
Malam hari tiba, Aleta yang baru saja selesai makan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan memasukan beberapa baju ke dalam koper miliknya untuk ia bawa ke rumah orang tuanya besok, Aleta yang rencananya ingin pulang dua hari lagi memutuskan untuk pulang lebih cepat,entah kenapa rasanya Aleta ingin cepat cepat bertemu dengan ke dua orang tuanya dari pada Kenzou dan kedua orang tuanya datang ke rumah barunya yang sudah Kenzou ketahui.
Saat Aleta memasukan beberapa skincare miliknya ke dalam pouch makeup nya, matanya menatap laci yang sedikit terbuka dan saat tangan Aleta membuka laci tersebut agak lebar matanya menangkap kalung yang sudah lama sekali ia tidak lihat, perlahan tangan Aleta meraih kalung tersebut, tapi buru buru Aleta memasukan kalung tersebut ke dalam pouch makeup nya.
"Akan aku kembalikan kalung ini ke pemiliknya nanti" kata Aleta setelah mengemas beberapa bahu miliknya.
Tok....Tok...Tok...
"Neng...ini bibik" kata bi Asih dari luar kamar.
"Masuk saja bik, pintunya tidak di kunci" kata Aleta.
"Ini non, bibik bawa in susu buat non" kata bi Asih saat sudah sampai di depan Aleta yang tengah duduk di pinggir ranjang.
"Makasih ya bik" kata Aleta tersenyum dan mengambil gelas yang berisi susu Vanila dari tangan bi Asih.
"Neng jadi pulang ke kota?" tanya bi Asih saat matanya melihat koper milik Aleta yang berada di atas kasur
"Iyah bik, dan rencananya besok Aleta pulang" kata Aleta sambil meneguk susu di tangannya,setelah Aleta menghabiskan susu di tangannya Aleta beralih menatap bi Asih dengan tatapan sendu.
"Bibik kenapa?" tanya Aleta.
"Bibik gak papa non, sekarang non Aleta tidur ya, besok kan non harus melakukan perjalanan panjang ke kota" kata bi Asih yang langsung meraih gelas kosong di tangan Aleta dan melangkah keluar kamar Aleta.
"Bi asih tingkahnya aneh banget" guman Aleta saat melihat pintu kamarnya sudah tertutup rapat.
***
Pagi harinya Aleta yang baru saja selesai mandi membuka lemari pakaiannya,mencari dres yang pas ia gunakan tapi sepertinya dres yang Aleta miliki sudah kekecilan, karena dres itu ia gunakan saat kandungannya berusia lima bulan dan sekarang perutnya sudah mulai membesar membuat dres dres tersebut sudah tidak muat lagi di tubuhnya.
sampai mata Aleta menangkap dres yang sudah lama sekali tidak ia gunakan karena dress tersebut sedikit kebesaran dulu, tangan Aleta meraih dres berwarna oranye tersebut.
"Tidak ada cara lain selain pakai dres ini, lagi pula semua dres ku sudah tidak muat" kata Aleta yang langsung memakai dres tersebut, dan setelah itu Aleta memoles tipis dan wajahnya dengan bedak padat miliknya.
"Sepertinya nanti setelah pulang dari sini aku harus mengajak Vony untuk menemaniku membeli dres" guman Aleta sambil menatap bayangannya di kaca lemarinya, saat dirinya sudah siap.
Aleta keluar dari kamar dengan menyeret koper miliknya,dan saat Aleta keluar kamar sudah di sambut dengan bi Asih. "Pagi nona"
"Pagi bik" kata Aleta sambil membalas senyuman bi Asih.
"Neng mau berangkat sekarang? gak sarapan dulu?" tanya Bi Asih saat melihat Aleta sudah siap dengan koper miliknya.
"Enggak bik, Aleta sarapannya nanti aja lagi pula Aleta belum lapar"
__ADS_1
"Kalo gitu ini bibik udah bikinin bekal sama susu buat non Aleta, di makan ya non, kasian janinnya kalo gak di kasih makan" kata bi asik menyodorkan kotak bekal dan Tumbler berwarna hijau ke arah Aleta.
Aleta melihat Tumbler dan kotak makan tersebut dengan senyuman yang sangat manis menghiasi wajah cantiknya, perlahan tangan Aleta meraih kotak dan tumbler tersebut. "Makasih ya bik, pasti nanti Aleta makan" kata Aleta menatap bi Asih dan langsung memeluk bi Asih yang selama ini sudah mengurusnya dengan baik, walau tidak ada ikatan darah di antara mereka bagi Aleta bi Asih itu sudah ia anggap seperti Bundanya sendiri.
"Neng sering sering ya main ke sini" kata bi Asih membalas pelukan Aleta.
"Pasti, Aleta pasti akan sering sering ke sini" kata Aleta mengusap punggung wanita paruh baya itu.
"Kalo gitu Aleta berangkat sekarang ya bik, takut kesiangan nanti sampainya di sana" kata Aleta melepas pelukan tersebut dan mendapatkan anggukan dari bi Asih.
***
Dret....Dret....Dret....
Aleta yang fokus pada jalan di depannya beralih pada hp miliknya yang ada di jok samping ke mudi, tangan Aleta meraih benda pipih itu dan tertera tulisan Teman laknat di layar ponselnya, Aleta menggeser tanda hijau di layar ponselnya dan membesarkan volume suaranya.
π : Halo Aleta, lo beneran mau pulang sekarang? emangnya lo udah siap ketemu sama suami lo itu?
π: Atau jangan jangan Ayah lo udah tau kalo lo selama ini berantem sama Kenzou?
π : *Makanya itu Ayah lo minta pulangkan? lo mau cerai ya sama Kenzou?
π : Yes....cerai aja Aleta gue dukung kok, lo tenang aja gue bakal dengan senang hati jadi saksi lo di pengadilan agama nanti.
π : Buk....
Kata Aleta terpotong saat temannya itu belum selesai nyerocos dengan semua kalimat kalimatnya itu.
π : Oh...ya ampun Aleta, gue senang banget kalo lo akhirnya pisah dengan si Kenzou itu, tenang aja Aleta gue punya banyak stok laki laki, jadi lo gak usah khawatir okey?
π : Von... dengerin dulu gue ngomong
π : Lo mau ngomong apa sayang? hmmm apa lo mau tanya tentang stok laki laki gue? hahaha....lo tau Aleta stok laki laki gue semuanya jelas berkualitas jadi lo jangan takut okey.
π : Nanti setelah kita pulang dari pengadilan gue bakal kenal in lo sama tiga laki laki, gimana?
π : Anjing lo Von...
Kata Aleta yang geram sendiri dengan ucapan sahabatnya itu langsung mematikan sambungan telefonnya saat sahabatnya itu berbicara yang menyeleweng jauh dari apa tujuan dia pulang ke kota.
"Sial si Vony padahal gue belum cerai sama Kenzou udah mau di kenal in aja sama ready stok laki lakinya itu" gerutu Aleta dan beralih pada fokus pada jalan di hadapannya.
Karena Aleta yang berangkat lebih pagi jadi jalanan masih sangat longgar dan itu mempercepat perjalanannya menuju rumah orang tuanya, di sepanjang perjalanan perasaan Aleta mulai tidak karuan saat harus kembali lagi ke kota tapi mau bagaimana lagi, Aleta tidak mau sampai Ayahnya itu mengerahkan anak buahnya yang akan membongkar semuanya rahasia miliknya.
__ADS_1
"Aku harap Ayah dan Bunda gak ada di rumah" guman Aleta saat mobilnya memasuki kawasan elit tempat tinggal Ayahnya.
Saat mobil Aleta memasuki pekarangan rumahnya Aleta mendapati mobil Ayah nya itu masih berada di depan rumah yang artinya sang Ayah belum juga berangkat ke kantor.
"Huf...."Aleta menghela nafas panjang sebelum ia turun dari mobil.
"Sayang...." suara merdu itu terdengar saat Aleta baru saja turun dari mobil, suara yang sangat Aleta rindukan.
"Bunda" Aleta berjalan ke arah Ratih yang baru saja keluar dari dalam rumah saat mendengar suara mobil anak perempuannya."Aleta kangen Bun..."
"Bunda juga kangen sayang, gimana kabar kamu baik baik saja kan? perut kamu sudah kelihatan besar sekali" kata Ratih melepas pelukannya dan menatap perut Aleta yang mulai membuncit.
"Aleta baik baik saja Bunda" kata Aleta yang di balas senyuman oleh Ratih.
"Aleta" suara bas dari belakang Ratih membuat Aleta beralih menatap seseorang yang berdiri di belakang Bundanya itu siapa lagi kalo bukan Ayahnya.
"Ayah, Aleta kangen" kata Aleta yang beralih memeluk ayahnya.
"Kamu sudah mau jadi Mama tapi sifat ke manja kamu gak hilang juga sampai sekarang" kata Herlangga mengusap lembut rambut sang putri.
"Apa kalo Aleta sudah mau jadi Mama Aleta gk boleh manja lagi sama Ayah?" tanya Aleta mendongakkan kepalanya sedikit menatap wajah Ayahnya yang masih memeluknya.
"Bukan begitu sayang, walau kamu bukan anak gadis Ayah lagi, tapi bagi Ayah kamu adalah putri kecil Ayah sampai kapan pun" kata Herlangga mengusap wajah putrinya tersebut.
"Apa kamu ke sini sendirian?" tanya Herlangga dengan mata yang beralih menatap mobil Aleta.
"Iyah Aleta ke sini sendirian yah, memang sama siapa lagi?"
"Apa Kenzou juga tidak menjemput mu?" tanya Herlangga beralih menatap Aleta.
"Aβanu, yah...iβitu, Kenzou lagi di luar kota, ya...di luar kota yah" kata Aleta terbata bata.
Herlangga dan Ratih saling tatap sebelum kembali menatap Aleta dengan tatapan penuh curiga. "Kamu gk lagi bohongkan sayang?" tanya Ratih.
"Eβenggak lah Bund, ngapain juga Aleta bohong sama Ayah dan Bunda"
"Bunda Aleta lapar,kita makan yuk" kata Aleta mengalihkan topik pembicaraan dari pada Ayah dan Bundanya itu semakin curiga dengannya.
"Ya sudah ayok" kata Ratih menarik tangan Aleta masuk ke dalam rumah, sedangkan Herlangga hanya diam melihat kepergian istri dan anaknya.
***
Maaf kalo kata katanya banyak yang typo, buat yang udah follow ig Author pasti tau sebabnya, jadi mohon bersabar okey
__ADS_1