PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA

PERJUANGAN HIDUP SEORANG JANDA
ANTARA DUA HATI


__ADS_3

Emil menunduk lesu. Dia ingat, dulu Rayan juga memperlakukannya dengan begitu lembut sebelum dia memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan pergi dengan lelaki lain


Tanpa sengaja, ekor mata Rayan menangkap sosok Emil yang sedang di dorong oleh suster dari arah berlawanan.


"Do saya permisi dulu.. Ada urusan sebentar.." Ucap Rayan pada rekannya dokter Edo dengan terburu buru takut Emil semakin jauh


"Mil, Emil.." Panggil Rayan mengejar dari belakang Emil dan suster yang bersamanya


"Jalan terus sus, jangan berhenti.." Ucap Emil pada perawat yang mendorong kursi rodanya


Rayan terus mengejar dan akhirnya dia berhasil menghadang Emil dari depan. Membuat perawat itu terpaksa menghentikan langkahnya


"Mil, boleh minta waktunya sebentar..?" Tanya Rayan dengan nafas yang belum teratur karena tadi dia sedang berlari mengejar Emil


Emil hanya menatap wajah Rayan diam. Rayan berjongkok dengan bertumpu di satu kaki di depan Emil. Emil diam tak bergeming


"Emil.. Apa yang terjadi..? Aku liat kamu tadi dari ruangan radiologi.. Dimana suami kamu..?" Tanya Rayan menatap wajah Emil lembut


Sejujurnya Rayan ingin bersikap cuek pada mantan kekasihnya itu. Sebab dia ingin menjaga perasaan istri dan anaknya. Namun semakin dia bersikap cuek, semakin dia merasa tak tega. Terlebih Rayan tidak pernah melihat Emil di dampingi suaminya dan keluarganya.


"Sus, saya ingin istrahat.. Tolong antarkan saya ke kamar saya.." Ucap Emil sedikit menoleh kebelakang pada suster


Rayan menahan kursi roda Emil agar tetap di tempat. Biar saya sus, suster silakan kembali.." Ucap Rayan menatap suster tersebut


"Tapi dok, saya di tugaskan oleh dokter Marsya.." tolak suster


"Gak apa apa.. Nanti saya yang akan bicara dengannya.." Ucap Rayan tidak mau di bantah, membuat suster jaga itu memilih mengalah dan berlalu dari mereka berdua


Setelah suster jaga itu sudah menjauh, Rayan kembali menatap wajah Emil. Sedangkan Emil sendiri berusaha menghindari tatapan Rayan


"Emil, apa aku boleh tau apa yang terjadi..?" Rayan mengulangi pertanyaannya masih dengan nada lembut


"Ayo aku antar ke ruanganmu.." Ucap Rayan sambil berdiri dan berpindah kebelakangnya, mendorong kursi rodanya dengan perlahan


"Ruangannya dimana, kamar berapa..?" Tanya Rayan berusaha membuat Emil mau membuka suara


"Samping kiri kamar yang sering kamu kunjungi.." Jawab Emil pada akhirnya

__ADS_1


Ingatan Rayan langsung flashback pada kejadian waktu mereka pertama kali bertemu. Rayan menghentikan langkahnya, membuat Emil sedkit menoleh kebelakang


"Emil.. Kamu belum menjawab pertanyaan aku.." Ucap Rayan datar


Emil memejamkan matanya mendengar pertanyan Rayan yang tidak selembut tadi. Dia paham, jika demikian adanya, artinya Rayan sudah mulai kesal


"Osteoarthritis.." Jawab Emil singkat dan pelan


Rayan terkejut mendengar jawaban dari mantan kekasihnya itu. Penyakit seperti itu sangat serius. Dan pasien harus berada di situasi yang tidak boleh merasa sedih, terpuruk, dan harus perlu pendapingan khusus


Rayan memejamkan matanya. Dia cukup kaget mendengar penyakit yang menyerang mantannya itu



"Sejak kapan kamu mengalami nyeri sendi..?" Tanya Rayan pelan


Setau dia, Emil selama ini cukup baik menjaga kesehatan. Bahkan dia aktif berolahraga pagi


"Tolong antarkan saya ke kamar saya.. Saya mau istrahat.." Ucap Emil pelan


Rayan mengelus puncak kepala Emil dengan lembut. Dia merasa ibah dengan apa yang di alami oleh kekasih di masa lalunya itu. Karena perlakuan Rayan itu, mata Emil jadi berkaca kaca. Mendadak hatinya terasa perih. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada nama Rayan disana.



Emil menundukan pandangannya. Dengan pelan tangannya menghapus air mata yang mulai jatuh di pipinya


Tak jauh dari tempat mereka berada, Ayana yang sejak tadi tidak bisa menghubungi ponsel Rayan, mencoba mencari keberadaan Rayan di sekitar ruangan rumah sakit, tengah mendapati pemandangan yang membuat hatinya perih.


Air matanya jatuh menyaksikan suaminya memperlakukan wanita lain dengan begitu lembut dan penuh perhatian.



Ayana memilih pergi dari tempat itu sebelum hatinya semakin bertambah sakit.


"Kita ke ruangan kamu sekaranga ya..?" Ucap Rayan mengelus lengan Emil dan mendorong kursi rodanya perlahan


***

__ADS_1


"Sayang, Ada apa..?" Tanya Rayan saat masuk ke ruangan rawat Yuki dan mendapati istrinya menangis mengelus wajah sang anak yang tengah terlelap.


Sementara di ranjang khusus untuk kelurga pasien, bu Lela juga tengah tidur dengan begitu pulasnya. Mungkin karena semalam mereka begadang karena Yuki rewel dan ingin di gendong terus, membuat bu Lela cukup kelelahan


Mendengar suara Rayan yang begitu lembut dan perhatian tengah menghampiri, Ayana hanya menoleh sebentar dan kembali menatap wajah sang anak.


Hatinya sakit membayangkan kembali sikap sang suami pada wanita lain di depan mata kepalanya sendiri siang tadi. Dan suaminya baru kembali setelah malam menjelang membuat air matanya jatuh membasahi pipinya


Rayan menundukan wajahnya mencium kepala Ayana dan mengelusnya lembut


"Ada apa sayang..? Kok nangis..? Yuki baik baik aja kan..?" Tanya Rayan setelah duduk di sisi ranjang persis di belakang Ayana


Ayana menghembuskan nafas pelan


"Tadi dokter Mika kesini.. Yuki harus di rawat untuk beberapa hari kedepan.. Pagi tadi Yuki mengalami kerontokan.. Aku takut ini pertanda buruk.." Jawab Ayana dengan air mata yang terus berderai.


Isakan tangisnya terdengar sangat lirih. Membuat Rayan meraih tubuh Ayana dari belakang, masuk ke dalam dekapannya. Ayana semakin terisak. Hatinya sakit menerima perlakuan Rayan. Seandainya dia tidak melihat kejadian tadi, mungkin dia sudah membalikkan badannya menghadap suaminya dan menumpahkan semua kesedihannya akan penderitaan Yuki


Sementara Rayan yang tidak mengetahui kejadian itu, semakin mengeratkan pelukkannya pada sang istri. Sesekali bibirnya melayangkan kecupan di kepala Ayana.


"Aku akan terus mengupayakan pengobatan untuk Yuki.. Yuki anak yang kuat, dia pasti bisa melewatinya dengan baik.." Hibur Rayan mengecup pipi sang istri dari samping


Ayana melerai tangan Rayan yang memeluknya. Ayana beranjak dari tempatnya menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana. Dia bahkan tidak bersikap manis pada suaminya seperti biasa jika hendak tidur.


Rayan mengerutkan alisnya melihat perubahan sikap Ayana yang tidak biasa. Selama ini meski Yuki dalam kondisi apapun, Ayana masih bisa bersikap manis, tapi kali ini terbilang cukup cuek. Rayan menghampiri Ayana dan duduk di sisinya yang sedang berbaring



"Sayang.. Apa yang sebenarnya yang kamu pikirkan..? Gak biasanya kamu menghindari aku seperti ini..?" Tanya Rayan mengelus lengan sang istri


Ayana memilih memejamkan matanya dari pada menjawab pertanyaan suaminya. Membuat Rayan greget karenanya. Rayan menunduk dan menciumi pipi Ayana berulang ulang kali membuat Ayana kesal dan mendorong muka Rayan menjauh darinya. Namun tak menyulutkan niat Rayan untuk berhenti


"Mas.. Hentikan mas ih.." Kesal Ayana


"Suruh siapa mendiami aku.. Aku kan udah pernah bilang, kalau ada masalah di omongin jangan cuma di pendam dalam hati.. Lama lama bisa jadi penyakit tau.." Tutur Rayan menatap istrinya yang terlihat kesal


**BERSAMBUNG..

__ADS_1


TERIMA KASIH TEMAN TEMAN ATAS KUNJUNGANNYA.. 🙏🙏 TERIMA KASIH JUGA SUDAH MENDUKUNG SEJAUH INI.. 😇🙏🙏💞💞💞**


__ADS_2