
Sementara di ujung ruangan UGD, Susi dan Tristan menghentikan langkah mereka saat melihat Ayana dan Rayan yang sedang berpelukan.
Hati Tristan mendadak seperti sedang terbakar menyaksikan dua insan itu saling berpelukan di depan matanya.
Ayana adalah wanita yang selama ini telah mengisi hatinya, kini justru tengah berada dalam pelukan lelaki lain.
Susi melirik ke arah Tristan. Terlihat Tristan memasang wajah masam menatap lurus ke arah dimana Ayana dan Rayan berada.
Susi menarik tangan Tristan berniat mengajaknya pergi dari sana sebelum sepasang suami istri itu melihat mereka. Namun Tristan menolak.
Tristan perlahan melangkah menghampiri sepasang suami istri itu. Susi hanya menatap punggung Tristan dengan sendu.
"Ayana.." Panggil Tristan pelan tepat di depan Ayana
Ayana mendongak menatap Tristan. Ayana mengerutkan keningnya dan sedikit melirik ke arah sang suami khawatir suaminya salah paham.
"Ay, kamu kenapa gak pernah ngasi tau aku soal Yuki..? Kamu juga ngilang begitu aja.. Apa kamu marah sama aku..?" Tutur Tristan meluapkan kekesalannya yang telah memenuhi batinnya
Rayan mengerutkan alisnya menatap wajah Tristan dan Ayana secara bergantian.
Ayana menyadari tatapan sang suami yang tidak bersahabat itu.
"Tan, kamu sama siapa kesini..?" Tanya Ayana menatap Tristan yang terlihat datar
"Jangan mengalihkan Ayana.. Jawab pertanyaan aku.." Ujar Tristan seolah tidak peduli dengan kehadiran Rayan disana
Susi yang berdiri tidak jauh dari mereka, memeilih untuk tidak ikut campur.
Meski hatinya merasa sakit melihat sikap Tristan pada Ayana, namun apalah daya cintanya tak berbalas
"Tan, aku minta maaf sebelumnya.. Aku tahu aku memang menghindarimu akhir akhir ini.. Semua ada alasannya.. Suatu saat nanti, kamu pasti akan tahu.." Ucap Ayana menatap wajah Trisntan dengan lesu
"Apa karena dia kamu melakukan semua ini..?" Tanya Tristan menoleh ke arah Rayan, Ayana pun mengikuti arah pandangan Tristan
"Sayang..?" Panggail Rayan mulai posesif
Ayana mengerti apa yang ada di pikiran suaminya itu. Di raihnya jemari Rayan dan menggenggamnya kemudian kembali menatap Tristan.
"Tan, kenalkan, ini suami ku sekarang.. Kami sudah menikah sudah hampir sebulan ini.." Ucap Ayana menatap Tristan
"Dan maaf Tan, aku menghindari kamu bukan karena dia..?" Lanjutnya lagi menatap keduanya secara bergantian
Ingin rasanya Ayana menjelaskan alasannya kenapa menjaga jarak bahkan berusaha untuk tidak menampakan diri lagi di depan Tristan.
Namun dia khawatir hubungan anak dan ibu itu bisa rusak karenanya.
Tristan yang mendengar pengungkapan Ayana soal statusnya yang kini telah menjadi istri dari lelaki yang tengah bersamanya itu, merasa seperti tak bertenaga.
Tristan menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya.
__ADS_1
Wanita yang selama ini dia cintai, kini telah menjadi istri orang lain. Kegagalannya untuk yang kedua kali ini dia rasakan lebih sakit dari sebelumnya.
Sementara Susi yang melihat reaksi Tristan, lebih sakit lagi. Dia melihat cinta Tristan begitu dalam pada sahabatnya.
Sedangkan untuknya yang menaruh perasaan pada Tristan, selalu terabaikan.
Susi melangkah meninggalkan ruangan UGD menuju kantin rumah sakit untuk menenangkan hatinya.
Dia melampiaskan perasaannya dengan makan sebanyak banyaknya hingga perutnya terasa sakit akibat kekenyangan.
"Ya ampun perutku sakit sekali.. Mual, pusing, semua gara gara kamu Tristan.. Eh bukan, gara gara makanan.." Gumamnya yang terkulai lemas di atas meja
Sementara Tristan yang merasa sangat kecewa pada Ayana, memilih pergi dari hadapannya tanpa permisi. Ayana menatap sendu sahabatnya itu.
"Sayang, apa ada yang perlu kamu jelaskan sama aku..?" Tanya Rayan menatap wajah istrinya yang masih setia menatap kepergian Tristan
Ayana beralih menatap Rayan dan bergerak maju memeluknya
"Sayang, maaf aku belum sempat cerita sama kamu.." Ucap Ayana pelan
Rayan yang mendengar Ayana menyematkan kat sayang untuknya, menjadi sedikit tersentuh dalam kecemburuannya akan Tristan.
"Dia sahabat aku sewaktu kita masih sama sama remaja mas.. Rumahnya tidak jauh dari rumah Ibu.. Dia memang sudah lama menyatakan perasaannya, dan dia masih mencintaiku sampai saat ini seperti yang mas dengar tadi.." Tutur Ayana menjelaskan
"Alasan kamu menolaknya karena apa..? " Rayan ingin memastikan langsung apakah Ayana juga sebenarnya ada cinta untuk sahabatnya itu atau murni hanya bersahabat
Rayan menatap sendu wajah istri cantiknya itu dengan perasaan yang masih sedikit ada rasa cemburu disana.
"Mas.. Anterin aku ketemu Yuki mas.. Yuki gimana keadaannya disana..?" Pinta Ayana merengek seperti anak kecil setelah teringat Yuki yang sedang berada di ruang PICU
"Iya sayang iya.. " Rayan merai tangan Ayana dan mencabut jarum infus yang tertancap di punggung tangannya
"Sakit..?" Tanya Rayan mengelus bekas jarim infus di punggung tangan istrinya
"Gak mas.. Mas ayo, aku mau melihat kondisi Yuki.." Ucap Ayana mendesak dalam kondisi tubuhnya yang masih lemah
Di parkiran, Tristan yang sudah bete mencari keberadaan Susi semakin menggerutu.
"Kemana sih tuh anak..?" Kesal Tristan merogoh ponsel di saku celananya
Tuuttt.. tuuttt.. tuutt..
"Hallo.. Siapa..?" Sapa Susi dari seberang telephone
"Kamu dimana..? Buruan, aku udah nunggu dari tadi di parkiran juga.." Jawab Tristan galak
"Aku di kantin rumah sakit.. Perutku sakit, kepalaku pusing.." Jawab Susi
__ADS_1
"Ni anak iisshhh.. Tunggu disana, jangan kemana mana.." Jawab Tristan kesal
"Dasar.. Cinta di tolak, marah marah bertindak.. Eh salah, ah tau ah pusing.." Gumam Susi menatap ponselnya
Tidak butuh waktu lama, Tristan pun sampai di depan Susi berada setelah sempat mengedarkan pandangan mencari keberadaannya.
Melihat Susi yang tidur berbantalkan lengannya di atas meja, Tristan menoel noel pipinya dengan kesal
"Kalau masih pusing, perutnya masih sakit, ayo ke UGD berhubung sekarang kita masih di rumah sakit.." Ucap Tristan menatap Susi yang tidak bergeming sedikitpun
"Gak ah.. Aku udah enakan kok.. Ayo pulang, anterin aku ke kontrakan ku.." Jawab Susi yang spontan duduk tegak mendengar ucapan Tristan yang mengajaknya ke UGD rumah sakit
Susi yang takut jarum suntik apalagi jarum infus, berusaha menahan rasa pusing di kepalanya serta rasa tak nyaman di perutnya akibat terlalu banyak makanan yang dia makan akibat melampiaskan cemburunya.
Ini yang di namakan sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Di ruang PICU, Ayana dan Rayan akhirnya bernafas lega mengetahui Yuki bisa melewati masa kritisnya. Saat ini kondisi Yuki pun sudah mulai bisa merespon dengan gerakan jarinya.
"Sayang.. Ini mama sayang.. Yuki cepat sembuh ya..? Mama kangen sama Yuki.. Mama pengen cerita banyaaak sekali sama Yuki.. Mama tau Yuki anak kuat, Yuki pasti cepat sembuh.." Tutur Ayana gemetar menahan tangisnya menatap sang anak yang terbaring sakit
Sementara Rayan yang berdiri di samping sang istri, hanya bisa menguatkan Ayana dengan mengelus punggungnya.
Rasa sayangnya pada keduanya hampir tidak bisa di bedakan. Rayan yang sejak pertama kali berjumpa Ayana di restoran tempat Ayana mencari rezeki untuk pengobatan anaknya.
Serta biaya hidup bertiga dengan sang Ibu dengan gaji yang tidak seberapa itulah yang menarik simpatiknya hingga dia berjuang untuk bisa menggapai hati Ayana.
Sementara rasa cintanya pada Yuki tumbuh ketika dia mulai berkunjung ke rumah Ayana sewaktu Ayana sakit.
Sosok Yuki yang lucu, namun penurut itulah yang membuatnya jatuh hati. Terlebih saat Yuki duduk di samping Ayana yang terbaring lemah di tempat tidurnya hanya untuk menemani sang Ibu dari rasa kesepian.
"Sayang.. Biarkan Yuki istrahat dulu.. Biar Yuki bisa cepat kembali pulih.. Kamu juga harus makan sayang biar gak di rawat lagi.. Nanti kita balik lagi setelah selesai makan.." Rayu Rayan agar istrinya mau menurutinya
Ayana meraih tangan Rayan yang sedang mengelus lengannya dan mencium telapaknya
"Mas.. Makasih ya..? Aku gak tau apa jadinya jika gak ada kamu dan mama papa.. Aku gak tau mas.." Ucap Ayana menangis sendu
.
.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
HAYY TEMAN TEMAN, MAKASIH** ****YA MASIH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN EPISODE CERITA AYANA.. 😇🙏🙏💞
MAKASIH ATAS BENTUK SUPPORTNYA JUGA.. 🙏💞💞💞****