
Hari terus berganti,bulan terlalu berlalu kini sudah genap lima bulan Aleta pergi meninggalkan Kenzou dan yang lainnya, keadaan Kenzou benar benar lebih kacau dari sebelumnya, Kenzou lebih sering mengunci dirinya di dalam kamar dengan beberapa botol wine tubuh kekar Kenzou dulu sekarang berubah menjadi tubuh yang sangat rapuh, tidak ada lagi jiwa kepemimpinan di dirinya.
"Aaaaa" teriak Kenzou frustasi di dalam kamarnya dengan beberapa pecahan beling yang berserakan di mana mana Kenzou mendudukan tubuhnya di lantai dengan tubuh yang bersandar pada ranjangnya.
"Zou, buka pintunya sayang" Ana yang tadinya hendak pergi ke dapur mendengar teriakan Kenzou yang membuatnya berhenti di depan pintu kamar anaknya yang ternyata terkunci dari dalam.
"Zou...kamu dengar Mama kan? ayo buka pintunya nak" Ana yang masih berdiri di depan pintu Kenzou terus memanggil nama anaknya itu.
"Zou....jangan bikin mama khawatir"
Ceklek...
pintu kamar Kenzou terbuka terlihat keadaan Kenzou yang sangat memprihatinkan, mata merah, penampilan acak acakan, raut frustasi tergambar jelas di wajahnya dan aroma wine yang selalu keluar dari mulut Kenzou membuat Ana menatap putra semata wayangnya itu prihatin,keadaan Kenzou sekarang lebih rapuh dari hari hari sebelumnya.
"Ma..."panggil Kenzou lirih dengan mata yang berair.
Ana langsung memeluk putranya itu, memberikan kekuatan pada anaknya dengan mengusap punggung putranya yang mulai bergetar karena isakan tangisannya.
"Aleta tidak mau pergi dari pikiran Kenzou ma, Kenzou sangat tersiksa" Kenzou mulai menangis di pelukan sang Mama dan membalas pelukan hangat itu."Kenzou gak tahan ma, bantu Kenzou keluar dari kondisi ini"
Ana melepaskan pelukannya dan menatap nanar putranya itu. "Kita masuk ya sayang" Kata Ana menuntun Kenzou masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggir kasur. Kenzou hanya menatap ke bawah, menatap beberapa pecahan kaca dari botol wine yang baru saja ia lempar.
"Kenapa bisa seperti ini Zou?" tanya Ana saat melihat sisi rapuh dari anaknya itu yang hampir gila setelah kepergian Aleta.
"Kenzou gak kuat ma" lirin Kenzou dengan masih menundukan kepalanya.
Ana menghela nafas pelan menarik pundak Kenzou ke dalam pelukannya mengusap rambut anaknya yang mulai panjang, kepergian Aleta benar benar membuat putranya itu berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan kondisi Kenzou sekarang lebih parah setelah kematian Clara dulu. "Apa kamu mulai mencintai Aleta?" tanya Ana yang masih mengusap rambut putarannya.
"Kenzou gak tau ma, yang Kenzou tau Aleta tidak mau pergi dari otak Kenzou"
__ADS_1
"Tanyakan pada hati kecilmu Zou apa di dalam sana ada nama Aleta atau tidak" kata Ana membuat Kenzou langsung diam.
"Mama gak mau kamu sampai menyesal nantinya dengan sifat mu ini, jangan menatap kebelakang zou, tataplah ke depan, di depan ada hall hall yang lebih indah dari pada yang di belakang" sedangkan Kenzou masih diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa kamu sudah menemukan Aleta?" tanya Ana mengalihkan topik pembicaraan saat Kenzou tidak menjawab pertanyaannya, yang membuat Kenzou mengelengkan kepalanya.
"Aleta seperti di telan bumi ma, tidak ada satupun anak buah Kenzou yang bisa menemukan keberadaan Aleta"
"Ini sudah lima bulan zou, apa masih tidak ada titik terangnya?" tanya Ana sekali lagi dan mendapatkan gelengan dari Kenzou.
"Apa kamu sudah mendatangi semua tempat tempat yang sering Aleta datangi?"
"Sudah ma, bahkan setiap hari sebelum Kenzou pulang ke rumah Kenzo selalu mendatangi tempat tempat itu"
"Belum semua zou" kata Ana membuat Kenzou melepaskan pelukannya dan menatap sang Mama dengan tatapan bingung. "Kalo kamu tidak menemukan Aleta di salah satu tempat itu, itu artinya kamu belum mengetahui semua tempat yang sering Aleta datangi"
"Maksud Mama?" tanya Kenzou bingung.
"Aleta sama seperti kamu Zou, mungkin Aleta berada di satu tempat yang belum kamu sadari, mungkin di sana Aleta bisa merasakan ketenangan jadi dia tidak mau keluar dari tempat itu" kata Ana sambil merapikan beberapa helai rambut Kenzou.
Kenzou diam sejenak memikirkan di mana tempat yang sering Aleta kunjungi selain tempat tempat yang pernah ia cari.
"Ma... Kenzou tau" kata Kenzou saat satu tempat terlintas di pikirannya. "Tapi Kenzou tidak yakin Aleta berada di sana" lanjut Kenzou.
"Apa kamu sudah mengeceknya sampai kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Ana yang mendapatkan gelengan dari Kenzou. "Datangi tempat itu baru kamu bisa menyimpulkan Aleta berada di sana atau tidak"
"Kalo Aleta tidak ada disana bagaimana ma?"
"Kamu saja belum mencarinya, jadi jangan cepat berfikiran seperti itu"
__ADS_1
"Kalo gitu Kenzou pergi dulu ma" kata Kenzou mencium kening Ana dan langsung meraih kunci mobilnya yang ada di atas nakas dan berjalan setengah berlari keluar dari rumah.
***
Setelah makan siang hari itu Kenzou benar benar menyuntikan dana ke perusahaan papa Anindira yang hampir gulung tikar dan berkat suntikan dana itu perusahaan Anindira bisa berjalan seperti sedia kala, dan uang yang di kasih Kenzou untuk biaya pengobatan tuan Agatha yang di kasih ke Anindira di pakai untuk bersenang senang, karena Papinya juga tidak benar benar sedang sakit.
"Maaf nona, saya sudah mencarinya ke mana mana, tapi orang yang di maksud nona belum kita temukan"
"Dasar tidak becus! ini sudah lima bulan dan kalian belum bisa menemukan satu orang yang saya suruh?! selama ini apa saja yang kalian kerjakan!!"
"Maaf nona"
"Keluar dari sini sebelum isi otak bodoh mu itu keluar dari tempatnya!!" kata wanita itu sambil mengarahkan pistol di tangannya ke tubuh anak buahnya.
"B—baik nona" laki laki tersebut langsung keluar dari ruangan tersebut dengan terbirit birit.
"Tiara...Tiara...apa semua anak buah mu itu bodoh seperti tadi?" kata Anindira yang sedari tadi duduk di sofa ruang Tiara perlahan melangkah mendekat ke arah Tiara yang berdiri di meja kerjanya. "Menemukan Aleta saja tidak bisa, pantas saja semua rencana mu itu gagal total" kata Anindira menekan kata terakhirnya.
Tiara menatap tajam Anindira yang berdiri di depannya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jangan banyak omong kalo kamu saja juga belum bisa menemukan keberadaan Aleta"
Anindira berdecak kesal saat Tiara mencibirnya, "Kenapa kita tidak menaruh satu anak buah di restoran Aleta untuk memantaunya setiap hari, seperti kita ketahui bukan, tidak selamanya Aleta berada di persembunyiannya pasti ada kalanya dia keluar dari sana, jadi apa salahnya kita mencoba hall itu" kata Anindira memberikan solusi.
"Aku tidak yakin dengan rencana bodoh mu itu"
"Bukan rencanaku yang bodoh, tapi otak mu ini yang terlalu sempit" cibir Anindira.
"Apa katamu?" Tiara mengarahkan pistol yang masih di tangannya ke arah Anindira.
Anindira menurunkan tangan Tiara yang menodongkan pistol ke arahnya sebelum ia berkata. "Tidak ada salahnya kita mencobanya, dan aku yakin kali ini pasti berhasil walu kita harus menunggu sebentar lagi"
__ADS_1
"Sebentar lagi? sampai kapan? lima bulan lagi? satu tahun lagi?"
"Ayolah Tiara, lakukan saja apa yang aku omongkan tadi, dan sekarang suruh anak buah mu itu memantau restoran Aleta mulai hari ini" kata Anindira yang membuat Tiara mendengus kesal, tapi tetap ia lakukan.