PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
HAMIL


__ADS_3

Sudah dua hari Rayan memperhatikan Ayana selalu banyak murung. Bahkan sikap dingin Ayana kembali seperti awal dia mendekatinya dulu.


Hari ini Rayan sudah selesai masa cutinya dan mulai kembali masuk kerja. Semalam Rayan sengaja tidur lebih awal karena sikap dingin Ayana. Seperti halnya pagi ini, Ayana menyiapkan segala keperluan Rayan masih dengan sikap dinginnya



Rayan yang tidak tahan di cuekin, meraih tubuh Ayana dalam dekapannya


"Ada apa..? Kenapa sikapmu berubah..? Tolong beritahu aku dimana salahku.." Lirih suara Rayan hampir tak terdengar


Ayana diam tak bergeming. Rayan melerai pelukannya dan mencium kening Ayana begitu lama


"Bagaimana aku bisa tau letak salahku jika kamu hanya diam seperti ini.. Apa kamu menyesal menikah denganku..?" Ayana tersentak mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Rayan


Ayana menatap mata Rayan begitu dalam. Dia baru sadar bahwa sikapnya sudah menyakiti perasaan suaminya


"Maafkan aku.." Hanya itu yang keluar dari bibirnya


Rayan kembali membawa Ayana masuk ke dalam dekapannya


"Ada apa sebenarnya.. Jangan menutupi hal apapun dari aku.. Aku ini suami mu, aku berhak tau apa yang terjadi pada istriku.." Tutur Rayan pelan


Akhirnya Ayana menceritakan kejadian kemarin saat Arman datang lengkap dengan permohonan Arman padanya. Rayan dengan sabar mendengarkan cerita dari Ayana sampai selesai.


"Mas.. Maafkan aku atas sikapku.. Aku hanya pusing mencari cara untuk menolak pemberiannya, Sedangkan aku sendiri gak punya pegangan.." Ucap Ayana menunduk


Sementara itu, jika dia menerimanya, dia merasa tidak menghargai suaminya. Karena selama Arman mangkir dari tanggung jawabnya, Rayan lah yang selalu ada untuknya dan Yuki.


"Iya sudah gak perlu di pikirkan lagi sayang.. Lain kali kalau ada masalah, jangan di pendam sendiri.. Masalah gak akan bisa selesai hanya dengan kita berdiam diri.. "Ucap Rayan tersenyum mengelus puncak kepala Ayana


Ayana mengangguk pelan


"Mas, apa aku boleh kerja..? Aku ingin punya pegangan agar aku bisa menegaskan pada mas Arman.." Ayana menatap manik mata suaminya memohon

__ADS_1


"Sayang.. Kalau kamu kerja, kasihan Yuki di tinggal tinggal terus cuma berdua sama Ibu.. Kasihan Ibu udah tua, pasti Ibu capek ngurus Yuki sendirian di rumah.. Kalian sekarang adalah tanggung jawab aku sepenuhnya.. Biar aku yang menghadapi mantan suami kamu itu.." Rayan mencoba memberikan alasan yang di rasa tepat untuk menolak permintaan istrinya


Rayan merasa, buat apa istrinya ikut bekerja. Sedangkan kekayaannya saja tidak akan berkurang hanya untuk biaya pengobatan Yuki dan kebutuhan istri dan mertuanya.


"Tapi aku ingin punya kesibukan mas.. Aku bisa stres berdiam diri tanpa aktivitas apa apa.. Yuki juga gak rewel mas.. Dia anaknya cukup pengertian.." Ayana terus saja mencoba meminta izin suaminya


"Kamu gak usah kerja sayang.. Kamu temani Ibu aja merawat Yuki di rumah.. Kapan lagi kamu bisa punya waktu banyak untuk Yuki.. Besok kita pindah rumah baru, dan disana ada taman yang cukup luas.. Kamu boleh berkebun bunga atau sayur bahkan buah juga boleh kalau hanya untuk menyibukkan diri dari rasa bosan.. Nanti kamu akan di temani tukang kebun, biar gak capek.. Gimana..?" Tutur Rayan mengelus lengan istrinya


Ayana memang suka merawat bunga. Tapi yang dia inginkan adalah memiliki penghasilan sendiri tanpa terus bergantung pada suami seperti sebelumnya. Tapi rasanya akan sulit


Melihat wajah istrinya yang kembali murung, Rayan akhinya menyerah


"Baiklah.. Aku akan coba ngomong ke papa.. Barangkali kamu bisa masuk kerja di tempat papa.. Tapi, Jika nanti kamu hamil, aku gak akan izinkan kamu bekerja lagi.. Gimana..?" Ujar Rayan menegaskan


Mendengar kata hamil, Ayana mendadak merasa malu. Sudah 4 hari mereka menikah, Rayan bahkan belum menyentuhnya. Rayan yang sadar perubahan wajah Ayana yang merona karena malu, mencoba mengusili istrinya itu.


"Sayang.. Mantan suami kamu udah 2 hari sering kesini, apa kamu gak takut jatuh cinta lagi..? Atau karena itu juga salah satu alasan kamunya bersikap dingin sama aku..?" Ucap Rayan


"Ucapan adalah doa loh mas..?" Sarkas Ayana kesal membuat Rayan tersenyum simpul


Rayan tersenyum mengelus lengan istrinya


"Sangat.. Gak ada alasan untuk bilang tidak.. Kenapa nanya sayang..? Kamu ragu..?" Rayan membawa Ayana dalam dekapannya lagi


Ayana mendongak menatap wajah suaminya


"Tapi mas, kenapa mas Rayan gak meminta hak mas Rayan sebagai seorang suami..?" Tanyanya pelan


Ayana sebetulnya malu menanykan hal itu pada suaminya. Tapi biar bagaimana pun, dia juga berhak tahu alasan kenapa suaminya enggan menyentuhnya sepenuhnya


"Karna aku malu melakukannya di rumah Ibu.. Kamar kita bersebelahan dengan kamar Ibu, hanya di batasi tembok ini.. Kalau Ibu dengar, apa kamu gak malu sayang..?" Tutur Rayan berbisik tepat di telinga Ayana


Ayana tergelak mendengar pengakuan suami perjakanya itu. Tak di sangka olehnya, Rayan yang seorang dokter yang hampir setiap saat terbiasa melihat tubuh pasiennya di ruang operasi, masih merasakan malu berhadapan dengan hal seperti malam pertama.

__ADS_1


"Mas ada ada aja.. Terus mas sampai kapan bisa nahan..?" Tanya Ayana masih dengan tawanya


Rayan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kalau di tanya sampai kapan bisa nahan, sejujurnya aku tersiksa dekat dekat kamu tiap malam.. Tapi nanti aja di rumah baru kita.. Besok kita kan pindah kesana.. Kamu siapkan diri kamu baik baik.." Ujar Rayan tertawa


Ayana menepuk pelan lengan suaminya


"Tapi sayangnya, Aku baru saja datang bulan pagi tadi.. Salah mas Rayan sendiri kemarin di anggurin.." Ucap Ayana


Ayana tertawa lepas melihat ekspresi suaminya yang lesu saat mendengar dia gak bisa melayani suaminya karena dirinya yang sedang udzur


"Mas, mas bukannya harus berangkat kerja ya..?" Tanya Ayana yang baru sadar bahwa suaminya hari ini harus ke rumah sakit karena waktu cutinya sudah selesai


"Nanti siangan aja.. Kebetulan pagi ini masih ada dokter Edo disana, aku udah izin masuk siang.." Jawab Rayan santai


Ayana hanya mengangguk tanda mengerti


***


"Sayang.. Ini udah semuanya kan..? Coba cek lagi apa masih ada barang yang ketinggalan.."


Tanya Rayan setelah selesai menyusun barang dan koper pakaian ke dalam mobil yang di supiri oleh supir pak Daud, papanya Rayan


"Udah mas, udah semuanya.. Nantikan bisa balik lagi kalau nanti ada barang yang di perlukan disana.." Ucap Ayana sambil mengangkat tubuh Yuki kedalam gendongannya


"Iya sudah, ayo berangkat.. Ayo bu.." Ajak Rayan sopan


Di tengah perjalanan, Yuki terus saja bercelote tiada henti. Sesekali Yuki melontarkan pertanyaan yang sebelum di jawab oleh Rayan, dia sudah menjawabnya sendiri terlebih dahulu. Namun Jika Rayan menjawab dengan jawaban yang sama, Yuki tidak mau terima. Membuat Rayan harus mencari jawaban lain yang harus dia sukai


**BERSAMNUNG..


😇🙏💞💞**

__ADS_1


MARI MAMPIR KE NOVEL BARU, SEMOGA SUKA DENGAN CERITANYA..



__ADS_2