Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Rencana Anindira


__ADS_3

Alan yang melihat Kenzou menundukan kepalanya dengan tangan yang meremas rambutnya membuat Alan dapat menyimpulkan bahwa sudah ada goresan nama Aleta di dalam hati Kenzou, walau sahabatnya itu belum menyadari akan hall itu.


Alan meletakan botol Wine di atas meja dan mendudukan tubuhnya di samping Kenzou, "Apa Aleta sudah ada di hati mu?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Alan yang membuat Kenzou mantap sahabatnya itu yang baru saja mendaratkan pukulan di pipinya.


"Apa kau sudah gila menanyakan hall itu? tanpa aku jawab aku pikir kau sudah tau jawabannya" kata Kenzou yang langsung meraih botol wine yang ada di atas meja dan langsung di teguk habis oleh Kenzou.


"Bawakan aku satu botol wine lagi...." teriak Kenzou sesaat kemudian seorang pelayan membawakan satu botol wine lagi untuk Kenzou.


Alan hanya diam saja melihat Kenzou yang terus meneguk minumannya itu, Alan menatap Kenzou kasihan, tapi yang di kasihani tidak peka sama sekali.


Sudah dua jam Alan menemani Kenzou di dalam club tersebut, Alan membiarkan sahabatnya itu melupakan emosinya dengan meneguk Wine, percuma juga memberitahu Kenzou yang keras kepala seperti batu itu, sampai botol ke lima yang Kenzou habiskan dan kesadaran yang Kenzou miliki perlahan mulai menghilang yang membuatnya merancau tidak jelas.


"Zou, cukup...." kata Alan menahan tangan Kenzou yang ingin meneguk botol Wine untuk yang ke enam.


"Sebaiknya lo pulang sekarang, biar gue antar"


Dret....dret.....


Tiba tiba saja ponsel Alan yang berada di dalam saku jas bergetar membuat tangan Alan yang tadinya memegang tangan Kenzou beralih merogoh kantong jasnya, yang membuat Kenzou kembali meneguk wine nya.


Alan melihat nama rekan bisnisnya tertera di layar ponselnya yang membuat Alan beralih menatap jam tangan yang berada di pergelangan tangannya.


"****!!" umpat Alan saat mengingat jam miteeng yang harusnya sudah di mulai dari sepuluh menit yang lalu, berlalu begitu saja karena harus menemani sahabatnya itu,


Dentuman musik club membuatnya mau tidak mau harus keluar dari dalam club untuk mengangkat telfon tersebut, tapi sebelum Alan keluar dari dalam club Alan mastikan sahabatnya itu aman baru ia benar benar keluar dari dalam club.


Kini tinggal Kenzou sendiri di sudut ruangan, Kenzou terus meneguk minuman yang berada di tangannya.


"Haha....Aleta kamu sangat cantik sekali" rancau Kenzou saat mengingat Aleta memakai dres berwarna pink yang saat itu ia belikan. "Kamu wanita paling cantik yang pernah aku lihat Ale" kata Kenzou sambil menatap lurus kedepan.


"Zou...kamu di sini juga?" sapa seseorang yang kebetulan melewati Kenzou.


Kenzou yang tadinya menatap lurus kedepan beralih menatap wanita yang berdiri di hadapannya. "Clara?"


"Siapa Clara?" tanya Anindira yang baru pertama kali ini mendengar Kenzou menyebut nama seseorang selain nama Istrinya itu, kebetulan Clara baru saja bertemu dengan sang kekasih di club tersebut, tapi saat sang kekasih memutuskan untuk kembali ke kantor membuatnya sendirian di sana.


"Clara" Kenzou menarik tangan Anindira yang membuat Anindira menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Kenzou yang langsung mendapatkan pelukan dari Kenzou. "Clara....kamu tau, setelah kepergian mu, sekarang dia juga meninggalkan ku hiks....hiks..."


Anindira yang dapat mencium aroma wine yang keluar dari mulut Kenzou dapat menyimpulkan bahwa laki laki yang tengah memeluknya ini tengah mabuk berat karena mata Anindira menangkap enam botol wine tergeletak di atas meja, seketika otak liciknya berjalan dengan lancar.


"Siapa yang meninggalkan kamu?" tanya Anindira sambil mengusap pipi Kenzou.


"Aleta...dia meninggalkan ku entah kemana"


"Kenapa kau tidak menceraikannya?


"Em...maksudku kenapa kalian bisa berpisah?" kata Anindira memukul mulutnya saat ia salah mengatakan sesuatu


Kenzou mengelengkan kepalanya tidak menjawab apa yang di katakan Anindira, ia malah sibuk memeluk Anindira yang ada di sampingnya sampai Kenzou merasakan mual di perutnya yang membuatnya memuntahkan isi perutnya tepat mengenai baju yang Anindira gunakan.


"Zou......" teriak Anindira saat Kenzou muntah di baju mahalnya. "iyuh....bauk banget...huek..."


"Lepas....." kata Anindira berusaha melepaskan tangan Kenzou yang masih memeluknya, tapi Kenzou malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Anindira?" kata Alan yang baru saja kembali setelah mengangkat telfon dari rekan bisnisnya.

__ADS_1


"Tuan Alan" kata Anindira yang beralih menatap Alan dan hebatnya Anindira bisa langsung bersikap baik saat Alan datang.


"panggil saja Alan kalo kita sedang berada di luar kantor" kata Alan yang kembali beralih menatap Kenzou yang malah memeluk Anindira begitu kuat.


"Tuan...emmm maksud saya Alan"


"Anda jangan salah paham dulu, tadi saya ke sini dengan teman saya tapi karena dia ada urusan dia pulang terlebih dahulu,dan saat saya akan pulang saya melihat Tuan Kenzou sendirian jadi saya menghampirinya tapi tuan Kenzou malah memeluk saya seperti ini" kata Anindira yang tidak mengatakan sejujurnya kalo ia tadi bersama kekasihnya dengan nada bicara yang kembali lembu tidak seperti saat Kenzou mengeluarkan isi perutnya di baju miliknya.


Alan menatap bola mata Anindira lekat mencari kebohongan dari dua bola mata itu tapi itu semua buyar saat Kenzou kembali merasa mual, "Zou.... kita pulang sekarang juga" kata Alan yang berusaha melepaskan tangan Kenzou dari tubuh Anindira.


Dret....dret.....


Ponsel Alan kembali bergetar membuatnya mengangkat telfon tersebut. "Biak tuan, lima menit lagi saya sudah sampai di sana" kata Alan saat rekan bisnisnya itu kembali menghubunginya.


"Ada apa tuan?" tanya Anindira setelah Alan mematikan sambungan telefonnya.


"Saya harus menghadiri miteeng lima menit lagi, tapi tidak mungkin juga saya membawa Kenzou ke miteeng tersebut" kata Alan bingung sambil menatap Kenzou yang masih memeluk Anindira.


"Kalo anda tidak keberatan saya bisa mengantarkan tuan Kenzou pulang" kata Anindira yang membuat Alan menatap Anindira penuh selidik.


"Itu pun kalo anda mengizinkannya" lanjut Anindira saat mendapatkan tatapan penuh selidik dari Alan.


Alan yang tidak punya cara lain lagi meminta Anindira membawa Kenzou pulang ke alamat rumah Kenzou yang sudah ia berikan kepada Anindira, karena ia harus menghadiri miteeng untuk mengantikan Kenzou yang tidak bisa hadir, di dalam mobil Kenzou yang duduk di samping kursi kemudi tengah tidur dengan lelap dan sesekali rancaun nama Aleta keluar dari mulutnya.


"Kalo bukan gara gara gue butuh lo, ogah gue ngantar lo pulang" kata Anindira melirik Kenzou sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.


Sesaat Anindira teringat dengan pembicaraannya dengan sang kekasih di dalam bar tadi.


"Kaya sih kaya, tapi itu dia kayaknya dia gila deh, masak baru lihat gue aja dia main peluk peluk aja"


"Tapi masak harus sama dia sih ay...gak ada yang lain?"


"Ya mau gimana lagi, perusahaan Papimu saat ini butuh suntikan dana yang besar, kalo tidak aku pastikan dalam dekat ini perusahaan Papi akan gulung tikar"


"Kamu mau jatuh miskin?" kata kekasihnya yang membuat Andinira mengelengkan kepalanya cepat.


"Makanya kamu nurut sama aku, kita deketin dia hanya karena uangnya saja okey..." kata sang kekasihnya mencolek dagu Anindira yang membuat Anindira mengangguk.


"Jangan cemberut kaya gini dong, nanti cantiknya hilang, bagaimana kalo kita bersenang senang di apartemen milik ku?"


"Boleh" kata Anindira yang langsung menarik tangan kekasihnya itu untuk melangkah keluar, tapi saat di tengah perjalanan langkah kaki Anindira terhenti.


"Kenapa sayang?"


"Lihat" kata Anindira menunjuk Kenzou yang tengah duduk sendirian di dalam bar.


"Ini baru namanya kesempatan dalam kesempitan, aku punya ide" kaya sang kekasih yang mendapatkan tatapan bingung dari Anindira.


"Ide apa?"


"Kamu bawa dia ke apartemen milikmu dan kamu bikin seolah-olah dia habis nglecehin kamu"


"Apa!!!, tidak....aku tidak mau, kalo kaya gini ceritanya aku pasti akan di nikahin sama CEO gila itu ay..."


"Itu semakin bagus sayang, dengan begitu kamu bisa semakin mudah menguasai hartanya"

__ADS_1


Lamunan Anindira buyar seketika saat Kenzou memuntahkan isi perutnya di dalam mobilnya.


"Aaa...Kenzou apa yang kamu lakukan?" teriak Anindira beruntung Kenzou berada di bawah pengaruh Wine yang langsung kembali tertidur karena pusing di kepalanya.


"Ini namanya bukan kesempatan dalam kesempitan, tapi ini namanya kesempatan mencapai kesialan" Kata Anindira yang langsung menutup hidungnya.


***


Mobil Anindira berhenti tepat di depan rumah Kenzou, membuat ia tersadar dari lamunannya, Anindira keluar dari mobil dan langsung memutari mobilnya, untuk memapah tubuh Kenzou.


"Yak ampun....dia sangat berat sekali....." kata Anindira yang masih berusaha memapah Kenzou masuk ke dalam rumah walau ia hampir terjungkal ke tanah.


"Ini sangat merepotkan" gerutu Anindira.


"Kenzou" panggil seseorang dari dalam rumah yang ternyata adalah Ana, Ana langsung menghampiri tubuh Kenzou yang di papah oleh seseorang. "Anak saya kenapa bisa seperti ini?" tanya Ana dan menoleh pada seseorang yang memapah Kenzou yang ternyata perempuan, seketika pekikan melengking begitu terasa menusuk gendang telinga Anindira.


"Nenek nenek ini sebenarnya siapa sih....suaranya cempreng banget, bikin telinga gue rasanya mau pecah"


"Clara? kamu masih hidup?" pertanyaan Ana membuat Anindita mengerutkan keningnya.


"Hidup? apa maksudnya?"


"Tante, saya bukan Clara, nama saya Anindira saya merupakan salah satu rekan bisnis tuan Kenzou, dan saya tidak sengaja bertemu tuan Kenzou di club saat saya pergi bersama teman saya" kata Anindira to the poin karena ia hampir tidak tahan dengan tubuh berat Kenzou, sedangkan Ana malah mematung di tempatnya karena kaget.


"Tapi wajah kamu sangat persis dengan Clara"


"Tante...kita bawa tuan Kenzou masuk dulu ya, habis itu saya akan jawab semua pertanyaan tante" kata Anindira dengan suara yanb di buat lembut, membuat Ana langsung tersadar dan membantu memapah Kenzou ke dalam.


Ana dan Anindira meletakkan Kenzou di atas kasur kamar tamu di lantai bawah, karena tidak mungkin mereka membawa Kenzou ke lantai atas.


"Kenapa kamu seperti ini nak" kata Ana mengusap kepala Kenzou yang telah terlelap tidur karena pengaruh wine yang terlalu banyak ia teguk.


"Maaf tante, kalo boleh saya tau tante siapanya tuan Kenzou?" tanya Anindira yang membuat Ana beralih menatap Anindira yang berdiri di sampingnya.


"Saya Mama Kenzou" kata Ana yang membuat Andinira menganggukkan kepalanya.


"Kita bicara di luar saja, biarkan Kenzou istrirahat" kata Ana yang membenarkan posisi selimut di tubuh Kenzou sebelum ia keluar dari kamar tamu dengan di ikuti Anindira tentunya.


"Terimakasih sudah bawa anak tante pulang" kata Ana mengenggam tangan Anindira yang duduk di sampingnya sambil tersenyum.


"Sama sama tante, saya juga senang bisa membantu tuan Kenzou" kata Anindira dengan menunjukan senyuman termanisnya.


"Wajah kamu mirip sekali dengan Clara" lirih Ana saat menatap wajah Anindira, suara Ana dapat tertangkap jelas oleh telinga Anindira membuatnya semakin penasaran siapa orang yang bernama Clara tersebut.


"Maaf tante, kalo boleh saya tau Clara itu siapa?" kata Anindira yang membuat Ana menatapnya lekat.


"Maksud saya, sejak pertemuan pertama saya dengan tuan Kenzou, tuan Kenzou selalu menganggap saya sebagai orang yang bernama Clara dan langsung memeluk saya secara tiba tiba, padahal saya tidak tau siapa itu Clara" jelas Anindira.


"Clara itu mantan Kenzou yang sudah meninggal dua tahun yang lalu, pantas saja Kenzou langsung bersikap seperti itu karena wajah mu ini mirip sekali dengan mendiang almarhum Clara" kata Ana.


"Oh....ternyata sifat Kenzou seperti itu saat bertemu ku bukan karena gila? tapi karena wajah ku ini yang mirip dengan mantannya itu?, Kalo kaya gini ceritanya kenapa aku harus bikin rekayasa kalo aku di lecehkan oleh Kenzou, kalo aku saja bisa memanfaatkan wajah ku ini"


***


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri hadiah🤗♥️.

__ADS_1


__ADS_2