Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Tidak Ada Kata Ampun!


__ADS_3

Alan yang melihat itu langsung berlari ke arah Kenzou yang lupa akan ucapannya tadi, "hentikan Zou!" Alan memegang tangan Kenzou yang sebentar lagi meluncurkan timah panas dari pistolnya itu.


"Diam dan lihat saja Alan!"


"Ingat Aleta! dia sedang mengandung anak kamu" ucapan itu membuat Kenzou mengumpat kesal seharusnya ini bagian yang paling menyenangkan untuk dirinya menyiksa orang orang yang sudah berani mencari gara gara dengannya setelah sekian lama tidak ia lakukan.


Hampir saja Kenzou lupa akan hall yang seharusnya tidak ia lakukan beruntung ada Alan yang mengingatkannya akan hall itu, "Dengar ini baik baik! mungkin aku tidak bisa membuat kalian berdua berada di dalam neraka saat ini tapi Alan yang akan membuat kalian menyesal telah ada di dunia ini!"


Tiara tersenyum sinis sebelum tawanya terdengar membuat Kenzou mengepalkan tangannya di disi tubuhnya dengan sangat kuat.


"Aku tidak peduli kalo dirimu akan melenyapkan ku sekarang juga, karena jika aku mati sekarang setidaknya dirimu bukan lagi suami dari Aleta!" kata Tiara sebelum akhirnya kembali tertawa.


"Dan anak mu itu akan lahir tanpa seorang Ayah!" lanjutnya menatap wajah sinis Kenzou.


"Apa yang anda maksud ini Nona Tiara Beatrix yang terhormat?" ucap Alan menunjukan surat gugatan perceraian lengkap dengan cap jempol Aleta di dalamnya di hadapan wajah Tiara.


Sesaat tawa sinis itu lenyap dari wajah Tiara di gantikan dengan mata Tiara yang membulat sempurna tidak percaya, bagaimana bisa Alan mendapatkan surat itu? bukankah surat itu sudah berada di pengadilan agama dan tengah di urus pihak pengadilan secepatnya?, tapi sayang Tiara melupakan satu siapa Kenzou itu sebenarnya dengan kekuatan uang yang ia miliki dengan mudahnya Kenzou bisa menarik gugatan perceraian itu hari itu juga.


"Kenapa wajah Anda berubah seperti itu Nona? apa anda kaget? atau anda sedang bertanya tanya dari mana saya bisa mendapatkan surat ini?" ucap Alan yang tanpa apa apa langsung menarik kembali rambut Tiara.


"Sudah lupakan tentang surat ini itu tidak penting, bagaimana kalo sekarang anda melihat anak buah anda itu lenyap satu persatu baru giliran Anda yang akan melakukan permainan" ucap Alan dengan suara tepat di telinga Tiara membuat bulu kudu Tiara seketika berdiri.


Dor...


Satu timah panas melesat dengan sempurna dari pistol yang di pegang Alan mengangi tubuh anak buah Tiara dan Anindira tanpa menoleh ke arah kelimanya, sedangkan Kenzou kembali duduk di kursinya menyerahkan semua tugas itu kepada Alan biarkan kali ini sahabatnya itu bermain main.


"Jangan takut, karena giliran kalian masih sangat panjang banyak banyak lah berdoa sebelum giliran kalian tiba" suara mafia itu terdengar sangat menakutkan di telinga keduanya.


Apa lagi saat keduanya melihat dengan jelas bagaimana Alan membuat satu persatu anak buahnya tidak bernyawa dan darah segar keluar dari tubuh mereka, Alan yang sudah lumayan bosan dengan pistol miliknya beralih menggunakan pisau yang sangat tajam dari membuat luka luka kecil di tubuh preman preman itu baru pada intinya menancapkan dengan sempurna pisau itu pada tubuh pereman itu membuat suara kesakitan itu terdengar sempurna di ruangan bawah tanah itu.


"Kamu tau Zou aku sudah lama tidak melakukan hall seperti ini" ucap Alan dengan sangat senang setelah menghabiskan lima belas pereman tersebut.


Dan kelima belas pereman itu di kirim ke kediamannya masing masing walau pereman pereman itu telah berurusan dengan orang yang salah Kenzou masih berbaik hati kepada keluarganya dengan memberikan sejumlah uang yang terbilang sangat besar dan juga memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak melaporkan ke pihak yang berwajib kalo tidak ingin berakhir sama dengan mayat yang datang kerumahnya.


"Masih ada lima orang lagi Alan" ucap Kenzou dengan melihat jeruji besi di mana lima orang yang mencoba menghabisi istrinya mulai memohon ampunan kepada Kenzou.


Ampun? hah...sudah sangat sangat telat mereka meminta hall itu pada Kenzou, Kenzou yang tidak kenal ampun dengan segala musuhnya menghabisi mereka sampai ke akar akarnya agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan setelah ini.


"Lihatlah sepertinya Leandry sudah sangat tidak sabar untuk menyantap daging manusia setelah sekian lamanya" ucap Kenzou saat melihat hewan peliharaannya sudah sangat tidak sabar sekali yang terus berjalan mondar mandi di depan sellnya.


"Aku rasa lima pria brengsek itu cukup untuk santapan Leandry hari ini" sambungan Kenzou.

__ADS_1


"Tuan saya mohon jangan tuan"


"Saya punya anak dan istri di rumah tuan yang tengah menunggu kepulangan saya"


"Saya mohon tuan saya tidak ingin mati di sini"


"Jangan tuan jangan lakukan itu saya masih ingin hidup tuan"


"Saya minta belas kasih anda tuan...."


"Saya mohon tuan jangan lakukan itu"


"Saya mohon tuan jangan lakukan itu"


"Saya mohon tuan jangan lakukan itu"


Dor....


Kenzou menembakkan pistolnya tepat di vas bunga yang ada di pojok ruangannya pecah,Kenzou tidak suka saat seorang yang sudah mencoba mencelakai orang yang ia sayang harus bermohon mohon seperti itu.


"Apa kalian pikir saya akan membebaskan kalian dari sini begitu saja dan membiarkan kalian berkeliaran di luar sana dengan bebas!"


"Dan kamu! bahkan tadi kamu bilang sudah punya anak dan istri tapi kenapa dengan bodohnya kamu mau melecehkan istri orang?! apa kamu rela anak dan istri mu di lecehkan oleh orang lain juga?!" dada Kenzou naik turun setelah mengeluarkan semua emosinya karena hanya itu yang ia bisa kalo tidak mengingat Aleta dan anaknya sudah sejak tadi ia habisi kelima pereman itu.


"Masukan mereka satu persatu ke dalam kandang Leandry sekarang juga!" lanjut Kenzou.


Dengan sigap dua orang anak buah Kenzou menarik paksa satu pereman dari dalam sell untuk masuk ke dalam kandang Leandry walu sudah beberapa kali ia memohon, meronta untuk di lepaskan suara Leandry yang mengaung sangat keras membuat siapapun ingin lari dari sana.


Dret....dret....


Bunyi dering ponsel Kenzou langsung mengangkat panggilan tersebut saat nama Aleta tertera di layar ponselnya, "Halo sayang" ucap Kenzou sangat manis berbeda jauh dari saat ia bicara tadi.


"Iyah aku pulang sekarang" lanjut Kenzou yang langsung mematikan sambungan telefonnya saat istri tercintanya itu meminta dirinya agar segera pulang.


"Pastikan mereka semua mendapatkan hall yang setimpal" ucap Kenzou sebelum keluar dari sana.


"Kau tenang saja karena aku akan menikmati permainan ini" ucap Alan.


Kenzou menganggukan kepalanya paham dan langsung melangkah keluar dari ruangan tersebut untuk pulang ke rumahnya.


Macan yang sudah Kenzou pelihara kurang lebih dari sepuluh tahun itu mencabik cabik habis makan siangnya dengan sangat lahap bahkan darah pereman itu sampai keluar dari dalam kandang karena sangking buasnya, satu demi satu semua mendapatkan giliran yang sama dan entah kenapa macan jantan itu melahap habis daging ke lima pereman itu dan hanya meninggalkan tulang tulangnya saja.

__ADS_1


"Kau sudah kenyang kawan?" ucap Alan yang berdiri di samping kandang Leandry saat macan itu sepertinya sudah sangat puas dan kenyang. "Kerja bagus" lanjutnya.


"Dan sekarang giliran kalian berdua" ucap Alan dengan nada yang susah di artikan.


"Kamu mau apa Alan!" tegas Anindira


"Jangan macam macam Alan atau kau akan menyesal!" kini gantian Tiada yang memberikan peringatan kepada Alan.


"Menyesal? buat apa aku harus menyesal Tiara?"


"Ah....sudah lupakan aku rasa kalian berdua sudah tidak sabar dengan giliran kalian" seperti hallnya di lakukan Kenzou tadi Alan menepuk tangannya sebanyak tiga kali membuat delapan orang bayaran Kenzou masuk keruangan tersebut setelah mendapatkan perintah dari tepuk tangan Alan.


"Bawa wanita itu masuk ke dalam sel!" tunjuk Alan tepat pada wajah Tiara yang langsung sigap di lakukan oleh anak buah Kenzou.


"Lepas! jangan sentuh aku!"


"Siksa dia sesuka kalian!" lanjut Alan saat Tiara sudah masuk ke dalam sel beserta anak buah Kenzou yang siap menyiksanya tanpa ampun.


"Dan sekarang giliran mu!" ucap Alan menunjuk wajah Anindira yang ketakutan saat jeritan Tiara terdengar sangat kencang saat anak buah Kenzou mulai menyiksanya.


"Bukankah kamu yang mempunyai ide untuk melecehkan Nona Aleta?" tanya Alan tapi tidak ada jawab an dari Anindira yang memilih diam.


"Dan sekarang aku ingin kamu merasakan apa yang nona Anindira rasakan saat itu!" lanjutnya dengan mendudukan tubuh di kursi yang Kenzou gunakan tadi.


"Apa maksudmu!"


"Apa kau tidak bisa melihat mereka menatap mu seperti apa?" tanya Alan membuat Anindira menatap delapan pria bertubuh tegap itu yang tengah menatapnya dengan tatapan haus.


"Apa yang ingin kamu lakukan Alan!" tegas Anindira.


"Jangan seperti wanita suci Anindira karena aku tau kau bahkan sudah pernah berhubungan dengan beberapa orang laki laki bukan?" ucapan itu membuat Anindira kaget dari mana Alan tau akan informasi itu bahkan papi nya saja tidak tau akan hall itu.


"Mencari info tentang dirimu sangat gampang apa lagi kau hanya butiran debu yang tidak ada apa apanya bahkan harga diri saja kau tidak punya!"


"Tutup mulut mu Alan!"


"Kau yang seharusnya tutup mulut!, dan nikmati saja apa yang ingin mereka lakukan pada tubuh mu itu" ucap Alan dengan santai.


"Lakukan tugas kalian!" perintah Alan membuat delapan pria itu berjalan mendekat ke arah Anindira yang mulai berontak ketakutan di atas lantai tersebut saat pria pria itu mendekat ke arahnya.


Alan sangat puas hari ini bisa melakukan permainan yang sudah lama ia nanti nantikan membuatnya menikmati setiap siksaan yang kedua wanita itu dapatkan dari kondisi Tiara yang sudah sangat lemah dari dalam sell sana kerena terlalu banyak darah yang mengalir dari tubuhnya tapi itu tidak membuat anak buah Kenzou kasian yang ada mereka semakin menjadi jadi untuk menyiksa Tiara. Sedangkan Anindira tubuh wanita itu mulai dengan bebasnya di raba sana sini oleh delapan pria itu yang menggilirnya secara bergantian menangis darah pun sudah sangat percuma karena Alan tidak akan memberikan setitik saja celah untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2