
"Waalaikumsalam.. Bi, Ayana sudah di rumah belum..?" Rayan semakin khawatir mendengar jawaban asisten rumah tangganya bahwa Ayana belum berada di rumah.
Sementara itu, ponsel Ayana pun tidak dapat di hubungi.
***
Arman terkejut mendengar ucapan dan nada bicara Ayana yang terkesan lantang.
Bahkan sebutan Ayana kepadanya saja tidak seperti biasanya kini mulai formal.
Arman mengerutkan alisnya seolah tidak pecaya dengan sikap Ayana.
Ayana yang di tatap demikian oleh Arman, memalingkan wajahnya ke arah makam sang anak.
"Hampir setiap hari dia menanyakan keberadaan Ayahnya dimana. Kenapa tidak pernah datang menemuinya. Sampai pada saat dia mulai lelah, dia tidak peduli lagi dengan rasa rindunya." Air mata Ayana jatuh menetes mengenang saat dimana Yuki merengek menanyakan Ayahnya yang tidak pernah datang menemuinya waktu itu.
"Kata dokter, penyakit yang Yuki derita masih bisa di cegah jika pada saat itu Yuki segera mendapat penanganan yang tepat dan memadai. Tapi apa daya, Ayahnya bahkan tidak mau memberikan biaya untuknya berobat. Sehingga Yuki hanya bisa berobat jalan karena terbentur biaya." Lanjut Ayana menatap Arman.
Terlihat mata Arman mulai berkaca kaca saat mendengar ucapan Ayana tentang penderitaan Yuki.
Anak kecil yang cantik dan lucu, telah menjadi korban ke egoisannya.
Arman memang sadar betul akan itu. Dan penyesalan baru dia rasakan setelah mendapat kabar soal kematian Yuki anaknya.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan saat ini. Andai waktu bisa dia putar kembali, akan ada banyak hal yang dia upayakan untuk Yuki, malaikat kecil yang tiada berdosa itu.
Namun kini nasi sudah menjadi bubur.
Ayana terus menatap Arman yang kini tertunduk lesu dalam penyesalan.
Ayana tersenyum sinis melihat mantan suaminya itu menangis menyesali perbuatannya.
Ayana bangkit perlahan dari tempat duduknya dan duduk bersimpuh di samping nisan Yuki.
"Yuki sayang.. Maafin mama ya nak.. Mama baru bisa datang sekarang.. Mama punya kabar untuk Yuki.. Gak lama lagi, Yuki akan punya adik.. Yuki suka kan punya adik..? Yuki juga harus bahagia ya nak disana.. Mama sayang sama Yuki.. Mama pasti akan selalu rindu pada Yuki.." Ayana mencium batu nisa Yuki begitu lama.
Kali ini Ayana bertekad tidak akan sedih lagi setiap ke makam Yuki, agar Yuki bisa tenang disana.
__ADS_1
Jalannya menuju syurga di lancarkan oleh Allah. Serta penuh dengan keceriaan.
Setelah selesai melantunkan surah yasin Ayana memanjatkan doa serta melantunkan Al fatihah untuk sang anak tercintanya.
Semua itu tidak luput dari pandangan mata Arman. Ayana beranjak dari makam dan meraih tas pakaiannya kemudian pergi tanpa sepatah katapun.
Arman kemudian menyusul langkah Ayana yang menuju pintu keluar.
"Biar aku anter.." Ucap Arman yang masih berada di belakang Ayana.
Ayana terus berjalan tanpa mempedulikan Arman. Arman yang merasa di acuhkan, menarik lengan Ayana dari arah belakang.
Ayana yang tersentak, spontan menyikut dada Arman dengan keras.
Arman meringis merasakan sakit di dada kanannya akibat hantaman sikut Ayana.
Terdengar suara mobil dari jauh melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak tidak jauh dari tempat Ayana dan Arman berada.
Ayana melihat Rayan turun dari mobil dan berlari menghampirinya.
Ayana yang menyadari akan ada pertengkaran di antara dua lelaki yang ada di depannya itu, menarik paksa tangan Rayan menuju mobilnya.
"Aku yang nyetir sendiri atau mas Rayan masuk mobil dan kita pergi dari sini..?" Ayana memberi pilihan saat Rayan bersikeras tidak mau masuk ke dalam mobil karena merasa masih memiliki urusan pribadinya dengan mantan dari istrinya itu.
Arman yang terlihat geram, menatap Ayana dan Rayan. Sedangkan Rayan sendiri, tak kalah emosi melihat Arman yang telah berani menyentuh istrinya di depan matanya.
***
Rasa kesal akan kejadian di makam siang tadi, masih bersemayam di lubuk hati Rayan.
Andai istrinya tidak mencegahnya, entah apa yang terjadi di antara keduanya.
"Mas.. Buka pintunya.. Kenapa mas Rayan lama sekali di dalam mas.." Ayana yang sejak tadi menunggu Rayan keluar dari kamar mandi, mulai merasa ada yang aneh dari suaminya itu yang tidak biasanya betah berlama lama di dalam kamar mandi.
Padahal Rayan hanya membasuh mukanya seperti biasanya sebelum waktu tidur tiba.
__ADS_1
Cekleekkk..
Rayan menatap acu pada Ayana yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Ayana yang melihat suaminya mengacuhkannya seperti itu, hanya bisa tersenyum.
Ayana tahu suaminya selain kesal pada dirinya, suaminya juga pasti cemburu pada mantan suaminya itu.
Ayana menyusul Rayan yang duduk di sofa yang berada di sudut kamar mereka.
"Mas.. Mas ngambek ya..? " Goda Ayana
Rayan hanya melirik Ayana dan memilih fokus pada ponselnya. Ayana semakin yakin suaminya fiks cemburu.
Ayana akhirnya menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya. Masih merasa di cuekin, Ayana mengecup pipi sang suami dan tidur dengan berbantalkan paha sang suami.
Rayan yang kaget, hanya melongo melihat kelakuan Ayana, yang jujur hatinya mengakui sikap Ayana kali ini sangat manis.
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH YA BUAT KALIAN SEMUA YANG MASIH SETIA DISINI.. 🙏🙏💞💞**
KUNJUNGI JUGA YUK NOVEL SAYA YANG DI BAWAH INI 👇🙏
SEMOGA TEMAN TEMAN SUKA DENGAN ALURNYA..😇🙏💞
__ADS_1