
Kenzou yang masih duduk di kursi kebesarannya melirik sekilas ke arah kaca besar di ruangannya saat cahaya matahari sore menerobos masuk melalui kaca raungannya, sebelum melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya.
"Jam empat?"
"Tapi pekerjaan ku baru selesai setengah" kata Kenzou dengan mata yang beralih menatap berkas berkas di mejanya yang masih ada setengah lagi yang harus ia selesaikan.
Tok...tok...
"Masuk" kata Kenzou saat pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dan memperlihatkan Alan yang masuk ke dalam ruangannya.
"Anda tidak pulang tuan?" tanya Alan saat tangan Kenzou yang masih menari di atas papan keyboard laptopnya.
"Apa kau tidak lihat pekerjaan ku masih banyak?" kata Kenzou tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
Alan menganggukkan paham kenapa Kenzou tidak pulang lebih dahulu seperti biasanya. "Kalo begitu tuan ini ada satu berkas yang membutuhkan tanda tangan anda" kata Alan menumpuk map yang berada di tangannya di atas tumpukan map yang lainnya.
"Apa kau ke sini cuma mau kasih aku pekerjaan tambahan?" kali ini Kenzou beralih menatap Alan yang masih berdiri di samping mejanya. "Kalo begitu bantu aku menyelesaikan ini semua"
"T-tapi tuan"
"Apa kau tidak mau membantuku?"
"Iyah, mana yang harus aku kerjakan?" kata Alan yang langsung mendudukan tubuhnya di kursi di depan Kenzou.
"Ini" kata Kenzou menyerahkan beberapa map kepada Alan.
"Aku baru saja membayangkan bersantai di balkon kamar dengan secangkir kopi saat bisa pulang lebih awal, kalo tau seperti ini aku serahkan saja dokumen itu besok pagi"
Sedangkan Kenzou yang melihat wajah Alan yang berubah drastis hanya tersenyum geli, mengingat Alan jarang sekali pulang awal karena beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan akhir akhir ini membuat Alan hampir setiap malam menghabiskan waktunya di kantor dan sekalinya Alan akan pulang cepat ia harus membantu sahabatnya itu.
"Apa kamu sudah gila senyam senyum sendiri seperti itu?" cibir Alan saat melihat Kenzou malah seperti orang gila yang senyam senyum sendiri tanpa sebab.
"Tidak" jawab Kenzou singkat.
"Cepat selesaikan pekerjaan mu, karena aku juga ingin tidur nyenyak malam ini seperti dirimu" kata Alan mengingat belakang ini pola tidurnya tidak teratur.
"Iyah Iyah bawel" kata Kenzou yang juga kembali mengerjakan pekerjaannya agar ia bisa pulang tepat saat makan malam.
***
Jam menunjukan pukul delapan malam tapi Kenzou dan Alan masih berada di ruangan Kenzou dengan beberapa berkas yang harus mereka selesaikan malam ini juga agar tidak menumpuk dengan pekerjaan besok yang malah menambah pekerjaan mereka nantinya.
"Akhirnya selesai juga" kata Alan merenggangkan otot ototnya, saat pekerjaan terakhirnya selesai juga.
"Aku pulang dulu" kata Kenzou yang sudah berdiri dari kursi kebesarannya dan mengenakan jasnya.
"Terus ini semua siapa yang merapikan?" tanya Alan saat melihat meja kerja Kenzou yang berantakan dan layar laptop Kenzou pun masih hidup.
"Kamu lah siapa lagi?, tolong beresin semua ini aku pulang dulu" kata Kenzou yang langsung melangkah menuju pintu ruangannya.
"Sialan si Kenzou, awas saja kalo habis ini tidak ada kenaikan gaji" kata Alan saat pintu ruangan Kenzou sudah tertutup.
Sedangkan Kenzou yang baru saja keluar dari dalam lift melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu keluar perusahaannya, di mana tadi ia sudah menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya di depa pintu kantor.
__ADS_1
"Selamat malam tuan" sapa satpam kantor saat Kenzou sudah keluar dari dalam kantor.
"Malam" jawab Kenzou yang langsung masuk ke dalam mobilnya dan melakukannya meninggalkan halaman kantor yang sudah sepi.
Jalan yang sedikit longgar membuat Kenzou sedikit bisa menambahkan kecepatan mobilnya mengingat ia tidak bisa mengabari Aleta kalo dia malam ini ada sedikit pekerjaan yang harus ia selesaikan karena batu ponselnya yang habis dan ia lupa membawa charger hp.
Sesekali Kenzou membunyikan klakson mobil saat ia terjebak lampu merah yang membuat perjalanannya sedikit lebih lama, tapi saat Kenzou tidak sengaja melewati swalayan ia teringat kalo Aleta suka dengan es krim membuat Kenzou memutuskan untuk berhenti sebentar di sana untuk membeli es krim kesukaan Aleta.
Kenzou masuk ke dalam swalayan dan mengambil keranjang untuk tempat es krim yang akan ia bawa, sampainya di beberapa lemari es membuat Kenzou bingung sendiri karena rasa es krim yang Aleta suka sangat banyak dengan merek yang berbeda beda.
"Aku lupa merek es krim apa yang sering Aleta makan"
"Tapi tidak ada salahnya kan beli semua merek es krim yang ada di sini?" kata Kenzou pada dirinya sendiri dan memutuskan untuk mengambil satu rasa jenis es krim dengan merek yang berbeda beda sampai satu keranjang yang ia bawa sudah di penuhi oleh es krim dengan satu rasa.
"Seharusnya segini cukup" kata Kenzou melihat keranjang belanjaan miliknya, dan segera Kenzou membawanya ke kasir.
Pelayanan kasir di buat kaget saat Kenzou membawa satu keranjang penuh dengan es krim apa lagi es krim tersebut dengan rasa yang sama cuma mere saja yang membedakannya, mereka dengan cepat menghitung total belanjaan Kenzou sampai semua es krim tersebut sudah di hitung dan para pelayan memberikan satu pelastik besar kepada Kenzou yang telah menyelesaikan transaksi pembayaran.
***
Mobil Kenzou yang sudah terparkir di halaman rumah membuat Kenzou dengan cepat turun dari dalam mobil dan tidak lupa satu plastik besar yang berisi es krim di tangannya dan tiga paper bag berwarna putih ia bawa masuk ke dalam rumah.
Saat Kenzou melangkah masuk ke dalam rumah dari kejauhan ia melihat Aleta yang tengah menonton televisi di ruang tengah dengan satu toples cemilan di tangannya dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah, sedangkan Kenzou dari kejauhan hanya senyam senyum sendiri melihat Aleta menatap televisi dengan sangat fokus dan tangan yang terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itu, terlihat menggemaskan bagi kenzou.
"Sayang" panggil Kenzou membuat Aleta menatap Kenzou sekilas dan beralih menatap layar televisi di hadapannya.
"Kamu belum tidur?" tanya Kenzou saat sudah duduk di samping Aleta.
"Kamu marah?" pertanyaan Kenzou membuat Aleta mengeluarkan jurus lirikan tajam yang ia tujukan pada suaminya itu dengan tangan yang menutup toples cemilan di tangannya.
"Kamu jam segini baru pulang dari mana saja hah!" Bukannya menjawab pertanyaan Kenzou Aleta malah melayangkan pertanyaan untuk suaminya itu.
"Apa kamu tidak lihat jam makan malam sudah lewat"kata Aleta menunjuk jam yang berada di atas televisi.
"Atau jangan jangan kamu berduaan ya sama si Anindira itu?" kata Aleta dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu bicara apa sih? kenapa bisa sampai di situ?" kata Kenzou tak terima tapi dengan nada suara yang lembut agar istrinya itu tidak semakin marah.
"Terus apa? gak mungkin kamu pulang telat seperti ini kalo gak ada alasannya!"
"Iyah memang ada alasannya aku pulang telat karena aku..."
"Karena kamu lagi mau bermesraan kan sama si uler itu! kamu itu gimana sih Zou, kalo kamu masih suka sama dia yang mirip kekasih kamu itu kejar aja lah ngapain masih mertahanin aku?" potong Aleta.
"Aleta bukan itu alasan aku pulang telat" ralat Kenzou dengan cepat, karena yang di bicarakan Aleta tidak satupun ada yang benar tentang dirinya yang pulang telat.
"Ya terus apa?"
"Ya kamu diam dulu biar aku jelas in dulu, kalo kamu marah marah seperti ini bagaimana aku bisa jelas in kenapa aku pulang telat"kata Kenzou membuat Aleta seketika diam dan membenarkan ucapan suaminya, kalo dia terus menghakimi Kenzou tanpa mendengar cerita yang sesungguhnya yang ada pertengkaran yang mereka dapatkan.
"Cepat, lima menit" kata Aleta dengan posisi kembali menatap layar televisi di hadapannya.
Kenzou yang melihat sikap Aleta hanya menghela nafas pelan karena sifat Aleta yang susah sekali di tebak, memang ia tidak terlalu tau tentang keadaan ibu hamil karena baru kali ini ia di hadapkan dengan ibu hamil dan itu istrinya yang tengah mengandung calon anaknya.
__ADS_1
"Cepat ngomong? kenapa diam saja? aku tidak menyuruh mu diam zou" kata Aleta tanpa menatap suaminya itu dan masih fokus pada layar televisi di hadapannya.
"Jadi habis miteeng tadi pagi, Anindira ke kantor"
"Tuh kan bener kamu masih punya hubungan sama dia! kenapa sih Zou kamu plin plan banget jadi orang!" kata Aleta kali ini menatap suaminya itu saat nama perempuan yang ia benci di sebut.
"Kamu sebenarnya lebih milih aku apa dia?"
"Bukan begitu Aleta" Kenzou berusaha menjelaskan tapi suara Aleta membuat nya kembali diam.
"Bukan apa hah! jelas jelas dia ke kantor kamu kalo bukan deketin kamu ngapain coba dia ke kantor?" kata Aleta yang mulai tersurut emosi.
"Udah lah aku capek ngomong sama laki laki yang gak punya pendirian seperti kamu!" kata Aleta yang hendak berdiri tadi tangannya di tahan Kenzou membuat Aleta kembali duduk di tempatnya.
"Apa!"
"Memang Anindira datang ke kantor, tapi dia datang ke kantor cuma nanyain tentang persiapan peresmian proyek satu bulan kedepan, tapi bukan aku yang menjelaskannya tapi Alan" kata Kenzou berusaha meluruskan ucapannya tadi.
"Bohong" kata Aleta yang belum percaya seratus persen kenapa suaminya itu.
''Aku gak bohong Aleta, kalo kamu gak percaya kamu bisa tanya Alan besok pagi, karena Alan sendiri yang datang keruangan ku dan meminta Anindira untuk keruangannya supaya Anindira bisa melihat laporan peresmian proyek itu sendiri"
"Terus kenapa kamu jam segini baru pulang? kalo bukan berduaan sama uler itu" kata Aleta yang masih yakin bahwa suaminya itu telat karena berduaan dengan Anindira.
"Itu karena aku terpaksa lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga"
"Sendiri?" selidik Aleta.
"Tidak aku bersama Alan di ruanganku" kata Kenzou jujur.
"Alan lagi?"
"Iyah siapa lagi? dia itu asisten sekaligus sekertaris ku sekarang"
"Sekertaris? terus sekertaris kamu yang dulu kemana?" tanya Aleta bingung kenapa tiba tiba Alan menjadi sekertaris Kenzou.
"Sudah aku pecat"
"Kenapa?"
"Kamu tidak perlu tau kenapa aku memecatnya karena yang harus kamu tau, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan dulu, cukup dulu aku hampir gila karena kamu ninggalin aku dan aku tidak mau sampai benar benar gila kalo Ayah Herlangga mengambil mu dan anak kita dari diriku, aku tidak mau nanti ada kabar di media masa kalo CEO Jhonson Company gila di usia muda karena di tinggal istri dan anaknya itu tidak lucu Aleta"
"Hahahaha" Aleta tertawa lebar saat ucapan Kenzou yang terakhir membuatnya geli sendiri kalo sampai hall itu beneran terjadi.
Kenzou yang melihat Aleta tertawa lepas seperti itu membuat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Sempurna" satu kata yang sudah mewakili keseluruhan dari diri Aleta, wanita yang cantik, baik, penyayang, pemaaf, pintar masak, yang tengah mengandung buah hati mereka, dan satu yang penting Aleta mencintai Kenzou tanpa syarat, karena Aleta tidak memerlukan syarat saat mencintai dirinya.
"Aduh aduh perut ku sakit" kata Aleta dengan tawa kecil yang masih keluar dari mulutnya dengan tangan yang mengusap air mata yang keluar dari bola matanya karena terlalu banyak tertawa.
"Kualat sama suami" kata Kenzou membuat Aleta terkekeh geli.
"Tertawa lagi" kata Kenzou saat Aleta akan kembali tertawa.
"Enggak" kata Aleta yang berusaha berhenti dari tertawanya.
__ADS_1