
Sore menjelang. Ayana sedang asik bermain dengan Pangeran di kamarnya, tiba tiba dia di kejutkan dengan ketukan dari balik pintu yang berulang kali tanpa suara. Ayana mengerutkan keningnya bingung. Sebab suaminya tidak pernah mengetuk pintu hingga berulang ulang kali, demikianpun dengan sang Ibu.
"Ma tututu.." Celoteh Pangeran meniru suara ketukan pintu.
Saat Ayana membuka pintu, dia di kejutkan dengan ponakan dari bibi asisten rumah tangganya yang sedang tersenyum dari balik pintu kamarnya.
"Hemmm.. Ada apa..? Ada perlu apa..?" Tanya Ayana datar.
Sejujurnya Ayana bingung harus menegur bibi Ina bagaimana.. Sedangkan gadis itu juga masih berada di rumahnya. Ayanapun memutuskan untuk menunggu kepulangan suaminya untuk membahas persoalan itu.
Bukannya apa apa, hanya saja menurut Ayana gadis itu sungguh tidak memiliki sopan santun sama sekali di rumahnya.
"Mau di masakin apa buat makan malam..? Tanya Lusi ponakan asisten rumahnya itu dengan tersenyum.
Ayana heran dengan pertanyaan gadis itu. Selama ini bi Ina masak menu sarapan hingga menu makan malam selalu atas inisiatifnya sendiri. Kecuali kalau dia maupun sang siami ingin di masakin menu tambahan, pasti akan memberi tahunya terlebih dahulu.
"Bi Ina mana..?" Bukan menjawab, Ayana justru bertanya.
"Bibi ada di dapur.. Biar saya masakin kalau pengen apa.." Ucap gadis itu dengan masih tersenyum.
"Gak usah.. Biar bi Ina aja yang masak.. Beliau lebih tau selera penghuni rumah ini.." Ucap Ayana sembari menutup pintu kamarnya.
Merasa kesal dengan sikap dan penolakan Ayana, gadis itu lantas mengepalkan tangannya lalu berjalan menuruni anak tangga satu demi satu.
__ADS_1
***
"Kamu kenapa menghindar terus seperti ini Yan..? Apa kamu gak kangen gitu sama aku..? Disini gak ada istri kamu, kita aman loh.. Kenapa seolah takut banget gitu.. Toh aku gak ngapa ngapin kamu.." Tutur Emil panjang lebar meluapkan kekesalannya atas sikap Rayan.
"Tapikan kita bisa ketemu di tempat umum aja itu lebih baik jika memang ada urusan.." Jawab Rayan serba salah.
Emil membuang napas kasarnya menatap wajah Rayan.
"Yan.. Aku kesini ada urusan penting sama kamu.. Dan aku rasa kamu sudah tau dari Ayah kamu.. Aku minta, kamu setuju aku bekerja disana dan ikut mengelolah usaha hotel Ayah kamu.. Aku juga kan punya saham disana meski masih terbilang kecil.." Ujar Emil langsung ke inti persoalan.
"Hmmm.. Aku dokter.. Pekerjaanku disini, di rumah sakit menangani pasien.. Aku gak mau ikut ikut soal urusan hotel.. Jika memang kamu bisa di bidang itu, silakan ikuti aturannya.. Aku dengar disana juga udah ada dua pelamar.. Silakan bersaing secara sehat.." Ucap Rayan seolah tak peduli.
Mendengar itu, mata Emil melebar tak percaya. Dia yang sudah begitu percaya diri bisa masuk, ternyata di belakangnya pak Sultan juga melakukan apa yang tidak dia ketahui. Dan semua itu atas keinginan Rayan pada sang Ayah pada malam itu tanp Emil tahu.
Rayan mengusap kasar wajahnya setelah Emil hilang dari balik pintu. Sejujurnya Rayan tidak tega melihatnya sengsara. Hanya saja setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh Ayana tentang Emil, Rayan menjadi lebih waspada.
***
Di kontrakan Susi, karena hari ini dia tidak masuk kerja dengan alasan kurang fit, membuat Tristan khawatir. Tristan sengaja berkunjung di sore hari setelah dia pulang dari kantornya.
Sudah berapa kali Tristan memperingatkan Susi untuk selalu memastikan pintu kontrakannya terkunci. Seperti kali ini, peringatan itu tidak di indahkan. Membuat Tristan kesal karenanya.
Saat masuk, Tristan melihat sisa bungkusan obat di meja makan dengan gelas yang masih tersisa air minum di dalamnya. Dengan pelan Tristan melangkah ke arah kamar yang disana terlihat Susi sedang tidur dengan bibir terbuka.
__ADS_1
Tristan menggeleng gelengkan kepalanya melihat gaya tidur Susi yang tidak ada manis manisnya menurut Tristan.
Saat berada di tepi tempat tidur, Tristan mendaratkan pantatnya disana. Di tatapnya dengan seksama wajah Susi. Muncul ide usil di benaknya.
Dengan pelan dia mendaratkan kecupan tepat di bibir Susi. Sekali, dua kali, Susi tetap tak terusik. Hingga dia mencoba memperdalam ciumannya disaana membuat Susi susah bernapas.
"Tan.. Kamu ngapain sih..?" Protes Susi masih terbawa kantuk.
"Sial.. Niat iseng malah jadi pengen benaran.." batin Tristan menatap wajah Susi.
"Kamu sakit..? Berobat yuk..?" Ucap Tristan mengalihkan gejolak dalam dirinya.
"Aku udah minum obat tadi.. Sebentar lagi juga udah sembuh.." Jawab Susi menggeliat.
Dia lupa Tristan masih dalam posisi semula yang hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuhnya. Tristan yang tadinya mulai teralihkan, kini kembali bergejolak.
Dengan cepat Tristan kembali menciumnya hingga ciuman itu terjadi cukup lama. Susi kini sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Ttistan kepadanya seperti itu. Meski belum jelas arah hubungan di antara mereka akan kemana dan seperti apa.
Tristan menyudahi ciuman panas mereka. Dengan wajah merah menahan gejolak, Tristan tersenyum memandangi wajah Susi yang berada di bawahnya itu.
"Aku keluar sebentar ya beli makanan buat kamu.. Kamu harus makan yang bergizi biar cepat sembuh.. " Ucap Tristan dengan sesekali masih mendaratkan kecupan singkat.
Susi hanya bisa mengangguk. Diapun sama seperti Tristan, mencoba menahan gejolak agar tidak melampaui batas karena ciuman panas mereka. Biar bagaimanapun, dia masih ingin menjaganya hingga halal baginya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
HAI TEMAN TEMAN SEMUA.. 😊😊
TERIMA KASIH YA SUDAH BERKUNJUNG KESINI.. 🙏🙏💞💞💞💞**