Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Kini Aleta tengah terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang masih tidak sadarkan diri, sedangkan Kenzou selalu berada di sisi Aleta dari Aleta masuk ke ruang IGD sampai di pindahkan ke kamar presidensuit, Kenzou tidak ingin meninggalkan istrinya itu walau hanya sebentar saja, dan tangan Aleta yang berada di genggaman tangannya tidak pernah ia lepaskan, yang ada hanya gumanan kecil yang keluar dari bibirnya meminta agar istrinya itu agar cepat membuka matanya.


Meski dokter mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi Aleta sekarang itu tidak membuat Kenzou lega, bahkan Kenzou masih di landa rasa cemas dan ia baru akan bernafas lega saat Aleta membuka matanya dan mengatakan sendiri bahwa dirinya tidak apa apa.


"Sayang bangun" entah sudah berapa puluh kali Kenzou berkata seperti itu dengan menempelkan tangan Aleta di pipinya dan menatap wajah Aleta yang masih di bawah alam sadarnya.


"Seharusnya kamu tidak perlu menjadikan dirimu untuk melindungi ku, karena aku pantas mendapat pukulan itu dari Ayah"


"Beruntung dokter mengatakan kalo anak kita baik baik saja, aku akan merasa sangat bersalah jika kamu dan anak kita sampai kenapa kenapa" lirih Kenzou sambil mengecup punggung tangan Aleta.


"Bangun Aleta aku mohon" mata Kenzou yang tadinya terlalu fokus pada wajah Aleta beralih menatap perut Aleta yang mulai membuncit, ukiran senyuman terlihat jelas di wajah tampannya, membuat tangan Kenzou satunya mengusap perut Aleta.


"Hay sayang, ini Daddy" kata Kenzou berbicara pada anaknya dan mengusap lembut perut Aleta. "Kamu di dalam lagi ngapain? apa kamu juga ikut tidur seperti Mommy kamu?" satu bulir bening lolos lagi dari mata Kenzou yang mulai memerah karena terlalu lama menangis.


"Maaf in Daddy sayang,maaf sudah membuat kalian tersiksa seperti ini, tapi Daddy janji akan menebus semua dosa Daddy sama kalian, dan mulai hari ini Daddy akan melindungi kalian, Daddy janji itu" kata Kenzou dan merasakan pergerakan dari dalam perut Aleta untuk pertama kalinya.


"Sayang"


"Apa itu kamu? kamu nendang sayang? kamu bisa nendang?" kata Kenzou dengan mata yang berbinar saat dirinya merasakan tendangan pertama kali dari dalam perut Aleta, Kenzou mengusap sisa air matanya dan menimbulkan senyuman yang lebih lebar dari tadi. "Apa kamu di dalam sana lagi main bola?" kata Kenzou dengan suara yang sangat bahagia saat mendapatkan satu tendangan kecil dari dalam perut Aleta.


"Kamu udah gak sabar ya mau keluar?"


"Nanti kalo kamu udah keluar Daddy akan beli in kamu mainan yang banyak jika perlu nanti Daddy bikin taman bermain untuk kamu"


"Dan Daddy dan Mommy akan temenin kamu main bola, atau kamu mau main masak masak an?, tapi ada syaratnya, kamu di dalam jangan nakal ya... kasian Mommy kalo kamu nakal"


"Anak pintar" kata Kenzou saat anaknya itu merespon ucapannya, perlahan tapi pasti Kenzou mendekatkan wajahnya ke perut buncit milik Aleta dan mencium perut Aleta dari samping, sungguh perasaan Kenzou kali ini sangat senang saat bisa mengusap, mencium dan merasakan pertumbuhan anaknya di dalam perut Aleta yang selama ini ia tidak berada di sisi Aleta melihat tumbuh kembang anaknya.


Aleta yang sudah bangun beberapa saat lalu memilih untuk berpura pura tidur dan mendengar pembicaraan Kenzou dengan anaknya membuat perasannya semakin tidak karuan saat anaknya dengan aktif merespon setiap ucapan Kenzou, mungkin anaknya juga tau kalo Kenzou adalah Ayahnya, mungkin anaknya kangen dengan Ayahnya,mungkin juga anaknya ingin merasakan ayahnya selalu berada di dekatnya.


Perasaan benci di hati Aleta pada Kenzou perlahan luluh dengan sikap Kenzou yang sangat sayang dengan buah hati mereka, perlahan Aleta membuka matanya sedikit dan melihat pemandangan yang indah saat Kenzou terus berbicara pada anaknya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


Apa dirinya terlalu jahat memisahkan Kenzou dari buah hatinya selama ini? Apa dia sudah bersikap terlalu egois meninggal Kenzou dan lebih mementingkan perasaannya sendiri dan mengorbankan anaknya? Apa dirinya sejahat itu selama ini?.


Satu air mata jatuh di peluk matanya saat Aleta merasa ia sudah bersikap sejahat itu tanpa memberikan Kenzou satu kesempatan untuk berubah, bukankah setiap manusia memiliki kesalahan? bukankah setiap manusia juga berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?, tapi entahlah perasaannya kini juga belum bisa memberikan jawaban yang tepat untuk hall ini.


"Aleta kamu sudah bangun?" kata Kenzou membuat Aleta sadar dari lamunannya. "Kenapa menangis? apa ada yang sakit? apa kepala mu sakit?" kata Kenzou dengan tatapan khawatirnya, tapi Aleta hanya diam saja dan menatap lekat raut khawatir yang begitu jelas di wajah Kenzou.


"Sebentar aku panggil kan dokter" kata Kenzou saat Aleta tidak merespon berbicaranya, saat Kenzou hendak pergi tapi Aleta mencegahnya saat tangan mereka masih bersatu.


"Aku baik baik saja" kata Aleta sambil tersenyum ke arah Kenzou, membuat Kenzou kembali duduk di kursi di samping ranjang Aleta.


"Kalo tidak ada yang sakit kenapa kamu menangis?" kata Kenzou dengan tangan menghapus air mata Aleta yang masih mengalir, Aleta hanya menjawab pertanyaan Kenzou hanya dengan gelengan kepala, sesaat tercipta keheningan di antara mereka yang ada hanya tatapan keduanya yang saling bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


"Maaf Aleta" kata Kenzou memecah keheningan yang terjadi di ruangan itu. "Maaf karena aku kamu lagi lagi tersakiti seperti tadi, bahkan bisa saja anak kita yang menjadi taruhannya"

__ADS_1


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan hall itu untuk ku, karena aku tidak pantas untuk hall itu setelah apa yang aku lakukan kepadamu selama ini" kata Kenzou yang langsung menundukan kepalanya saat air matanya mulai mengalir.


"Karena kamu suamiku". "Dan tidak ada seorang istri yang tega melihat suaminya di pukuli seperti tadi meski mereka memiliki masalah sebesar apapun itu"


"Dan aku melakukan itu juga karena dasar cinta" kata Aleta, membuat tubuh Kenzou mematung dan wajahnya perlahan menatap wajah Aleta yang juga masih menatapnya sambil tersenyum.


"Kamu bilang apa?" tanya Kenzou, mamastikan yang ia dengar tadi bukanlah halusinasi dirinya sendiri.


"Aku mencintaimu" kata Aleta dengan sangat jelas dan dengan senyuman yang tidak pudar dari wajahnya.


"A—aku lagi tidak mimpi kan?" tanya Kenzou dengan tatapan tidak percayanya.


"Apa kamu tidak suka?" tanya Aleta dengan cepat saat mendapati raut wajah Kenzou yang tidak bisa di artikan.


"B—bukan..."


"Apa kamu juga masih tidak bisa mencintai ku? apa kamu masih mencintai Clara?" tanya Aleta dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kenzou dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aleta, Aleta, bukan itu maksud aku, maksud a-aku"


"Maksud kamu kalo kamu sampai sekarang tidak bisa mencintai ku bukan? dan selamanya tidak akan bisa!" kata Aleta memotong ucapan Kenzou dan langsung membelakangi suaminya.


Kenzou yang melihat sifat Aleta yang tiba-tiba saja berubah membuatnya bingung sendiri, tangannya ingin meraih tubuh Aleta tapi dengan cepat ia menjauhkan tangannya dari tubuh Aleta takut Aleta akan semakin marah tapi sesaat kemudian Kenzou mendengar isakan kecil dari arah Aleta yang membelakangi dirinya.


Kali ini Kenzou memberanikan dirinya untuk naik langsung ke ranjang dan benar saja ia dapat melihat sedikit ada air mata yang keluar dari mata Aleta. "Aleta" panggil Kenzou lembut, tapi yang terdengar hanyalah isakan kecil dari mulut Aleta.


"Bohong!"


"Tidak Aleta aku berani sumpah kalo aku tidak bohong"


"Sebaiknya kamu pergi dari sini Zou" kata Aleta dengan posisi yang masih sama, sedangkan Kenzou bukannya turun dari atas ranjang tapi langsung memeluk tubuh Aleta dari belakang.


"Tidak Aleta jangan suruh aku pergi untuk kesekian kalinya,karena aku tidak ingin kehilanganmu dan calon anak kita untuk yang kesekian kalinya juga"


"Kamu boleh marah sama aku,kamu boleh hukum aku, bahkan kamu juga boleh membunuhku sekarang juga,aku lebih memilih mati di tangan mu dari pada kamu menyuruhku untuk meninggalkan mu karena aku tidak bisa melakukan itu dan tidak akan pernah bisa Aleta" lirih Kenzou dengan air mata yang kembali jatuh.


"Hiks...hiks...Aku benar benar cinta sama kamu Zou, aku benar benar sayang sama kamu, aku benar benar tidak bisa kehilangan kamu, dan aku benar benar akan gila juga karena dirimu"


Perkataan Aleta membuat tangan Kanzou langsung membalikkan badan istrinya itu dan menghapus air mata yang masih mengalir dari dua bola matanya, "Kita gila bersama-sama, karena aku juga sangat mencintaimu" kata Kenzou saat tubuh Aleta sudah menghadap dirinya


Aleta hanya diam saat mendengar penuturan cinta dari mulut Kenzou yang selama ini ia tunggu, Aleta menatap lekat bola mata suaminya itu mencari kebohongan dari bola mata indah itu,tapi ia tidak mendapatkannya.


"Aku mencintaimu Aleta Quenby Elvina Jonhnson" kata Kenzou membalas tatapan mata Aleta membuat Keduanya hanyut dengan tangan satu sama lain, perlahan Kenzou mendekatkan wajahnya ke wajah Aleta mengikis jarak di antara mereka, mata Kenzou tertuju pada bibir merah milik Aleta.


Aleta yang melihat wajah Kenzou semakin mendekat perlahan memejamkan matanya saat jarak di antaranya tinggal beberapa centi lagi, bahkan Aleta bisa dengan jelas merasakan deru nafas Kenzou yang mengenai wajahnya, Kenzou yang melihat tidak afa penolakan dari Aleta langsung mendaratkan bibirnya di bibir merah milik Aleta.

__ADS_1


Ciuman yang tadinya hanya menjadi ciuman ringan berubah menjadi ciuman yang saling menuntut satu sama lain, Kenzou menarik pinggang Aleta agar semakin mendekat ke tubuhnya, mengisap, menyesap dan kecakapan kecil yang keluar dari dua mulut itu memecah keheningan di raungan presidensuit itu.


"Aku mencintaimu Aleta" kata Kenzou melepaskan ciumannya saat Aleta hampir kehabisan nafas, dan menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya ke belakang telinga Aleta.


"Apa itu dari hati?" tanya Aleta sambil menunjuk dada Kenzou.


"Iyah, bahkan seluruh hatiku untuk mu" kata Kenzou yang masih sibuk memandangi wajah Aleta.


"Kamu tidak bohongkan?"


"Kamu bisa membunuhku kalo sampai aku berbohong"


"Dan aku akan benar benar membunuh mu,kalo sampai suatu saat nanti kamu berbohong"


"Maka aku akan dengan senang hati untuk kamu bunuh saat itu juga" kata Kenzou sambil tersenyum ke arah Aleta membuat Aleta salah tingkah dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Kenzou.


"Kenapa pipi kamu merah seperti itu?" goda Kenzou.


"Panas" jawab Aleta asal.


"Benarkah?" tanya Kenzou memastikan dan mendapatkan anggukan dari Aleta. "Kalo begitu biar aku bantu buka bajunya" goda Kenzou dengan tangan yang mengarah ke kancing baju Aleta.


"Jangan macam macam ini rumah sakit" kata Aleta yang langsung menepis tangan Kenzou.


"Siapa yang macam macam, aku hanya ingin membantumu bukankah kamu tadi bilang panas? makanya aku dengan senang hati ingin membantu kamu yang sedang sakit"


"Zou!"


"Iyah Iyah tidak jadi" kata Kenzou yang memilih mengalah saat Aleta menatapnya tajam.


"Dan apa ini artinya kamu sudah memaafkan aku?" tanya Kenzou.


"Tidak sepenuhnya, aku hanya ingin melihat kesungguhan cintamu itu untuk ku, dengan memberikan satu kesempatan lagi untuk mu"


"Apa kamu yakin?"


"Tidak ada salahnya memberikan satu kesempatan untuk suami sendiri"


"Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu kasih"


"Aku harap juga begitu, karena aku tidak akan memaafkan mu kalo sampai kamu melakukan kesalahan yang sama lagi"


"Iyah". "Apa kita sudah boleh melakukan itu?" tanya Kenzou sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak!" tolak Aleta dengan cepat.

__ADS_1


"Hahaha.....aku hanya bercanda Aleta" kata Kenzou saat melihat rona kepanikan dari wajah istrinya itu.


Walaupun begitu Kenzou kembali ingin menyatukan bibir mereka saat tidak ada penolakan dari Aleta, tapi bunyi pintu membuat Kenzou langsung menjauhkan wajahnya dari Aleta membuat pasutri itu menghela nafas kasar.


__ADS_2