Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Peringatan


__ADS_3

Ting


Pintu lift terbuka, Kenzou dan Alan melangkah keluar dari dalam lift dan menuju ruangannya masing masing, tapi saat Kenzou ingin berbelok ke ruangannya ia memerintahkan Alan untuk menyimpan semua data data penting yang berkaitan dengan proyek baru yang akan ia kerjakan dengan tuan Bradlay.


"Aku yakin kalo Aleta tau aku bisa mendapatkan mendapatkan proyek ini, pasti dia akan membanggakan jas milik Ayahnya" kata Kenzou membayangkan bagaimana reaksi wajah Aleta nanti, dengan tangan yang memegang gagang pintu ruangannya.


"Kenzou" suara yang cukup keras itu terdengar dari dalam ruangannya saat pintu ruangannya terbuka, dan seorang wanita berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Kenzou yang tengah mematung di pintu.


Kenzou yang tidak tau ada orang di dalamnya sedikit kaget, karena Bella sekertarisnya dulu sudah ia pecat beberapa bulan yang lalu sebelum ia bertemu dengan Aleta, dan Kenzou tidak ada niat an untuk mencari sekertaris baru, jadi ia menjadikan Alan asisten sekaligus sekertaris pribadinya.


"Anindira? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kenzou bingung saat Anindira sudah berdiri di depannya.


"Apa Alan tidak memberitahu mu? kalo aku akan ke sini membahas soal peresmian proyek kita yang di perkirakan akan selesai satu bulan lagi" kata Anindira membuat Kenzou langsung mengumpat Alan di dalam hatinya.


"Mungkin dia lupa" kata Kenzou yang berjalan semakin masuk ke dalam ruangannya, menuju meja kerja miliknya.


Saat Kenzou sudah duduk di kursi kebesarannya, Anindira juga ikut mendudukan tubuhnya di kursi depan Kenzou. "Jadi ada berapa orang yang akan melihat peresmian proyek kita ini?"


"Kalo tidak salah ada sekitar lima ratus orang" jawab Kenzou dengan tangan menyalakan Laptop di hadapannya.


"Apa proyek ini akan di siarkan di stasiun televisi?"


"Iyah"


"Dan ap..."


"Tuan"perkataan Anindira terpotong saat suara seseorang dari arah pintu yang memotong ucapannya, membuat Anindira dan Kenzou menatap ke arah pintu dan di sana terlihat Alan yang tengah berdiri menatap Keduanya secara bergantian.


"Perempuan ini selalu datang tepat waktu kalo menyangkut soal Kenzou"


"Asisten sialan ini kenapa harus masuk segala sih!"


Tatapan Alan dan Anindira sesaat bertemu, untuk saling mengumpat satu sama lain di dalam hati mereka masing masing.


"Apa kamu masih ingin berdiri di situ Alan?" suara Kenzou membuat kedua manusia itu berhenti saling mengumpat satu sama lain di hati mereka.


"T-tidak tuan" jawab Alan yang langsung menutup pintu ruangan Kenzou dan melangkah menuju meja kerja atasannya.


"Anindira sekarang sudah ada Alan di sini,kamu bisa bertanya tentang masalah peresmian proyek kepada Alan, karena Alan lebih tau hall itu dari pada saya"

__ADS_1


"T-tapi Zou" kata Anindira terpotong lagi saat suara Alan kembali memotong ucapannya.


"Ada masalah Nona Anindira?" tanya Alan dengan suara yang di buat selembut mungkin dan senyuman yang sangat terpaksa menghiasi wajahnya.


"Sialan! asisten ini kenapa selalu saja merusak saat-saat berdua ku dengan Kenzou?"


"Karena itu sudah tugas saya nona" kata Alan seakan akan tau isi hati Anindira yang tengah mengumpatnya, sedangkan Kenzou menatap kedua makhluk itu secara bergantian dengan tatapan aneh.


"Mari Nona, anda bisa ke ruangan saya, saya sudah menyiapkan semua dokumen yang ingin anda lihat untuk peresmian proyek"


"Kalo begitu tuan, saya permisi dulu" kata Alan beralih ke Kenzou menundukan sedikit tubuhnya sebelum keluar dari ruangannya.


"Kenapa masih di sini?" suara Kenzou membuat Anindira yang tadi menatap kepergian Alan beralih menatap Kenzou yang duduk di depannya.


"Kenapa masih di sini? bukan kah kamu tadi ingin bertanya tentang peresmian proyek bukan? jadi kamu bisa pergi ke ruangan Alan" kata Kenzou lagi saat Anindira hanya diam sambil menatapnya.


"I-iyah, kalo begitu aku ke ruangan Alan dulu" kata Anindira meraih tas selempang miliknya, dan keluar dari ruangan Kenzou.


Tapi baru saja pintu ruangan Kenzou tertutup, tangan Anindira sudah di tarik seseorang dengan cukup kasar untuk menjauh dari pintu ruangan Kenzou.


"Tuan Alan anda apa apa an menarik saya seperti ini?" kata Anindira saat Alan menariknya.


"Tuan lepas! apa anda sekasar ini dengan seorang perempuan?!"


Alan tidak menjawab satupun ucapan yang keluar dari dalam mulut Anindira, ia terus menarik pergelangan tangan Anindira ke ruangannya, sampai di dalam ruangannya Alan melepaskan cengkraman tangannya dengan cukup kasar membuat Anindira merintih kesakitan di pergelangan tangannya.


"Apa kau sudah gila tuan Alan?" kata Anindira menatap tajam Alan.


"Kau yang sudah gila wanita rendahan!" bentak Alan.


"Aku tidak habis pikir dengan wanita rendahan seperti dirimu, ternyata selain tidak punya harga diri kau juga ternyata tidak tau malu menganggu suami orang"


"Jaga ucapan anda tuan!" kata Anindira tidak suka saat Alan menghinanya.


"Apa yang harus aku jaga?, bukan kah semua itu benar Nona Anindira yang terhormat?" kata Alan dengan sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman.


"Anda tidak tau apa apa tentang saya tuan, jadi jaga ucapan anda atau saya akan melaporkan ke kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik!!"


"Hahaha" Alan tertawa dengan sangat keras setelah mendengar penuturan dari mulut Anindira yang akan melaporkannya. "Anda ingin melaporkan saya ke kantor polisi Nona Anindira?" tanya Alan sambil menunjuk dirinya sendiri dan melangkah mendekat ke arah Anindita yang mulai melangkah mundur.

__ADS_1


"Silahkan nona kalo Anda ingin melaporkan saya ke kantor polisi pintu terbuka dengan sangat lebar, tapi sebelum itu saya punya pertanyaan untuk anda" kata Alan yang semakin mendekat saat Anindira sudah bersandar di dinding ruangannya.


"Apa anda bisa jamin keluar dari kantor ini dengan aman? karena saya tidak yakin kalo anak buah saya akan diam saja di depan gerbang perusahaan ini" kata Alan berbisik tepat di telinga Anindira membuat Anindira dengan susah payah menelan salivanya sendiri.


"Jadi bagaimana?, apakah Anda masih berencana untuk melaporkan saya?" kaya Alan menatap wajah Anindita yang mulai menegang.


"Apa mau anda tuan Alan?" tanya Anindira tanpa menjawab satupun ucapan Alan yang ia tujukan pada dirinya.


"Ternyata anda pintar juga langsung tau maksud saya apa menyeret anda keruangan ini" kata Alan yang langsung menjauhkan diri dari Anindira, membuat Anindira bisa sedikit bernafas lega.


"Saya mau anda jauh jauh dari Kenzou mulai hari ini dan seterusnya!" kata Alan sambil membenarkan jasnya.


"Atas dasar apa anda menyuruh saya untuk menjauh dari Kenzou?, ingat tuan Alan disini Anda hanya asisten Kenzou dan tidak lebih!" kata Anindira menekan kalimat terakhirnya.


"Dan tugas asisten itu dimana mana hanya mengurus pekerjaan bukan mengurusi kehidupan atasannya" kata Anindira menatap sinis Alan.


Alan yang geram mendengar ucapan Anindira hanya mengepalkan tangannya dengan kuat di sisi tubuhnya, berusaha menahan emosinya agar tidak kasar dengan perempuan bersifat iblis di hadapannya saat ini.


"Saya tegaskan sekali lagi dengan anda nona Anindira yang terhormat, lebih baik anda menjauh dari Kenzou sekarang juga dan lupakan tentang semua rencana yang sudah anda susun, karena saya yakin wanita licik seperti anda pasti mempunyai rencana busuk yang sudah anda siapkan, tapi jangan pernah bermimpi satu pun dari rencana anda itu akan berhasil!" kata Alan dengan nada suara yang menahan amarah di dirinya.


"Rencana?"


"Hahaha, rencana apa tuan Alan? anda tau saya ini wanita baik baik jadi saya tidak punya rencana rencana seperti yang anda maksudkan tadi, kalo saya saja bisa mendapatkan dengan usaha saya sendiri?"


"Dasar wanita bodoh apa bedanya dia bilang seperti itu?"


"Jadi di sini yang harus saya tegaskan itu anda tuan, stop menganggu urusan orang lain selagi itu tidak menyangkut diri anda sendiri" kata Anindira membenarkan posisi dasi Alan yang sedikit miring, Alan yang melihat tangan Anindira memegang Dasinya, dengan cepat menepis dengan kasar tangan Anindira.


"Saya ingatkan sama anda Nona jangan pernah macam macam dengan saya atau pun dengan Kenzou, kalo anda tidak ingin menyesal nantinya!!" tegas Alan menatap tajam Anindira.


"Saya tidak akan menyesal tuan, karena sebelum penyesalan datang ke diri saya, saya yakin keberuntungan yang lebih dahulu berpihak pada saya" kata Anindira dengan penuh percaya diri.


"Jangan pernah bermimpi kalo keberuntungan akan berpihak pada wanita rendahan seperti dirimu!! karena keberuntungan saja sangat jijik berpihak pada dirimu!"


"Kita lihat saja nanti tuan bagaimana cara keberuntungan berpihak pada saya" kata Anindira yang berjalan melewati Alan dan melangkah menuju pintu ruangan Alan.


"Dan kita juga lihat saja nantinya siapa yang akan sangat menyesal telah melakukan hall yang membuatnya merasakan penyesalan yang teramat, bahkan kalo kamu menangis darah sekalipun nantinya, jangan harap kalo ada keringanan untuk wanita seperti dirimu" kata Alan membuat langkah Anindira terhenti, Anindira membalikan badannya dan hanya menampilkan sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman sebelum melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan Alan.


"Sial wanita itu, benar benar menguji kesabaran ku!" kata Alan meninju dinding ruangannya saat pintu ruangannya sudah tertutup.

__ADS_1


__ADS_2