
Rayan terlonjak kaget mendengar suara Ayana tepat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Rayan melemas ketika melihat Ayana disana, berdiri menatapnya dengan ekspresi bingung.
Mati matian Rayan mencoba bersikap tenang untuk mengulur waktu agar Arman tidak sampai bertemu dengan sang istri demi sang istri, namun ternyata Ayana justru keluar dari rumah dan menemuinya di depan rumah mereka.
Saat Arman menoleh ke arah suara, Arman tersenyum miring melihat sosok yang selama ini dia cari telah berada di depannya. Berada di rumah yang di sangkahkannya rumah selingkuhan Ayana.
"Wahh lihat siapa yang datang pak dokter yang terhormat.." Ucap Arman bertepuk tangan dengan ekspresi seperti sedang siap menerkam.
Rayan menoleh menatap ke arah Arman. Hatinya merutuki keadaan saat ini. Jika dia meladeni Arman, maka sudah tentu dirinya akan mendapat masalah besar. Sebagai dokter, diapun sudah tahu kondisi Arman seperti apa.
"Ayana.. Belum puas dengan suamimu sendiri sehingga kamu harus kumpul kebo dengan lelaki ini di rumahnya begitu..?"
"Atau kamu kemarin berharap aku mati setelah dari kecelakaan itu, biar kamu bisa leluasa main gila dengan lelaki ini Ayana.." Arman mulai meninggikan suaranya menghampiri Ayana yang kini masih setia berdiri di belakang Rayan.
Ayana yang sebelumnya masih terkejut melihat mantan suaminya berada di rumahnya, mematung tanpa bisa berpikir lagi. Perasaan takut dan perasaan menyesal menuruti rasa penasaran, hingga harus berhadapan dengan mantan suami yang kini siap menyerangnya membuatnya ketakutan.
"Arman.." Teriak bu Mida tergesa gesa keluar dari mobilnya setelah pak Rizal menghentikan laju kendaraannya tepat di bahu jalan depan rumah Rayan.
Semua mata menoleh ke arah sumber suara. Rayan bernapas lega melihat orang tua Arman akhirnya tiba di saat yang tepat. Sehingga tidak harus membuatnya terpaksa menghajar Arman jika tidak ada pilihan lain.
"Arman, tenang nak.. Ayo kita bicarakan baik baik dulu.. Kami semua bisa jelaskan nak.." Cega bu Mida dan pak Rizal saling menimpali.
Arman menatap sang ibu penuh dengan kekecewaan. Tak di sangkah olehnya ibunya terlibat dalam hal perselingkuhan Ayana, pikirnya.
Sementara itu, Rayan maupun Ayana hanya bisa diam melihat ketiganya. Biar bagaimanapun, Rayan sengaja membiarkan orang tuanya mengatasi Arman tanpa ikut campur lagi.
"Ternyata mama juga tahu soal ini dan mama membohongiku.." Ucap Arman penuh kecewa dan amarah
"Arman.. Gak seperti itu Man.. Ayo kita pulang dulu. Kita bisa bicarakan ini semua baik baik.. Ayo kita bahas di rumah.." Ucap pak Rizal menarik lengan Arman yang tetap bersikeras.
Bruukkk.
Tanpa di duga, Arman menghempaskan tangan pak Rizal dengan kasar akibat amarahnya yang berlebih. dan akibatnya pak Rizal terhempas karena posisi kakinya yang tak seimbang sehingga kepalanya membentur tiang pintu gerbang rumah Rayan.
"Paa.." Teriak bu Mida panik.
Tak terkecuali Rayan dan Ayana yang ikutan kaget. Bahkan Ayana sampai menutup mulutnya tak percaya.
Arman spontan bergerak mengangkat tubuh sang Ayah dan membawanya masuk ke dalam mobil dan buru buru membawa pak Rizal ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Sementara itu, Rayan menghampiri Ayana dan mengajaknya masuk.
"Mas. Apa gak sebaiknya kita menyusul ke rumah sakit..? Biar bagaimanapun, kita ikut andil mas atas yang telah terjadi pada pak Rizal.." Ucap Ayana mencegat Rayan.
Rayan menatap manik mata Ayana. Dia lupa bahwa istrinya itu memiliki hati yang lembut kepada sesama. Apalagi ini adalah mantan mertuanya dan terjadi di depan matanya.
Rayan menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Akhirnya dia mengangguk pelan menatap sang istri.
"Ambil sweater dulu. Di luar udara sedang dingin.." Ucap Rayan lembut dan di angguki Ayana.
***
"Susi, mama mau ngobrol sebentar boleh..?" Ucap bu Mila tiba tiba muncul dari balik pintu kamarnya.
Dirinya yang baru saja selesai menyimpan laptopnya di atas nakas samping tempat tidurnya, terkejut dengan kehadiran sang tante yang muncul tiba tiba itu.
"Boleh ma.." Jawab Susi malas, sebab dia sudah tahu apa yang akan di bahas oleh tantenya yang biasa di panggil mama olehnya itu.
Susi maupun bu Mila akhirnya memilih duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Tristan nak.. Apa kamu mau menikah dengannya dalam waktu dekat ini..?" Tanya sang tante tanpa basa basi.
"Mama mengerti nak.. Mama menanyakan ini sebab mama baru tahu kamu mempunyai kekasih. Dan mama terkejut saat Tristan datang menemui mama untuk memperjelas hubungan kalian.." Ujar bu Mila menatap wajah Susi dengan serius.
"Biarkan seperti ini dulu ma.. Aku juga gak tahu pasti apa status hubungan kami.. Nanti saja aku pikirkan setelah ujianku selesai.." Jawab Susi datar membuat sang tante menatap heran pada ponakannya itu.
"Tio mana ma..? Aku mau beli sesuatu buat besok di kampus. Aku takut naik motor sendirian malam malam begini.." Ucap Susi tiba tiba.
"Lagi nonton tv.. Sana samperin.." Jawab sang tante
Keduanyapun akhirnya menyudahi obrolan mereka dan beralih menemui Tio yang sedang duduk di depan tv.
"Yo, temani Susi keluar.." Ucap bu Mila tiba tiba Namun Tio yang sedang serius menonton bola dari club favoritenya mengacukan.
"Yo ayo temanin.. Aku mau beli sesuatu buat besok.." Ucap Susi memperjelas ucapan sang tante.
"Mau kemana..? Sebentar dulu.." Ucap Tio yang tidak mau di usik.
Susi mulai menggunakan hatinya yang perasa. Susi tahu Tio sudah mulai tak respect kepadanya setelah penolakan dan di tambah lagi dengan kedatangan Tristan ke rumahnya.
__ADS_1
Menyadari perubahan wajah Susi, dan juga sikap cuek sang anak yang tak biasanya, membuat bu Mila greget.
"Tio.." Bu Mila menepuk lengan sang anak dengan kerasnya membuat Tio mengadu.
Tio menoleh ke arah Susi yang berdiri tidak jauh darinya duduk.
"Yasudah ayo.." Ucapnya terpaksa
***
Di rumah sakit, pak Rizal baru saja siuman dari pingsannya. Rupanya benturan yang cukup keras membuatnya tidak sadarkan diri. Terlebih benturan yang keras membuat pelipi pak Rizal mendapat tiga jahitan akibat sobek.
Arman yang duduk di kursi panjang depan IGD, mengurut keningnya dengan raut wajah sedih. Setelah pak Rizal di tangani oleh dokter, bu Mida tidak lagi mengulur waktunya untuk mengungkap fakta yang sebenarnya pada Arman.
Dengan penuh amarah bu Mida menghampiri dokter Heru yang kebetulan sedang bertugas malam. Dan setelah mendapat penjelasan dari dokter dengan bukti bukti medis, Arman merutuki keadaan yang tidak dapat dia terima itu.
"Mas Arman.." Arman terlonjak kaget mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang dia kenal betul siapa pemilik suara itu.
"Ayana.." Batinya
Tatapan sendu Arman membuat Ayana memberanikan diri untuk duduk di samping Arman.
Ayana menyodorkan sebuah map yang Arman tidak tahu apa isinya. Namun setelah dia buka dan baca, hatinya teriris. Sebuah surat keputusan atas perceraian mereka dari pengadilan dua tahun yang lalu kini semakin membuktikan ucapan sang ibu dan dokter Haris tentang ingaatannya yang telah hilang, dan Ayana bukan istrinya lagi seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Dan perselingkuhan itu benar tidak ada.
"Aku minta maaf mas.. Karna aku tidak punya keberanian mengatakan yang sesungguhnya karena sakit yang mas Arman alami saat ini.."
"Aku takut salah dalam bertindak sehingga menimbulkan resiko pada ingatan mas Arman.." Ucap Ayana pelan.
Arman menatap wajah Ayana dengan diam. Hatinya belum bisa menerima, namun dia mencoba mencerna semua yang penjelasan dari sang Ibu maupun dokter dan Ayana yang saling berkaitan.
"Apa yang terjadi sehingga kita harus bercerai..?" Tanya Arman lirih
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR KESINI..🙏🙏💞💞💞
SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ALURNYA.. DAN SAYA MASIH TERUS SEMANGAT UNTUK MELANJUTKAN EPISODENYA HINGGA TAMAT NANTI.. 😇😇🙏🙏💞💞💞**
__ADS_1