
Setelah Aleta dan Vony berbincang bincang sebentar sebelum berangkat ke rumah Aleta, memutuskan untuk segera berangkat sebelum hari menjelang malam, dan Vony juga memutuskan untuk menemani sahabatnya itu satu malam di rumah barunya, yang kebetulan Ayah dan Mamanya lagi keluar kota.
Vony yang mengendarai Mobil Aleta memasukinya sebuah pemukiman yang masih belum banyak penduduknya, Vony sesekali melihat ke kanan dan ke kiri jalan yang ia lewati, sampai Mobil Aleta berhenti tepat di depan rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat cantik dan elegan yang di bangun tidak jauh dari danau.
"Ini rumah kamu?" tanya Vony yang menatap rumah di depannya.
"Iyah" jawan Aleta yang juga menatap rumahnya yang belum pernah ia lihat sejak pembangunan karena Aleta menyerahkan semua itu pada arsitektur untuk disain rumahnya dan mengisi perabotan rumahnya, dan Aleta hanya menerima jadi saja.
"Yuk masuk" kata Aleta membuka pintu rumahnya.
"Rumah kamu nyaman banget Aleta, mungkin rumahnya tidak terlalu besar, tapi ini sangat nyaman" kata Vony yang berjalan mengekspos isi rumah Aleta.
"Dari mana kamu mendapat uang untuk membangun rumah ini?" tanya Vony saat melihat isi rumah kata yang di isi dengan barang barang mewah dan tentu saja itu membutuhkan uang yang sangat banyak.
"Aku membangunnya dengan uang mahar yang Kenzou kasih ke aku saat kita nikah dulu" kata Aleta berjalan ke arah kulas yang sudah penuh dengan berbagai, sayuran,buah,dan minumannya.
"Memang berapa uang mahar mu?" tanya Vony yang lupa akan mahar mewah sahabatnya itu.
Aleta menyerahkan satu gelas jus apel kepada Vony, dan sahabatnya itu langsung meminumnya karena ke haus an. "Tiga puluh Milyar" jawab Aleta.
Byurrrrr.....
"Vony......" teriak Aleta saat Vony menyemburkan minumannya ke dirinya yang membuat baju yang ia gunakan kotor karena semburan dari mulut laknat sahabatnya itu.
"Maaf maaf aku gak sengaja" kata Vony mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke Aleta untuk membersihkan bajunya yang kotor karena ulahnya.
"Jadi Rumah ini beserta isinya habis tiga puluh milyar?" tanya Vony sambil memajukan tiga jarinya dengan mulut ternganga.
"Ya gak lah...uang tiga puluh Milyar nya masih sisa, cukuplah buat tabungan aku sampai anak ku lahir" kata Aleta. karena tidak mungkin ia habiskan uang sebanyak itu sekaligus karena suatu saat Aleta pasti membutuhkannya seperti keadaannya saat ini.
"Ohhh....aku pikir rumah ini habis tiga puluh Milyar"
"Von...aku boleh minta bantuan kamu gak?" tanya Aleta membuat Vony yang mengedarkan pandangannya ke sudut rumahnya beralih menatap dirinya.
"Bantuan apa?"
__ADS_1
"Aku minta tolong sama kamu tolong hendel restoran ku untuk beberapa bulan kedepan, karena aku ingin menjauh dari kota untuk sebentar saja, dan aku ingin mencari ketenangan di sini sambil fokus sama kandungan ku" kata Aleta sambil mengusap perutnya yang masih datar.
"Apa kamu tidak berniat kembali ke kota?" tanya Vony setalah mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Bukan itu maksud ku...aku akan kembali ke kota ketika hatiku sudah lebih baik nantinya, dan semoga saat itu juga aku sudah biasa lupa dengan semua kejadian yang menimpaku" kata Aleta lirih.
"Kamu tidak perlu khawatir kalo Masalah restoran aku pasti bisa menghendelnya, kamu bisa di sini sampai kapanpun yang kamu mau sampai luka itu sembuh" kata Vony yang langsung menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Makasih ya Von...aku beruntung banget punya sahabat seperti kamu" kata Aleta yang langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sama sama sayangku" jawab Vony dengan membalas pelukan sahabatnya.
"Dan aku mohon sama kamu jangan bilang sama siapapun kalo aku tinggal di sini terutama Ayah, Bunda, apa lagi Kenzou, cukup kamu saja yang tau aku tinggal di sini" kata Aleta memohon.
"Terus kalo salah satu dari mereka nanyain kabar kamu gimana? karena aku yakin bundamu itu pasti curiga kalo aku tidak jawab dengan jujur" tanya Vony bingung saat mengingat Ratih yang begitu tau persahabatannya dengan Aleta tanpa menyembunyikan satu hall pun.
"Kamu bisa bilang sama bunda kalo aku pergi ke luar kota untuk mengurus cabang restoran ku" kata Aleta yang mengingat kalo dirinya juga akan membuka cabang di kota ccc.
"Tukang bohong" goda Vony.
***
Malam harinya suasana begitu tenang yang berbeda sekali sama di kota yang ramai akan kendaraan dari pagi sampai pagi lagi, Aleta duduk di kursi depan rumahnya menikmati ketenangan malam sambil menatap lurus ke depan.
"Disini sangat tenang sekali"
"Tapi gimana kabar Kenzou disana? apa dia sudah makan atau belum?" lirih Aleta mengingat kalo dirinya yang selalu memasak makanan untuk Kenzou.
"Hah.... gimana mau lupa kalo kamu saja masih kepikiran dia" kata Vony yang tiba tiba datang dan duduk di samping Aleta.
"Ini baru hari pertama, dan aku juga belum terbiasa dengan semua ini" kata Aleta.
"Kamu tau Aleta..., jangan paksa seseorang untuk selalu ada sebab, orang yang tulus akan selalu ada tanpa kamu minta sekalipun, jadi kalo Kenzou tulus sama kamu dan merasa kehilangan mu suatu saat nanti pasti dia akan menjadi orang yang paling frustasi di dunia ini" kata Vony yang membuat Aleta membenarkan apa yang vony katakan tapi hatinya berkata lain.
"Merasa kehilangan? apa Kenzou akan merasakan kehilangan setelah kepergian ku? ahhh....kamu ini mikir apasih Ale....tidak mungkin Kenzou merasakan kehilangan yang ada mungkin sekarang ini ia sangat senang atas kepergian mu"
__ADS_1
"Sudah tidak usah di pikirkan lagi, sekarang ayo kita tidur, kasian calon ponakan aku pasti dia lelah" kata Vony mengusap punggung Aleta dan beranjak pergi terlebih dahulu.
"Untuk saat ini aku masih berharap sama tuhan kalo namaku ada di hatimu Zou walau hanya sedikit saja...tapi entahlah, rasa sakit ini yang membuat ku ingin pergi sejauh mungkin darimu" lirih Aleta bersamaan dengan cairan bening jatuh dari pelupuk matanya.
***
Pagi harinya Aleta yang memasak di dapur harus memberhentikan aktifitasnya saat pintu rumahnya di ketuk, sedangkan sahabatnya itu masih meringkuk di bawah selimut karena terlalu nyaman tidur dengan suasana yang sangat memanjakan.
"Siapa ya?" tanya Aleta setelah membuka pintu rumahnya dan melihat seorang wanita yang bisa di perkirakan umurnya Lima puluhan.
"Maaf ganggu waktunya pagi pagi sekali non, saya bi asih yang akan jadi art di rumah non"
"Oh...bibi ini yang akan kerja di rumah saya?" tanya Aleta memastikan dan di angguki oleh bi asih "Ayo masuk bi" kata Aleta membukakan pintu rumahnya lebar.
"Bibi kerja seperti art pada umumnya ya, tapi untuk cuci baju bibi bisa gunakan mesin cuci yang ada di dekat kamar mandi dapur"
"Baik non"
"Kalo boleh tau bibik penduduk asli sini?
"Iyah non, dan rumah bibi juga dekat dengan rumah non"
"Jadi bibi akan pulang pergi? padahal saya berharap bibi bisa tinggal di sini, biar saya tidak kesepian setelah kepulangan sahabat saya nanti"
"Non mau bibi tinggal di sini?" tanya hi asih yang mendapatkan dari Aleta, "Bibi bisa kok tinggal di sini, karena suami bibik udah lama meninggal dan bibik juga tidak punya anak" kata bi asih lirih, dan Aleta tiba tiba saja merasa bersalah.
"Bi Aleta gak bermaksud bikin bibi sedih"
"Gak papa non, ini bukan salah non, ini memang sudah takdir dari Tuhan" kata bi asih yang di angguki oleh Aleta.
***
Jangan lupa like, Vote,komen, dan beri hadiah.sama jangan lupa Follow ig Author.
(Ig : Dellina_09)
__ADS_1