
Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Tio akhirnya sampai juga di sebuah toko buku. Susi dengan tanpa basa basi turun terlebih dahulu dan langsung berjalan menuju pintu toko.
Ketika Tio turun dari balik kemudinya, dia di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang sengaja menghampirinya. Rasa tak percaya setelah sekian lama tak jumpa, akhirnya mereka bertemu lagi tanpa sengaja.
"Makin cakep aja Yo..?" Sapa wanita itu dengan senyum manisnya
Tio sedikit salah tingkah.
"Mmm.. Lagi apa disini..?" Tanya Tio mengalihkan
"Nunggu Abang di dalam lagi nyari buku.. Kamu nyari buku juga..?" Senyum Indira, nama gadis cantik itu mampu menghipnotis Tio
Tangan Indira melambai lambai di depan wajah Tio ketika Tio hanya diam membisu dengan tatapan tak berkedip. Tio tersentak ketika tangan Indira menepuk lengannya.
"Eh maaf.. Mmm mau masuk ga..?" Ucap Tio mencoba mengalihkan rasa malunya
"Mmm gak.. Aku tunggu abangku di mobil aja.. Silakan kalau mau masuk.." Ujar Indira menunjuk mobil yang di kendarainya itu
Karena Tio tak ingin Susi mencarinya, dia pun terpaksa harus masuk ke dalam toko buku tersebut meninggalkan Indira di parkiran.
Di dalam toko, Susi yang tengah asik mencari buku yang dia butuhkan untuk materi tugas akhirnya. Tanpa sengaja, Raka sang menejer di tempatnya bekerja dulu juga sedang berada di dalam. Dan saat ini sedang memperhatikan gerak gerik Susi sejak Susi pertama masuk ke toko itu.
"Ada yang bisa saya bantu nona..?" Raka menahan senyumnya.
"Ah iya maaf.." Susi terkejut
"Ih Raka..? Kamu ya..? Ngagetin aja.." Ucap Susi reflek menepuk lengan Raka yang sedang tertawa melihat ekspresinya yang terlihat lucu
"Dasar.." Celetuk Susi masih belum puas
"Serius amat sampe gak tau ada orang disini.. Lagi nyari buku apa..? " Ucap Raka masih dengan tawanya
"Ni.." Jawab Susi singkat sembari menunjukan beberapa buah buku di tangannya.
"Tugas akhir..?" Tanya Raka seolah mengerti yang di angguki Susi.
Dari arah sudut ruangan yang berbeda, ada sepadang mata yang sedang menyaksikan interaksi antara kedua insan itu.
__ADS_1
Dengan caranya menatap, sudah jelas bahwa Tio cemburu. Canda tawa dan ekspresi wajah Susi seperti itu yang sangat dia rindukan. Kali ini ada, namun bukan untuknya tapi untuk lelaki lain.
Tio akhirnya hanya bisa diam menyaksikan keakraban Susi dengan lelaki itu tanpa berniat untuk menghampir mereka. Bukan tak ingin, tapi tak punya kepercayaan diri lagi. Kini dia sadar, Susi benar benar tak ingin ada rasa di antara mereka.
***
"Tapi aku gak bisa.. Aku sudah menikah, sudah punya anak juga yang harus aku urus setiap hari.."
"Aku benar benar minta maaf karna gak bisa penuhi keinginan mama dan papa.." Tolak Ayana sopan saat bu Mida dan pak Rizal memintanya untuk mendampingi Arman selama proses pemulihannya.
Bu Mida dan pak Rizal saling tatap satu sama lain. Mereka bingung dengan cara apalagi agar mereka bisa merayu Ayana untuk Arman.
"Apa kami bisa bertemu dengan suami kamu..?" Tanya pak Rizal kemudian.
Ayana menatap pak Rizal kemudian beralih menatap bu Mida.
"Boleh.. Tapi tadi mas Rayan minta aku nunggu di ruangannya karna ada meeting katanya.. Mungkin sekarangpun belum selesai meetingnya.." Ucap Ayana pelan.
"Iya gak apa apa.. Kami bisa menunggu.." Ucap pak Rizal tersenyum ramah.
"Baiklah.. Tapi aku harus pulang sekarang.. Aku minta maaf, aku gak bisa nemanin nunggu mas Rayan selesai meeting.. " Ujar Ayana ramah
"Tadi sudah ketemu sebelum mas Rayan ke ruangan meeting.. Aku kesini cuma nganterin bekalnya saja, karna pagi tadi mas Rayan gak sempat sarapan pagi karna buru buru.." Jelas Ayana tersenyum menatap mantan Ayah mertuanya itu dengan ramah.
"Oh begitu.. Yasudah kalau gitu, kamu hati hati ya di jalan.. Titip salam buat Ibumu.." Ucap pak Rizal tersenyum ramah yang di angguki oleh Ayana.
Berbeda dengan bu Mida. Dia hanya diam dan sesekali sibuk dengan ponselnya. Namun Ayana tak mengambil pusing dengan itu. Dia sudah tahu watak mantan mertuanya itu dan diapun sudah terbiasa.
"Mau kemana kamu..?" Semua tersentak dan serentak memalingkan pandangan ke sumber suara.
Ayana yang baru saja beranjak dari tempat mereka berdiri, tepatnya di depan pintu ruangan rawat Arman, menatap pak Rizal dan bu Mida dengan bingung antara menjawab atau tidak atas pertanyaan Arman.
"Mmm Ayana pulang dulu nak.. Kasihan Ayana lagi kurang sehat.." Pak Rizal memilih menjawab.
Arman menatap diam Ayana.
"Iya Arman.. Biar mama sama papa yang nemani kamu disini.. Nanti Ayana balik lagi besok.." Ucap bu Mida ikut menimpali.
__ADS_1
Arman menatap kedua orang tuanya secara bergantian, kemudian beralih menatap Ayana dengan penuh selidik seolah tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang Ibu dan Ayahnya.
"Ok.. Besok bawakan aku makanan kesukaanku ya sayang..? Jangan lupa kalau sudah di rumah, kabari aku.. Aku mau video call sama Yuki.. Aku kangen.." Ucap Arman menatap Ayana dengan mesra.
Ayana menatap wajah bu Mida dan pak Rizal secara bergantian. Sesungguhnya Ayana ingin jujur pada mantan suaminya itu tentang apa yang sebenarnya.
Bukan hanya karena keberatan berhubungan dengan mantan suaminya itu. Akan tetapi juga di karenakan oleh perasaannya yang sedih karena Yuki di sebut seolah masih berada di tengah tengah mereka.
"Ma, pa, mas Arman, aku pulang dulu.. Assalamualaikum.." Ucap Ayana bergegas pergi
Arman yang berniat menyodorkan tangannya untuk di salimi oleh Ayana, melebarkan matanya tak percaya dengan sikap Ayana yang pergi begitu saja. Bu Mida yang menyadari itu, bergegas menggandeng tangan Arman dan masuk ke ruangan rawatnya untuk mengalihkan pikiran Arman.
" Ma, mama liatkan tadi gimana sikap Ayana berubah..?" Ucap Arman tak teralihkan.
***
Di perjalanan pulang, Tio tidak seperti biasanya yang banyak bertanya bahkan menunjukkan perhatiannya. Sejak melihat Susi dengan begitu cerianya bahkan terlihat sangat senang bercengkrama dengan lelaki yang di lihatnya di toko buku itu, Tio menjadi sadar diri.
Susi tak menyadari perubahan sikap Tio. Sebab dirinya sedari awal memang tidak peduli apa yang di rasakan oleh Tio kepadanya.
Meski kali ini Susi tidak tahu bahwa Tio melihatnya sedang bersama Raka, lelaki di masa lalunya yang juga mantan bosnya itu di toko buku tadi.
"Yo, aku mau turun di cafe Coffee aja di ujung setelah simpang jalan sana.." Ucap Susi memecahkan keheningan dengan menunjuk arah yang di maksud olehnya.
Tio tak menjawab. Namun dia memutar arah setir menuju tempat yang di tunjuk oleh Susi. Susi sempat melirik ke arah Tio heran tumben sepupunya itu tak bersuara.
Namun belum juga turun setelah mobil yang di kendarai oleh Tio berhenti di sisi jalan depan cafe tersebut, kaki Susi seolah kaku untuk di gerakan.
Matanya memerah seakan ada yang akan tumpah dari matanya itu. Tatapannya tak teralihkan dari arah pandanganya sedari awal.
Disana ada sosok Tristan yang sedang siap siap keluar dari area parkiran sedang berboncengan dengan seorang wanita. Tak jelas wajah wanita itu sebab masker dan kacamata gelap menutupi wajahnya.
Ada perasaan perih di hati Susi. Meski dia berusaha cuek, namun perasaannya sungguh tak bisa di bohongi.
"Ada apa..? Kok gak turun..?" Tanya Tio heran setelah cukup lama dia menunggu, Susi belum juga turun dari mobilnya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
HAI TEMAN TEMAN, MAKASIH YA KARNA MASIH BERADA DISINI, MENGUNJUNGI NOVEL INI HINGGA SAMPAI DI EPISODE INI..🙏🙏💞💞💞
TERIMA KASIH JUGA ATAS BENTUK DUKUNGAN KALIAN.. INSYA ALLAH JADI BERKAH.. 🤲😇😇💞💞💞**