
Bukannya merayu, Arman justru semakin emosi menghadapi ambekan dari Sari, kekasih barunya yang juga seorang sekretaris pribadinya di kantor. Sehingga Sari menonaktifkan ponselnya.
"Bukannya bikin senang malah tambah bikin pusing.. " Gumam Arman membanting ponselnya di atas kasur miliknya.
Sementara Sari, meski khawatir dan takut akan kemarahan Arman, dia tetap memilih tidak mengaktifkan ponsel miliknya.
"Biar saja.. Jika dia cinta, dia pasti akan datang memohon maaf atas kejadian di butik itu.." Gumam Sari dengan air mata yang jatuh berderai.
Sari merasa kecewa ketika Arman tidak ada niatan minta maaf dan menjelaskan kelakuannya di butik Ratu. Bahkan Arman justru diam dan datar selama perjalanan pulang.
Keesokan hari.
Arman dengan gaya wibawanya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung bertingkat miliknya. Saat tiba di depan ruangannya, Arman sempat melirik ke arah meja di sudut ruangan mikiknya yang kosong.
"Irwan, kemana Sari..? Apa dia tidak masuk hari ini..?" Tanya Arman menoleh ke arah sudut kanan dimana asistennya itu berada.
"Maaf pak, Sari tidak ngasi kabar hari ini.." Jawab Irwan sopan.
Arman menghela napas lalu menghembuskannya denga pelan.
"Atur jadwal meeting siang ini.. Dan berkas yang harus di tanda tangani, antarkan ke ruangan saya.." Ucap Arman datar.
__ADS_1
"Baik pak.." Jawab sang asisten.
***
"Nak.. Yuki anak mama sayang.. Mama sama papa datang lagi jenguk Yuki.. Yuki apa kabar disana..? Yuki pasti banyak teman, banyak makanan jadi gak akan kelaparan ya nak di taman syurganya Allah.." Ayana menyapa sang anak dengan posisi bersimpuh di samping pusara Yuki.
Rayan yang berdiri di belakang Ayana menghadap ke makan Yuki, hanya diam sengaja memberi ruang pada Ayana untuk mengungkapkan perasaannya pada sang anak tercinta yang kini tak lagi dapat dia peluk.
Rayan tahu. Meski Pangeran telah hadir di kehidupan Ayana, memiliki kemiripan wajah dengan sang kakaknya Yuki, namun tidak akan pernah bisa mengubah kedudukan Yuki di hati Ayana. Terlebih Yuki adalah saksi perjalanan hidup Ayana yang begitu pahit kala itu. Pangeran dan Yuki memiliki tempat yang sama, namun posisi yang berbeda.
Yuki adalah Yuki, Pangeran adalah Pangeran. Memiliki cinta kasih yang sama besar, namun tetaplah tidak sama. Memang sulit di jabarkan namun seperti itulah.
"Yuki sayang.. Tiap mama kangen sama Yuki, mama meminta sama Allah agar Yuki disana selalu bahagia.. "
"Pangeran belum sempat mama bawa kesini ketemu Yuki karena mama sama papa juga dari tempat jogging langsung kesini ketemu Yuki.. Ini photo taman yang selalu Yuki minta setiap pagi.. Semoga Yuki suka ya nak.."
Rayan mengelus pucuk kepala Ayana dengan lembut.
"Sayang.. Udah ya..? Sekarang kita kirim doa dulu ya buat Yuki.." Ucap Rayan
"Iya mas.. Aku kangen banget mas sama dia.. Kangen candaannya.. Kangen cerianya meski sesekali dia merengek karena sakit di sekujur tubuhnya.. Aku kangen pengen gendong dia mas.. Setiap dia pengen ngeliat mentari pagi karena penasarannya, aku selalu nawarin dia langit senja dengan alasan itu lebih indah dan sinarnya tidak menggigit kulit.. Aku kangen masa masa bersama dia.." Tangis Ayana pecah kala mengenang kebersamaannya dengan Yuki sang anak.
__ADS_1
Rayan yang juga merasakan kerinduan yang sama, tak kuasa menahan ledakan di hatinya. Air matanya pun ikut tumpah. Meski Yuki bukan darah dagingnya, namun Rayan juga begitu merasa kehilangan. Yuki adalah anak yang baik di usianya, penurut, dan jarang mengeluh.
Rayan melihat, Ayana tetap tegar dan tegak berdiri di tengah badai prahara dalam hidupnya. Namun ketika tahu penderitaan sang anak hingga tidak dapat lagi bertahan hidup, Ayana seperti elang yang patah sayap.
"Sudah ya sayang. Kita ikhlaskan Yuki sepenuhnya.. Biarkan Yuki bahagia bersama pemiliknya yang abadi.. Yuki hanyalah bidadari yang Allah pinjamkan untuk kita di dunia.. Insya Allah, Yuki akan menunggu Ibunya di pintu syurga-Nya nanti.." Tututr Rayan mengelus pucuk kepala Ayana penuh sayang.
"Iya mas.. Aamiin Allahuma Aamiin.." Jawab Ayana tertunduk pilu.
Seusai menaburkan bunga dan menyiran air di makan sang anak, memanjatkan doa bersama, Ayana dan Rayan pun akhirnya pamit pulang.
"Kita pulang dulu ya nak.. Nanti papa sama mama kan kesini lagi sama Pangeren juga.. Assalamualaikum sayang.." Pamit Ayana mencium nisan Yuki begitu lama, seakan tidak ingin beranjak meninggalkan sang anak sendirian disana.
Meski tempat pemakaman Yuki tempat yang terkenal mewah dan nampak indah dengan taman tamannya, namun Ayana tetap merasakan lara hati Yuki sendirian disana.
"Istighfar sayang.. Biarkan Yuki damai disana.. Kamu ingat..? Yuki gak pernah suka melihat kamu menangis.." Rayan menengadakan wajahnya ke atas seusai berucap.
Berharap air matanya tidak tumpah lagi. Agar Ayana pun tidak larut dalam tangis.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN SEMUA YANG SUDAH MAMPIR KESINI.. 🙏🙏💞💞
TERIMA KASIH JUGA ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.. 🙏💞💞💞**