Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Karena Kenzou itu Suamiku!


__ADS_3

Anindira membuka penutup wajah Aleta melihat wajah yang sudah sangat berantakan karena terlalu banyak menangis keduanya tertawa puas saat melihat betapa ketakutannya Aleta saat ini.


"Anindira? Tiara?" Setalah sekian lama Aleta tidak bertemu dengan mereka berdua dan kali ini di pertemukan dengan cara yang tidak kemanusiaan dan Aleta bisa menebak mereka berdua lah yang sudah merencanakan semua ini.


"Perut mu sudah besar sekali?" suara Tiara terdengar dengan tangan mengusap perut buncit Aleta.


Aleta yang tidak suka dua orang itu mengusap perutnya menyingkirkan tangan Tiara dari perutnya.


"Kenapa? apa aku tidak boleh mengusap anak dari laki laki yang aku cintai?" tanya Tiara membuat Aleta mengelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hahaha....kau!" Tiara yang tidak suka dengan sikap Aleta menarik kuat rambut Aleta ke samping membuat Aleta meringis kesakitan saat beberapa helai rambutnya rontok. "Kau tau Aleta wanita seperti dirimu tidak pantas mengandung anak dari laki laki sebaik Kenzou!"


Dug...


Kepala Aleta terbentur dengan sangat keras di dinding ruangan itu saat Tiara mendorong kepala Aleta dengan kuat, Aleta meringis kesakitan saat kepalanya terasa sangat pusing.


Kini ganti Anindira mencengram rahang Aleta dengan kuat membuat tatapan mereka bertemu, "Sakit?" Aleta mengangguk-angguk kepalanya tanda memang ia sedang kesakitan, "Itu belum seberapa sayang" Bukannya melepas cengkraman tangannya Anindita semakin memperkuat cengkramannya.


"Apa yang akan mereka lakukan?" Aleta menatap kedua orang itu secara bergantian.


"Takut? tenang saja kita tidak akan menyakiti dirimu kalo...." Tiara mengantungkan kalimatnya memberi jeda sebentar dengan mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya. "Kamu masih ingat dengan kertas ini Aleta?" tanya Tiara saat secarik kertas gugatan cerai berada di tangan Tiara dan secarik kertas itu masih sama dengan kertas gugatan cerai yang Tiara sodorkan kepadanya delapan bulan yang lalu.


"Aku anggap kamu masih mengingatnya, dan sekarang aku ingin kamu menandatangani surat ini setelah itu pergi jauh jauh dari kehidupan Kenzou"


Anindira membuka lakban yang membungkam mulut Aleta agar ia bisa menjawab, "Gimana? kamu mau kan?" tanya Tiara dengan begitu percayanya.


"Jangan mimpi!" bentak Aleta membuat Tiara mengepalkan tangannya kuat.


"Kau cari mati!" Anindira menekan setiap katanya.


Kini Aleta beralih menatap Anindira dengan tajam "Iyah aku lebih baik mati dari pada harus menandatangani surat itu!"


Tiara dan Anindira sekarang berada di atas amarahnya saat Aleta berani melawannya, "Tanda tangan!"


"Tidak!"


"Kau sudah menguji kesabaran ku Aleta!, baik kalo kamu tidak mau menandatangani surat ini bagaimana kalo kita cap jempol saja?" Tiara menaikan sebelah alisnya dengan mengeluarkan tinta dari dalam tasnya.


"Tidak aku tidak mau!" Aleta berusaha berontak saat Anindira sudah menahan tubuhnya. "Tidak jangan! aku tidak mau!!" Aleta berteriak sejadi jadinya saat Tiara sudah mencengram pergelangan tangan dan mengarahkan jempol Aleta untuk di capkan di tinta.


"Tidak Tiara jangan! aku mohon!" Tangan Aleta kini sudah berlumuran dengan tinta warna ungu.


"Gak! kau tidak boleh melakukan ini Tiara"


"Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Tiara.


"Karena Kenzou itu suamiku!"


"Iyah saat ini kamu masih istri Kenzou, tapi tidak beberapa detik kedepan karena setatus mu akan berubah menjadi J-A-N-D-A" Tiara mengeja kalimat terakhirnya dengan di iringi tawa sinis dari bibirnya.

__ADS_1


Aleta mengelengkan kepalanya dengan sangat cepat dan masih berusaha berontak tapi kekutan kedua wanita tidak sebanding dengan wanita hamil seperti Aleta dan...cap jempol Aleta sudah mendarat sempurna di atas kertas berwarna putih tersebut membuat Tiara dan Anindira tertawa lepas setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Kembalikan Tiara!" Aleta ingin meraih kertas itu tapi dengan cepat di tepis oleh Tiara.


"Terimakasih Aleta untuk cap jempolnya dan setelah ini kita masih punya kejutan untuk dirimu" ucap Tiara memasukan kertas putih itu ke dalam tasnya dan menatap Anindira sebelum beralih menatap Aleta yang tengah menangis sangat histeris.


Prok...prok...prok....


Tepuk tangan Anindira membuat kelima orang laki laki masuk ke dalam ruangan tersebut, Aleta menatap sekilas kelima orang tersebut sebelum akhirnya menatap wajah Tiara dan Anindira yang tengah tersenyum puas, Aleta tidak tau rencana apa lagi yang mereka miliki untuk dirinya apa mereka tidak puas setelah membuat dirinya menandatangani surat gugatan cerai? dan apa lagi kejahatan yang akan mereka lakukan untuk dirinya.


"Kamu tau meski kamu sudah menandatangani surat gugatan cerai itu, aku tidak yakin kalo Kenzou berheti mengejar dirimu dan sekarang aku datangkan kelima orang ini untuk memberikan kejutan untuk dirimu" ucap Anindira dengan tangan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Aleta ke belakang telinga.


"Sebarnya aku ingin melenyapkan mu hari ini dengan janin mu itu, tapi karena aku masih baik hati kepada mu jadi aku datangkan kelima peria ini khusus untuk dirimu seorang" Aleta hanya diam ia hanya menatap wajah Anindira dengan mata yang sudah memerah.


Anindira mendekatkan bibirnya ke telinga Aleta, "Tugas mereka hanya mencari kepuasan dari tubuh mu ini" setalah mengatakan itu Anindira menjauhkan tubuhnya sedikit melihat ekspresi wajah Aleta yang setengah kaget bukan main.


Tanpa Aleta sadari tangan satunya telah memencet tombol yang akan mengirimkan lokasi ke jam tangan milik suaminya.


"Dan dengan begitu aku yakin Kenzou tidak akan mau kembali dengan wanita kotor seperti mu yang sudah ternodai lebih dari satu laki laki" lanjut Anindira dan langsung berdiri dari duduknya dengan Tiara.


"Selamat menikmati Aleta" ucap Anindira dengan melambaikan tangannya.


"Rileks saja karena mereka tidak akan kasar dengan mu kalo kamu tidak memberontak" kini gantian Tiara dengan senyuman sinis di wajahnya.


"Tiara!, Anindira! jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Aleta menyeret tubuh yang terasa lemas karena tidak kuat berdiri mencoba meraih salah satu kaki dari kedua wanita itu tapi langkah mereka terlalu cepat.


"Tiara!! Anindira!! jangan lakukan hall ini kepada ku aku mohon,hiks...hiks..."


"Jangan takut neng abang gak bakal kasar sama neng"


"Cantik juga walau lagi hamil"


"Kapan lagi kita dapat barang gratisan seperti ini"


"Barangnya masih mulus lagi"


"Neng mau sama abang dulu atau yang lain?"


"Jangan tegang dong sayang, kaya gak pernah ngelakuin saja"


"Hahaha....." kelima laki laki itu tertawa dengan sangat keras memenuhi ruangan itu membuat Aleta semakin memundurkan tubuhnya karena rasa takutnya kali ini sudah berada di ujung tanduk.


"Aku bilang jangan mendekat!!" teriak Aleta saat kelima laki laki itu melangkah mendekat ke arahnya.


"Jangan takut atuh" Ucap salah satu peria itu mengusap lembut pipi mulus milik Aleta membuat Aleta menepis kasar tangan tersebut.


"Jangan kurang ajar!! cuh..." entah keberanian dari mana Aleta meludahi peria yang berjongkok di hadapannya.


Kelima laki laki itu di buat kaget dengan tingkah Aleta, pria yang di ludahi Aleta tepat mengenai wajahnya mengusap kasar wajahnya sebelum menarik kasar rambut Aleta.

__ADS_1


"Au..." ringis Aleta kesakitan.


"Dasar wanita kurang ajar! berani kamu meludahi saya?!"


Dug...


Untuk kedua kalinya kepala Aleta terbentur mengenai dinding ruangan itu membuat cairan berwarna merah keluar dari sudut plipisnya Aleta mengusap cairan berwarna merah itu yang mengalir di wajahnya, perlahan pandangannya menjadi kabur tapi sebisa mungkin Aleta tidak ingin menutup matanya tapi sayang kepalanya tidak bisa di ajak kompromi saat rasa sakit dan pusing menjadi satu membuat tubuh Aleta jatuh di atas lantai bersamaan dengan kesadaran yang menghilang dan di gantikan dengan semua yang berwarna gelap.


***


Kini sudah ada lima belas mobil yang semulanya di isi dengan anak buah Kenzou, Kenzou mengumpulkan semua anak buahnya saat ia tidak kunjung mendapatkan satu laporan yang menunjukkan keberadaan Aleta, berulang kali Kenzou mengusap wajahnya kasar saat sampai saat ini tidak ada titik terang mengenai keberadaan Aleta.


"Kamu di mana sayang? kamu baik baik saja kan?" sudah ratusan kali Kenzou berucap seperti itu di hatinya sudah ratusan kali juga Kenzou berusaha meyakinkan dirinya kalo Aleta dan anak nya baik baik saja tapi sialnya harinya menolak itu semua yang ada sekarang rasa takut yang semakin menjadi.


"Minum dulu Zou" Alan menyodorkan satu botol air mineral kepada Kenzou, dengan cepat Kenzou menepis tangan Alan yang memegang botol tersebut membuat botol tersebut jatuh ke atas tanah.


"Kamu menyuruhku minum di saat anak dan istri ku belum ketemu sampai sekarang?!" Kenzou mencengram kerah kemeja milik Alan. "Apa kau punya otak?! anak dan istriku entah di mana sekarang Alan!! dan semua anak buah ku tidak bisa menemukan keberadaannya!!" raung Kenzou dan beralih menatap anak buahnya.


"Apa saja yang kalian kerjakan dari tadi sampai menemukan satu wanita hamil saja kalian tidak becus!!!"


"Zou sabar tahan amarah mu, masih ada beberapa anak buah kita yang maskh mencarinya di perbatasan kota ini" ucap Alan berusaha menenangkan Kenzou.


"Mana? apa mereka sudah memberikan informasi sampai sekarang tentang keberadaan Aleta?, belum bukan?!!!"


Kenzou menyandarkan tubuhnya di badan mobil dengan meremas rambutnya dengan sangat kuat, hancur? ya itu yang di rasakan Kenzou saat ini sudah satu kota mencari keberadaan Aleta tapi ia tidak menemukan hasil apa apa, apa lagi Aleta tengah mengandung buah hati mereka sekarang ia tidak tenang sangat sangat tidak tenang dengan Aleta yang jauh dari dirinya, kemanjaan Aleta setiap menitnya membuat dirinya semakin frustasi sekarang, ia tidak ingin kehilangan Aleta sama seperti ia kehilangan Clara dulu, tidak....ia tidak mau hall itu terjadi pada dirinya.


Dret...Dret...


Suara ponsel milik Alan terdengar membuat Alan langsung menatap layar ponselnya dan tertera nama anak buah Kenzou yang masih mencari Aleta di perbatasan kota.


"Halo"


"Halo tuan Alan, saya mau menyampaikan informasi kalo saya menemukan satu pabrik yang sudah lama sekali terbengkalai, tapi anehnya di sini pabrik itu di jaga oleh beberapa orang bertubuh kekar di setiap sudutnya"


"Apa Aleta di sana?"


"Saya tidak tau tuan, tapi tadi saya sempat dengan teriakan seorang perempuan yang lumayan sangat kencang dari dalam pabrik"


"Kirim lokasinya sekarang!" titah Alan yang langsung m matikan sambutan telfonya.


Saat Alan menerima lokasi pabrik terbengkalai tersebut dari anak buah Kenzou bersamaan dengan jam tangan Kenzou yang memunculkan cahaya berwarna merah, membuat orang orang yang ada di sekitar Kenzou menatap jam tangan Kenzou tersebut termasuk Alan yang menatapnya dengan tatapan bingung.


Beda hall nya dengan Kenzou yang mengulas senyuman di wajahnya saat Aleta mengirimkan lokasinya saat ini, tanpa pikir panjang Kenzou langsung mengecek keberadaan istrinya itu.


"Alan kita berangkat!" titah Kenzou yang langsung masuk ke dalam mobilnya di ikuti Alan yang juga ikut masuk ke dalam mobil.


Sedangkan lima belas mobil anak buah Kenzou mengikuti mobil Kenzou yang lebih dahulu berjalan di depan mereka.


"Ada apa?" tanya Alan memecah keheningan di dalam mobil.

__ADS_1


"Aleta mengirimkan lokasi keberadaannya kepada ku, dan itu artinya Aleta baik baik saja bukan?" ucap Kenzou walau hatinya berkata lain.


"Iyah, pasti istrimu baik baik saja bukankah kamu sering bilang kalo Aleta wanita yang kuat dan brani?" ucap Alan membuat Kenzou menganggukan kepalanya.


__ADS_2