Pernikahan Karena (Perjanjian)

Pernikahan Karena (Perjanjian)
Bonus Chapter (2)


__ADS_3

Hari ini Aleta sudah di perbolehkan pulang setelah tiga hari lamanya di rawat di rumah sakit, dengan baby Aluna yang tidur di dalam pelukannya Aleta turun dari dalam mobil saat Kenzou membukakan pintu untuknya.


Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah dengan Kenzou yang tak hentinya mengusap pipi gembul putrinya,mata Aleta di buat kagum saat mendapati rumahnya telah di sulap untuk menyambut kepulangannya, berjalan mendekat Aleta memperhatikan wajah bahagia itu satu persatu dengan gerakan cepat Ratih mengambil cucunya itu dari gendongan sang Mommy.


"Selamat datang sayang" Ana menyambut menantunya itu.


"Terimakasih Ma" Aleta tersenyum hangat pada Ana ia yakin semua ini pasti telah di persiapkan kedua oma itu untuk menyambut kepulangannya.


Berjalan ke arah sofa semuanya duduk di sana dengan baby Aluna yang menjadi pusat perhatian mereka, senyuman dan wajah bahagia itu tidak lepas dari ke empat orang di hadapan Aleta saat ini. Kenzou meraih bahu Aleta agar masuk ke dalam pelukannya di kecup nya rambut panjang Aleta berulang kali.


"Terimakasih telah memberikan ku Aluna sebagai hadiah terbesar dalam hidupku"


Aleta tersenyum ke arah Kenzou menatap lekat wajah tampan itu untuk beberapa saat. "Dan aku juga terimakasih pada mu yang telah mencintaiku dengan sangat besar seperti sekarang ini"


Kenzou tersenyum membalas ucapan Aleta, di pelukannya tubuh Aleta dari samping dengan memperhatikan ke empat orang itu yang tengah tertawa saat baby Aluna bersin.


"Sayang kamu bawa baby Aluna ke kamar dulu baru habis itu kita makan siang bersama" Ratih memberikan baby Aluna ke pelukan sang Mommy.


Aleta mengangukkan kepalanya dengan Kenzou yang membawa barang-barang bawaannya Aleta melangkah ke lantai dua.


Kenzou membukakan kamar baby Aluna mempersilahkan Aleta masuk terlebih dulu. Kamar yang dulunya bernuansa berwarna biru dengan gambar mobil di satu sisinya sekarang sudah berubah menjadi berwarna pink dengan gambar hello Kitty di mana-mana, Aleta menatap sekeliling kamar itu yang sudah di penuhi dengan perlengkapan bayi perempuan di tatapnya wajah Kenzou yang tersenyum ke arahnya Aleta yakin semua ini adalah kerjaan suaminya itu.


Aleta berjalan ke arah box bayi di letakannya secara perlahan baby Aluna agar bayi itu tidak terusik. Setalah mendapatkan posisi yang nyaman untuk putrinya Aleta meneggapkan badannya kembali dan langsung mendapatkan pelukan dari belaka oleh suaminya.


"Lihat dia sangat mirip dengan mu" ucap Aleta saat melihat wajah baby Aluna yang rata-rata mirip dengan Daddy-nya.


"Padahal aku yang hamil, aku yang merasakan mualnya, aku yang begah, aku yang susah bangun saat duduk dan membawanya kemana-mana tapi kenapa wajahnya lebih mirip dengan mu dari pada diriku" omel Aleta yang terus menatap wajah putrinya.


Kenzou yang memeluk tubuh itu dari belakang terkekeh kecil saat mendengar omelan Mommy Aluna itu. "Karena aku membuatnya dengan sepenuh hati"


"Terserah kau lah Zou" kesal Aleta.


Kenzou mendaratkan ciuman di pipi kanan Aleta saat istrinya itu tiba-tiba ngambek. "Jangan marah, mungkin Aluna boleh mirip dengan ku tapi mungkin adeknya akan mirip dengan mu nantinya" ucap Kenzou mengalihkan kekesalan Aleta.


Aleta menatap wajah suaminya itu. "Kalo aku boleh tau kamu mau punya anak berapa?" tanya Aleta.


"Aku sebarnya mau punya anak banyak dari dirimu biar mereka tidak merasakan kesepian seperti kita yang menjadi anak tunggal, tapi saat melihat kamu melahirkan Aluna kemarin akhirnya aku memutuskan untuk cuma mau punya dua anak dari kamu"jawab Kenzou.


Aleta menganggukkan kepalanya paham, memang menjadi anak tunggal ada enaknya dan ada tidaknya salah satu dampak tidak enaknya adalah selalu merasakan kesepian apa lagi kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Tapi yang terakhir aku mau baby boy" pinta Kenzou.


"Iyah lima tahun lagi baby boy nya datang"


"Kenapa lama sekali sampai harus menunggu lima tahun?" ucap Kenzou kesal dan Aleta langsung menaruh jari telunjuknya di depan mulut Kenzou.


"Jangan brisik nanti Aluna bangun" Kenzou menganggukan kepalanya saat mendapatkan teguran dari Aleta.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" tanya Kenzou dengan suara yang sudah ia kecilkan.


"Tidak ada alasan yang tepat untuk jawaban ku tadi, tapi intinya aku akan hamil lagi saat Aluna sudah berumur lima tahun"


"Tiga tahun aja ya"


"Lima sayang"


"Tiga..." ucapan Kenzou terhenti saat pintu kamar baby Aluna terbuka saat Vony masuk bersama Alan.


Keduanya berjalan ke arah box baby Aluna saat Ana mengatakan kalo Kenzou dan Aleta sedang berada di kamar baby Aluna membuat mereka langsung ke lantai dua.


"Jangan brisik!" peringat Aleta menatap kedua orang itu secara bergantian agar tidak menganggu tidur sang anak.


"Iyah bawel" ucap Vony dengan suara pelannya.


"Kalian berdua di suruh Mama turun" kata Alan yang tadi mendapatkan pesan dari Ana untuk memanggil Aleta dan Kenzou.


Aleta menepuk keningnya yang lupa kalo ada dua keluarga yang sudah menunggunya di lantai bawah. "Kalian tidak mau ikut makan siang?" tanya Aleta menatap Vony dan Alan secara bergantian.


Alan mengelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Aleta sedangkan Vony sibuk menatap wajah baby Aluna yang tengah tertidur dengan nyenyak, sepertinya bayi mungil itu tidak terganggu sama sekali oleh ke berisikan yang di lakukan oleh orang di sekitarnya.


"Ya sudah kalo gitu aku turun dulu" Aleta menarik tangan Kenzou agar keluar dari kamar baby Aluna tapi suaminya itu tidak bergerak sedikitpun.


"Kamu yakin meninggalkan Aluna dengan dua orang ini?" tanya Kenzou yang ragu meninggalkan anaknya.


"Kenapa memang?, aku ini manusia bukan penculik anak" ucap Alan kesal.


"Sayang udah jangan seperti itu, biarkan Aluna sama mereka siapa tau setelah ini mereka akan nyusul punya baby" ucap Aleta mengusap lengan Kenzou.


Vony mendengar itu menatap wajah sahabatnya. "Gue? sama dia punya anak?" tunjuk Vony pada wajah Alan. "Ih..ogah! gue gak mau anak gue jelek nantinya kalo bapaknya aja model beginian"


Alan membulatkan matanya saat wanita di sampingnya itu mengatai dirinya jelek. "Lo pikir gue mau punya anak dari wanita bar-bar kaya lo? gak ya! gak sama sekali! lebih baik gue gak punya anak sampai kapanpun kalo gini ceritanya"


"Lo pikir gue juga mau punya anak dari laki-laki kaya lo! gue juga ogah!"


Aleta dan Kenzou saling tatap saat kedua orang itu malah membahas soal anak. "Sayang apa mereka udah nikah?" tanya Aleta berbisik.


"Aku juga tidak tau, tapi kalo di dengar dari cara mereka membahas anak kok kaya udah jadi suami istri" kini Kenzou juga bingung dengan kedua orang yang masih berdebat itu.


"Stop!" lerai Aleta saat kedua makhluk itu tidak juga berhenti berdebat.


"Kalian bisa diam gk? Aluna lagi tidur, kalo sampai Aluna bangun gara-gara kalian, kalian harus tangung jawab nenanginnya!" ucap Aleta membuat kedua orang itu langsung mulutnya rapat.


"Gue mau turun dulu sama Kenzou, dan ingat omongan gue! jangan berisik atau kalian yang akan gue santet biar jadi jodoh sekalian!" setalah mengatakan hall itu Aleta dan Kenzou melangkah keluar dari kamar Aluna meninggalkan putrinya dengan dua manusia bar-bar itu.


Di dalam kamar Aluna setelah kepergian Kenzou dan Aleta, Alan berjalan ke arah sofa yang ada di dalam kamar menjauh dari Vony yang masih ingin melihat bayi mungil itu.

__ADS_1


Sesaat ruangan itu hening dengan kedua makhluk yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing sampai baby Aluna yang menangis di dalam boks membuat Vony mengaruk kepalanya gatal saat Aluna tiba-tiba saja menangis.


Alan yang mendengar anak Kenzou menangis berjalan ke arah boks. "Lo apain Aluna?" tanya Alan dengan nada tuduhannya.


"Gak gue apa-apa in tiba-tiba nih anak nangis gitu aja" kata Vony jujur.


"Gak mungkin nih anak bisa nangis sendiri kalo gak di apa-apa in!"


"Gue serius anjir gak gue apa-apa in!" kesal Vony saat orang di hadapannya tidak percaya dengan ucapannya.


"Dari pada lo nuduh gue yang gak gak! sekarang bantu in gue kek gimana nenangin nih anak! kalo sampai tu mak bapaknya tau habis kita" ucap Vony bingung harus ia apakan anak Aleta itu kalo saja dirinya tidak terlalu paham dengan anak kecil.


Alan yang melihat wajah bingung itu sedikit merasa kasian, dengan bekal mencari informasi di hp Alan mencari bagaimana cara menenangkan anak kecil.


"Coba lo gendong Aluna" ucap Alan membaca tulisan yang ada di layar ponselnya.


"Gue gak bisa gendong anak kecil, lo aja lah"


"Kok gue? ya lo lah kan lo perempuan masak gendong anak kecil kaya gitu doang gak bisa?"


Vony meremas angin di depan wajahnya geram saat pria itu malah meremehkannya. Perlahan Vony mengambil baby Aluna dari dalam boks mendong bayi mungil itu agar berhenti menangis, tapi saat tangannya menepuk pelan pantat baby Aluna dirinya merasa gedong yang di pakai basah.


"Anjir anak Aleta ngompol lagi" ucap Vony saat baru sadar baby Aluna menangis karena ia baru saja ngompol dan pasti bayi mungil itu merasa tidak nyaman.


"Terus gimana?" tanya Alan yang juga bingung.


"Ya kita ganti popoknya lah"


"Ganti popok?" Vony menganggukan kepalanya membawa tubuh baby Aluna ke atas kasur yang ada di dalam kamar itu.


"Jangan diam aja dodol! cepet ambilin kain baru di lemari" ucap Vony melihat Alan yang hanya diam saja di tempatnya.


Mendengar itu Alan langsung berjalan ke arah lemari di dalam lemari banyak sekali kain yang tertata rapi, Alan mengaruk kepalanya bingung kain mana yang harus ia ambil karena Alan yang tidak mau terlalu lama membuat bayi itu terus menangis mengambil satu persatu kain itu dan membawanya ke arah Vony yang sudah ada di atas kasur terlebih dahulu.


"Sayang diam dulu ya ounty ganti dulu popoknya Aluna" ucap Vony saat kaki bayi itu tidak bisa diam.


Vony melirik pria yang ada di sampingnya yang hanya diam saja tanpa berbuat sesuatu. "Bantu in Alan!"


"Gue gak bisa" jawab Alan mengelengkan kepalanya.


"Lo kan bisa ngajak nih anak main biar bisa diam dulu!" ucap Vony yang kembali memakaikan popok pada Aluna.


Alan meraih boneka yang tidak jauh dari dirinya dan mengarahkan boneka itu pada Aluna dengan suara yang anak kecil yang di buat-buat membuat Aluna tersenyum mendengar suara lucu Alan.


Setalah mengantikan popok Aluna vony juga ikut bermain bersama Alan berharap bayi itu kembali tidur tapi sepertinya Aluna enggan menutup matanya, Vony yang lelah karena Aluna tidak kunjung tidur akhirnya ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Aluna menyusul Alan yang sudah lebih dahulu berbaring disebrang sana.


"Capek banget jaga in bayi kaya gini doang" ucap Vony.

__ADS_1


Alan menatap wajah Vony yang sudah ikut berbaring dengan mata yang terpejam. "Tapi seru juga"


"Iyah" lirih Vony saat merasakan tubuhnya sangat lelah.


__ADS_2