
"Sekarang ini aku harus ke mana hiks..." tanya Aleta pada dirinya sendiri dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya.
"Au.... perutku...sakit banget..." kata Aleta yang langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan karena tidak mungkin Aleta mengendarai mobil dengan perut yang terasa sangat sakit.
"Maaf in Mommy sayang, maaf in Mommy yang udah ngambil keputusan sepihak untuk meninggalkan Daddy...hiks...hiks...tapi Mommy akan jadi Mommy sekaligus Daddy untuk kamu sayang" kata Aleta berbicara pada janinnya.
"Hp....dimana hp ku?" kata Aleta sambil mencari hpnya di saku celananya tapi ia tidak mendapatkan apa yang ia cari, Aleta membuka tas selempang miliknya dan Aleta baru menyadari kalo hp miliknya tertinggal di atas nakas di kamarnya saat ia tengah mencari kotak yang di maksudkan Mama mertuanya itu.
"Sial....kenapa harus pakai ketinggalan sih, dan kalo kaya gini aku tidak bisa menghubungi siapapun" kata Aleta frustasi tapi satu nama yang terlintas di otak nya saat ini.
"Vony..."
"Ya...Vony setidaknya saat ini aku butuh sandaran untuk mengeluarkan keluh kesah ku" kata Aleta yang langsung mengendarai mobilnya setelah perutnya terasa lebih baik.
***
Setalah sampai di rumah Vony, Aleta mermarkirkan mobilnya di halaman rumah Vony, dan langsung turun dari dalam mobil dan memencet bel pintu rumah sahabatnya itu.
"Sabar...." kata Vony dari dalam rumah saat bell rumahnya berbunyi berulang ulang kali yang membuat dirinya merasa jengkel.
"Sia..."
"Aleta...? tumben kamu ke sini?" tanya Vony saat melihat Aleta yang datang ke rumahnya. "Kamu kenapa?" tanya Vony lagi saat melihat raut wajah sedih dari wajah sahabatnya itu bersamaan dengan air mata yang tumpah.
"Vony...hiks...hiks..."Aleta langsung memeluk sahabatnya itu, Aleta yang tadi menahan rasa sakit di hatinya sekarang mengeluarkannya dengan menangis di pelukan sahabatnya itu. "hiks...hiks...hiks..."
"Hei....kamu kenapa? siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Vony saat Aleta tiba tiba menangis dalam pelukannya, tapi yang di tanya tidak menjawab pertanyaannya dan masih terus menangis.
"Menangislah keluarkan apa yang mengganjal di hatimu, ada aku di sini yang akan mendengar apapun masalah mu saat ini" kata Vony mengusap punggung sahabatnya itu yang bergetar Karena isakan tangisannya.
"Kita ke kamar yuk, biar lebih enak ceritanya" ajak Vony setelah melepaskan pelukannya yang mendapatkan anggukan dari Aleta.
"Minum dulu biar agak tenang" kata Vony menyerahkan satu gelas air putih pada Aleta yang duduk di atas kasurnya dan ia juga ikut naik ke atas kasur dan duduk di samping Aleta.
__ADS_1
"Sekarang cerita sama aku, kamu sebenarnya kenapa?" tanya Vony saat Aleta menundukan kepalanya.
"Aku gak tahan Von...hiks...hiks..."
"Gak tahan kenapa? dan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vony penasaran saat Aleta mulai terisak dengan tangisannya lagi.
"Kalo kamu gak cerita, kamu akan terus merasakan sakit itu seorang diri, setidaknya ceritalah biar aku juga bisa merasakannya" kata Vony sambil mengusap punggung Aleta.
"Ini tentang Kenzou..."
"Ada apa dengan suamimu itu?"
"Kenzou berubah Von..." kata Aleta lirih.
"Berubah?"
"Ada banyak penyebab mengapa pasanganmu berubah tapi satu yang pasti yaitu adanya orang ketiga dalam hubungan mu, dan apa Kenzou memiliki wanita lain?"
"Ya...dan orang ketiga itu bahkan orang yang sudah meninggal,yang tidak bisa hidup kembali" kata Aleta membuat Vony mengerutkan dahinya dalam.
"Dan sekarang aku memilih pergi, karena aku bukan wanita munafik yang kuat dengan semua ini" kata Aleta yang telah menceritakan semuanya pada Vony yang membuat Vony bisa merasakan sakit yang Aleta rasakan walau dirinya tidak mengalaminya.
"Aku akan menerima pelajaran kepada laki laki berengsek itu" kata Vony yang turun dari atas kasur tapi tangannya di tahan Aleta saat Vony ingin melangkah ke arah pintu.
"Von...udah, jangan cari masalah lagi, karena aku udah cukup lelah dengan semua ini"
"Tapi Aleta, sikap Kenzou itu tidak bisa di biarkan begitu saja, apa lagi dengan kondisi kamu yang tengah berbadan dua seperti ini" kata Vony yang tidak terima saat sahabatnya itu harus pergi dari rumahnya dengan keadaan hamil apa lagi yang membuatnya pergi adalah keberadaan seseorang yang sudah tiada.
"Udah Von... sekarang ini aku cuma butuh ketenangan"
"Tapi ini sudah kelewatan Aleta...." kata Vony yang masih tidak terima.
"Von...tolong pahami mau ku, hiks...hiks...hiks..." kata Aleta yang kembali menangis dengan kencang.
__ADS_1
"Okey...okey...aku tidak akan mencari masalah dengan suami mu itu, tapi jangan nangis lagi" kata Vony yang langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kamu masih punya aku, dan aku akan selalu ada buat kamu, aku akan selalu ada buat kamu seperti dulu walau keadaan mu yang seperti ini" kata Vony memenangkan sahabatnya itu.
"Dan, apa Ayah, Bunda mu tau tentang hall ini?" tanya Vony yang membuat Aleta melepaskan pelukannya.
"Tidak" jawab Aleta sambil mengelengkan kepalanya.
"Apa.... berarti kamu tidak pulang ke rumah orang tua mu itu?" tanya Vony yang membuat Aleta mengelengkan kepadanya lagi.
"Aku tidak mungkin pulang ke rumah Bunda dengan keadaan seperti ini, yang ada itu akan membuat Ayah marah besar dengan Kenzou" kata Aleta yang tidak ingin terjadi keributan hanya karena dirinya.
"Kenapa kamu masih melindungi laki laki itu, sedangkan dia saja sudah menyakiti mu seperti ini" kata Vony yang tidak habis pikir dengan jalan sahabatnya itu.
"Karena aku tidak mau Ayah berantem dengan Kenzou yang akan membuat persahabatan Ayah dengan Papah Kenzou rusak" jawab Aleta.
"Tapi Aleta, apa kau tidak berfikir kalo kau pergi seperti ini dan akan bercerai dengan Kenzou nantinya, itu juga akan membuat persahabatan mereka rusak cepat atau lambat, apa kau tidak berfikir akan hall itu?" tanya Vony yang membuat Aleta terdiam, dan membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya itu, cepat atau lambat kedua keluarga nya akan mengetahui hall itu, tinggal waktu saja yang ingin mempercepat atau memperlama akan hall itu.
"Sudah lupakan pertanyaan ku tadi, sekarang aku mau tanya sama kamu setelah ini kamu ingin tinggal di mana?" tanyanya Vony mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa kamu akan tinggal di apartemen atau kamu mau tinggal di rumah ku?" tanya Vony.
"Tidak keduanya"
"Terus kamu mau tinggal di mana dengan kondisi kamu yang sedang hamil seperti ini?
"Aku akan tinggal di rumah yang aku bangun beberapa waktu yang lalu" jawab Aleta mantap.
"Rumah...? kamu punya rumah?" tanya Vony kaget saat mendengar Aleta membangun rumah.
"Iyah...dan kamu bisakan antar aku melihat rumahku yang belum aku lihat sama sekali?" tanya Aleta yang mendapatkan anggukan dari Vony.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote,komen, dan beri hadiah.sama jangan lupa Follow ig Authorš¤ā„ļø
(Ig :Dellina_09)