
Mobil Brian berhenti di sebuah rumah sakit swasta yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari lokasi ia menyelamatkan Aleta. Brian memarkirkan mobilnya asal dan tidak menghiraukan suara orang yang menegurnya, Brian turun dari mobil dan memutari mobil dan langsung menggendong Aleta membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter....Suster....." Teriak Brian di lobi rumah sakit sambil menggendong tubuh Aleta, teriakan brian membuat suster yang berjaga sift malam kaget, dan langsung datang ke arah sumber suara.
"Suster tolong ambilkan brangkar..." titah Brian kepada perawat yang datang berjalan ke arahnya tapi langsung balik arah lagi untuk mengambilkan brangkar.
"Dokter....tolong lakukan yang terbaik untuk Aleta dok.... saya mohon... berapapun biayanya pasti saya bayar dok" Kata Brian setelah menaruh tubuh Aleta di atas brangkar bersamaan dengan dokter jaga yang baru saja datang.
"Pasti tuan...kami selalu melakukan yang terbaik untuk pasien kami" kata dokter tersebut sambil mendorong brangkar Aleta masuk ke dalam IGD.
Brian menunggu Aleta di kursi ruang tunggu di depan IGD sambil menatap pintu yang sudah setengah jam tidak ada satupun yang keluar dari dalam, baik suster maupun dokter. Brian yang sangat khawatir melihat kondisi Aleta tadi berjalan mondar mandir di depan pintu IGD.
"Tuhan tolong sembuhkan Aleta..." kata Brian mengusap wajahnya kasar.
Ceklek....
Brian yang mendengar suara pintu terbuka langsung menatap pintu IGD, dan benar saja dokter yang tadi memeriksa Aleta keluar dari ruangan dan menatap Brian yang langsung melangkah menghampirinya.
"Dok, gimana keadaan Aleta...? apa dia baik baik saja...? apa ada luka parah di tubuhnya dok....?" kata Brian yang langsung menghujami dokter yang bernama Tama yang ada di tag jas putihnya
"Sebelumnya saya mau bicara sama suami dari Pasien, apa anda sendiri suami dari pasien?" tanya dokter tersebut kepada Brian, yang langsung membuat Brian terdiam untuk sesaat.
"Iyah...saya suami dari Aleta" kata Brian.
"Maafkan aku Aleta,tapi aku sangat khawatir dengan kondisimu saat ini" batin Brian.
__ADS_1
"Begini tuan, seperti yang tadi saya lihat sepertinya istri anda kelelahan karna terlalu banyak berjalan dan juga istri anda telat makan, itu sebabnya yang membuatnya lemas bahkan sampai pingsan seperti tadi, dan juga kondisi seperti ini tidak baik untuk ibu hamil apa lagi hall ini bahkan bisa membahayakan nyawa janinya yang ada di dalam perutnya yang masih sangat muda tuan" jelas dokter yang bernama tama tersebut.
"Apa...dokter...? hamil...?" kata Brian membulatkan matanya kaget saat dokter tersebut bilang bahwa ada janin di dalam perut Aleta.
"Iyah tuan istri anda sedang hamil, untuk lebih jelasnya lebih baik anda dan Istri anda periksa ke dokter kandungan besok"
"Terus untuk luka luka di tubuhnya apa ada yang parah...?" tanya Brian sebab ia melihat ada bayak gorengan di tangan Aleta.
"Tidak ada tuan...hanya luka kecil dan sudah saya bersihkan, dan saya harap kejadian ini tidak terulang lagi tuan, karna saya tidak bisa menjamin kalo akan terjadi pendarahan nantinya"
"B-baik Dok....,dan apa saya sudah bisa menjenguk Aleta....? emmm maksud saya, apa saya sudah bisa menjenguk istri saya?" tanya Brian.
"Bisa tuan, tapi kita akan menaruh pasien di ruang inap terlebih dahulu biar lebih nyaman"
Suster langsung menyiapkan kamar VVIP yang di minta oleh Brian untuk Aleta, Brian ingin wanita yang sangat ia cintai itu bisa cepat pulih. sebelumnya ia tidak pernah melihat Aleta dalam kondisi seperti ini, yang ada dulu hanyalah tawa,canda,dan kenakalan Aleta yang selalu berdebat dengannya dan memukulnya kalo ia kelah berdebat. sungguh kalo Brian bisa memilih saat untuk saat ini ia lebih memilih berdebat dengan Aleta dan rela dipukuli oleh Aleta dari pada harus melihat kondisi Aleta yang terbaring lemas di atas kasur rumah sakit.
"Tuan, saya hanya mengingatkan jangan menganggu pasien karna pasien butuh istrirahat, karna pasien saat ini konsinya sangat lemah di tambah pasien tengah hamil muda" kata suster yang selesai dengan selang infus Aleta.
"Baik sus.. terimakasih" kata Brian.
"Sama sama tuan kalo begitu saya permisi" kata suster tersebut yang langsung keluar dari ruangan Aleta.
Brian menarik kursi yang ada di samping tempat tidur Aleta dan meraih tangan Aleta, mengusapnya lembut dan menempelkannya di pipi Brian.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mu Aleta...kenapa kamu bisa sampai seperti ini...?" Kata Brian sambil menatap bagian tubuh Aleta yang banyak di tutupi oleh perban.
__ADS_1
Brian terdiam sebentar sambil menatap wajah neyak Aleta yang tengah tidur dengan pulas sampai satu bulir bening lolos begitu saja dari matanya saat kenangan kengannya bersamaan Aleta berputar di otaknya "Maafkan aku Aleta....kalo saja saat itu aku tidak pergi ke Ausi, pasti saat ini kita sudah bahagia dengan kamu yang mengandung anak ku bukan anak orang lain, hiks...hiks..."
"Dan juga pasti kamu tidak sedang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit seperti ini...maafkan aku Aleta, maafkan aku yang terlalu bodoh meninggalkan mu begitu saja, hiks...hiks...."
"Memang pantas saat itu kamu bilang aku pengecut, karna aku memang seorang pengecut Aleta..." kata Biran dengan tangan satunya lagi untuk memukul mukul kepalanya.
"Kamu tau Aleta...saat aku di Ausi aku selalu memikirkan mu, Aku selalu melihat satu persatu foto dan video kita, yang membutku belajar dengan giat suapaya aku bisa cepat menyelesaikan studi kuliahku saat itu juga, dan bisa cepat cepat pulang ke tanah air dan bisa langsung melamarmu dan menjadikan kamu istriku."
"Tapi semua itu kini hanya angan angan setelah kamu bilang kamu sudah menikah, kamu tau....?dunia ku terasa berhenti begitu saja saat itu juga Aleta... hiks...hiks... yang ada sekarang hanya penyesalan di hatiku. Kamu tau Aleta...? sebenarnya aku tidak percaya dengan ucapan mu saat itu, aku pikir kamu hanya berusaha membutku cemburu tapi saat kedua orang tuaku membenarkan hall itu dan menegaskan aku untuk tidak menganggumu lagi saat itu juga aku mencoba melupakanmu walau susah."
"Aku merelakan kamu dengan orang lain dengan harapan kamu bisa bahagia Aleta....Bukan tersaki atau sampai celaka sampai seperti ini,bahkan kalo ayahmu tau kondisimu seperti ini ayah mu lah orang pertama yang tidak akan ikhlas dan rela melihat putri yang ia sayangi seperti ini, dan aku jamin ayah mu itu akan menghajar mati matian orang yang sudah membuat mu seperti ini"
"Apakah sampai sekarang kamu masih menjadi anak ayah...?" Brian terkekeh saat mengoda Aleta berharap wanita itu memukulnya tapi hall itu tidak di lakukan Aleta, karena Aleta tengah sibuk dengan dunia mimpinya sendiri.
"Cepat sembuh Aleta...aku tidak bisa melihat mu seperti ini lebih lama lagi"
Cup...
Brian mencium punggung tangan Aleta dan megusap rambut Aleta lembut. sambil tersenyum manis ke arah Aleta yang tengah tertidur pulas. Brian menaruh kepalanya di ranjang tempat tidur Aleta dengan tangan yang terus menggenggam tangan Aleta, dan matanya yang tidak lepas dari wajah Aleta, sampai perlahan mata Brian tertutup dan mulai masuk ke alam mimpi
***
Kira kira up jam segini masih ada yang baca gak sih...?🤔.
Jangan sampai lupa Like dan Vote nya ya.....🤗♥️
__ADS_1