
Kenzou sengaja memilih duduk di sudut taman yang tidak terlalu ramai akan pengunjung. Berharap cemas Aleta akan melakukan tingkah konyol yang bisa membuat nya malu lagi. Dan benar saja dugaannya beberapa detik lalu langsung terjadi begitu tangan Aleta mendarat di wajahnya.
"Udara disini sangat segar" Aleta dengan sengaja merentangkan kedua tangan mengenai wajah Kenzou dan langsung ditepis olehnya.
"Kalo kamu tidak bisa anggun, setidaknya diam lebih baik!" tegas Kenzou menjaga jarak dengan Aleta.
"Kenapa harus berpura-pura menjadi orang lain kalo bisa jadi diri sendiri" jawab Aleta dengan santai. Padahal jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat risih bersifat seperti itu. "Apa kau pernah kesini sebelumnya?"
"Bukan urusan mu" Kenzou cuek menatap arah lain dimana banyak anak kecil yang tengah mewarnai di atas kanvas di tengah taman tersebut.
"Sombong sekali pantas saja kamu tidak laku-laku" cibir Aleta. Tanpa wanita itu sadari ia sedang menertawakan dirinya sendiri. "Mana ada wanita yang betah berlama-lama dengan pria seperti mu. Aku hanya tidak habis fikir apa disaat ayah ku menyetujui perjodohan ini apa dia tidak melihat sifat mu seperti apa atau dia mengiyakan dengan mata tertutup?"
Kenzou membiarkan Aleta yang terus berbicara tanpa henti, membahas ini dan itu berfikir bahwa mulut Aleta tak memiliki rasa lelah harus mengeluarkan untaian kalimat yang begitu panjang tanpa ujung. Jika ada alat penghilang pasti akan Kenzou beli berapapun harganya untuk menghilangkan Aleta dari samping nya sekarang juga.
"Sudah?" Kenzou menatap Aleta yang berhenti berbicara. "Apa mama mu dulu tidak salah melahirkan anak?"
"Memang kenapa?"
"Sangat jauh dari pabriknya!" cibir Kenzou langsung mendapat pukulan dari Aleta. Memang pukulan itu tak terasa sakit ditubuh kekarnya hanya saja pukulan secara mendadak itu membuat Kenzou kaget.
Kenzou menahan kedua tangan Aleta agar tak kembali melayangkan pukulan pada tubuhnya. Menatap mata Aleta yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya membuat Kenzou mencondongkan tubuh secara perlahan, refleks Aleta memundurkan tubuh sampai menghantam pembatas kursi. Detak jantung Aleta semakin tak karuan saat wajah tampan itu semakin dekat, berfikir apa Kenzou akan menciumnya didepan umum seperti ini.
Niat hati ingin menegur Aleta keduanya lebih dulu ditegur seorang penjaga taman yang ternyata sejak tadi memperhatikan gerak-gerik keduanya dari kejauhan.
"Tuan, nona, kalo mau berbuat mesum jangan di tempat umum, disini banyak anak kecil"
Aleta salah tingkah mendorong kuat dada bidang Kenzou agar menjauh. "I-ini gak seperti yang bapak lihat"
"Gak lihat bagaimana, orang jelas-jelas tuanya aja deket-deket"
Aleta tak bisa mengelak saat orang itu melihat dengan jelas jarak nya dan Kenzou sangat tipis tadi, jadi maklum kalo sampai pria itu berfikiran yang bukan-bukan.
"Pak..."
__ADS_1
"Apa salahnya jika saya ingin mencium kening istri saya yang baru saja memberikan kabar bahwa dia sedang jamil anak pertama kami?"
Aleta kembali di buat kaget mendengar ucapan Kenzou menyebutnya istri yang sedang mengandung anak nya. "Dia bukan su...."
"Sudah malam dan angin malam tidak baik untuk mu dan calon anak kita, lebih kita pulang sekarang saja" Kenzou menyelipkan anak rambut kebelakang telinga Aleta.
Aleta dibuat salah tingkah saat tangan Kenzou menyentuh permukaan kulit nya. Entah kenapa sentuhan lembut itu menghadirkan desiran aneh pada hatinya, tanpa banyak bicara Alat pasrah begitu Kenzou menyeretnya pergi dari hadapan penjaga taman sebelum digrebeg warga sekitar karena di tuduh melakukan pelanggaran asusila.
Dirasa jarak keduanya sudah lumayan jauh Aleta melepas tangan Kenzou tak ingin lebih lama merasakan getaran yang bisa memporak-porandakan hatinya. "Apa maksud mu bilang seperti tadi?"
"Jangan ge-er, aku melakukan hal itu untuk menyelamatkan diri ku sendiri. Aku tidak mau orang berfikiran macam-macam kalo aku akan melecehkan mu, sungguh perbuatan yang sangat rendah!"
Mulut Aleta komat-kamit tak jelas begitu mendengar perkataan Kenzou yang sangat tajam. Malas berdebat dengan nya Aleta memilih diam dan tak sengaja matanya menatap tukang bakso yang berjualan di taman kota. Merasa perutnya kembali berdendang membayangkan betapa segarnya kuah bakso itu.
"Mau kemana kamu?" cegah Kenzou melihat Aleta akan pergi.
"Bukan urusan mu!" tandas Aleta berlalu meninggalkan Kenzou. Memesan satu mangkuk bakso dengan isian komplit.
Hendak meraih semangkuk bakso yang sudah jadi tangan Aleta ditarik oleh Kenzou, beruntung mangkok yang berisi kuah tersebut tidak jatuh ke tubuh nya.
"Kalo kamu mau bakso kita ke restoran saja" ucap Kenzou memperhatikan gerobak bakso yang tidak jauh dari keduanya, terlihat sudah sangat lama dan berfikir bakso itu pasti dibuat tidak bersih. "Lihat saja gerobak nya sudah sangat usang, dan pasti isinya juga tidak akan bersih"
Aleta tak habis fikir dengan jalan fikiran Kenzou yang bisa-bisa berfikir seperti yang itu, apa mungkin orang kaya selain dirinya berfikiran hal yang sama seperti Kenzou menilai makanan dari tempatnya. "Jangan bilang kamu tidak pernah merasakan makanan pinggir jalan sebelumnya?" Aleta melipatkan tangannya di depan dada sambil menatap Kenzou.
"Bukan urusanmu"
Kembali mendapatkan jawaban yang bisa menyebabkannya darah tinggi Aleta memutar bola matanya malas. Mengambil bakso dan duduk di tempat yang telah disediakan, tak memperdulikan tatapan Kenzou padanya.
Melihat Aleta menuangkan sambal begitu banyaknya membuat Kenzou mulai khawatir akan makanan yang masuk ke mulut wanita itu. Ke khawatiran Kenzou bukanlah tanpa sebab ia hanya tak ingin setalah pulang dari sini terjadi sesuatu pada wanita itu yang pasti dirinya juga kena imbasnya.
"Jangan di teruskan" perintah Kenzou melihat wajah Aleta mulai memerah akan rasa penas yang wanita itu rasakan. "Aku tidak ingin menjadi amarah papah dan om Herlangga kalo sampai kamu masuk rumah sakit setelah ini"
"Lebay!" satu kalimat yang menjengkelkan Kenzou saat ini.
__ADS_1
Sama seperti saat dimobil Aleta mengeluarkan ingusnya dengan sangat keras, bahkan Kenzou melangkah kebelakang merasa jijik atas apa yang wanita itu lalukan.
"Kamu jorok sekali, apa kau tidak tau ini tempat umum!" marah Kenzou.
"Aku tidak bisa menahannya" jawab Aleta santai.
Geram akan apa yang dilakukan Aleta Kenzou meraih lengannya ke arah mobil begitu Aleta selesai membayar makanannya.
"Zou lepas!" Aleta melepaskan tangan Kenzou dari lengannya, menatap pria itu masuk kedalam mobil tengah mencari sesuatu.
Kenzou mengeluarkan hand sainitizer menyodorkan ke arah Aleta. "Pakai!"
"buat?" tanya Aleta bingung.
"Buat bersihin tangan mu yang kotor tadi habis mengeluarkan ingus mu. Cepat pakai! habis itu aku antar kau pulang" kata Kenzou.
"Iyah... Iyah bawel" jawab Aleta mengambil hend sainitizer dari tangan Kenzou dan langsung memakainya.
"Tuh dah bersih" kata Aleta mendekatkan tangannya ke muka Kenzou, dan segera di tepis oleh Kenzou.
"Masuk" kata kenzou, dan Kenzou memutari mobil dan masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi dan Aleta masih diam mematung di luar.
"Tuhan aku harap pria itu infil dengan kejorokan ku tadi, sungguh yang tadi itu bukan lah diriku tapi semoga saja habis ini ia mengadu sama orang tuanya dan membatalkan perjodohan ini" batin Aleta.
Tin...tin...
"hei...kau mau pulang tidak!"
Aleta pun langsung sadar dari lamunannya dan menatap Kenzou yang sudah di dalam mobil.
"Iyah, iyah" kata Aleta dan langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Untuk para pembaca Istri Kesayangan CEO Dingin Author minta tolong untuk Like dan Vote sebanyak-banyaknya, supaya Author semakin semangat untuk menulisnya, untuk yang sudah Like dan Vote Author mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kalian semua untuk yang belum segara Like dan Vote ya, Bay...Bay...👋