
Mobil Kenzou berhenti tepat di sebuah pabrik yang sudah lama sekali terbengkalai seperti lokasi yang dikirimkan Aleta kepadanya, Alan yang melihat pabrik tersebut dari dalam mobil seperti yang di ceritakan anak buahnya tadi di dalam ponsel.
"Aleta mengirimkan lokasi ini kepada mu?" tanya Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari pabrik tersebut dan memang benar pabrik tersebut di jaga oleh orang orang yang bertubuh kekar yang sudah berbaris dengan rapi di depan pintu masuk saat melihat mobil Kenzou dan kelima belas mobil anak buah Kenzou berhenti tepat di depan nya.
"Iyah dan aku yakin Aleta berada di dalam kalo tidak, tidak mungkin ada banyak pereman seperti itu" tunjuk Kenzou kepada deretan laki laki bertubuh kekar yang berdiri di depan sana walau jumlah mereka tidak ada apa apanya dengan anak buah Kenzou.
Tok...tok...
Suara pintu kaca mobil Kenzou di ketuk oleh seseorang yang ternyata anak buah Kenzou yang sudah memata-matai sejak dari tadi. "Ada apa?" tanya Alan saat kaca mobilnya sudah ia turunkan.
"Suara perempuan yang tadi saya ceritakan sudah tidak terdengar lagi" ujarnya.
"Perempuan?" kening Kenzou menimbulkan garis tipis dengan suara yang meminta penjelasan lebih ditail lagi.
"Iyah tuan muda Kenzou tadi dari arah dalam gudang saya mendengar teriakan seorang perempuan tidak satu atau dua kali tapi berkali kali tapi sekarang suara itu tidak terdengar lagi." jelasnya.
"Aleta?" lirih Kenzou dengan detak jantung yang tidak karuan.
Kenzou yang mendapatkan laporan tersebut langsung turun dari dalam mobil dan melangkah sedikit berlari ke arah pria tubuh kekar itu, Alan yang melihat itu juga langsung ikut turun dan berlari menghampiri Kenzou di ikuti semua anak buahnya dari belakang.
"Minggir!" suara berat itu memerintah kelima belas orang tersebut yang menghalangi jalannya.
"Hak apa anda menyuruh saya menyingkir dari sini?" bukannya menyingkir laki laki di hadapan Kenzou membuatnya semakin marah.
"Minggir sebelum nyawamu yang akan melayang!" kata Kenzou menekan setiap katanya.
"Lebih baik anda pergi dari sini" ucap pria itu yang tidak tau siapa Kenzou yang sebenarnya.
"Serang!!" Teriak Alan yang tau kalo Kenzou sudah kehabisan kesabarannya.
__ADS_1
Pertarungan sengit terjadi di halaman pabrik tersebut saat semua anak buahnya termasuk Alan, Kenzou langsung melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke dalam pabrik tersebut dengan sebagian anak buahnya.
"Cari istriku di setiap sudut ruangan ini!!" titah Kenzou yang juga ikut mencari keberadaan Aleta sampai ke lantai dua, tapi saat dirinya sampai di lantai dua Kenzou di hadapkan dengan delapan orang yang tengah menjaga lantai tersebut.
Delapan orang yang melihat kedatangan Kenzou dan ank buahnya tanpa basa basi langsung menghajarnya tapi dengan cepat Kenzou dapat menangkis pukulan itu.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Bukannya menerima pukulan malah Kenzou melampiaskan semua emosinya kepada pereman pereman itu, Kenzou menginjak dada bidang pereman tersebut yang sudah terkapar lemah di atas lantai dengan menarik kaos yang ia gunakan.
"Dimana istriku!!" Raung Kenzou.
Bugh...
Bugh...
Kenzou melayangkan bogem mentah bertubi tubi di wajah pereman tersebut yang sudah babak beluk karena terlalu banyak menerima bogem mentah dari Kenzou.
"Jawab pertanyaan ku bodoh! di mana kalian menyembunyikan istriku!" tanya Kenzou sekali lagi.
"Di ruangan sebelah pojok, uhuk...uhuk..."
Kenzou melepaskan tangannya dari laki laki tersebut. "Bawa mereka semua ke markas dan Pastika tidak ada satupun dari mereka yang bisa lolos! karena mereka semua harus merasakan apa yang istriku rasakan!"
__ADS_1
Kenzou langsung berlari ke ruangan yang di maksud pria tersebut tapi sayangnya pintu ruangan tersebut terkunci dari dalam, "Sayang...kamu di dalam kan?"
Tidak ada sahutan dari dalam membuat Kenzou semakin khawatir dengan keadaan Aleta, Kenzou langsung mendobrak pintu tersebut sampai pintu ruangan itu terbuka, mata Kenzou mencolos panas saat melihat Aleta tidak sadarkan diri dengan kelima laki laki yang menatap istrinya haus bahkan dengan lancangnya mereka mengusap wajah Aleta, mencium pungung tangan istrinya, mencium rambutnya bahan lebih parahnya salah satu dari mereka ingin mencium Aleta.
Kenzou yang tidak suka istrinya menjadi bahan seperti itu melangkah dengan cepat menarik kerah baju pria yang ingin mencium istrinya dari arah belakang dan memberikan bogem mentah membuat sudut bibirnya langsung mengeluarkan cairan berwarna merah.
"Sialan! siapa kau beraninya memukulku!" ujar pria tersebut dengan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan berwarna merah.
"YANG KALIAN SENTUH ITU ISTRIKU!! DAN KALIAN SUDAH BERURUSAN DENGAN ORANG YANG SALAH!"
Dengan emosi yang semakin memuncak membuat Kenzou kembali menghajar kelima pria tersebut dengan membabi buta tidak memberikan celah sedikitpun kepada mereka, Kenzou yang sudah di didik sang Papah bela diri sejak umur lima belas tahun membuat dirinya dengan mudah menghadapinya lima pria tersebut apa lagi kelima pria tersebut tidak ada apa apanya di bandingkan dirinya bahkan jauh di bawah keriteria anak buahnya.
Bugh....
Bugh....
Bugh....
"Dasar sialan,brengsek, bajingan" umpatan umpatan itu yang keluar dari mulut Kenzou saat menghajar kelima orang itu sampai kelimanya terkapar di atas lantai dengan wajah dan tubuh yang sudah babak belur, bahkan mungkin salah satu dari mereka mengalami patah tulang tapi Kenzou tidak menghiraukan hall itu.
Setalah mamastikan semua musuhnya sudah terkapar tidak berdaya Kenzou berjalan ke arah Istrinya yang masih tidak sadarkan diri, Kenzou meraih kepala Aleta dan menaruhnya di atas paha miliknya wajah Aleta yang berantakan, pucat, dan darah yang masih mengalir dari pelipis nya membuat hati Kenzou bagikan tertusuk dengan pisau yang sangat tajam, wajah yang selalu Kenzou berusaha memberikan kebahagiaan, kenyamanan sekarang dengan mudahnya di rusak oleh seseorang.
Kenzou membawa wajah Aleta ke dalam pelukannya memeluknya dengan sangat kuat berharap dengan pelukan itu wanitanya tidak lagi di sakiti seseorang tapi hall itu terlambat setelah wanitanya sudah benar benar di sakiti oleh seseorang, Kenzou menangis sejadi jadinya dengan mengecup kening Aleta beberapa kali.
"Maafkan aku sayang maaf" hati Kenzou terasa sangat sesak sekarang, paru parunya seperti tidak bisa menghirup oksigen saat melihat kondisi Aleta.
"Maaf kalo aku datangnya terlambat, tapi lihat aku sekarang di sini aku datang menjemput kamu dan anak kita, hiks...hiks..." Kenzou membelai wajah itu wajah yang selalu membuatnya merasa nyaman saat melihat senyumannya tapi sekarang yang terlihat bibir yang mulai berubah menjadi abu abu.
"Kita pergi dari sini ya" Kenzou mengecup kening Aleta sebelum mengangkat tubuh lemah istrinya.
__ADS_1
Saat Kenzou keluar dari ruangan itu bersamaan dengan Alan yang baru saja datang setelah memberikan pelajaran kepada pereman pereman tadi. "Aleta kenapa?" tanya Alan saat melihat Aleta sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir di sudut kepalanya.
"Bawa kelima orang tersebut, masukan mereka ke jeruji besi di ruang bawah tanah karena aku sendiri yang akan memberikan pelajaran kepada mereka semua setalah keadaan Aleta membaik" setelah mengatakan hall itu Kenzou langsung melangkahkan keluar dari pabrik tersebut membawa Aleta ke rumah sakit untuk segara mendapatkan pertolongan oleh tim dokter, beruntung saat Kenzou mengusap perut Aleta masih mendapatkan respon dari anaknya tapi itu tidak membuat sang Mommy membuka matanya.