
"Pelan pelan non" kata bi Asih menuntun Aleta menuju bangku dekat danau.
"Bi... Aleta bisa sendiri kok" kata Aleta sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Bibi cuma gak mau non kenapa kenapa" kata bi Asih saat Aleta sudah duduk di bangku yang menghadap langsung ke arah danau.
"Makasih bi"
"Sama sama non, non Aleta mau apa biar bibik bikinin" tanya bi Asih.
"Aleta lagi gak mau apa apa bik, Aleta lagi pengen di sini sendiri" kata Aleta merasakan saat semilir angin dari danau menerpa rambutnya.
"Ya sudah kalo gitu bibik masuk dulu" kata bi Asih yang di balas senyuman oleh Aleta.
Saat bi Asih sudah masuk ke dalam rumah, Aleta menatap air danau yang begitu tenang dan pikirannya menerawang jauh kedepan. "Waktu berjalan sangat cepat dan sekarang usia kandungan ku sudah menginjak enam bulan, dan selama lima bulan ini juga aku belum sama sekali pulang ke kota" Guman Aleta yang menutup matanya merasakan semilir angin yang sangat sejuk.
Dret....Dret....Dret...
Aleta membuka matanya saat ponsel nya yang baru dua bulan lalu di belikan sahabatnya itu berbunyi, dan di sana tertera tulisan Ayah.
π: Halo yah.
π : Halo sayang, gimana kabar kamu di sana nak?i
π : Aleta baik baik saja yah, Ayah sama Bunda gimana kabarnya?
π : Ayah sama Bunda sehat sayang, apa kamu masih di luar kota?"
π : Iyah yah...
π : Kapan kamu pulang nak? ayah sangat khawatir sama kamu yang tengah hamil muda, dan kenapa kamu keras kepala untuk tidak mengizinkan Ayah dan Bunda mengunjungi mu?
Kata Herlangga yang membuat Aleta hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ayahnya, pasalnya selama ini ia selalu berbohong dan menyuruh ayahnya tidak usah ke luar kota, karena kalo Herlangga benar benar ke luar kota untuk menemuinya dan tidak menemukannya di sana Herlangga pasti akan sangat curiga.
π : Lama lama Ayah jadi curiga sama kamu Aleta, apa jangan jangan selama ini kamu bohongin Ayah kalo kamu berada di luar kota?
π : Kenapa Ayah ngomong seperti itu?, dan mana mungkin Aleta bohongin Ayah.
Kata Aleta dengan tangan yang meremas ujung bajunya.
π : Apa Kenzou menyakiti kamu sampai kamu di luar kota selama ini?, kalo sampai benar Kenzou menyakiti kamu, ayah akan menjemput mu saat ini juga!.
Kata Herlangga penuh penekanan.
π : Eβenggak yah...Emm rencananya dua hari kedepan Aleta akan pulang ke kota, dan nginap di rumah Ayah.
Kata Aleta mengalihkan topik pembicaraan dari pada Herlangga semakin menaruh curiga kepadanya.
π : Mau Ayah jemput?
π : Gak usah yah, nanti kita ketemunya di rumah Ayah saja.
Kata Aleta walau Herlangga awalnya ingin sekali menjemput Aleta, tapi karena Aleta yang keras kepala dan mempunyai berbagai macam cara, akhirnya Herlangga mengiyakan saja perkataan Putrinya, tapi meski begitu Herlangga semakin menaruh curiga kepada putrinya karena dari awal sampai saat ini Aleta selalu mempunyai berbagai macam cara saat ia ingin mengunjungi Aleta.
"Maaf in Aleta yah, Aleta cuma gak mau Ayah sama papah Baskara berantem hanya karena Aleta yang pergi dari rumah" kata Aleta setelah sambungan telefonnya terputus. "Aleta juga kangen banget sama Ayah sama Bunda,maaf in Aleta yah udah bohong sama Ayah selama ini, maaf in Aleta yah" kata Aleta sambil menundukan kepalanya menatap perutnya yang memulai membuncit dari balik bajunya.
"Sayang...Mommy tau kamu kangen sama Daddy tapi maaf in Mommy sayang, maaf in Mommy karena kamu belum bisa ketemu sama Daddy saat ini, tapi suatu saat nanti kamu pasti ketemu sama Daddy sayang" kata Aleta mengusap perutnya yang mendapatkan respon tendangan dari sang buah hati yang membuat Aleta tersenyum.
Aleta mengingat bagaimana ia susah sekali tidur saat rasa ingin bertemu Kenzou tiba tiba muncul, sekuat tenaga Aleta menepis rasa itu, tapi sekuat apapun ia menepisnya ia tidak bisa membohongi kalo anak yang ada di dalam perutnya juga pasti memiliki rasa rindu kepada Ayahnya walau ia belum lahir ke dunia.
__ADS_1
"Aleta" panggil seseorang dari belakang Aleta.
Aleta yang tadinya asik berguman dengan sang buah hati, memberhentikan gumanannya saat namanya di panggil. "Vony?" kata Aleta tapi sesaat ia baru sadar suara yang memanggilanya tadi bukanlah suara sahabatnya, melainkan suara seorang pria.
"Ale" Panggil seorang tersebut sekali lagi saat tidak mendapatkan respon dari Aleta.
Aleta yang penasaran dengan siapa orang tersebut membalikan badannya dan sesaat mata Aleta membulat sempurna saat mendapati seorang yang memanggil namanya.
"Aleta" kata orang tersebut sekali lagi saat Aleta membalikan badannya dengan tersenyum senang.
"Kenzou?" kata Aleta dengan mata yang masih menatap tidak percaya dengan laki laki yang berdiri di belakangnya. bagaimana bisa dia ada disini?.
"Iyah ini aku Ale" kata Kenzou sambil berjalan melangkah mendekat ke arah Aleta yang sudah berdiri dari duduknya saat ia melangkah mendekat.
"Dari mana kamu tau aku ada di sini?" tanya Aleta saat Kenzou sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu kemana saja Aleta, kamu tau aku mencari mu setiap hari ke seluruh kota bahkan keluar kota sekalipun aku mencari mu, tapi ternyata kamu ada di sini?" kata Kenzou tidak menjawab pertanyaan Aleta dengan suara bergetar, dan pandangannya turun ke arah perut Aleta yang mulai membuncit.
"Aku tidak pernah memintamu untuk mencari ku!"kata Aleta yang membuat Kenzou kembali menatap Aleta.
"Tapi aku khawatir dengan keadaaan mu yang tengah hamil Ale"
"Khawatir?" kata Aleta yang di iyakan oleh Kenzou. "Omong kosong Zou!!"
"Dan sekarang juga aku minta kamu pergi dari sini!, karena aku tidak butuh dirimu lagi saat ini!" kata Aleta berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Ale" Kenzou ingin meraih tangan Aleta tapi Aleta langsung melangkah kebelakang memberikan jarak kepada dirinya dan juga diri kenzou. "Kita pulang ya?"
"Kamu bisa pulang sendiri zou!"
"Ale.."
"Kita pulang sama sama ya sayang" kata sayang keluar begitu saja dari mulut Kenzou membuat Aleta tersenyum miring saat pertengkaran hebat itu kembali berputar di otaknya yang selama ini ia berusaha memendam semua masalah buruk itu tapi Kenzou datang dan membuat semua itu kembali terbuka.
"Kalo kamu tidak mau pergi dari sini, maka aku yang akan pergi" kata Aleta yang berjalan ke arah rumahnya, Kenzou yang melihat Aleta melangkah pergi menarik pergelangan istrinya itu.
"Tunggu Ale"
"Lepas!" kata Aleta saat Kenzou meraih pergelangan tangannya. "Jangan sentuh aku Zou! karena aku tidak mau di sentuh oleh laki laki yang tidak bisa melupakan masa lalunya!" kata Aleta menekan kalimat terakhirnya.
"Aku tau aku salah,aku minta maaf Ale" kata Kenzou dengan suara yang merasa bersalah.
"Aku tidak butuh maaf dari mu, yang aku mau sekarang pergi dari sini, tinggalkan aku, lupakan aku dan anggap saja kita tidak pernah saling kenal sebelumnya!!" kata Aleta dengan nafas memburu.
"Dan kamu" Aleta berjalan mendekat ke arah Kenzou mendongakkan kepalanya sedikit menatap manik mata suaminya itu. "Kamu bisa mengejar mantan kekasih mu itu!! karena aku?" kata Aleta menunjuk dirinya sendiri "Karena aku dan anak ku bisa hidup tanpa laki laki pengecut seperti dirimu ini!" kata Aleta yang langsung mendorong Kenzou dan melangkah menuju rumahnya dengan air mata yang mulai menetes.
"Ale tunggu" kata Kenzou menarik tangan Aleta dan kali ini Kenzou tidak membiarkan Aleta menepis tangannya.
"Apa lagi Zou?" kata Aleta dengan air mata yang tidak bisa di kondisikan.
"Aku tahu dengan kata minta maaf saja aku tidak bisa membuat mu percaya lagi dengan ku, tapi aku mohon Aleta kasih aku satu kesempatan lagi, aku mohon" kata Kenzou dengan air mata yang mulai menetes entah mengapa rasanya Kenzou tidak ingin melepaskan Aleta saat ini, dan berharap wanita yang tengah mengandung anaknya itu memberikan kesempatan untuknya.
Aleta hanya diam saat perasaannya mulai tidak karuan, di satu sisi ia ingin sekali jauh dari Kenzou dan tidak pernah melihat laki laki di hadapannya ini, tapi di satu sisi juga tidak bisa ia bohongi kalo sebenernya ia juga merindukan sosok Kenzou yang selalu memanjakannya apa lagi kondisinya yang tengah hamil membuat Aleta membutuhkan sosok suami yang mendampinginya di kehamilan pertamanya.
"Pergi dari sini Zou" lirih Aleta sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak Aleta, aku tidak akan pergi dari sini setelah aku menemukan mu, aku ingin kau memberiku satu kesempatan lagi dan kita pulang bersama".
"Kamu tau? Papah dan Mama sangat merindukan mu, lebih merindukan mu setelah kepergian mu dari pada anaknya sendiri, jadi aku mohon Aleta kita pulang sekarang ya"
__ADS_1
"Apa kamu ke sini itu juga karena Papah dan Mama? bukan karena dirimu sendiri?"
"Tidak bukan begitu maksud ku..."
"Cukup Zou....Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu itu, sekarang pergi dari sini!" kata Aleta memotong ucapan Kenzou dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kenzou, tapi saat Aleta fokus ke tangganya Kenzou langsung menariknya masuk ke dalam pelukannya.
"Lepas Zou...."
"Aku tidak suka caramu yang seperti ini! lepas!!" kata Aleta memukul mukul dada bidang Kenzou.
Sedangkan Kenzou hanya diam dan masih memeluk Aleta, perut buncit milik Aleta begitu terasa di tubuhnya, sungguh ia ingin sekali mengusap perut itu tapi dengan ia memeluk Aleta saat ini dan merasakan anaknya yang tumbuh dengan sehat di dalam sana itu sudah cukup untuk nya saat ini.
"Diam Aleta biarkan aku memelukmu sebentar saja" lirih Kenzou dengan air mata yang menetes di atas rambut Aleta.
"Kamu sudah gila Zou....lepas!!" kata Aleta yang masih berontak di dalam pelukan Kenzou.
"Iyah Aleta aku memang sudah gila, dan aku gila itu karena dirimu" kata Kenzou yang masih memeluk Aleta dengan erat, sesaat tercipta keheningan di antara sampai suara isaka kecil keluar dari mulut Aleta.
"Hiks...hiks...aku benci sama kamu Zou, aku benci dengan caramu yang seperti ini, kenapa kamu terus menyakiti ku tanpa hentinya, aku capek Zou... aku capek..." kata Aleta yang mulai terisak tangisannya.
"Di saat aku berjuang untuk mendapatkan cintamu kamu tidak pernah mau membuka hati mu untuk ku, tapi di saat aku mencoba untuk menjauh dari mu dan melupakan mu dari pikiran ku kamu malah datang dan merusak semua usahaku, kenapa kamu sejahat itu dengan ku Zou...KENAPA!!" teriak Aleta di kalimat terakhirnya.
"Aku minta maaf Ale, aku minta maaf" lirih Kenzou sambil mengecup rambut Aleta.
"Kamu tau Zou?" kata Aleta membuat Kenzou menahan isakan tangisannya untuk mendengar ucapan Aleta selanjutnya.
"Aku adalah orang yang rela mengalah demi mempertahankan kisah cintamu dengannya, Aku rela mengorbankan kebahagiaan ku demi kebahagiaanmu, Dan aku adalah orang yang rela menangis secara diam demi melihatmu tersenyum"
"Dan hall apa lagi yang harus aku lakukan untuk mu Zou...hall apa lagi biar kamu bisa pergi dari hidupku....katakan Zou...KATAKAN!" kata Aleta yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Maaf Aleta aku minta maaf kalo aku sudah menyakiti mu, Aku tau perasaan memang tidak bisa dibohongi meski lisanku berkata beda tapi nyatanya perasaan ku tidak bisa aku bohongi kalo aku masih mengharapkan mu agar kamu kembali padaku meski aku tau itu mustahil untuk saat ini" kata Kenzou mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Saat Aleta merasakan pelukan Kenzou sudah tidak sekencang tadi, Aleta mendorong dada bidang Kenzou agar menjauh dari dirinya, di hapus kasar sisa air mata yang masih ada di pipinya dengan mata yang menatap Kenzou. "Sekarang kamu bisa pergi dari sini" kata Aleta berjalan ke arah pintu rumahnya.
"Tunggu Aleta, aku mohon maaf kan aku, aβku akan lakukan hall apapun untuk mu agar kamu memaafkan ku" kata Kenzou yang menahan pintu yang akan di tutup oleh Aleta.
"Apapun?"
"Iyah Apapun Aleta, apapun akan aku lakukan untuk mu"
"Pergi dari kehidupan ku dan jangan pernah kembali ke hadapanku" kata Aleta yang langsung menutup pintunya saat Kenzou mematung saat mendengar ucapan Aleta.
Tok....Tok....Tok....
"Aleta buka pintunya"
"Aku akan mengabulkan semua yang kamu minta tapi tidak dengan yang satu ini Aleta.... Aleta, buka pintunya"
"Aku tau Aleta aku tidak pantas mendapatkan maaf dari mu tapi aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya"
"Aleta aku mohon buka pintunya" kata Kenzou lirih dan mendudukkan tubuhnya di depan pintu rumah Aleta dan menyandarkan kepalanya di pintu tersebut dengan tangan yang masih mengetok pintu itu.
Sedangkan Aleta dari dalam sana menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak mengeluarkan iskan tangisnya.
"Tuhan... apa caraku ini terlalu jahat?"
"Tapi apa aku salah saat aku mencoba melindungi hati ku agar tidak tersakiti dengan orang yang sama?" batin Aleta yang juga mendudukan tubuhnya di lantai dan kepalanya ia sandarkan pada pintu.
"Maafkan aku Zou...untuk saat ini biar kita seperti ini dulu, aku tidak ingin cepat mengambil keputusan kalo akhirnya aku lagi yang akan tersakiti nantinya" Mata Aleta menatap pintu yang masih di ketuk oleh Kenzou dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
__ADS_1
"Kalo kita memang di takdirkan untuk bersama, aku yakin tuhan mempunyai berbagai macam cara untuk menyatukan kita, sesulit apapun rintangannya nanti kalo kamu adalah takdirku maka tuhan akan mengantarkannya untuk ku" kata Aleta dengan tangan yang ia tempelkan di pintu tersebut.