
Berulang kali Kenzou mengusap wajahnya kasar, menghela nafas berat berharap kegelisahan pada hatinya sirna, bukannya sirna ke gelisah itu semakin membuncah pada hatinya. Mendongakan wajah mata Kenzou menangkap lemari yang berjarak beberapa meter dari nya.
Membuka sebuah laci Kenzou mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang sudah lama ia simpan dengan sangat baik, tapi tak memiliki keberanian untuk membukanya, alhasil kotak tersebut hanya bisa Kenzou peluk dengan sangat erat.
Setalah sekian lama tak menyentuh kotak berwarna merah tersebut potongan-potongan memori mulai bermunculan. Kenzou menjatuhkan tubuh di atas lantai saat perasaan hatinya semakin tidak menentu. Berulang kali Kenzou ingin melupakan memori-memori itu, tapi rasanya mereka enggan untuk pergi dari dirinya.
"Agh!" teriak Kenzou frustasi bersamaan bulir bening membasahi pipi. "Kenapa harus aku yang merasakan dan menjalani takdir hidup seperti ini? kenapa bukan orang lain saja!"
Jari jemari Kenzou semakin erat menggenggam kotak didekapnya. "Kenapa aku bisa sebodoh ini untuk kamu bohongi, kenapa aku bisa tak curiga sedikitpun dengan wajah polos mu itu!"
"Kalo saja kamu jujur dari awal, ini semua tidak akan pernah terjadi, tidak akan pernah!" tekan Kenzou pada kalimat terakhirnya.
Merasa teriak dan tangis tidak cukup untuk melupakan apa yang ia rasa, tangan Kenzou yang sejak tadi terkepal memukul marmer dihadapannya berulang kali, rasa sakit sudah tak Kenzou hiraukan bahkan darah segar sudah keluar dari sela-sela jari.
__ADS_1
Tanpa Kenzou sadari seorang yang baru saja membuka pintu kamarnya membulatkan mata melihat tingkahnya. "Dasar bodoh!" umpat Alan berlari ke arah Kenzou menahan tangan kekar tersebut untuk berhenti meskipun Kenzou terus berontak, Alan tak ingin sahabatnya menyakiti dirinya sendiri. "Cukup!" ucap Alan penuh penegasan.
Kenzou melayangkan tatapan tajam dengan mata yang sudah memerah. "Siapa yang menyuruh mu masuk!" Kenzou mendorong bahu Alan hingga pria itu tersungkur kebelakang. "Keluar!" Kenzou menunjuk pintu dengan tangan yang linang darah.
Melihat Kenzou yang tengah berada di puncak emosinya mengharuskan Alan yang bersikap sabar, karena kalo keduanya dalam keadaan emosi bisa-bisa menimbulkan perkelahian besar. "Zou"
"Keluar!" usir Kenzou dengan nada yang sama.
Kenzou terkekeh sinis dengan pandangan mata kosong. "Dia begitu membenci ku, sampai memilih jalan itu untuk meninggalkan ku"
Alan diam, masih fokus pada tangan Kenzou yang masih mengeluarkan darah. Sampai telinga Alan mendengar isakan tangis dari mulut Kenzou.
"Apa salah ku, sampai dia meninggalkan ku secepat ini"
__ADS_1
Alan menghela nafas pelan membalut perban terakhir pada tangan Kenzou, memasukan kembali obat-obatan kedalam tempatnya. "Sampai kapan kamu akan berada dikondisi seperti ini?" Alan melayangkan pertanyaan, menatap Kenzou yang hanya diam saja dengan pandangan kosong, terlihat pria itu tak memiliki arah hidup sekarang. "Kamu tau, mama, ayah, aku, bahkan seluruh karyawan dikantor mendapatkan dampak dari sifat mu ini"
Masih tak ada tanggapan dari Kenzou, membuat Alan kembali menghela nafas. "Luka mu sudah aku obati, sekarang istirahat lah" ucap Alan masih tak mendapatkan jawaban dari sang pemilik luka. Alan beranjak dari tempatnya meninggalkan Kenzou yang masih betah berada di atas lantai.
Kenzou semakin hanyut dalam lamunannya begitu Alan pergi. Memang Alan mengobati luka yang ada ditangannya, tapi tidak dengan hatinya. Cukup lama setelah kepergian Alan Kenzou memutuskan untuk menyegarkan tubuh, meletakan kembali kotak tersebut pada tempatnya. Mengisi bathub dengan penuh, menengelamkan seluruh tubuh pada dinginnya air sore.
Selepas membersihkan tubuh Kenzou keluar kamar mengenakan jaket kulit yang melekat sempurna pada tubuhnya, menuruni satu persatu anak tangga dengan cepat. Masuk kedalam mobil mengendarainya menuju suatu tempat, tak lupa pria itu mampir sebentar untuk membeli sesuatu.
***
Tak membutuhkan waktu lama kini Kenzou tiba ditempat tujuannya, tempat yang sangat sepi hanya ada dirinya dan sebuah batu nisan dihadapannya, terukir begitu sempurna sebuah nama yang sangat cantik diatas sana. Mendaratkan tangan Kenzou selalu membelai batu nisan tersebut dengan penuh perasaan.
"Aku datang untuk menjenguk mu"
__ADS_1