
Aleta sudah di pindahkan ke ruang rawat bersama dengan Baby Aluna saat dokter sudah memastikan keadaan Aleta baik-baik saja. Kenzou duduk di pinggir ranjang Istrinya melihat kedua orang yang terus mengendong anaknya yang tengah tidur itu.
"Sayang lihat dia lucu sekali" ucap wanita itu menoel hidung baby Aluna.
"Iyah dia juga sangat cantik" imbuh Brian mengusap pipi baby Aluna yang gembul.
Sedangkan Aleta dan Kenzou hanya menatap kedua orang yang tengah memainkan wajah anaknya itu dengan tatapan bingung.
"Zou siapa namanya?" tanya Brian yang tidak mengalihkan pandangannya dari baby Aluna.
"Aluna" jawab Kenzou singkat.
"Hai Aluna"
"Brian siapa wanita ini?" tanya Aleta untuk menghilangkan rasa penasarannya.
Brian yang mendapatkan pernyataan itu menatap wajah Aleta yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Ini namanya Keyla kekasih ku" ucap Brian menarik pinggang Keyla agar mendekat ke arahnya.
"Kekasih?" ucap Aleta dan Kenzou secara bersamaan mereka saling pandang dan kembali menatap wajah Brian yang tersenyum ke arah keduanya.
"Iyah kenapa kalian bisa kaget seperti itu?, bahkan rencananya kita akan menikah satu bulan lagi" lanjut Brian tersenyum menatap wajah Keyla yang mulai merona karena malu.
"Menikah?" lagi-lagi Aleta mengatakan hall itu secara bersamaan dengan sedikit keras membuat mereka langsung menutup mulutnya tidak ingin menganggu tidur baby Aluna.
Brian yang melihat itu merasa kesal apa lagi ekspresi wajah pasangan suami istri terlihat seperti meragukannya. "Iyan memang kenapa? apa kau masih mencintai ku Ale?" goda Brian menatap wajah Aleta yang sedikit kaget.
"Kau mau mati?!" raung Kenzou, Aleta menahan tangan suaminya itu agar tidak bangun dari duduknya.
"Sayang ini rumah sakit" Aleta mencegah suaminya itu untuk tidak membuat keributan di rumah sakit.
"Aku hanya bercanda Zou, lagian kenapa wajah kalian seperti meragukan ku seperti itu?"
"Aku cuma tidak menyangka orang jelek seperti dirimu ada yang mau juga ternyata" cibir Kenzou membuat Aleta menahan tawanya.
"Jangan tertawa Aleta!, walau suami mu itu mengatai ku jelek dulu kau juga mau saja pacaran dengan ku" kini gantian Brian yang mencibir mantan kekasihnya itu.
"Itu dulu sekarang seleraku sudah naik level apa lagi suamiku lebih kaya dari pada dirimu"
Kenzou yang mendengar itu tersenyum ke arah Aleta mengusap kepala istrinya lembut. "Pintar sekali"
Keyla yang melihat itu hanya mengelengkan kepalanya. Keyla juga sudah tau kalo Aleta adalah mantan kekasih Brian karena kekasihnya itu sudah menjelaskan tentang semua masalalunya sebelum Brian melamarnya bahkan dirinya juga ikut menyalahkan Brian saat pria itu meninggalkan Aleta begitu saja saat keluar negeri hanya untuk meneruskan studi kuliahnya, tapi di sisi lain Keyla juga bersyukur dengan kejadian itu dirinya bisa bertemu dengan Brian pria yang baik.
Ceklek...
Semua mata menatap ke arah pintu dimana Ratih,Ana, Herlangga, dan Baskara melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap Aleta. kedua Oma itu menaruh barang bawaan mereka ke atas sofa dan langsung berjalan ke arah Keyla mengambil alih cucu pertamanya itu ke dalam pelukannya.
"Tampan sekali" Ratih yang mengendong anak Aleta mencium kedua pipi itu.
"Iyah tampan seperti Ayahnya" imbuh Ana yang sangat gemas dengan cucunya itu.
"Ma bukan tampan tapi cantik" ralat Kenzou membuat ke empat pasang mata menatapnya bingung.
"Bukannya anak kamu laki-laki? kenapa di bilang cantik?" tanya Baskara.
"Dia perempuan pah gak jadi laki-laki" ucap Kenzou.
"Kenapa bisa seperti itu?" kini gantian Herlangga yang menatap wajah menantunya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Kenzou juga tidak tau kenapa jenis kelaminnya bisa berubah seperti itu"
"Sudahlah mau perempuan atau laki-laki itu tidak penting yang penting sekarang kita sudah jadi nenek-nenek" Ana melerai kebingungan yang terjadi di ruangan itu.
"Jeng gantian dong" Ana yang tidak sabaran langsung mengambil alih baby Aluna dari gendongan Ratih.
"Baru juga sebentar gendongnya" ucap Ratih memberikan baby Aluna ke gendong Ana.
"Siapa namanya?" tanya Ana yang ingin mengetahui nama cucu cantiknya ini.
"Aluna Quenbyanza Putri Jhonson" kata Kenzou menjawab pertanyaan sang Mama.
"Hay Aluna ini oma Ana, nanti kalo udah besar oma bakal ajarin kamu untuk mendisain baju" semua orang mengelengkan kepalanya melihat Ana yang sudah berfikir terlalu jauh saat cucunya saja baru lahir.
"Brian? kamu juga ada di sini?" tanya Ratih yang baru sadar ada keberadaan Brian di sana.
"Iyah tan" jawab Brian tersenyum canggung karena ia dan Keyla seperti orang asing di sana.
"Kenapa bisa di sini?" tanya Herlangga menatap wajah Brian dan beralih menatap wanita yang berdiri di samping Brian. "Dan siapa dia?" tunjuk Helangga pada Kayla.
"Saya di sini karena tadi saat di perjalanan melihat Kenzou yang berdiri di pinggir trotoar dengan mengendong Aleta yang tengah merasakan sakit dan ternyata Aleta mau melahirkan makanya saya bantu Kenzou membawa Aleta kesini" jelas Brian.
"Dan ini namanya Keyla tunangan saya yang sebentar lagi akan jadi istri saya bulan depan" lanjut Brian memperkenalkan Keyla pada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kamu mau menikah?"
"Iyah tan, karena Brian juga tidak mau kalah sama Aleta yang sudah punya anak bahkan rencananya Brian akan buat banyak anak nantinya" ucapan Brian membuat wanita di sampingnya menundukan wajahnya malu, Keyla merupakan orang yang pendiam saat bersama oran yang baru saja ia kenal.
"Wah, selamat ya Brian dan jangan lupa undang tante" ucap Ratih dan Brian menganggukan kepalanya.
"Kalo begitu Brian pulang dulu tante, om Brian masih ada urusan untuk ngecek gedung yang Brian sewa" Ratih menganggukan kepalanya mengizinkan Brian dan Keyla keluar dari ruang rawat inap Aleta.
"Mobil Kenzou terjebak macet Bun saat perjalanan kesini dan Kenzou sudah menyuruh Alan membawanya ke sini mungkin sebentar lagi orangnya datang"
"Oh...." setelah itu semua orang kembali fokus pada bayi mungil yang ada di dalam gendongan Ana.
"Lihat kita yang bikin tapi mereka yang tidak henti-hentinya mengendong Aluna" ucap Kenzou saat gantian Herlangga yang mengendong anaknya.
"Kalo kamu mau ikut mengendong Aluna kamu harus sabar" kata Aleta.
"Gimana kalo kita bikin yang baru" Kenzou menaik turunkan alisnya.
"Jangan ngaco! aku baru saja melahirkan dan itu rasanya sangat sakit!" Aleta memberikan tatapan tajam pada suaminya itu.
"Aku hanya bercanda Aleta, lagian aku tidak akan meminta anak lagi dalam waktu dekat tapi kalo membuatnya tidak boleh berhenti" Mendengar itu Aleta memutar bola matanya matanya malas.
"Aleta!" suara keras nan cempreng itu membangunkan baby Aluna yang baru saja di pindahkan ke gendongan Baskara.
"Vony!" kesal Aleta saat anaknya menangis karena suara laknat itu.
Sedangkan Vony hanya cengar-cengir menatap wajah satu persatu orang yang ada di dalam sana yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal apa lagi Baskara yang baru saja ingin mengendong cucunya membuat orang yang ada di belakang tubuhnya menjitak kepala wanita itu lumayan keras.
"Au, sakit bego!" kesal Vony menatap wajah Alan.
"Kalo ngomong di rem dodol! ini rumah sakit bukan hutan!" kesal Alan berjalan terlebih dahulu mendekat ke ranjang Aleta.
"Keluar lo! istri gue mau ngasih asih buat anak gue!" usir Kenzou pada sahabatnya itu.
"Tapi gue baru datang dan lo udah usir lagi?"
__ADS_1
"Cepat keluar atau gue yang ngeluarin lo dari sini" tekan Kenzou pada kalimat terakhirnya.
Alan memutar bola matanya malas dan kembalu berjalan keluar dari ruang rawat Aleta dengan menatap tajam wajah tanpa dosa milik Vony.
"Apa lo liat-liat? mau gue culek tu mata hah?" Vony mengarahkan kedua tangannya pada mata Alan yang menatapnya.
"Dasar wanita gila!" ucap Alan dan langsung berjalan keluar.
"Lo yang gila!"
Setelah pintu ruang rawat Aleta tertutup Vony berjalan ke arah ranjang Aleta yang tengah menyusui baby Aluna yang sempat terbangun karena suaranya.
"Maaf ya Aleta"
"Lain kali suaranya di kecilin Von"
"Iyah nanti gue servis" Aleta mengelengkan kepalanya saat sahabatnya itu malah bercanda.
"Hay tampannya aunty, uluh-uluh kamu laper ya sayang?" Vony menoel pipi baby Aluna yang tengah menyusu.
"Anak gue perempuan bukan laki"
"Bukannya kata lo kalo anak lo laki-laki?"
"Panjang ceritanya" ucap Aleta yang malas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo kemana aja? kenapa baru jengukin gue sekarang?" tanya Aleta.
"Gue sibuk pasti lo juga udah denger kan kalo sebentar lagi gue bakal jadi CEO" Aleta memang sudah tau sahabatnya itu sebentar lagi akan menjadi CEO di perusahaan Ayahnya tapi apa ia sampai hilang kabar seperti ini?.
Vony yang gemas dengan baby Aluna terus mengusap pipi gembul itu lembut. kening Aleta menimbulkan sebuah garis saat melihat sebuah cincin mas melingkar di jari manis sahabatnya, di raihnya tangan Vony yang mengusap pipi Aluna di lihatnya secara teliti cincin itu.
Tangannya yang tiba-tiba saja di raih oleh Aleta membuat Vony langsung menarik kembali tangannya tidak membiarkan Mommy Aluna itu untuk melihatnya lebih lama lagi.
"Itu kaya cincin tunangan" ucap Aleta.
"Lo-lo apaan sih mana ada cincin pertunangan"
"Terus tu cincin apa?"
"I-ini cincin dopres tuju belasan kemarin"
Aleta menatap tak percaya wajah Vony mana mungkin sahabatnya itu mengikuti lomba seperti itu?. "Mana ada dopres cincin mas kaya gitu?"
"Lo gak percaya?"
"Ya gak lah, cuma orang bego yang percaya dapat cincin mas saat tujuh belasan"
Vony mengaruk kepalanya yang tidak gatal memang sahabatnya itu sangat susah untuk di bohongi. "Ya-yaudah kali kalo lo gak percaya terserah tapi itu kenyataannya.
"Terus kenapa lo bisa datang bareng Alan?" masih dengan penasarannya Aleta mengintrogasi sahabatnya.
"Gu-gue gak sengaja ketemu sama tu orang di parkiran"
Aleta mengerutkan keningnya lagi-lagi. "Terus siapa yang ngasih tau lo kalo gue lahiran hari ini?"
"Sial! banyak benget pertanyaannya"
"Sayang udah jangan di tanya in terus Vony nya kasian" Ratih mengambil alih Aluna dari pelukan Aleta saat cucunya itu sudah kenyang.
__ADS_1
Akhirnya Aleta menghentikan pertanyaannya saat Alan juga sudah ikut berkumpul di sana menambah keraiman di ruang rawat Aleta saat Vony dan Alan yang terus saya mengejek satu sama lain.