Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Ngidam


__ADS_3

Keluar dari ruangan dokter kandungan Kenzou langsung menebus vitamin yang di kasih dokter kandungan kepadanya, setelah mendapatkan apa yang di inginkan Kenzou dan Aleta masuk ke dalam mobil meninggalkan halaman rumah sakit, di sepanjang perjalanan Aleta hanya menatap keluar jendela membuat Kenzou bingung dengan tingkah Istrinya itu, karena saat masih di ruangan dokter kandungan Aleta masih bisa tersenyum dengan sangat manis dan sekarang senyuman manis itu tidak ada lagi di wajahnya membuat Kenzou menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aleta" panggil Kenzou tapi tidak mendapatkan jawaban dari Aleta yang ternyata sedang melamun.


"Sayang" panggil Kenzou sekali lagi dan kali ini Kenzou mengenggam tangan Aleta, membuat Aleta sadar dari lamunannya kalo mobil Kenzou berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Aleta yang baru sadar mobil Kenzou berhenti di tenda jalan saat genggaman tangan Kenzou membuyarkan lamunannya.


"Kamu kenapa?" bukannya menjawab pertanyaan Aleta Kenzou kembali bertanya saat Aleta hanya diam saja.


"A-aku tidak kenapa kenapa, memang aku kenapa?"ucap Aleta membuat Kenzou semakin yakin kalo Aleta tengah memikirkan hall lain.


"Apa ada masalah?" tanya Kenzou membuat Aleta menatap suaminya itu bingung.


"Masalah? tidak aku tidak punya masalah" jawab Aleta.


"Kamu tidak bisa berbohong Aleta, walau bibir kamu bilang tidak sorot mata kamu bilang iyah"


"Dan tadi saat kita masih di ruangan dokter kandungan kamu masih bisa tersenyum tapi kenapa sekarang berbeda?" ucapan Kenzou membuat Aleta baru sadar kalo yang di maksud masalah oleh suaminya itu karena perubahan sikapnya.


"Kamu kenapa?"tanya Kenzou saat Aleta tiba tiba menundukan kepalanya.


"Sayang" Kenzou meraih dagu Aleta supaya istrinya itu menatap wajahnya. "Kenapa?" tanya Kenzou saat tatapan mata mereka bertemu.


"Maaf" satu kata itu membuat Kenzou mengerutkan keningnya.


"Maaf? buat apa?" tanya Kenzou yang tidak tau arti maaf yang di ucapkan istrinya itu.


"Karena aku tidak bisa memberikan mu anak perempuan" jawab Aleta yang langsung membuang pandangannya ke luar jendela karena Aleta tidak kuat menatap wajah suaminya.


Sedangkan Kenzou yang baru tau perubahan sikap Aleta karena jenis kelamin anak nya, sedikit merasa bersalah karena tidak seharusnya ia membeli baju bayi perempuan dan menunjukannya ke Aleta tadi malam dan dengan jelas juga ia berkata kalo ia lebih memilih anak perempuan.


"Kamu tidak salah Aleta, dengarkan aku" pinta Kenzou menangkup wajah Aleta dengan kedua tangannya membuat pandangan Aleta dan Kenzou kembali bertemu.


"Kalo anak kita laki laki tidak masalah, karena bagiku baik laki laki maupun perempuan tidak ada bedanya, kita manusia hanya bisa meminta tapi tuhan yang menentukannya mana yang terbaik untuk kita" kata Kenzou dengan lembut berharap Istrinya itu tidak menyalahkan dirinya lagi.


"Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk kita, dan kamu" Ucap Kenzou menatap lekat bola mata Aleta yang mulai mengeluarkan air mata. "Kamu jangan pernah salahkan apa yang ada di dalam diri kamu termasuk jenis kelamin anak kita karena itu bukan salah kamu"


"Tapi..."


"Stt...aku tidak mau dengar apapun yang keluar dari mulut kamu" potong Kenzou yang langsung meletakan jari telunjuknya di mulut Aleta agar Istrinya itu tidak melanjutkan ucapannya. "hari ini hari yang bahagia karena kita baru saja mengetahui jenis kelamin anak kita, dan di hari bahagia ini aku ingin menyambut nya dengan kebahagiaan juga" lanjut Kenzou dengan tangan yang beralih mengusap perut Aleta.


"Udah jangan nangis, kita masih muda dan kalo kali ini anak kita laki laki bukankah kita bisa membikinkan nya adik perempuan untuknya setalah ia lahir nanti?" ucap Kenzou sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Aleta menyingkirkan tangan suaminya yang menangkup pipinya.


"Modus" ucap Aleta yang langsung membersihkan sisa air mata di pipinya.


"Bukan modus hanya saja rencana" ralat Kenzou membuat Aleta memanyunkan bibirnya.


"Udah jangan cemberut lagi, mana senyumnya?" kata Kenzou sambil menarik kedua pipi Aleta membuat pipi itu berubah menjadi rona merah.


"Udah ayo buruan jalan, aku mau kita mampir di tukang bakso di depan" pinta Aleta yang tiba tiba ingin memakan bakso.


"Kamu ngidam?"


"Lebih tepatnya aku lapar" ujar Aleta dengan kedua tangannya mengusap perutnya.


"Astaga aku sampai lupa kalo jam makan siang udah lewat" rutuk Kenzou dengan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menujukan pukul satu siang.


"Anak Daddy lapar?"


"Iyah Daddy, jadi ayo cepat kita makan bakso" kata Aleta yang mewakili janinnya membuat Kenzou terkekeh.


"Kamu tau jalannya?"

__ADS_1


"Iyah aku tau"


Mendengar jawaban Aleta tanpa pikir panjang lagi Kenzou kembali melajukan mobilnya dengan Aleta yang menunjukan arah jalan yang menjual bakso yang ingin Aleta makan, tangan kanan Kenzou yang saling bertautan dengan tangan kiri Aleta membuat Kenzou sesekali mencium pungung tangan Istrinya itu,walau Aleta sudah memperingati Kenzou agar fokus terlebih dahulu ke jalanan tapi sepertinya calon ayah satu ini sedikit keras kepala karena tidak membiarkan tautan tangan itu terlepaskan membuat akhirnya Aleta pasrah.


Mobil Kenzou berhenti di pinggir jalan saat Aleta menyuruhnya untuk menghentikan mobilnya,tapi saat Kenzou sudah menghentikan mobilnya Kenzou tidak melihat satupun restoran yang menjual bakso yang ingin Aleta makan yang ada mobilnya berhenti tidak jauh dari tenda berwarna biru di pinggir jalan.


"Ayo turun" ucap Aleta antusias dengan mencangklong tas kesayangannya.


"Tunggu" Cegah Kenzou saat Aleta ingin membuka pintu mobil.


"Kenapa?" tanya Aleta bingung.


"Katanya kamu ingin makan bakso?"


"Iyah"


"Tapi di sini tidak ada restoran yang menjual bakso" ucap Kenzou yang kembali mengedarkan pandangannya menatap satu persatu ruko yang berjejar di sebelah mobilnya dan di sebrang jalan satunya lagi tapi ia tidak mendapati restoran penjual bakso.


"Siapa bilang aku mau makan bakso di restoran?" perkataan itu membuat Kenzou beralih menatap Aleta.


"Terus?" tanya Kenzou dengan kening yang sedikit berkerut.


"Aku mau makan bakso di situ" ucap kaila dengan tangan yang menunjuk tenda biru yang berada tidak jauh dari mobil Kenzou.


"Apa!" teriak Kenzou membuat Aleta yang duduk di sampingnya sedikit kaget. "Kamu mau makan di sana?" tanya Kenzou dengan tangan yang menunjuk tenda biru tersebut.


"Iyah memang ada yang salah?" kini gantian Aleta yang bertanya, bagi dirinya tidak ada yang salah dengan ke inginannya.


"Yak ampun Aleta, aku pikir kamu ingin makan bakso di salah satu restoran tapi ternyata kamu ingin makan bakso di situ?" tangan Kenzou kembali menujuk tenda biru tersebut dari dalam mobilnya.


"Sifat istri CEO yang sangat merakyat"


"Kalo tau bakso yang kamu maksud di pinggir jalan seperti ini, lebih baik aku menyuruh chef restoran ku untuk membuatkanmu bakso yang kamu inginkan" ucap Kenzou.


"Aku tidak mau pulang" jawab Aleta dengan cepat.


"Kalo kamu tidak mau ya sudah tidak apa, kamu bisa pulang sendiri karena aku tetap ingin makan bakso itu" kata Aleta tanpa menunggu jawaban dari Kenzou yang langsung keluar dari dalam mobil membuat Kenzou tidak jadi menyalakan mesin mobilnya.


"Apa semua bumil seperti Aleta?" guman Kenzou yang juga turun dari dalam mobil dan mengejar Aleta yang sudah lebih dahulu keluar.


"Aleta tunggu" ucap Kenzou yang berhasil meraih pergelangan tangan istrinya.


"Apa?"


"Kita pulang saja ya, pasti di situ tempatnya gak higienis" ujar Kenzou memberhentikan langkanya Istrinya. "Atau kita ke salah satu hotel ku saja, nanti disana kamu bisa memakan bakso sepuasnya"


"Aku gak mau, aku maunya makan bakso itu!" seru Aleta.


"Tapi itu tidak higienis untuk kamu dan calon anak kita" ucap Kenzou dengan pandangan beralih menatap tenda warna biru tersebut yang tidak terlalu ramai pembeli karena jam makan siang yang sudah berlalu, tapi terlihat masih ada beberapa orang yang duduk di dalamnya.


"Siapa bilang? kamu tau dulu aku sering sekali makan di sana setelah pulang kuliah dan rasanya enak banget" ujar Aleta menakan kalimat terakhirnya dengan lidah yang menyapu dua bibirnya membayangkan betapa segar dan nikmatnya kuah bakso itu masuk ke dalam mulutnya. "dan sekarang karena aku sudah lama tidak memakannya aku ingin makan bakso itu lagi kali ini" lanjut Aleta dengan kaki yang kembali melangkahkan nya menuju tenda tersebut membuat genggaman tangan Kenzou lepas dari pergelangan tangannya.


"Astaga, kalo seperti ini apa gunanya restoran yang dulu aku berikan kepadanya?" ucap Kenzou pada dirinya sendiri yang masih berdiri di tempatnya memperhatikan Aleta yang sudah masuk ke dalam tenda penjual bakso tersebut.


Kenzou yang tidak mau berlama lamaan di tempatnya langsung menyusul istinya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam tenda tersebut dengan sangat terpaksa, baru masuk saja hawa panas langsung terasa dari dalam walau ada kipas angin gantung tapi bagi Kenzou itu tidak berpengaruh sama sekali.


Kenzou yang sudah duduk di samping Aleta yang tengah menunggu pesannya menatap istri dan beberapa orang yang sedang makan bakso di dalamnya yang terlihat biasa saja, seakan akan mereka sudah terbiasa dengan hall itu.


Kalo orang yang berada di dalam tenda tersebut terlihat biasa biasa saja beda hall nya dengan CEO kita yang satu ini yang mulai kelojotan seperti cacing panas, Kenzou melonggarkan dasinya dan mengibas ngibaskan jasnya berharap bisa mengurangi gerah yang ia rasakan, mungkin belum cukup Kenzou melonggarkan dasinya, Kenzou langsung melepaskan jas mahal yang menempel di tubuhnya.


Aleta yang dari tadi memperhatikan sikap suaminya itu hanya senyum senyum sendiri, ia tau mungkin Kenzou tidak terbiasa dengan hall ini dan terlihat sangat jelas bahwa ini pertama kalinya Kenzou masuk ke warung pinggir jalan dengan tangan yang tidak bisa diam sama sekali yang terus mengibas ngibaskan kemeja putihnya.


"Gerah banget" lirih Kenzou dengan keringat yang mulai bercucuran dari dahinya.

__ADS_1


Ucapan Kenzou yang pelan itu dapat di tangkap jelas oleh telinga Aleta, Aleta yang baru ingat kalo dirinya selalu membawa kemana mana kipas angin listrik mini mengeluarkannya dari dalam tas dan menyodorkannya pada suaminya itu.


"Pakai ini" ucap Aleta m nyerah kipas itu pada tangan Kenzou.


"Kenapa tidak dari tadi?" Kenzou langsung menyalakan kipas angin mini itu dan mengarahkannya dengan sangat dekat ke wajahnya.


"Sini biar aku lap keringatnya" ucap Aleta yang ingin mengelap keringat suaminya yang bercucuran itu tapi belum sempat tisu itu mendarat di dahinya pergelangan tangan Aleta sudah di pegang terlebih dahulu oleh Kenzou.


"Kenapa?" tanya Aleta bingung.


"Itu pasti kotor" ucap Kenzou saat tadi ia melihat Aleta mengambil tisu roll di hadapannya.


"Ini bersih Zou" ucap Aleta meyakinkan dan kembali ingin megusap keringat suaminya itu lagi tapi dengan cepat Kenzou memundurkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak mau itu pasti banyak bakterinya"


Aleta mendengus kesal hanya perkara tisu membuat Kenzou berung kali mengatai tisu yang ada di tangannya kotor, membuat Aleta langsung mengeluarkan sapu tangan miliknya dari dalam tas.


"Ini bersih karena ini aku bawa dari rumah" kata Aleta menujukan sapu tangan yang ia keluarkan dari dalam tas.


"Kalo itu baru bersih" ucap Kenzou yang langsung meminta Aleta untuk mengusap keringatnya.


"Silahkan non" kata pedagang bakso tersebut yang menaruh tiga mangkok bakso di hadapan Aleta dengan aneka bakso yang berbeda.


"Makasih mang" ucap Aleta saat semua pesannya sudah datang, membuat perut Aleta semakin lapar saat aroma bakso tersebut masuk melalui rongga hidungnya.


"Kamu pesan semua ini?" tanya Kenzou tak percaya saat tiga mangkok sekaligus sudah tersaji di depan mereka.


"Iyah, dan ini aku juga sudah memesankan mu satu mangkok bakso" kata Aleta menyerahkan satu mangkok di hadapan Kenzou.


"Selamat makan"


"Tunggu" Cegah Kenzou saat Aleta ingin menyuapkan satu sendok kuah bakso ke dalam mulutnya.


"Kenapa zou?" tanya Aleta kesal saat tangan Kenzou mencegahnya.


"Itu tidak higienis" ucap Kenzou sambil mengelengkan kepalanya tanda agar Aleta tidak boleh memakannya.


"Astaga....Zou ini higienis kamu lihat sendiri tempat di sini bersih, Abang nya pun berpenampilan rapi jadi sudah terjamin kalo makanannya di sini bersih" kata Aleta yang kembali ingin menyuapkan sesendok bakso ke dalam mulutnya.


"Tapi makanan pinggir jalan tidak baik buat kamu dan anak kita" kata Kenzou dengan tangan yang kembali mencegah tangan Aleta yang kembali ingin menyendokkan bakso tersebut ke dalam mulutnya.


Aleta yang melihat sifat Kenzou seperti itu menarik nafas sepanjang panjangnya berharap ia tidak melupakan kekesalannya di tempat umum seperti ini."Tuhan, kenapa kau menciptakan manusia setampan dia kalo sifatnya saja yang sangat menyebalkan seperti ini"


"Suamiku yang tampan, yang baik hati, dan juga tidak sombong"


"Iyah jelas, kenapa istriku sayang?"


"Aku dan anak kita sekarang sedang lapar seeekaaaliii, jadi biarkan kita makan dulu ya" kata Aleta yang merasa perutnya sudah sangat lapar dari tadi dan minta segara di isi, tapi sifat posesif suaminya itu yang membuat Aleta tidak jadi memakan bakso miliknya.


"Aku tau kamu dan anak kita lapar, tapi aku tidak yakin kalo bakso ini bersih dan sehat untuk anak kita, kalo sampai kamu kenapa kenapa bagaimana? kalo sampai perut kamu sakit, trs kamu muntah muntah bagaimana?, trs kalo sampai kamu kejang kejang gimana?, trs kalo sampai anak kita..." ucapan Kenzou yang panjang itu langsung terhenti saat Aleta dengan kesal memasukkan satu sendok bakso ke dalam mulut suaminya yang sangat menyebalkan itu.


"Diam dan makan itu, kamu terlalu cerewet zou aku cuma makan bakso bukan makan sabun yang harus sampai kejang kejang dan muntah muntah" kata Aleta meluapkan kekesalannya.


"Tapi..."


"Diam!" dan satu kali lagi Aleta memasuki satu sendok bakso ke dalam mulut suaminya yang kembali ingin mengeluarkan ceramahnya, membuat beberapa orang yang berada di dalam tenda tersebut menatap keduanya.


"Kunyah" perintah Aleta saat mulut Kenzou hanya diam saja, membuat Kenzou mengelengkan kepalanya tanda ia tidak mau.


"Kunyah!" kali ini Aleta menekan ucapannya membuat dengan sangat terpaksa Kenzou mengunyah bakso yang ada di dalam mulutnya.


"Enak" satu kata itu keluar dari mulut suaminya saat dua sendok tadi masuk ke dalam mulutnya, dan beralih memakan bakso yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Tau rasanya aja langsung diam, untuk sayang kalo gak udah gue sikat lu" batin Aleta saat Kenzou sudah fokus pada satu mangkuk bakso yang ada di hadapannya.


__ADS_2