Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Bonus Chapter (5)


__ADS_3

Sembilan bulan berlalu begitu sangat cepat, Aluna yang dulunya sangat rewel dan susah makan sekarang menjadi anak yang sangat pintar dan mandiri bahkan Aluna selalu menolak sang oma yang ingin memandikannya dengan alasan kalo dirinya sebentar lagi menjadi kakak dan seorang kakak tidak lagi di mandikan, membuat Ana dan Ratih yang bergantian menjaga Aluna mengeleng kepala saat mendengar hall itu.


Usia kandungan Aleta yang juga sudah memasuki bulan kesembilan membuat Kenzou mengambil cuti selama satu bulan untuk menemani istrinya di rumah. Menyerahkan semua perkejaan untuk sementara waktu pada Alan yang kebetulan juga sudah mulai masuk kerja setelah menemani sang istri yang baru saja melahirkan.


Mendudukkan tubuhnya di hadapan Aleta yang tengah menyandarkan punggungnya di headboar tempat tidur Kenzou mengoleskan crim untuk mengurangi stretch mark pada kulit Sang istri. Sesekali Kenzou mengajak anaknya bicara saat mendapatkan respon dari janin yang ada di dalam perut Aleta.


"Aluna dimana?" tanya Aleta yang tidak mendengar teriakan atau suara putrinya.


"Aluna sama Mama ke rumah Alan" kata Kenzou meletakan crim di atas nakas setelah mengoleskannya pada kulit Aleta.


Aluna yang mendengar bahwa adiknya dari mama Vony sudah lahir dua bulan lalu membuat gadis kecil itu sering sekali mengajak sang oma ke rumah Vony untuk melihat adik laki-lakinya bahkan kadang juga Aluna memutuskan untuk tidur di rumah sahabatnya itu.


"Kalo kamu merasakan sakit atau kram pada perutmu cepat beritahu aku, jangan menyembunyikannya seperti tahun lalu"


Aleta tersenyum mendengar hall itu, sudah puluhan kali Kenzou mengatakan hall seperti itu pada dirinya bahkan hampir setiap jamnya Kenzou memastikan apa sudah ada tanda-tanda atau belum kalo anaknya mau lahir.


Senyuman Aleta seketika surut saat merasakan kontraksi pada perutnya membuat Kenzou yang duduk di hadapannya memasang raut wajah khawatir.


"Kamu kenapa?" tanya Kenzou saat Aleta memegang perutnya.


Aleta sebenarnya sudah merasakan kontraksi pada siang hari tadi tapi kontraksi yang ia rasakan masih kontraksi palsu dalam jangka waktu yang lumayan lama juga.


"Perut aku sakit" ringis Aleta.


"Kita kerumah sakit sekarang" tanpa berfikir panjang Kenzou langsung menggendong tubuh Aleta membawanya keluar dari dalam kamar menggunakan lift.


Sampainya di lantai dasar ia berpapasan dengan Ana yang baru saja pulang dengan Aluna yang ada di dalam gendongannya. Menatap wajah anak dan menantunya secara bergantian Ana berjalan mendekat.


"Aleta kenapa?"


"Kayaknya Aleta mau melahirkan ma, jadi Kenzou mau bawa Aleta ke rumah sakit"


Mendengar menantunya akan lahiran membuat Ana juga sedikit panik. "Ya sudah bawa Aleta sekarang kerumah sakit"


Kenzou menganggukan kepalanya. "Kenzou titip Aluna ma"


"Iyah" setelah mengatakan hall itu Kenzou langsung membawa Aleta masuk ke dalam mobil.


Mendengari mobilnya dengan kecepatan penuh Kenzou berusaha secepat mungkin tiba di rumah sakit, sesekali pria itu menatap raut wajah sang istri yang duduk di sampingnya.


"Sayang tahan ya" Kenzou mengusap pucuk kepala Aleta yang tengah mengatur nafasnya. Aleta menganggukan kepalanya pelan.


Dokter melati yang mendapatkan kabar dari Ana kalo Aleta mengalami kontraksi dan sedang perjalanan ke rumah sakit dengan sigap dokter melati dan dua dokter lainnya menyiapkan keperluan persalinan Aleta karena istri CEO itu menginginkan melakukan persalinan secara normal.


Mobil Kenzou berhenti di depan rumah sakit yang sudah di sambut empat orang suster yang di tugaskan dokter melati untuk membawa Aleta langsung ke ruangan persalinan kalo dirinya sudah sampai.


"Sudah pembukaan ke tujuh, kita masih harus menunggu beberapa jam lagi sampai pembukaannya sempurna"


"Apa?, menunggu?, apa tidak bisa lahiran sekarang?" Kenzou menatap tak percaya kepada wajah dokter melati.


"Tidak bisa tuan karena itu sudah prosedur lahiran secara normal" kata dokter melati yang beralih pada layar monitor untuk mengecek detak jantung dan posisi sang bayi.


Setalah menunggu beberapa jam agar pembukaannya sempurna akhirnya tim dokter melakukan prosedur melahirkan secara normal.


Berbeda dengan tahun lalu Aleta kini melampiaskan rasa sakitnya pada lengan Kenzou bahkan rambut lurus Kenzou yang tadinya tertata rapi sekarang harus sedikit berantakan karena cengkraman kuat dari sang istri.


Kenzou meringis kesakitan berusahalah menjauhkan tangan sang istri dari rambutnya karena ia bisa merasakan beberapa helai rambutnya tercabut, bukannya melepas Aleta semakin kuat mencengkram tubuh suaminya membuat ruang persalinan itu di penuhi suara dari suami istri yang masing-masing tengah merasakan sakitnya.


Tidak membutuhkan waktu lama suara tangisan bayi yang begitu melengking terdengar di ruang itu, seorang bayi yang sangat tampan telah lahir ke dunia membuat Aleta bernafas lega saat mendengar suara tangisan sang anak. Melepaskan tangan sang istri dari rambutnya Kenzou mengusap kulit kepalanya yang terasa sakit membuat beberapa dokter dan suster menahan tawa mereka.


***


Aleta kini sudah di pindahkan ke ruang presidensuit dimana Ratih dan Herlangga sudah ada di sana yang tengah mengendong cucu kedua mereka yang tengah tertidur setelah mendapatkan asupan makanan dari sang Mommy.


"Siapa namanya?" tanya Herlangga beralih menatap Aleta dan Kenzou yang ada di atas brankar.


"Alvaro Febrian Putra Jonhnson"


"Baby Al" ucap Ratih antusias setelah mendengarkan nama cucunya.


Setelah puas menimang cucu baru mereka Herlangga dan Ratih pamit pulang untuk bergantian menjaga Aluna. Kenzou dan Aleta manggukan kepalanya karena memang Aluna yang masih kecil tidak di perbolehkan ke rumah sakit takut akan terpapar virus.


Baru saja ruangan kamar Aleta tertutup kini kembali terbuka dimana Alan dan Vony yang datang menjenguk.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu?" tanya Vony menatap sahabatnya yang tengah berbaring di atas brankar.


"Masih sedikit lemas" jawab Aleta tersetrum.


Beralih menatap boks yang ada di samping sahabatnya perlahan Vony mengangkat tubuh mungil itu. "Halo sayang, siapa namanya?"


"Alvaro" Aleta menjawab pertanyaan sang sahabat yang masih sibuk mencium pipi Alvaro.


"Kalo kamu disini anak kamu sama siapa?" tanya Aleta.


Meletakan Alvaro di dalam boks bayi secara perlahan baru ia menjawab pertanyaan yang di layangkan sahabatnya. "Tadi aku meminta Mama menjaga sebentar agar aku bisa menjenguk mu" Aleta menganggukan kepalanya paham.


"Aku kira anak kamu perempuan lagi" ucap Alan yang berdiri di samping Kenzou.


"Kenapa memang kalo perempuan?" tanya Kenzou yang tak paham dengan ucapan sahabatnya.


"Padahal rencana awalnya aku ingin menjodohkan anak ku dengan anak mu" kata Alan yang tanpa ia sadari mendapat tatapan tajam Aleta.


"Apa katamu? apa kau ingin membuat anak ku menikah tanpa cinta seperti aku dulu?" geram Aleta.


Mendengar itu Alan menelan salivanya dengan susah payah.


"Dengar! aku tidak akan pernah menjodohkan anak ku nantinya! biar saja mereka menikah dengan pilihan mereka masing-masing!"


"Sayang jangan marah-marah kamu baru saja melahirkan" Kenzou mengusap pundak sang istri.


"Apa kamu membelanya?" kini gantian Kenzou yang mendapatkan semburan amarah dari sang istri.


"Ti-tidak sayang, aku tidak membela Alan hanya saja Alan cuma bercanda" ucap Kenzou lembut.


"Iyah Aleta aku hanya bercanda" imbuh Alan dengan menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka dua.


"Sudahlah kamu tidak perlu mendengar ucapan Alan kadang memang seperti itu orangnya bahkan Mama saja sampai geram sendiri karena ucapan blak-blakannya"


"Sayang kenapa kamu bilang seperti itu?" Alan berjalan mendekat ke arah Vony menarik pinggan?" ramping sang istri agar mendekat kearahnya.


"Karena itu kenyataannya" Vony memutar bola matanya malas.


"Tapi kamu sayangkan?"


"Iri gue" goda Aleta saat melihat Alan terus mencium pipi sang istri.


"Kamu mau?" Kenzou menundukan wajahnya menatap lekat wajah Aleta yang perlahan mulai memunculkan rona merah.


"Aa-apa sih" Aleta memalingkan wajahnya tidak kuasa menahan malu.


Melihat hall itu Kenzou juga mendaratkan bibirnya di bibir merah milik Aleta membuat Alan dan Vony membulatkan matanya.


"Astaga Kenzou!!!" teriakan itu membuat Kenzou menegakan kembali tubuhnya.


"Mama?" dengan tersenyum kuda Kenzou menatap wajah kedua orangtuanya secara bergantian.


Ana berjalan mendekat ke ranjang menantinya di cubitnya pinggang sang putra lumayan keras membuat Kenzou merintih kesakitan.


"Auauau, sakit Ma"


"Dasar nakal!, istri kamu baru saja melahirkan dan kamu langsung main sosor aja" Ana yang kembali ingin mendaratkan sebuah cubitan membuat Kenzou langsung menghindar dari amukan sang Mama.


"Ma sudah kasian Kenzou nya" ucap Aleta tak tega saat melihat Kenzou yang terus menghindar.


"Iyah ma, jangan brisik nanti cucu mama bangun" imbuh Vony membuat Ana seketika berhenti mengejar Kenzou.


Berjalan ke arah boks Ana menatap wajah cucu keduanya. "Sayang kalo sudah besar jangan nakal seperti Daddy kamu ya"


"Kok Kenzou lagi ma?"ucap Kenzou tak terima.


"Sayang udah" lerai Aleta meminta agar sang suami tidak mengatakan hal yang memancing emosi sang Mama.


***


Aleta yang sudah di perbolehkan pulang kerumahnya mendapat sambutan hangat seluruh keluarga apa lagi orang tua Vony dan Mama Alan juga ikut serta dalam menyambut kepulangannya. Aluna yang sangat penasaran dengan wajah sang adik mendudukan tubuhnya di antara kedua orangtuanya gadis kecil itu mengusap pelan wajah sang adik yang tengah asik tertidur.


Semua orang yang menyaksikan itu tertawa gemas karena tingkah Aluna.

__ADS_1


"Kalian juga kapan nih kasih mama cucu lagi?" tanya Ana menepuk pelan paha Vony yang tengah mengendong anaknya.


"Kalo Alan sih siap-siap saja ma, tergantung Vony nya"


Beralih menatap sang suami Vony melayangkan tatapan tajam. "Kamu enak bikin doang tanpa tau rasa sakitnya bagaimana!"


"Ingin rasanya aku membuang semua rambut mu itu agar kamu tau bagaimana rasa sakitnya melahirkan!" ucapan Vony membuat Alan dan Kenzou bergidik ngeri membayangkan kalo sampai hall itu terjadi.


"Udah dong jangan marah lagi, kamu mau punya anak lagi atau tidak itu urusan belakangan yang penting sekarang aku sudah mendapatkan satu anak dari dirimu" ucap Alan mengecup singkat kepala sang istri yang tengah mengendong putra mereka.


"Jangan cium-cium" semua orang menahan tawanya saat Vony yang juga masih tidak bisa berubah dengan sifat galaknya itu.


"Sama istri sendiri juga, masak gak boleh"


"Gak boleh!"


"Ya sudah aku mau cium janda yang ada di samping rumah Kenzou saja" mendengar itu Vony membulatkan matanya.


"Kamu berani?"


"Berani"jawan Alan penuh keyakinan.


"Ya sudah sana pergi, tapi jangan harap satu bulan ini kamu tidur di kamar"


Tubuh Alan seketika lemas saat mendengar ancaman itu membuat semua orang tertawa lepas melihat wajah memelas Alan. "Sayang kok gitu?"


"Bodoamat"


"Satu bulan bro" ucap Kenzou memanas-manasi.


"Lo juga sama, libur satu bulan karena bini lo yang baru melahirkan" mendengar itu tawa Kenzou seketika surut saat ia hampir lupa dengan kenyataan dirinya sendiri.


"Mampus lo" lanjut Alan yang sangat senang mendapati reaksi wajah Kenzou.


"Sayang" rengek Kenzou menatap wajah istrinya memelas.


"Apasih" Aleta yang malu di lihat banyak keluarga memilih membawa Alvaro ke lantai dua di ikuti sang Kakak-Aluna.


***


Malam harinya Kenzou dan Aleta berada di atas tempat tidur dengan Aluna dan Alvaro yang ada di tengah mereka karena sang putri yang menginginkan tidur bersama adik barunya. Menceritakan dongeng seperti biasa untuk Aluna sampai putri mereka tertidur baru Aleta dan Kenzou merebahkan tubuhnya mereka yang lelah karena seharian ini menjaga dua orang malaikat kecil mereka.


Aleta mendaratkan kecupan kecil secara bergantian di pipi Aluna dan Alvaro yang sudah tertidur sangat pulas.


"Mereka lucu ya" guman Aleta dengan suara lirih memperhatikan secara bergantian wajah putra dan putrinya.


Kenzou tersenyum mendengar itu. "Iyah"


"Terimakasih Aleta" ucap Kenzou membuat Aleta mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.


"Buat?"


"Terimakasih sudah mau jadi istri dan ibu dari anak-anakku"


"Kamu tau menjadi seorang istri itu sudah menjadi kodratnya seorang perempuan tapi menjadi ibu itu adalah anugrah terbesar yang tuhan kasih pada wanita walau aku yakin banyak di luar sana wanita yang menginginkan menjadi seorang ibu"


"Bahkan kalo aku kasih semua hartaku pada mu aku pikir itu masih kurang dengan apa yang sudah kau kasih untuk ku"


"Apa kau serius ingin memberikan ku semua harta mu?, dan apa kau juga sudah siap menjadi miskin mantunya?" goda Aleta.


Kenzou terkekeh kecil agar tidak mengganggu anak-anaknya. "Kenapa tidak?"


Aleta meraih tangan suaminya menggenggam lembut tangan kekar itu dengan rasa penuh bahagia. "Aku tidak memerlukan harta mu Zou, kau sudah mau mencintai ku saja itu lebih dari apapun yang aku miliki saat ini"


Kenzou mengembangkan senyumannya. "I love you Aleta"


"I love you Kenzou Febrian Putra Jonhnson" balas Aleta. Keduanya perlahan memejamkan matanya menyusul kedua buah hati mereka masuk ke alam mimpi untuk menyambut hari esok yang lebih bahagia lagi dari hari ini.


Aleta dan Kenzou yang dulu menikah karena perjodohan bahkan cinta pun tidak mereka miliki sebelumnya membuat mereka terpaksa menikah untuk menepati janji kedua orang tua mereka.


Kenzou yang dulunya tidak bisa melupakan sang mantan kekasih membuatnya berfikir cinta terakhirnya adalah seorang yang sudah di ambil oleh tuhan untuk selamanya. Tapi siapa sangka, tuhan menghadirkan Aleta wanita yang cantik dan baik untuk menjadi pendamping hidupnya walau perjalanan cinta mereka tidak semulus jalan tol tapi tuhan tetap mempersatukan mereka dengan caranya sendiri.


Dan menjadi istri kesayangan pun tidak semudah membalikan telapak tangan, rintangan, hambatan, lika-liku hidup yang membuat Aleta harus sampai dengan susah payah di titik ini. Di titik dimana Kenzou benar-benar mencintainya sepenuh hati.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2