Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Tempat makan


__ADS_3

"Bagaimana dinner tadi malam?" Herlangga langsung melayangkan pertanyaan begitu Aleta bergabung dengan keduanya dimeja makan.


Nafsu makan Aleta seketika hilang jika harus menginggat kencan gila yang harus ia lakukan dengan Kenzou tadi malam, tak memiliki jawaban lain sekalian mengiyakan pertanyaan Herlangga.


"Syukurlah, ayah harap kamu tidak melakukan hall yang aneh selama satu bulan kedepan" Herlangga menginggat kan.


Aleta seperti mendapatkan sengatan listrik setalah menerima peringatan keras dari Herlangga. Seolah-olah pria itu tau apa yang sedang ia rencanakan untuk membatalkan perjodohan ini dengan membuat Kenzou infil dengan nya.


"Kalo sampai dalam waktu satu bulan itu tidak ada yang saling mencintai, perjodohan ini akan batal bukan?" sepertinya Aleta sedang mencari penyakit hati dengan menunggu jawaban dari Herlangga yang jelas-jelas dirinya sudah tau apa jawaban atas pertanyaannya.


"Tidak" singkat, padat,jelas, dan begitu sakit membuat Aleta menghela nafas frustasi.


"Kenapa ayah bersikukuh untuk mempertahankan perjodohan ini, jelas-jelas ayah sendiri tau Aleta tidak suka perjodohan seperti ini terjadi"


"Ayah hanya ingin hubungan dengan om Baskara semakin dekat dengan menjodohkan kamu dengan Kenzou, sekalian menepati janji yang kita bikin dulu"


Aleta meletakan roti begitu nafsu makan nya benar-benar hilang. "Ini tidak adil, ayah menginginkan hubungan ayah dengan tuan Baskara tetap terjalin dengan menumbalkan Aleta begitu?"

__ADS_1


"Sayang!" Ratih memberikan teguran begitu Aleta melontarkan kata 'tumbal'


"Ayah hanya ingin memberikan hal yang terbaik untuk mu"


"Terbaik buat Aleta? atau terbaik buat ayah?. Disini yang akan menjalankan kehidupan kedepannya itu Aleta bukan ayah, jadi Aleta mohon tolong batalkan perjodohan ini karena Aleta benar-benar keberatan!"


"Ayah tidak akan membatalkan perjodohan ini, jadi kamu dan Kenzou manfaatkan lah waktu yang ada untuk saling mencintai satu sama lain" tandas Herlangga tak lagi bisa dibantah.


***


Niat awal ingin libur Aleta memutuskan untuk berangkat ke restoran menyibukkan diri dengan pekerjaan dari pada ia terus memikirkan perjodohan yang membuat kepalanya terasa ingin pecah.


Orang tersebut memutuskan untuk duduk di sofa menatap melihat kelincahan tangan Aleta dan sesekali beralih membuka satu demi satu laporan di mejanya


"Sibuk banget anak Bunda" ucap Ratih duduk di sofa, ya wanita yang mengamati Aleta dari tadi adalah ibundanya.


"Sejak kapan Bunda di sini?" Aleta menghampiri Ratih yang tengah duduk di sofa.

__ADS_1


"Baru saja, masih sibuk?


Aleta mengangguk memijat tengkuknya yang terasa pegal. "lumayan. Bunda kesini ada urusan apa?"


"Bunda mau minta tolong sama kamu" Ratih meraih rantang dari atas meja. "Tolong kasih ini pada Kenzou"


Aleta merubah tatapan tidak suka pada rantang yang Ratih pegang. "Bunda menyetujui perjodohan ini terjadi?"


Sama halnya dengan Aleta Ratih juga tidak suka dengan cara sang suami yang ingin menjodohkan putrinya dengan pria yang belum ia kenali seluk beluknya, tapi menentang keputusan Herlangga juga sia-sia bagi Ratih. "Suka tidak suka bunda tidak bisa ngebantah ayah, hampir setiap malam bunda merayu ayah agar tidak melanjutkan perjodohan ini, tapi semuanya sia-sia"


"Kalo bunda sudah tau ujungnya seperti apa kenapa sekarang nyuruh Aleta memberikan makanan ini untuk Kenzou? kenapa tidak bunda saja yang datang dan menyerahkan makanan ini sendiri?"


Ratih menghela nafas panjang mengisi stok kesabarannya. "Terus kamu mau kaya gimana? mau membatalkan perjodohan ini?"


Aleta mengangguk cepat membuat Raih lagi-lagi menghela nafas. "Mau sekuat apapun kamu membatalkannya perjodohan ini bunda yakin ayah dan om Baskara tidak akan membatalkan perjodohan ini"


"Bund..."

__ADS_1


"Sekarang cepat kasih ini sama Kenzou dan harus kamu yang antar, jangan orang lain!"


__ADS_2