristan. Dengan pelan Susi menarik tangannya yang berada di genggaman Triatan lalu terangkat untuk membersihkan darah di bibir Tristan.
"Biar aku obatin dulu ya..? Ini lukanya terlalu dalam.. Mau ya..?" Pintanya dengan lembut
__ADS_1
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEKALIAN ATAS KUNJUNGANNYA KESINI.. 🙏💞💞**