PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
AKAD NIKAH


__ADS_3

Sepeninggal Ayana kebelakang, bu Lela menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Rayan membawa orang tuanya berkunjung ke rumahnya


"Begini bu..?" Pak Daud menggantung ucapanya


"Oh iya, Nama saya Lela Puspita.. panggil saja Lela.. " Ucap bu Lela tersenyum mengenalkan namanya


"Iya bu Lela.. Saya Daud dan ini istri saya Retno. Maksud kedatangan kami kesini itu tiada lain adalah untuk melamar anak bu Lela yang bernama Ayana Larasati untuk anak kami Rayan Afif Abqary.." Ucap pak Daud tersenyum menatap bu Lela


"Jika bu Lela mengizinkan dan menerima lamaran anak kami, kami selaku orang tua dari Rayan akan sangat berterima kasih.." Imbuhnya lagi


Bu Lela terkejut mendengar ucapan pak Daud itu. Dia tahu bahwa Rayan dan Ayana memang ingin menjalin hubungan yang serius, tapi lamaran ini terlalu cepat menurutnya. Terlebih keduanya belum memberitahukan perihal lamaran itu


"Terima kasih sebelumnya saya ucapkan pada pak Daud dan bu Retno yang sudah sudi melamar anak saya. Tentunya bapak dan bu Retno mungkin belum tau bahwa anak saya bukan anak gadis lagi.. Dia sudah pernah berumah tangga sebelumnya dan sudah memiliki seorang anak.." Ucap bu Lela hati hati


Pak Daud dan bu Retno saling melirik dan tersenyum menatap wajah bu Lela


"Kami sudah mengetahui semua tentan Ayana dan masa lalunya. Kami tidak keberatan akan hal itu.." Ucap bu Retno menanggapi


Ayana yang datang dari arah dapur membawa suguhan minuman dan cemilan tak sengaja mendengar obrolan mereka. Ayana diam mematung tepat di belakang bu Lela yang duduk membelakangi pintu menuju dapur


"Ayana.. Sini duduk dulu.." Ajak bu Retno saat melihat Ayana


Ayana pun menurut setelah meletakkan yang di bawanya tadi.


"Bagaimana nak..? Apa kamu mau menerima lamaran Rayan..?" Tanya bu Retno tanpa basa basi lagi


Ayana hanya diam melirik ke arah Rayan dan kembali menatap wajah bu Retno. Ayana sesungguhnya bingung harus menjawab apa. Di lain sisi dia mau memulai hidup baru bersama lelaki yang berada di hadapannya saat ini, di lain sisi dia merasa tak pantas dengan semua yang ada pada dirinya saat ini


Ayana masih betah dalam diamnya. Rayan gelisah mendapati sikap diam Ayana. Rayan mulai pesimis. Hingga bu Retno merai tangan Ayana dan menggenggamnya berharap genggaman tangannya mampu meyakinkan Ayana untuk menerima lamaran anaknya


__ADS_1


Ayana menatap wajah mereka satu persatu hingga terakhir pandangan itu tertunduk pada tumpukkan tangan bu Retno di atas kedua tangannya


"Bismillah.. Baiklah, aku terima lamaran Rayan untuk menjadi calon suamiku.." Ucap Ayana pelan namun pasti


"Alhamdulillah.." Ucap kedua orang tua Rayan serentak tersenyum menatap Ayana dan Rayan secara bergantian


Rayan yang tadinya sudah pesimis, mengangkat pandangannya menatap Ayana seolah ingin mendengar sekali lagi ucapan pujaan hatinya itu. Ayana yang di tatap sedemikian rupa oleh Rayan, sontak menundukan pandangannya dengan wajah merona


"Baiklah bu Lela. Kita tidak usah menunda terlalu lama lagi. Mari kita langsung tentukan aja tanggal pernikahan mereka. Lebih cepat lebih baik.." Ucap pak Daud antusias


Rayan, jangan di tanya lagi soal itu. Sudah tentu dia orang pertama yang setuju pernikahan mereka di percepat. Sedangkan Ayana hanya menurut tanpa ikut campur lagi keputusan orang tua mereka


***


Seminggu sudah mereka terus di sibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan di gelar di hari kedelapan. Semua persiapan pun sudah rampung. Di depan penghulu, Rayan sudah sangat siap mengikrarkan janji pernikahannya.


"Sebelum saya membacakan khutbah pernikahan, Saya mau bertanya terlebih dahulu pada orang tua mempelai wanita, apakah ananda Ayana masih mempunyai wali nikah yang sah setelah Almarhum Ayahnya..?" Tanya pak penghulu pada bu Lela


"Maaf pak penghulu.. Sebetulnya Almarhum suami saya memang memiliki seorang adik laki laki.. Tapi sudah belasan tahun kami tidak tau keberadaannya dimana.." Jawab bu Lela jujur


Rayan yang mendengar ucapan bu Lela sontak langsung flasback pada ingatannya pada anak pasiennya yang sangat mirip dengan wajah Ayana. Mereka hanya memiliki perbedaan pada postur tubuh saja


"Maaf bu, pak penghulu.. Apakah jika seandainya keberadaan mereka sudah gak di ketahui lagi, apakah kita tetap gak bisa menggunakan wali hakim..? Tanya Rayan dengan ekspresi serius


"Sebetulnya kita tetap mencari keberadaan mereka terlebih dahulu. Jika memang keberadaan mereka benar benar tidak di temukan setelah sekian lama, maka wali hakim terpaksa kita pakai.." Jelas pak penghulu


Semua keluarga dan kerabat yang hadir saling tatap satu sama lain. Sedangkan bu Lela dan Ayana terlihat sangat sedih


"Maaf bu.. Apa nama beliau Randa Jailudin..? Usia 48 tahun dan memiliki tahi lalat di atas kening..?" Tanya Rayan pada bu Lela


Bu Lela terkejut mendengar pertanyaan calon menantunya itu. Bagaimana bisa Rayan begitu detail menyebutkan ciri ciri iparnya itu.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tau nak..? Itu memang adik ipar Ibu.. Nama dan ciri cirinya sama persis.." Tanya bu Lela masih dengan keterkejuyannya


"Beliau adalah pasien aku bu.. Tapi maaf, beliau sudah meninggal dua minggu yang lalu setelah sempat menjalani perawatan.." Jawab Rayan menatap bu Lela yang terbawa kesedihannya


Inalillahi wainaillahi rajiun


Serentak semua yang berada di ruangan itu


"Baiklah, dengan adanya demikian berarti kita bisa menggunakan wali hakim untuk ananda Ayana.." Ucap pak penghulu


Setelah kata SAH terucap dari para saksi, babak baru dalam kehidupan antara Rayan dan Ayana pun saat itu sudah di mulai. Acara ijab qobul yang berjalan begitu khidmat. Satu persatu tamu sudah mulai meninggalkan kediaman Ayana. Sedangkan orang tua Rayan masih bercengkrama bersama bu Lela dan Yuki di ruang tengah


Ayana yang sudah gerah denga baju kebayanya, sudah sejak tadi berpamitan untuk mengganti pakaian didalam kamarnya. Saat Rayan menyusul Ayana, Ayana sudah selesai membersihan riasan di wajahnya dan berganti pakaian santai alah rumahan


"Sayang.. Udah selesai..?" Tanya Rayan basa basi


Ayana tersenyum mengangguk


"Aku mau ganti baju tapi bajuku dimana ya..? Boleh minta tolong ambilkan..? Aku mau mandi dulu.." Ucap Rayan mengelus kepala Ayana lembut


Ayana tersenyum canggung mendapati perlakuan Rayan. Apalagi ini kali pertama mereka hanya berdua di kamar pribadinya



"Kenapa..? Kita sudah sah jadi suami istri sayang.. Kenapa kamu terlihat gugup..? Aku gak akan ngapa ngapain kamu sayang, aku hanya minta baju ganti.." Ucap Rayan usil


Ayana menunduk malu dengan tangan mencubit perut Rayan pelan. Rayan meringis kesakitan. Mereka sama sama tergelak akan tingkah konyol yang mereka ciptakan di awal kebersamaan mereka sebagai suami istri.


**BERSAMBUNG..


TERIMA KASIH TEMAN TEMAN SUDAH MAMPIR LAGI.. 😇🙏🙏💞💞**

__ADS_1


.


__ADS_2