Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Bonus Chapter (4)


__ADS_3

Aluna yang dulu hanya bisa menangis saat popoknya penuh dan berguman tidak jelas kini sudah tumbuh menjadi anak yang sangat cerewet bahkan walu umurnya baru menganjik dua tahun tapi IQ nya itu yang membuat Aleta kadang memijat keningnya yang terasa pusing saat tidak bisa menjawab pertanyaan sang anak.


Bahkan sampai sekarang pun Aleta belum menggunakan jasa baby sister hanya saja Aleta akan datang ke restoran satu minggu sekali di saat Kenzou libur untuk mengecek restoran dalam keadaan baik-baik saja itu pun tidak bisa terlalu lama meninggalkan Aluna bersama sayang Daddy yang ada akan menjadi bahan percobaan sang Daddy nantinya.


"Di kunyah sayang makanannya, jangan di mut" ucap Aleta saat Aluna baru makan dua sendok nasi tapi menghabiskan waktu hampir setengah jam.


Aluna mengeleng menolak apa yang Aleta ucapkan dengan memainkan boneka yang ada di tangannya.


"Sayang ayo buka mulutnya"


"Ndak au" karena terus di paksa oleh sang Mommy,Aluna memilih pergi dari meja makan menghampiri sang Daddy yang tengah berolahraga di belakang rumah karena kebetulan hari weekend seperti biasa Kenzou membakar lemak yang menumpuk di tubuhnya.


Saat Kenzou hendak mengambil posisi push up di buat kaget saat Aluna yang mencoba naik ke atas tubuhnya. mendudukan tubuhnya Kenzou mengurungkan niatnya untuk push up.


"Aluna kenapa di sini?" tanya Kenzou meraih tubuh Aluna dan memangkunya.


"Mommy celewet Daddy" celoteh Aluna bersamaan Aleta yang ada di ambang pintu taman belakang. Menghentikan langkahnya Aleta memilih mendengar apa yang akan di bicarakan Ayah dan anak itu.


"Aluna susah makan lagi ya?" tebak Kenzou karena memang putrinya itu yang sangat susah di suruh makan.


Aluna mengelengkan kepalanya gemas. "Aluna diet kaya Mommy" Aluna yang mendengar saat sang Mommy sedang menimbang berat badannya dan mengatakan akan diet membuat bocah cilik itu mengikuti apa yang di lakukan sang Mommy.


"Biar urus"


"Kurus sayang" Kenzou mengelengkan kepalanya saat Aluna yang juga belum lencar berkata dan itu membuatnya tambah semakin gemas.


Dret...dret....


Ponsel Aleta yang ada di dalam kantung bajunya berbunyi, meletakan mangkuk Aluna di meja yang tidak jauh dari dirinya Aleta mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan tertera nama sahabatnya di layar ponselnya.


"Halo" sapa Aleta.


"Aku punya kabar bahagia untuk mu" kata Vony yang terdengar sangat bahagia di sebrang sana.


"Apa?"


"Nanti aku ke rumah mu"


"Rumah kita berhadapan Von, kalo kamu mau memberitahu sesuatu pada ku kenapa kamu tidak langsung saja ke rumah ku? kenapa harus menelfonku terlebih dahulu?" kesal Aleta.


"Karena aku sekarang ada di jalan dan baru saja pulang dari rumah sakit"


"Kamu sakit?" tanya Aleta dan kini dengan nada khawatir, membuat Kenzou menoleh ke arah Aleta yang ada di ambang pintu.


"Tidak"


"Terus?"


"Nanti aku kesana memberitahu mu apa kabar baik itu"


"Iyah aku tunggu" kata Aleta dan langsung mematikan sambungan telefonnya, meraih mangkuk Aluna Aleta berjalan ke arah keduanya.


"Siapa?" tanya Kenzou saat Aleta juga sudah duduk di hadapannya.


"Vony, katanya dia mau kesini"


"Memang ada apa?" tanya Kenzou lagi.


"Aku juga tidak tau apa yang akan ia lakukan" jawab Aleta dan beralih pada putrinya yang masih sangat susah untuk di ajak makan alhasil bersama Daddy nya lah Aluna mau makan.


Aluna yang baru selesai makan dan bajunya yang banyak terkena noda karena memang Aluna yang sempat terkena makanan membuat Aleta memandikan ulang putrinya itu.


"Mommy Aluna antik kan?" tanya Aluna saat sang Mommy mengendong tubuh mungilnya keluar dari dalam bhatup dan membawanya ke ruang keluarga karena menang Aleta memandikan putrinya di lantai satu.


"Iyah sayang kamu cantik" kata Aleta dengan memakakan minyak telon di tubuh putrinya.


"Belalti mommy jelek" mendengar itu Aleta menatap wajah sang putri.


"Kenapa mommy jelek?"

__ADS_1


"kalena Aluna yang antik Mommy gak boleh ikutan antik" mengerakan jari di depan wajahnya Aluna memperingati sang Mommy.


Aleta mengelengkan kepalanya mendengar celotehan putrinya yang masih terdapat cendel sedikit di huruf L. Aleta menyisir dan mengikat rambut Aluna menjadi dua sisi dan memakaikannya pita kecil berwarna pink.


"Aleta" suara itu membuat Aleta mengusap dadanya karena kaget, siapa lagi kalo bukan Vony dan suaminya Alan yang benar-benar datang kerumahnya.


"Mama" Aluna yang melihat Vony kerumahnya langsung berlari ke arah Vony dengan merentangkan kedua tangannya.


Aluna memang di ajarkan untuk memanggil Vony dengan sebutan Mama dan memanggil Alan dengan sebutan Papah Karena Vony yang memang suka dengan Aluna sejak ia lahir menganggapnya sudah seperti putrinya sendiri.


Melihat Aluna yang minta di gendong sang istri Alan langsung mengendong tubuh mungil itu mengarahkannya pada Vony agar istrinya bisa mencium pipi tembem milik Aluna.


"Harum" ucap Vony mencubit pelan hidung milik Alunan.


"Papah Aluna mau di endong Mama" rengek Aluna mengarahkan kedua tangannya ke arah Vony.


"Aluna sama Papah saja ya sayang, nanti kasian mama nya kecapek an" kata Alan.


"Memang Vony habis ngapain?" tanya Aleta setelah mempersilahkan kedua tamu tak di undangnya itu duduk.


"Kenzou dimana?" bukannya menjawab pertanyaan Aleta, Alan kembali melayangkan partanyaan membuat Aleta memutar bola matanya malas.


"Kenapa mencari ku?" suara dingin itu terdengar dari arah tangga dan terlihat Kenzou yang baru saja turun setelah menyegarkan diri, duduk di samping Aleta Kenzou menatap wajah sahabatnya itu.


"Aku hanya memastikan kau masih hidup untuk mendengar kabar bahagia dari ku" kata Alan menurunkan Aluna yang ingin beralih duduk di pangkuan sang Daddy.


"Kabar bahagia apa?" tanya Aleta menatap keduanya secara bergantian.


Vony tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. "Coba tebak muka ku seperti orang apa"


"Orang kelaparan" kata Aleta dengan entengnya membuat mulut Vony komat-kamit tidak jelas.


"Bukan!" kesal Vony.


"Ya terus apa?"


"Gue hamil!" kini Vony langsung to the poin menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Kamu benar hamil?" tanya Aleta.


"Iyah aku hamil!, sudah tuju minggu" jawab Vony judes.


Aleta langsung memeluk tubuh sahabatnya dari samping merasa senang karena akhirnya sahabatnya itu bisa hamil kembali setelah kejadian buruk berapa waktu lalu yang membuatnya tidak ingin mengandung lagi.


"Selamat akhirnya kamu hamil juga, aku merasa senang mendengarnya dan sekarang gantian aku yang akan mendapatkan anak lagi dari dirimu" kata Aleta melepaskan pelukannya menggenggam tangan sahabatnya dengan perasaan senang.


Vony yang melihat ekspresi wajah Aleta mengulas senyuman. "Terimakasih"


Beralih menatap Alan, Aleta melayangkan tatapan tajam. "Jaga Vony! jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi atau kamu yang akan aku buat menyesal selamanya!"


Alan menelan salivanya saat suara penuh ancaman itu memeringatinya. "Iyah aku janji akan menjaganya dengan sangat baik" kata Alan tanpa keraguan.


Kenzou yang duduk di samping Alan menepuk bahu sahabatnya itu. "Selamat karena perjuangan mu tidak sia-sia" ucap Kenzou yang tahu betul bagaimana sahabatnya itu mempertahankan rumah tangganya selama ini.


Alan tersenyum mendengar hall itu menganggukan kepalanya Alan beralih menatap Vony yang dengan antusias mendengar cerita Aleta selama hamil Aluna dulu.


Hampir dua jam Alan dan Vony di rumah Aleta dan memutuskan untuk pulang agar Istrinya bisa istirahat. Setelah kepulangan sahabatnya Aleta bersiap berangkat ke restoran, mengambil tas selempang miliknya yang ada di atas kasur Aleta berjalan menuruni anak tangga menghampiri Kenzou yang tengah bermain dengan Aluna di ruang tengah.


"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Kenzou berdiri dari duduknya saat melihat Aleta sudah rapi.


"Iyah"


Menarik pinggang Aleta agar mendekat kearahnya Kenzou mencium singkat bibir Aleta membuat pemiliknya memekik kaget. "Zou! ada Aluna!"


"Dia tidak melihatnya" sanggah Kenzou.


"Iyah aku tau, tapi lain kali jangan seperti ini aku tidak ingin Aluna mendapatkan pengaruh buruk dari kita" peringat Aleta.


"Iyah sayang maaf"

__ADS_1


Menatap lekat wajah Aleta dan meniup kecil poni Aleta Kenzou melayangkan pertanyaan. "Apa kamu sudah datang bulan, bulan ini?" tanya Kenzou dengan posisi yang masih sama.


Aleta sedikit kaget saat mendengar ucapan Kenzou, berfikir sejenak kapan terakhir ia datang bulan membuat Aleta baru ingat kalo harusnya minggu kemarin ia sudah datang bulan.


Mengelengkan kepalanya Aleta menjawab pertanyaan Kenzou.


"Apa kamu juga ikutan hamil?" suara penuh harap itu membuat Aleta tertegun.


"Mana mungkin aku hamil?, aku sudah bilang bukan aku akan hamil lagi saat Aluna berumur lima tahun" jawab Aleta yang masih mengingat rencanya untuk memiliki anak lagi.


"Siapa tau saja kamu juga ikut hamil dan aku tidak perlu menunggu selama itu untuk mendapatkan anak lagi dari dirimu"


"Sudahlah aku mau ke restoran sebentar, aku titip Aluna satu setengah jam lagi aku akan kembali" kata Aleta melepaskan pelukan sang suami mencium punggung tangan Kenzou singkat Aleta beralih mencium singkat pipi Aluna dan berjalan keluar rumah.


*


Duduk di kursi kerjanya Aleta memeriksa satu persatu dokumen tentang keluar masuknya barang bersama Aldo yang ada di ruangannya untuk menjelaskan bagian yang tidak ia pahami.


"Jadi nona, rencananya bulan depan chef di restoran kita mau mencoba dua atau tiga makanan baru dan tentunya itu dengan harga yang pas di kaum millenial seperti sekarang ini"


Mendengar itu Aleta menganggukkan kepalanya karena memang sudah hampir empat bulan ini restorannya belum mengeluarkan menu baru. "Bulan depan aku akan memastika dulu makanan apa yang akan di tambahkan dalam daftar menu, kalo sesuai dengan yang aku inginkan aku akan menambahkan juga daftar makanan itu juga ke cabang lain" kata Aleta menutup dokumen yang terakhir.


"Baik nona" Aldo mengambil berkas yang sudah di periksa Aleta. "Apa anda mau saya buatkan makanan atau minuman nona?" tanya Aldo sebelum keluar dari ruangannya.


"Tidak, aku mau langsung pulang"


"Baik nona" Aleta memasukan ponselnya ke dalam tas dan langsung melangkah keluar dari ruangannya di ikuti Aldo dari belakang.


Menyalakan mesin mobilnya Aleta memecah kemacetan yang terjadi di siang hari karena kebetulan waktu makan siang yang sudah tiba membuat mobil Aleta terjebak dalam salah satu kemacetan lampu merah.


Mengetuk pelan jarinya di stir mobil mata Aleta menatap ke kanan ke kiri sampai matanya menangkap apotik membuatnya teringat akan datang bulannya yang belum datang.


"Apa aku harus mengeceknya?" Aleta ragu dengan dirinya sendiri sampai lampu berubah menjadi warna hijau membuatnya melajukan kembali mobilnya pulang ke rumah.


***


Sudah hampir satu jam Aleta di dalam kamar mandi dengan memegang dua benda di kedua tangannya berulang kali mengehala nafas panjang membuat Aleta perlahan melakukan tes kehamilan.


Sudah dua satu minggu setalah Vony datang kerumahnya dan mengatakan kalo dirinya hamil membuat Aleta juga melakukan tes kehamilan saat sudah dua minggu ini dirinya belum datang bulan. memasukan tes kehamilan ke dalam wadah urinnya membuat Aleta menunggu sampai hasilnya muncul.


Ia sebenarnya tidak terlalu yakin akan hamil lagi karena kalo di pikir-pikir dirinya rajin mengonsumsi pill penunda kehamilan, tapi tes pun tidak ada salahnya hanya sekedar memastikan.


Sepuluh menit berlalu Aleta mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam wadah urinnya, menarik nafas panjang Aleta perlahan melihat hasil yang akan muncul. Matanya melebar sempurna saat mendapati dua garis merah di atas tes kehamilannya Aleta sangat senang saat mendapati dirinya hamil lagi tapi Aleta juga bingung bagaimana bisa ia hamil kalo saja ia selalu mengonsumsi pill kehamilan?.


Berjalan keluar dari kamar mandi Aleta ingin memberikan kabar bahagia ini pada suaminya yang pasti sangat senang akan mendapatkan anak lagi dari dirinya. Pintu kamar mandi terbuka membuat Aleta terperanjat kaget saat Kenzou sudah berdiri di sana dengan menatapnya penuh kecurigaan.


"Kenzou?"


"Kenapa lama sekali di dalam kamar mandi?" tanya Kenzou saat Aleta membuka pintunya. "Apa yang kamu lakukan selama satu jam di dalam sana?"


"A-aku tidak melakukan apapun di dalam sana" jawab Aleta.


Kenzou memincingkan matanya menatap lekat Aleta. "Apa itu?" tanya Kenzou langsung mengambil tes kehamilan dari tangan Aleta.


Diam sejenak Kenzou menatap benda di tangannya, wajah yang tadinya terlihat kesal karena sang istri terlalu lama di dalam kamar mandi mengembangkan senyumannya. "Kamu hamil?" dengan nada bahagia Kenzou bertanya kepada sang istri yang langsung mendapatkan sebuah anggukan.


Kenzou langsung memeluk tubuh Aleta yang masih mematung di depan kamar mandi dengan begitu erat. "Terimakasih sudah memberikan ku anak lagi"


"Iyah sama-sama" jawab Aleta membalas pelukan Kenzou.


Melepaskan pelukannya Kenzou mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Aleta membuat Aleta memejamkan matanya. menjauhkan wajahnya Kenzou menatap wajah Aleta yang menimbulkan raut kebingungan.


"Kenapa?" masih dengan nada bahagianya Kenzou bertanya.


"Tidak, hanya saja aku bingung kenapa aku bisa hamil lagi padahal aku selalu mengonsumsi pill penunda kehamilan setiap hari" Aleta mengutarakan apa yang membuat dirinya bingung.


"Coba ingat-ingat lagi kapan kau lupa meminumnya" tanya Kenzou.


Aleta diam sejenak mengingat kapan ia lupa meminumnya sampai ingatannya teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat Aluna lagi rewel membuat Aleta terpaksa tidur dengan sang sedikit larut, apa lagi sang suami yang tidak memberikannya waktu untuk tidak melakukan itu walau hanya sekali saja sampai akhirnya ia tertidur dan lupa mengonsumsi pill tersebut.

__ADS_1


"Sudahlah tidak perlu di ingat-ingat lagi, yang sekarang ingin aku lakukan adalah berkenalan dengan calon anak ku" mengendong tubuh Aleta dan membawanya ke atas kasur. Aleta yang sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini membiarkan apa yang ingin di lakukan suaminya.


__ADS_2