
Satu bulan berlalu dengan sangat cepat dan kini usia kandungan Aleta sudah genap memasuki bulan kesembilan membuat Kenzou semakin jaga-jaga kalo sewaktu-waktu Aleta mengalami kontraksi seperti yang di katakan dokter melati beberapa hari lalu. Aleta belakang ini sebenarnya juga sudah merasakan kontraksi palsu yang terjadi pada dirinya tapi dirinya menyembunyikan semua itu dari Bunda, Mama dan Kenzou yang tidak ingin membuat mereka semua merasa khawatir.
Bahkan Ratih dan Ana memilih tinggal di rumah anak dan menantunya sampai Aleta melahirkan dan itu membuat Herlangga dan Baskara juga ikut tinggal di sana. Aleta merasa sangat beruntung saat semua orang perhatian dengannya bahkan suaminya sendiri dengan suka rela menemani dirinya olah raga yoga setiap harinya di taman belakang rumah dengan pelatih yang di datangkan Kenzou secara khusus ke rumahnya.
Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya saat sampai sekarang sahabatnya Vony belum mengunjungi dirinya bahkan pesan pun tidak di kirim oleh wanita itu hanya sekedar menanyakan kabarnya yang sebentar lagi akan lahiran.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Kenzou saat melihat raut wajah Aleta yang tiba-tiba berubah sedih.
Aleta mengelengkan kepalanya tanda ia baik-baik saja.
Semua kembali bercengkrama dengan hangat dan sesekali tawa renyah terdengar dari kedua keluarga itu saat Ratih dan Ana membahas tentang hall lucu dan itu juga tidak lepas dari kejahilan suami mereka.
Berbeda dengan Aleta wanita itu tiba-tiba saja memegang perutnya yang kembali merasakan kontraksi. Memang dari tadi malam dirinya sudah merasakan sakit yang semakin menambah dari kontraksi sebelumnya Aleta yang tidak ingin membuat orang-orang khawatir mencoba mengatur nafasnya berharap dengan itu rasa sakitnya sedikit mereda.
Semua orang berjalan ke arah meja makan saat art mengatakan kalo makan siang sudah siap. Dengan bantuan Kenzou Aleta bangun dari duduknya dan berjalan ke arah meja makan. Semua orang menikmati makanan siang mereka dengan tenang dan sesekali mereka menyelipkan obrolan ringan untuk memecah keheningan yang terjadi.
Sedangkan Aleta wanita itu hanya diam dengan memainkan nasi di dalam piringnya saat nafsu makannya hilang seketika saat rasa sakit di perutnya tidak kunjung hilang. Kenzou yang tadinya ikut menimpali ucapan kedua orangtuanya beralih menatap Aleta saat istrinya sedari tadi hanya diam saja dengan memainkan nasi yang ada di dalam piringnya. "Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Kenzou khawatir membuat semua mata yang ada di meja makan menatap wajah Aleta.
"Perut aku sakit" ucap Aleta saat dirinya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di perutnya lebih lama lagi.
"Kamu mau melahirkan?" Kenzou mulai panik saat melihat Aleta merintih kesakitan.
"Sayang jangan panik,kalo kamu panik Aleta juga akan ikutan panik" Ana meminta putranya itu tetap tenang walau dirinya sendiri juga mula merasakan panik.
"Sebaiknya kita bawa Aleta ke rumah sakit sekarang!" ucap Herlangga yang tidak tega melihat putrinya merasakan sakit seperti itu.
Kenzou menganggukan kepalanya dengan cepat dan langsung menggendong tubuh Aleta keluar dari dalam rumah lebih dahulu karena kedua oma itu harus mengambil perlengkapan bayi di lantai dua, Kenzou mendudukan pelan tubuh Aleta di kursi samping kemudi baru dirinya sedikit berlari masuk ke dalam mobil.
Mengendarainya dengan kecepatan penuh Kenzou membawa Aleta kerumah sakit, Kenzou menggenggam tangan Aleta menggunakan satu tangannya memberikan wanita itu semangat.
"Sakit" rintih Aleta dengan tangan memegang perutnya.
"Sabar sayang sebentar lagi kita sampai" Kenzou mencium punggung tangan Aleta berulang kali.
Kenzou semakin menancapkan gas mobilnya membunyikan klakson dengan sangat kencang saat beberapa kendaraan menghalangi jalannya. sampai mobil Kenzou terjebak dalam kemacetan yang sangat panjang berulang kali Kenzou membunyikan klakson mobilnya meminta agar mobil di hadapannya segera berjalan tapi semua itu sia-sia saat sedikitpun kendaraan di depannya tidak bergerak.
Kenzou menatap wajah Aleta yang mulai mengeluarkan keringat di dahi dan lehernya. "Sayang kamu tahan sebentar lagi aku mau keluar sebentar" ucap Kenzou mencium kening Aleta dan langsung keluar dari dalam mobil untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di depan sana.
"Permisi bisa anda majukan kendaraan anda? istri saya ada di dalam mobil dan sebentar lagi mau lahiran" kata Kenzou meminta mobil di depannya segara berjalan.
"Maaf tuan tapi di depan ada kecelakaan beruntun dan jalan baru bisa berjalan dengan normal sekitar satu dua jam lagi" ucap pria paruh baya.
Kenzou mengusap wajahnya dengan kasar tidak mungkin ia menunggu satu sampai dua jam lagi di sini dan ia juga tidak ingin anaknya lahir di jalan seperti ini. Kenzou menatap kebelakang mobilnya saat kemacetan semakin panjang bahkan untuk memutar mobil pun tidak bisa.
Kenzou kembali berjalan ke arah mobilnya membuka pintu samping mobilnya.
"Zou...aku gak kuat, hiks...hiks..."
"Iyah sayang sebentar lagi kita sampai" hanya itu yang bisa Kenzou katakan saat ini walau dirinya sendiri tidak yakin kalo keadaannya seperti ini.
Kenzou mengangkat tubuh Aleta keluar dari dalam mobil dan membawanya keluar dari kemacetan itu, sekarang ini ia tidak peduli berapa kamera ponsel di arahkan pada dirinya karena yang paling penting sekarang ia harus membawa Aleta ke rumah sakit dengan cepat saat ini.
Kaki Kenzou terus berjalan di pinggir trotoar mencari taksi atau apapun yang bisa membawa istrinya ke rumah sakit tapi sayang trotoar yang ia lewati saat ini satu jalur dengan kemacetan tadi. Kenzou berhenti di pertigaan jalan mencari mobil untuk Istrinya.
"Sial! kenapa tidak ada satupun kendaraan yang mau berhenti!" umpat Kenzou saat beberapa kendaraan di stop nya tidak menghiraukan suaranya mungkin karena penampilan Kenzou yang mulai berantakan membuat mereka tidak menghiraukan suara Kenzou.
"Sakit zou hiks...hiks..."
"Tuhan tolong jangan biarkan anak ku lahir di pinggir jalan seperti ini"
Saat Kenzou ingin berjalan lagi sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya, Kenzou menatap mobil yang berhenti di hadapannya sampai matanya menatap siapa pemilik mobil itu yang baru saja keluar dengan seorang wanita.
"Zou? Aleta kenapa?" Tanya Brian yang ternyata tidak sengaja lewat jalan itu dan melihat Kenzou yang tengah mengendong Aleta di pinggir jalan dengan Aleta yang terus merintih kesakitan.
"Sayang sepertinya wanita ini mau melahirkan" kata wanita yang keluar dengan Brian tadi saat wajah Aleta menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Sayang?" suara Kenzou terdengar seperti meminta penjelasan.
"Nanti aku jelaskan sekarang bawa istrimu ke dalam mobil ku kita bawa Aleta ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Brian tau kalo Kenzou bingung dengan wanita yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Kenzou yang hampir lupa dengan Aleta langsung membawa Aleta masuk ke dalam mobil Brian yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Sayang jangan bikin Mommy kesakitan, kasian Mommy" ucap Kenzou mengusap perut Aleta dengan lembut.
"Hiks...hiks... sayang sakit" Aleta terus merintih kesakitan membuat Kenzou tidak tega melihat istrinya seperti ini.
"Memangnya mobil kamu kemana Zou? kenapa kamu bisa ada di pinggir jalan seperti itu?" tanya Brian.
Kenzou menatap tajam punggung laki-laki yang tengah mengendarai mobilnya bisa biasanya pria itu bertanya hall bodoh seperti itu di saat-saat genting kaya sekarang.
"Tutup mulut mu! dan cepat kendarai mobil jelek mu ini ke rumah sakit kalo kamu masih sayang dengan nya mu!" suara berat itu membuat kedua orang yang duduk di jok depan menelan salivanya dengan susah payah.
Brian menganggukan kepalanya mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh ke rumah sakit tanpa banyak bertanya lagi. lima belas menit mobil Brian sudah sampai di rumah sakit Kenzou langsung mengangkat tubuh Aleta masuk ke dalam rumah sakit dengan sedikit berlari.
"Siapapun bawa brankar ke sini!" teriak Kenzou yang baru sampai di dalam rumah sakit.
Para suster yang melihat Kenzou datang secara dadakan langsung berlari terbirit-birit mengambil brankar dan membawanya ke arah Kenzou.
"Panggil dokter melati yang menangani istriku!" titah Kenzou mendorong brankar Aleta ke ruang persalinan.
"Maaf tuan tapi dokter Melati sedang keluar makan siang" jawab suster yang juga mendorong brankar Aleta.
"Kalo anda mau ada dokter laki-laki yang akan menangani nona Aleta" lanjut suster itu membuat Kenzou menghentikan langkahnya dan itu juga membuat brankar Aleta berhenti di tengah jalan.
"Kau mau cari mati?! dengan menawarkan dokter pria untuk menangani istriku?!" suara penuh penekanan itu membuat kedua suster itu seperti ingin di mangsa habis-habisan oleh Kenzou saat ini juga.
"Tapi tuan..."
"Panggil dokter melati sekarang juga!, kalo kalian tidak ingin rumah sakit ini tutup dalam hitungan menit!!"
"Dokter itu benar-benar menguras kesabaran ku!"
"Zou aku merasa ada air di bawah sana" ucap Aleta dengan suara lirihnya saat merasakan pahanya terasa becek.
Mendengar itu Kenzou di buat kalut sendiri apa anaknya baik-baik saja? atau anaknya sudah tidak ada?, sungguh kalo ia tahu Aleta membutuhkan seorang dokter seperti sekarang ini pasti dulu ia akan mengambil fakultas kedokteran dari pada harus menjadi seorang CEO.
Dokter Melati masuk ke ruangan beralih di ikuti dua dokter dan lima orang suster di belakangnya. Mendengar pintu ruang bersalin Aleta terbuka Kenzou menatap siapa yang baru saja masuk tapi matanya seketika membulat saat melihat satu orang dokter laki-laki yang berjalan mendekat ke arah istinya.
"Siapa yang menyuruh pria ini masuk ke sini!" tanya Kenzou dengan menatap tajam dokter muda tersebut.
"Dokter ini juga akan ikut membantu persalinan nona Aleta tuan" jawan dokter Melati.
"Suruh dia keluar!"
"Tapi tuan..."
"Suruh dia yang keluar dari sini atau anda yang akan keluar dari rumah sakit ini tanpa jas putih kebanggaan itu lagi!"
Mendapatkan ancaman mematikan itu akhirnya dokter melatih menyuruh dokter muda itu untuk keluar dari dalam sana. setelah kepergiannya dokter Melati meminta tolong pada dokter yang ikut dengannya tadi untuk mengecek detak jantung bayi sedangkan dokter melati membuka paha Aleta untuk mengecek sudah berapa lebar pembukaannya.
"Sudah pembukaan sepuluh" ucap dokter melati yang juga sedikit kaget karena jalan pembukaan Aleta sudah sempurna.
"Apa anda sudah lama merasakan rasa sakit saat kontraksinya menambah nona?" tanya dokter Melati.
Aleta mengangguk kepalanya. "I-iyah sudah dari tadi malam" jawab Aleta Kenzou yang mendengar itu di buat melongo bagaimana bisa wanita itu menahan rasa sakitnya sendiri bahkan dengan begitu sempurnanya sampai dirinya tidak mengetahui kalo istrinya tengah menahan rasa sakit.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi malam sayang kalo kamu sudah merasakan sakitnya?" tanya Kenzou sedikit tidak suka dengan cara Aleta seperti ini.
"Karena aku tidak mau kamu khawatir" jawab Aleta ingin rasanya Kenzou marah tapi ini juga salahnya sendiri kenapa dirinya begitu bodoh sampai tidak bisa mengenali gejalanya.
"Nona Aleta dengar aba-aba yang saya berikan kalo saya suruh anda mengejan anda harus mengejan tapi kalo saya bilang stop anda harus berhenti mengejan sesakit apapun kontraksi yang anda rasakan nanti" ucap dokter Melati setelah memastikan detak jantung bayi masih normal.
__ADS_1
Aleta hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Tarik nafas nona buah secara perlahan" arah dokter Melati yang di ikuti oleh Aleta.
"Iyah seperti itu, lagi nona tarik nafas baung secara perlahan dan mengejan"
"Aaakkkk" Aleta berusaha mendorong bayinya keluar, tulang Aleta seperti mau patah semua di tambah lagi tubuhnya yang terasa sangat lemas apa lagi dirinya belum makan siang sedikitpun.
"Berhenti" perintah dokter Melati.
"Sakit" Aleta menggenggam tangan Kenzou saat dirinya berhenti mengejan.
Kenzou tak tega melihat istrinya merasakan sakit yang luar biasa seperti sekarang ini. Tangan Kenzou mengusap kening Aleta lembut menyingkirkan anak rambut dari kening istrinya yang mulai bawah karena keringat.
"Kita lakukan operasi saja ya sayang" pinta Kenzou tak tega melihat wajah lelah Aleta.
Aleta mengelengkan kepalanya. "Aku mau tetap lahiran normal Zou, percaya sama aku kalo aku bisa" ucap wanita itu yang masih bisa tersenyum dengan sangat manis ke arahnya.
"Atur nafasnya nona" Aleta mengatur nafasnya lagi seusai arahan dokter melati.
"Dorong nona"
"Aaakkkk"
"Kamu pasti bisa Aleta" Kenzou memberikan semangat pada istrinya saat Aleta kembali mengejan.
"Sedikit lagi nona kepala bayinya sudah terlihat" ucap dokter Melati meminta agar Aleta lebih kuat mendorong bayinya agar segera keluar.
Oeeekkkkk
Suara bayi terdengar di ruangan bersalin itu memecah ketegangan semua orang yang ada di dalamnya saat sosok mungil yang sangat rapuh telah lahir ke dunia.
Mendengar itu Aleta bernafas dengan lega saat anaknya telah lahir, Aleta mengatur nafasnya dengan rasa bahagianya yang menyelimuti dirinya
"Baby boy lahir sayang, terimakasih Aleta terimakasih" Kenzou mengecup kening Aleta saat ia sudah resmi menjadi seorang Daddy hari ini.
"Bayinya cantik persis seperti anda nona" ucap dokter Melati membuat Aleta dan Kenzou menatap wajah dokter Melati yang mengarahkan wajah putrinya ke arah mereka.
"Cantik?" tanya Kenzou bingung.
"Iyah tuan selamat bayi anda sangat cantik seperti ibunya"
"Bukannya jenis kelaminnya laki-laki?" masih dengan kebingungannya Kenzou menatap wajah dokter melati dan beralih menatap anaknya yang masih berlumuran darah.
Dokter Melati memberikan bayi mungil itu pada dokter untuk di bersihkan terlebih dahulu setelah memotong tali pusarnya. "Tes USG kadang juga salah tuan karena itu hanya alat untuk menentukan tapi yang sesungguhnya tau tentang segala hall hanya tuhan" kata dokter Melati yang masih harus memberikan area sensitif Aleta.
"Sudahlah itu tidak penting yang terpenting sekarang anak kita sudah lahir" Kenzou menatap wajah lelah Aleta dengan mata sayunya itu membuat Kenzou mendaratkan kecupan kecil di kedua pelopak mata indah istrinya.
Sesaat dokter yang mendekat ke arah mereka menaruh bayi mungil itu secara perlahan di atas dada Aleta untuk mencari sumber makanan dari ****** Aleta. Air mata Aleta tumpah saat melihat bayi dengan kulit putih dan mata sipit itu tengah mencari sumber makanannya sampai akhirnya putri kecilnya itu berhasil menghisap putingnya. Sungguh rasa sakit yang tadi ia rasakan terbayar sudah saat melihat putrinya lahir dalam keadaan sehat dan sangat cantik.
Kenzou mengambil tangan mungil itu membuat anaknya menggenggam jari telunjuknya dengan kuat. Kenzou mendaratkan kecupan di kepala putrinya itu lumayan lama, sebagai seorang laki-laki momen seperti inilah yang sangat Kenzou nanti-nantikan bisa mempunyai keluarga kecil yang lengkap dengan kehadiran anak nya yang akan mewarnai hidupnya sampai tua nanti.
"Kita belum menyiapkan nama untuknya" kata Aleta mengingat kalo dirinya belum menyiapkan nama untuk bayi perempuannya karena yang mereka tau anak mereka laki-laki.
"Siapa bilang, aku bahkan punya satu nama yang sudah aku siapkan sejak lama" kata Kenzou menatap wajah Aleta.
"Kamu sudah menyiapkannya?" Kenzou mengangguk ia sengaja menyiapkan nama itu dan akan memakainya pada anak perempuannya kelak dan saat tuhan telah memberikannya seorang putri sekarang maka ia akan memberikannya kepada putri pertamanya.
"Namanya Aluna Quenbyanza Putri Jhonson" lanjut Kenzou.
Aleta tersenyum saat mendengar nama yang sangat cantik yang sudah di siapkan Kenzou untuk putrinya. "Cantik"
"Jadi kamu setuju kalo anak kita namanya Aluna?" tanya Kenzou memastikan.
"Tentu kenapa tidak?"
__ADS_1