Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Bertemu


__ADS_3

Sedangkan di kamar VVIP Aleta yang merasa kerongkongannya sangat kering perlahan membuka matanya dan menatap langit langit kamar yang sangat silau dengan cahaya lampu kamar tersebut. Aleta mengedarkan pandangannya saat Aleta menoleh ke arah kanan Aleta menatap laki laki yang tengah tertidur pulas dengan memegang tangannya.


"Brian...?" lirin Aleta saat melihat Brian tidur dengan memegang tangannya.


"Haus..."


"Kerongkongan ku kering sekali..."


"Brian...aku haus..." lirih Aleta karena suaranya habis ia gunakan untuk berteriak teriak tadi malam.


Brian yang tengah tidur merasa ada seseorang yang tengah memanggil nya perlahan matanya terbuka dan pertama kali yang ia lihat adalah Aleta yang sudah sadar.


"Aleta....kamu sudah sadar....?"


"Aaa...apa ada yang sakit...? mana yang sakit bilang sama aku biar aku panggilkan dokter....?" tanya Brian bertubi tubi.


"Haus...." lirih Aleta sambil menatap Brian.


"Kamu haus...? sebentar" kata Brian yang langsung meraih air putih di atas nakas dekat ranjang Aleta, dan membantu Aleta untuk minum. "Pelan pelan" kata Biran saat melihat Aleta minum dengan sangat cepat, karna tenggorokan Aleta terasa sangat kering saat ini.


"Makasih" kata Aleta setalah Brian membantunya untum rebahan lagi.


"Sebantar aku panggilkan dokter" kata Brian yang langsung keluar kamar dan mencari dokter untuk memeriksa keadaan Aleta.


"Alhamdulillah...kondisi anda sudah membaik, tapi saya sarankan semoga hall ini tidak terjadi lagi karna akan membahayakan nyawa anda dan janin Anda" kata dokter tersebut setalah memeriksa Aleta.


"Janin...?" tanya Aleta bingung sambil menatap Brian dan dokter yang tengah memeriksa secara bergantian.


"Iyah anda sedang hamil Nona, bahkan kandungan anda saat ini masih lemah karena umurnya juga yang masih terlalu muda"


"Untuk lebih jelasnya anda dan suami anda bisa langsung ke dokter kandungan untuk mengetahui keadaan anak anda" kata dokter tersebut.


"Suami...?" tanya Aleta lagi.


"Iyah bukankah tuan ini suami Anda?" kata dokter tersebut menunjuk Brian yang tengah berdiri di samping Aleta.


"Kalo begitu saya permisi dulu Tuan... Nona... jangan lupa obatnya di munim" kata dokter tersebut yang langsung keluar dari ruangan Aleta.


"Apa kamu bilang sama dokter tadi bahwa kamu suami ku...?" tanya Aleta menatap Brian setalah dokter tersebut keluar dari kamar Aleta


"Maafkan aku Aleta, aku melakukan itu semua karna aku menghawatirkan kondisi mu"


"Tapi kenapa harus ngaku ngaku jadi suami aku Brian....? kamu bisa bilang kalo kamu itu mantan aku atau teman kek kan bisa...?"


"Maaf kan aku Aleta... karna aku khawatir dengan keadaaan kamu tadi malam dan dokter tadi tidak mau memberitahu keadaan mu kalo bukan suami mu sendiri" jelas Brian.


Aleta memdesah frustasi tapi ia juga bersyukur setidaknya ia selamat dari dua pereman yang menyeretnya tadi malam. "Ngomong ngomong apa suami aku ada di sini...?" tanya Aleta sambil celingak celinguk.


"Tidak ada yang datang sama sekali dari tadi malam" kata Brian membuat Aleta untuk kedua kalinya memdesah frustasi, bahkan sampai sekarang Kenzou tidak mencarinya.


Tok..Tok...Tok....


"Masuk..."


"Permisi tuan...nona" kata seorang suster membawakan makanan untuk Aleta. "Ini sarapannya Nona, dan habis itu anda harus minum obat" kata perawat tersebut setelah menaruh makanan di atas nakas.


"Makasih sus..." jawab Brian dan perawatan tersebut langsung keluar dari kamar Aleta.


"Udah Aleta, aku yakin pasti suami kamu juga tengah mencarimu dan mengkhawatirkan keadaanmu sekarang ini" kata Brian.


"Khawatir...? terdengar lucu sekali kalo Kenzou mengkhawatirkan kedaanku saat ini di tambah Kenzou belum tau aku hamil" batin Aleta dan tersenyum masam dengan tangan yang mengusap perut ratanya, yang di dalamnya ada buah cinta nya dengan Kenzou.


"Sekarang kamu makan dulu ya habis itu minum obat..." kata Biran mengarahkan bubur ke mulut Aleta, Aleta yang mencium aroma dari bubur tersebut tiba tiba perutnya terasa mual, dan mendorong tangan Brian agar menjauhkan bubur itu darinya.


"Huek.... Brian aku, Huek....." Aleta ingin sekali berlari masuk ke dalam kamar mandi tapi kakinya belum begitu kuat untuk berjalan, Brian yang tau akan hall itu langsung mengendong tubuh Aleta dan berjalan masuk ke kamar mandi, Aleta yang tiba tiba di gendong brian kaget dan membulatkan matanya dengan tangan yang masih menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan sesuatu.


"Huek.....Huek....Huek...." Aleta memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi dengan Brian yang memijat tengkuk Aleta pelan.

__ADS_1


"Masih mual...?" tanya Brian saat Aleta membersihkan mulutnya dengan air.


"Setidaknya sudah mendingan" kata Aleta.


"Terimakasih Brian..."


"Sama sama, aku bantu ke ranjang ya...?" tanya Brian yang di angguki oleh Aleta.


"Seharusnya yang memperlakukan aku seperti ini Kenzou bukan Brian" batin Aleta saat sudah sampai di atas tempat tidur.


"Jauhkan itu dari aku Brian...." kata Aleta yang langsung menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya lagi saat Brian ingin menyodorkan bubur itu.


"Kamu harus makan Aleta... kasihan anak kamu" kata Brian yang langsung mendapatkan gelengan dari Aleta.


"Kamu mau makan apa? biar aku belikan?" tanya Brian.


Sesaat Aleta terdiam dengan tangan yang mengusap perutnya. "Aku ingin soto" kata Aleta.


"Ya sudah aku belikan dulu" kata Brian yang hendak berdiri tapi di cegah oleh Aleta.


"Tapi aku ingin makan di luar" kata Aleta.


"Kamu belum sembuh makan di kamar saja ya..."


"Aku mau makan di luar...atau aku tidak akan makan sama sekali" kata Aleta yang merajuk seperti anak kecil.


"Masih saja keras kepala..." kata Brian terkekeh dan mengacak ngacak rambut Aleta sedangkan Aleta menepis tangan Brian dan menekuk bibirnya. "Ya sudah aku ambilkan kursi roda dulu buat tuan putri" goda Brian yang langsung keluar dari kamar untuk meminta kursi roda kepada suster.


Brian membantu Aleta untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya ke luar kamar menuju taman yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.


"Kamu tunggu di sini aku mau beli soto dulu"


"Brian..." kata Aleta yang membuat Brian tidak jadi melangkah dan menoleh ke arah Aleta.


"Sotonya jangan pakai daging,dan nasinya sedikit saja karna aku lagi tidak ***** makan" kata Aleta.


Aleta menatap lalu lalang orang yang berjalan di depannya sampai mata Aleta menatap pasangannya suami istri yang istrinya tengah hamil besar, yang mungkin ingin memeriksa calon anak mereka, sang suami yang membantu sang istri turun dari dalam mobil dan menggandeng istrinya dengan tangan yang terus mengusap perut buncit istrinya itu yang membuat Aleta tanpa sadar juga mengusap perutnya yang masih datar.


"Pelan pelan sayang" kata pria tersebut saat sang istri akan menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam lobi rumah sakit.


"Lebay deh mas ini..."kata sang istri yang menatap suaminya.


"Mas cuma jaga jaga sayang...mas gak mau kamu dan anak kita kenapa kenapa, karena Kalian itu adalah nyawa mas" kata sang suami yang membuat istrinya tersipu malu.


"Apa Kenzou juga akan memperlakukan aku seperti pria itu memperlakukan istrinya...?" guman Aleta saat pasangan suami istri itu sudah hilang dari pandangan matanya, Sampai bulir bening keluar dari mata Aleta.


"Aleta ini sotonya" kata Brian yang baru datang dan melihat Aleta yang menangis.


"Kamu kenapa Aleta....? Apa ada yang sakit?" tanya Brian yang mendapatkan gelengan dari Aleta. "Terus kamu kenapa...? kenapa menangis...?" tanya Brian lagi.


"Jawab Aleta kamu kenapa...? apa yang membuatmu menangis?" tanya Brian lagi saat isakan Aleta semakin kencang.


"Hiks...hiks...hiks...aku menangis karena aku baru saja melihat pasangan suami istri yang sangat romantis apa lagi istrinya tengah hamil besar"


"Terus masalahnya apa?"


"Tidak....aku hanya rindu saja sama suamiku" kata Aleta menghentikan tangisannya dan mengusap air mata yang tersisa di pipinya dan memaksakan senyumannya.


"Aku pikir kamu kenapa" kata Brian yang merasa lega.


"Sekarang makan ya" kata Brian meniup kuah soto di sendok dan mengarahkannya di bibir Aleta.


"Biar aku saja" kata Aleta yang ingin mengambil alih sendok dari tangan Aleta tapi Brian menolaknya.


"Buka mulut mu" perintah Brian.


"Biar aku saja bri..."

__ADS_1


"Buka mulut!" kata Brian memotong ucapan Aleta, Sedangkan Aleta hanya mendengus kesal dan langsung membuka mulutnya.


"Brian aku mau tanya sesuatu" kata Aleta setelah menelam makannya.


"Apa?"


"Kenapa kamu bisa sampai di tengah hutan saat aku tengah di seret oleh kedua orang pereman?" tanya Aleta penasaran.


"Kamu masih ingat Vila Papi yang ada di dekat perkebunan teh?" tanya Brian dan Aleta mengangukan kepalanya.


"Papi dan Mami kemarin malam mengadakan syukuran kecil kecilan atas kepulangannya aku ke Indonesia di Vila tersebut, yang hanya di hadiri oleh keluarga besar saja. dan kalo soal bagaimana bisa aku ada di saat kamu tengah di seret Kedua pereman tadi malam itu, karena aku mendapatkan kabar dari asistenku kalo perusahaan yang aku rintis di Singapura sedikit ada masalah yang harus aku sendiri yang menanganinya, sebenarnya aku ingin mengambil jalan lain tapi itu sangat lama dan memakan banyak waktu jadi aku mengambil jalan itu yang lebih cepat, walau aku tau daerah itu sangat rawan tapi pikiranku tadi malam tidak ada cara lain selain cara itu, dan saat di tengah jalan itu aku mendengar suara teriakan seorang wanita awalnya aku tidak peduli, tapi lama kelamaan suara itu semakin kencang dan aku melihat seorang wanita yang tengah di tarik paksa oleh dua pereman masuk ke dalam hutan, aku yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam dan langsung keluar dari mobil dan menghajar kedua orang itu dengan membabi buta, dan saat seorang wanita akan jatuh ke tanah aku cepat cepat berjalan kearahnya dan menangkap tubuhnya dan ternyata wanita itu adalah kamu" jelas Brian.


"Jadi harusnya tadi malam kamu terbang ke Singapura?" tanya Aleta yang di angguki oleh Brian.


"Maafkan aku Brian... karena aku kamu tidak jadi ke Singapura untuk menangani bisnismu itu"


"Tidak apa apa Aleta, karena bagiku kamu lebih penting" kata Brian.


"Emmm.... Brian Apa kamu masih masih mencintai aku?" tanya Aleta hati hati, tanpa Aleta dan Brian sadari seseorang tengah mengawasi gerak gerik mereka berdua dan menelfon seseorang.


"Kalo memang iyah kenapa?" tanya Brian balik.


"Tapi aku sudah menikah" jawab Aleta cepat.


"Aku tau itu...tapi kamu tenang saja aku tidak akan menganggu rumah tangga mu, karna aku akan mencoba mengikhlaskan kamu untuk laki laki lain" kata Brian memaksakan senyumannya.


"Tapi aku tidak akan tinggal diam kalo hall seperti tadi malam itu terjadi lagi, maka aku akan mengambilmu secara paksa dari suami mu itu, karna aku mengikhlaskan kamu untuk laki laki lain bukan untuk tersakiti Aleta" lanjut Brian. "Itu juga akan aku lakukan kalo aku belum menemukan pengganti mu" kata Brian terkekeh dan Aleta juga ikut terkekeh.


"Makanya buruan cari cewek....atau kamu mau sama Vony...?"


"Vony sahabat tomboy kamu itu...?" kata Brian dan di angguki oleh Aleta.


"Ogah....bisa bisa badan gue hancur semua karena di hajar tu cewek tomboy, siapa juga yang mau sama cewek kaya dia" kata Brian bergidik ngeri.


"Hustttt....gitu gitu juga sahabat gue...." kata Aleta.


"Terus lo sendiri gimana critanya bisa sampai hutan itu sama dua preman lagi?" tanya Brian sambil menyendokkan satu sendok soto terakhir ke mulut Aleta dan langsung di kunyah oleh Aleta.


"Panjang ceritanya"


"Ya makanya crita in" kata Brian ketus.


Aleta menarik nafas panjang dan mulai menceritakan hall buruk yang menimpanya kemarin kepada Brian, tapi Aleta tidak menceritakan tentang mantan Kenzou yang sudah meninggal. sedangkan Brian menjadi pendengar yang baik saat mendengar crita Aleta, dan se saat kemudian Brian membulatkan matanya saat Aleta menceritakan surat perceraian yang di sodorkan Tiara kepada.


"Sampai segitunya...?" kata Brian yang di angguki oleh Aleta.


"Nih obatnya" kata Brian menyodorkan obat dan sebotol air mineral.


"Makasih" kata Aleta setalah meminum obat yang di kasih Brian.


"Apa kamu tanda tangani surat itu...?" tanya Brian penasaran.


"Ya gak lah...ya kali aku tanda tangani surat perceraian gila itu"


"Aku pikir sudah..." kata Brian lirih kepada dirinya sendiri bahkan Aleta tidak bisa mendengar kata kata Brian.


"Kamu bilang apa...?"


"Gak papa..., kita masuk ya... gak baik buat kamu lama lama di luar" kata Brian yang di angguki oleh Aleta.


Saat Brian berdiri dari duduknya dan ingin mendorong kursi roda Aleta, suara seseorang meneriaki nama Aleta dari kejauhan membuat Brian mengurungkan niatnya untuk mendorong kursi roda Aleta, dan Aleta menoleh ke samping dan melihat Kenzou yang tengah berlari ke arahnya di ikuti Alan dari belakangnya.


"Aleta... kamu kemana saja...?" kata Kenzou yang langsung memeluk tubuh Aleta begitu kuat.


***


Jangan lupa Like & Vote yang banyak🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2