
"Kalian dari mana saja?" tanya Ratih saat melihat orang yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga.
Aleta yang tadinya tengah asik merasakan yoghurt di dalam gendongan Kenzou di buat kaget dengan suara Bundanya itu dengan menunjukan senyuman tanpa dosanya saat Bunda dan Mama mertuanya itu mengelengkan kepala mereka melihat tingkah manjanya.
"Zou turunin!" pinta Aleta dengan suara berbisik.
"Bukannya kamu tadi yang minta di gendong sampai kamar? dan aku akan mengabulkan apapun yang kamu mau." kata Kenzou dengan suara yang sedikit keras dan itu membuat Aleta salah tingkah di dalam gendongan Kenzou.
Ratih mengelengkan kepalanya tanpa henti mendengar hall itu, "Bahkan sampai mau punya anak pun sifat manja mu itu tidak pernah hilang" sindir Ratih.
"Bunda kaya gak pernah muda aja" balas Aleta yang masih ada di dalam gendongan Kenzou.
"Gak papa Bun, lagian Kenzou bakal gendong Aleta kemanapun Aleta mau" kata Kenzou membuat Aleta tersenyum ke arahnya.
"Baiknya papa kudanil" puji Aleta dengan mengalungkan tangannya di leher Kenzou membuat dua pasang orang tua itu membulatkan matanya terutama Herlangga yang baru pertama kali melihat putrinya bisa semanja itu.
"Anak ayah!" bisik Ratih di telinga Herlangga.
"Anak kita Bunda" ralat Herlangga membuat Ratih memutar bola matanya malas.
"Aleta, Kenzou duduk!" perintah Ratih saat Aleta masih bermanjaan di dalam gendongan Kenzou.
Kenzou menganggukan kepalanya berjalan ke arah sofa menurunkan Aleta secara perlahan di atas sofa baru dirinya duduk di samping Aleta yang masih asik merasakan yoghurt di tangannya.
"Bunda sama Mama bukannya baru dua hari kemarin kesini? terus kenapa kesini lagi?" tanya Aleta seperti tidak suka dengan kehadiran kedua calon Oma itu.
"Sayang" tegur Kenzou.
"Aku cuma tanya Zou, bukannya aku gak suka Bunda dan Mama kesini malah aku senang sekali karena aku ada teman ngobrolnya tapi bukannya Bunda sama Mama datang setiap weekend?" kata Aleta membenarkan ucapannya agar tidak ada yang salah paham.
"Bunda yang ngajak Mama Ana kesini" ucap Ratih dan Aleta menganggukan kepalanya.
"Iyah, Mama kesini ada hall mau Mama tanyakan sama kalian berdua" Imbuh Ana.
Kenzou dan Aleta saling pandang mendengar hall itu. "Mama mau tanya apa?" ucap Aleta menatap wajah Ana dan Ratih secara bergantian.
"Sebentar lagi kamu mau lahiran dan Bunda belum tau kamu mau lahiran secara normal apa sesar"
Aleta menyandarkan punggungnya ke badan sofa saat hall itu yang menjad pertanyaan sang Bunda. "Aleta belum tau Bun" jawab Aleta jujur.
"Kenapa belum tau?" tanya Ana bingung.
"Ya karena Aleta melahirkan masih lama banget ma masih satu bulan lagi" jawab Aleta.
"Ayah sudah kasih tau sama Bunda, kalo kita bisa mempersiapkan hall itu dua minggu menjelang persalinan kamu, tapi bukan Bunda namanya kalo tidak keras kepala" ucap Herlangga setelah meminum teh miliknya.
"Iyah,Papah juga sudah bilang seperti itu sama Mama, tapi sepertinya dua Oma ini terlalu heboh untuk hall seperti ini" imbuh Baksara.
__ADS_1
"Bukan heboh Pah, Mama cuma mau semuanya sudah siap nantinya" ralat Ana.
"Lagi pula ini kan cucu pertama kita ya kan jeng?" kata Ana meminta persetujuan Ratih yang duduk di sampingnya.
"Iyah betul, lebih cepat lebih baik agar tidak ada yang terlewatkan" ucap Ratih yang sepertinya tidak sabar untuk menyiapkan semua itu.
"Gimana sayang kamu mau lahiran normal apa operasi sesar?" lanjutnya dengan menatap wajah Aleta.
Aleta diam sejenak pandangannya beralih menatap perut buncitnya tersenyum sangat senang saat anaknya yang begitu aktif di dalam sana pantas saja kedua oma itu tidak sabar untuk menggendongnya kalo setiap di usap saja selalu mendapatkan respon sangat antusias dari janinnya.
"Aleta mau lahiran normal ma" jawab Aleta mantap dengan pilihannya.
"Tidak! tidak bisa!" ucap Kenzou dengan cepat membuat semua pandangan melihat ke arahnya. "Aku tidak setuju kamu lahiran secara normal!"
"Kenapa?" tanya Aleta bingung.
"Aku tidak mau lihat kamu kesakitan nantinya" pertanyaan itu keluar dari mulut Kenzou membuat Ana menepuk jidatnya.
"Dari mana kamu tau lahiran itu sakit?" tanya Aleta dan itu membuat Kenzou salah tingkah.
Selama ini saat Kenzou memiliki waktu luang di kantor Kenzou selalu melihat beberapa video proses melahirkan baik secara normal maupun sesar agar dirinya memiliki pandangan satu bulan lagi dan saat melihat video proses melahirkan yang Aleta pilih tubuh Kenzou tiba tiba saja merinding tidak bisa membayangkan bagaimana kalo Aleta yang merintih kesakitan seperti itu selama berjam jam lamanya.
"Ya intinya aku tidak mau kamu melahirkan secara normal" elak Kenzou.
"Semua proses melahirkan itu sama saja Zou" kata Ana saat melihat raut wajah khawatir di wajah putranya itu.
Kenzou juga ikut menyandarkan punggungnya di badan sofa meraih tangan Aleta di genggamannya tangan itu dengan lembut. "Sesar saja ya" pinta Kenzou.
Aleta tersenyum di ikuti gelengan kecil dari kepalanya. "Aku mau normal Zou"
***
Aleta keluar dari kamar mandi setelah menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat lengket dengan handuk yang masih ada di kepalanya Aleta berjalan ke arah ranjang saat melihat Kenzou yang duduk diam di sana dengan setelah jas yang masih melekat di tubuhnya.
"Kamu tidak mandi?" tanya Aleta.
"Nanti" jawab Kenzou singkat membuang pandangannya ke arah lain agar tidak melihat wajah Aleta yang duduk di sampingnya.
Aleta meraih tangan Kenzou di usapnya lembut punggung tangan suaminya itu dengan penuh kasih sayang Aleta tau kalo Kenzou saat ini tengah ngambek dengan dirinya saat mendengar keputusannya yang akan melahirkan secara normal.
"Kamu marah?" tanya Aleta lagi.
"Aku tidak marah cuma kesal" jawab Kenzou membuat Aleta mengelengkan kepalanya.
"Jangan marah dong Daddy nanti gantengnya hilang lo" goda Aleta dengan tangan yang beralih mengusap rambut suaminya.
Kenzou menghela nafas panjang. "Kenapa sih Kamu keras kepala banget jadi orang?" ucap Kenzou menatap wajah cantik Aleta.
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu merasakan sakit saat lahiran nanti, dan aku tidak kuat menyaksikan hall itu" lanjutnya dengan suara penuh kekhawatiran.
"Mama tadi sudah bilang Zou semua proses melahirkan sama saja, kalo aku lahiran secara sesar aku juga akan merasakan rasa sakit setelah biusnya hilang begitu juga dengan lahiran normal yang tidak luput dari rasa sakitnya"
"Ya tapi setidaknya kamu tidak perlu menunggu berjam jam lamanya apa lagi dengan rasa sakit itu"
"Semua itu akan terbayar setelah anak kita lahir nantinya" ucapnya dengan membawa tangan Kenzou mengusap perut buncitnya.
"Tapi aku tidak mau kehilangan kamu Aleta" ucap Kenzou yang akhirnya mengutarakan kekhawatiran yang sudah ia pendam sejak tadi. "Aku gak mau mempertaruhkan nyawa kamu"
Sebagai seorang yang pernah kehilangan orang yang ia sayangi Kenzou juga merasakan kekhwatiran yang begitu hebat di hatinya apa lagi saat mendengar kata Bunda mertuanya kalo melahirkan mempertaruhkan nyawanya untuk seorang mailaikat yang akan lahir di dunia.
Aleta tersenyum akhirnya ia tau apa yang sebenarnya suaminya itu cemaskan sedari tadi "Aku akan baik baik saja" ucap Aleta meyakinkan Kenzou.
Kenzou berdecak kesal dan langsung membawa tubuh Aleta yang masih berbalut kimono itu masuk ke dalam pelukannya. "Aku sayang sama kamu Aleta dan aku tidak mau kehilangan kamu"
Aleta terkekeh mendengar itu. "Kamu tau Bunda berkata seperti itu hanya bercanda Zou, tidak semuanya orang yang melahirkan akan mati seperti yang kamu bayangkan"
Aleta melepaskan pelukannya menangkup wajah suaminya itu. "Besok kita konsultasi sama dokter Melati gimana baiknya, kalo kondisi aku memungkinkan untuk lahiran an secara normal aku bakal lahiran secara normal tapi begitu juga sebaliknya"
"Iyah" jawab Kenzou dan kembali membawa Aleta masuk ke dalam pelukannya.
***
Seperti rencana tadi malam Kenzou dan Aleta berbincang bincang dengan dokter Melati di ruang keluarga setelah menyelesaikan sarapan bersama di meja makan. Dokter Melati yang selama ini mengurus kehamilan Aleta baik itu di rumah sampai USG dirinya yang menangani karena Kenzou tidak membiarkan dokter lain memeriksakan keadaan Aleta karena dokter Melati merupakan dokter yang di pilih sang Mama secara khusus untuk menantunya itu.
Dokter Melati mengatakan kalo keadaan Aleta sampai sekarang ini baik baik saja apa lagi keadaan janinnya yang tumbuh dengan sangat sehat di dalam sana dan dokter Melati mengatakan kalo Aleta bisa melahirkan secara normal nantinya.
Kenzou menghela nafas kasar melonggarkan dasi yang ia gunakan karena rasa khawatir semakin menjadi, Aleta yang melihat itu mengelengkan kepalanya ia tidak menyangka Kenzou yang dulunya sangat dingin dan sangat cuek dengannya bisa berubah sedrastis ini.
"Kamu dengar sendiri kan dokter Melati saja sudah yakin kalo aku bisa melakukan persalinan secara normal" ucap Aleta saat dokter Melati pamit untuk ke rumah sakit sebentar karena ada pasien yang membutuh dirinya.
"Zou..." panggil Aleta membuat Kenzou melirik sekilas wajah Aleta yang duduk si sampingnya.
"Aku mau sesuatu" pinta Aleta dengan mengedipkan kedua matanya.
"Aku lagi tidak ingin melakukannya Aleta" tolak Kenzou.
Dahi Aleta menimbulkan garis halus ia tidak paham apa yang di maksud suaminya itu. "Kamu tidak mau melakukan apa yang aku inginkan?"
"Iyah, karena aku tidak ingin melakukannya aku lagi dalam mode malas" ucap Kenzou lesu tanpa bertanya apa yang di inginkan istrinya saat ini.
"Ok kalo gitu aku tidak mau bicara sama kamu selama satu minggu!"
Kenzou langsung mendudukkan tubuhnya dengan tegap. "Loh kok kaya gitu?"
"Terserah!"
__ADS_1